Lucifer Azrael — Raja Dunia Bawah berkedok pengusaha. Sadis, dingin, mustahil disentuh. Tuhan pun seolah dia tantang.
Florence Beatrix — gadis panti yang seharusnya mati setelah jadi saksi transaksi gelapnya. Tapi Lucifer melanggar aturan: dia mengurung Florence di pulau pribadinya.
"Selamat datang di kurunganmu, Florence Beatrix. Di sini, aku adalah Tuhan."
Di pulau tanpa jalan keluar, Florence benci sekaligus takut. Tapi perlahan dia lihat retaknya: Lucifer selalu menatap salib di lehernya terlalu lama. Raja Dunia Bawah yang kejam, ternyata hafal ayat Mazmur karena masa lalu yang dia kubur dalam darah.
Ini bukan kisah cinta manis. Ini tentang gadis panti yang berdoa di kurungan mewah, dan mafia yang mulai bertanya apakah neraka miliknya bisa ditukar dengan surga di mata Florence
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elsa Sefia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pintu kapel Terbuka Lagi
Dua pekan berlalu sejak insiden ‘pijat kepala’ itu, Lucifer kembali menjadi musim dingin. Lebih beku. Lebih bengis. Seolah hendak mengubur ingatan bahwa ia pernah diam, membiarkan jemari Florence mengusir setan di pelipisnya.
Ia tak menjamah Florence. Tak bicara kecuali titah. Mawar di vas kamar Florence sudah layu lagi. Kali ini, tak ada yang mengganti.
Florence paham. Dia menyesal. Menyesal memamerkan retak.
Dan justru itu yang menuntun Florence kembali ke kapel.
Tengah hari. Pengawal terlena sebab kapal pasokan bersandar. Florence menyelinap, berlari ke hutan, ke bangunan tua yang mestinya ia jauhi.
Pintu kapel tak terkunci. Seakan… menanti.
Di dalam, debu semakin menebal. Namun ada yang berbeda. Di bawah altar, sebilah papan kayu renggang. Karena penasaran, atau sebab takdir, Florence mencongkelnya.
Ada peti besi. Berkarat. Gemboknya sudah patah.
Di dalamnya: sebuah buku bersampul kulit, lusuh dimakan waktu. Di sisinya, foto polaroid.
Jantung Florence terhenti saat menatap gambar itu.
Anak lelaki delapan tahun. Mata biru, namun belum membatu. Masih ada… gentar di sana. Ia mendekap rosario, memeluk perempuan cantik yang senyumnya sehangat Suster Maria. Di balik foto, goresan tangan: “Lucifer & Mama, Musim Panas 2014. Anak baikku.”
Mama.
Dengan jemari gemetar, Florence membuka buku itu. Tulisan perempuan. Rapi. Isinya harian.
12 Maret 2015
Richard memaksa Lucifer ikut ‘pertemuan’ lagi. Anakku baru sembilan tahun. Dia pulang dengan tangan gemetar. Katanya ‘Papa mengajar cara menggenggam pistol yang benar’. Tuhan, lindungi anakku.
3 Juli 2017
Latihannya kian kejam. Lucifer disuruh menyaksikan Richard ‘menghukum’ pengkhianat. Anakku muntah semalaman. Dia bertanya padaku, ‘Ma, apakah kita orang jahat?’ Aku tak sanggup menjawab, nak. Ampuni Mama.
19 November 2020
Lucifer enam belas. Dia sudah berhenti menangis. Richard berkata dia ‘bangga’. Bangga sebab anakku bisa menembak sasaran tanpa berkedip. Bangga sebab anakku telah menjadi monster kecilnya. Aku gagal menjagamu, Tuhan. Aku gagal.
Air mata Florence menetes ke kertas tua itu. Ini… ini sebabnya Lucifer beku. Dia tak lahir sebagai iblis. Dia ditempa.
Lembar terakhir. Tintanya berantakan, seperti ditulis tergesa.
1 Januari 2021
Jika kau membaca ini, Lucifer, berarti Mama telah tiada. Ampuni Mama, nak. Mama coba melawan Papamu. Mama coba membawamu lari. Namun dia tahu. Dia selalu tahu.
Lucifer, camkan ini: kau bukan monster. Kau anak baik Mama. Kau hanya… kau hanya dibentuk dari darah dan jahanam. Tetapi hatimu, nak. Jaga hatimu. Jangan serahkan pada Papamu.
Ampuni Mama tak bisa melihatmu dewasa. Ampuni Mama harus pergi lebih dulu.
Aku sayang kau. Selalu. Di surga pun Mama akan berdoa agar kau ingat jalan pulang.
P.S. Jika suatu hari ada gadis baik yang berani melangkah ke kapel ini lagi, tolong jangan membencinya, nak. Berarti dia cukup berani mencari Tuhan di nerakamu. Sama seperti Mama dulu.
Florence membekap mulut. Isak pecah. Jadi… Ibunya. Dibunuh.
Ibunya tewas di tangan ayahnya sendiri, di depan Lucifer, saat usianya enam belas.
Itu yang membekukan mata biru itu. Itu yang membuat ia berkata ‘di pulauku, aku adalah Tuhan’. Sebab Tuhan-nya Lucifer mati dibunuh ayahnya sendiri.
“Menarik, ya?”
Suara itu membuat darah Florence membeku.
Lucifer berdiri di ambang kapel. Bayangannya panjang, menelan cahaya dari luar. Mata birunya bukan es lagi. Tapi prahara. Kelam. Hancur.
Di tangannya ada pistol. Tak diarahkan ke Florence. Diarahkan ke lantai. Namun keberadaannya cukup menjadi maut.
“Sudah kubilang apa, Florence?” Suaranya pelan. Terlalu pelan. Itu lebih mengerikan dari amuk. “Sudah kubilang. Jangan. Pernah. Lagi. Menginjak. Tempat. Sialan. Ini.”
Florence bangkit, buku itu terlepas dari jemarinya. Lembaran berserakan. Foto Lucifer kecil dan ibunya menghadap ke langit-langit.
Manik Lucifer menatap foto itu. Sedetik. Hanya sedetik. Namun di sedetik itu, Florence melihat anak enam belas tahun yang dunianya runtuh. Sebelum topeng iblisnya dipakai lagi, lebih tebal.
Dia melangkah mendekat. Tiap tapaknya membuat papan kapel merintih. Berkabung.
“Kau lancang,” bisiknya. Kini dia di hadapan Florence. Dekat. Namun tak menyentuh. “Kau membongkar makam yang sudah kututup rapat. Kau membaca surat orang mati. Kau melihat wajah bocah yang seharusnya sudah kukubur hidup-hidup.”
Air mata Florence mengalir deras. Bukan sebab takut. Sebab perih. Perih untuk bocah di foto itu.
“Lucifer… aku… aku tak sengaja… ibumu…”
BRAK!
Bukan tamparan. Lucifer menggebrak altar di sisi Florence hingga salib kayu kecil di atasnya jatuh, patah menjadi dua.
“JANGAN SEBUT DIA!” bentak Lucifer. Suaranya retak. Pertama kalinya. Retak menjadi serpihan beling. “KAU TAK PUNYA HAK MENYEBUT NAMANYA! KAU TAK MENGENALNYA! KAU TAK MELIHATNYA PADAM!”
Dia terengah. Dadanya naik turun. “Kau pikir kau paham? Hah? Kau baca buku sialan itu lalu kau pikir kau paham mengapa aku begini? Kau pikir linangmu itu bisa membasuh darah di tanganku?”
Florence gemetar. “Aku… aku cuma…”
“KAU CUMA TAWANAN!” Lucifer mengacungkan pistol ke wajah Florence. Tak menempel. Namun jaraknya setipis napas. “KAU CUMA BARANG! BARANG YANG KEBETULAN BISA MENGEJA! KAU KIRA KARENA AKU MEMBERIMU SANTAP, MEMBERIMU OBAT, KAU JADI ISTIMEWA? HAH?!”
Matanya merah. Bukan basah. Luka. “DENGAR, FLORENCE BEATRIX. NYAWAMU KUSELAMATKAN KEMARIN BUKAN KARENAMU. TAPI SEBAB AKU BELUM SELESAI MEMAKAIMU! KAU MATI, RENCANAKU GAGAL! ITU SAJA! TITIK!”
Kata-kata itu… lebih tajam dari peluru. Menghunjam tepat di jantung Florence yang baru saja berbelas kasih padanya.
“Jadi jangan…” suara Lucifer merendah lagi, serak, hancur, “…jangan pernah kasihani aku. Aku tak butuh belas dari anak panti yang Tuhannya tak pernah menyelamatkan ibuku.”
Dia memungut foto polaroid itu dari lantai. Meremasnya. Hingga kertasnya remuk di kepalannya.
“Aturan baru,” ujarnya sambil melangkah mundur, meninggalkan Florence yang sudah luruh, terduduk di lantai kapel. “Mulai hari ini, kau terkurung di kamar. Tanpa beranda. Tanpa jendela terbuka. Santap diantar. Kau mau membusuk di sana, silakan. Anggap saja aku telah membuang mawar layu.”
Sampai di pintu, dia berhenti. Tak menoleh.
“Dan buku itu?” suaranya hampa. “Bakar. Atau aku yang membakar kapel ini bersamamu di dalamnya.”
Dia pergi. Meninggalkan Florence di antara surat orang mati, salib patah, dan hatinya yang dilumat iblis yang ternyata hanya bocah yang kehilangan Mama.
Florence mendekap foto yang lecek itu ke dada. Menangis. Untuk Lucifer kecil. Untuk Mama-nya. Untuk dirinya sendiri yang bodoh, sempat berpikir ‘andainya dia lelaki biasa’.
Tak ada ‘andainya’. Hanya ada jahanam. Dan dia baru saja menggali jahanam Lucifer lebih dalam.
Di luar, Lucifer berjalan ke tebing. Membuka kepalannya. Foto lecek itu terbentang lagi. Ia menatap wajah Mama-nya. Menatap wajah dirinya yang delapan tahun.
Satu tetes air jatuh ke foto itu. Dari mata biru yang katanya tak bisa menangis.
Lantas ia remas lagi. Lebih keras. Sampai kertasnya sobek, menjadi serpihan yang diterbangkan angin ke jurang.
---