Rumi sudah tiga tahun menikah dengan Fathur. Sebenarnya rumah tangga mereka baik-baik saja. Hanya saja menjadi tidak baik-baik karena selalu di recoki oleh ibu dan keluarga Fathur lainnya.
Hingga akhirnya saat Rumi kembali hamil, namun untuk kedua kalinya juga dia harus kegu guran karena ulah sang ibu mertua. Bu Sri tak pernah ingin jika Fathur memiliki anak dari Rumi.
Rumi jelas marah dan pun cak amarahnya saat Bu Sri membawa mantan dari Fathur ke dalam kehidupan ruang tangga mereka. Fathur bahkan tak mampu untuk membela istrinya.
Apakah dengan kenyataan seperti ini Rumi siap menjadi janda? Ataukah dia malah lebih memilih bertahan dengan kenyataan seperti itu?
"Jangan banyak membantah jika kamu tak ingin di Jan da kan oleh Fathur!" ancam Bu Sri.
"Jadi Jan da? Siapa takut Bu!" jawab Rumi membuat suami dan ibu mertuanya melongo tak percaya.
Ikuti terus kisah Arumi selengkapnya. Jangan lupa baca sampai akhir, karena ada banyak keseruan dari Rumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jadi Janda? Siapa Takut? 5
Arumi terbangun di pagi hari dan melihat tangannya yang terluka sudah di obati. Semalaman dia merasa sangat lelah sehingga setelah bersih-bersih dan makan malam kemudian langsung tidur. Sehingga dia juga tak sadar kalau suaminya mengobati luka di tangannya.
"Dek, kamu yakin mau cari kerja?" tanya Fathur menatap tak rela ke arah istrinya yang bahkan sudah bersiap-siap dengan kemeja dan juga celana bahan.
"Tak ada alasan untuk aku ragu, Mas! Lagi pula kamu sudah memberikan aku izin untuk bekerja," jawab Rumi duduk di depan suaminya.
"Tapi kalau misalnya kamu nggak dapat pekerjaan, lebih baik kamu diam di rumah saja ya, Dek! Mas bisa mencukupi semua kebutuhan kamu!" ujar Fathur, Rumi hanya tersenyum tipis.
"Mas, kapan terakhir kamu membelikan aku baju? Bahkan lebaran tahun kemarin saja aku tak membeli apapun karena semua uang THR, kamu berikan untuk ibumu. Uang gaji juga kamu bagi lagi, karena bilang di rumah ibu ada banyak orang yang datang. Sedangkan aku? Jangan buat aku menjadi istri dur-haka karena masalah itu, Mas!"
"Aku tak meminta apa-apa darimu. Hanya saja aku ingin kamu juga lebih bertanggung jawab padaku sebagai istrimu. Tanpa kamu merasa menjadi anak dur-haka kepada ibu. Kita sudah bicarakan ini berkali-kali. Dan jawabannya akan selalu sama, aku sudah hafal. Kamu akan lebih membela ibu, karena ibu surga kamu sedangkan aku?" Arumi tak bisa menahan diri lagi.
Tiga tahun dia memendam semuanya, namanya manusia ada batas kesabarannya juga. Dia bertahan dan berharap jika suaminya akan mulai berubah dan mengerti. Namun nyatanya? Tidak sama sekali. Dia masih sama seperti dulu, bahkan sekarang Bu Sri semakin menjadi bersikap kepadanya. Belum lagi dia kakak ipar dan adik ipar yang selalu memandang dia tak lebih sebagai pembantu, bukan keluarga.
"Dek ..." Fathur bicara lebih lembut.
"Iya mas, aku nggak apa-apa, aku sudah terbiasa. Makanya berikan aku restu bekerja, setidaknya agar aku bisa memenuhi kebutuhan pribadiku sendiri. Dan tidak akan memberatkanmu, kita tidak akan perlu berdebat saat aku ingin membeli sesuatu," jawab Rumi tersenyum pahit.
"Apalagi kamu lihat kemarin kan? Bagaimana ibumu hanya memberikan uang segitu tapi aku harus membeli sesuai catatan. Uang belanja yang aku sisihkan lima ribu sehari akhinya aku gunakan untuk menutup keinginan ibumu," tambah Rumi.
"Maafkan Mas, Dek!" selalu kalimat itu yang keluar dari mulut suaminya, Rumi tak menanggapi.
"Mau melamar kerja dimana? Biar Mas antar," tanya Fathur.
"Belum tahu Mas, mungkin aku akan keliling mencari pekerjaan yang bisa menerima ijazah sekolah menengah atas ku," jawab Rumi penuh semangat.
"Mas antar sampai depan!" ajak Fathur.
Rumi mengangguk dan naik ke atas sepeda motor suaminya. Rumi meminta turun di depan gang rumah mereka dan lebih memilih naik angkutan umum. Fathur menatap istrinya dengan perasaan yang campur aduk. Di hati kecilnya tak rela jika Rumi bekerja.
Namun di sisi lain semua ucapan Arumi benar. Jika selama menikah dengannya, Fathur tak bisa memberikan lebih banyak untuk Arumi. Hanya bisa memberikan nafkah untuk makan mereka sehari-hari. Yang terkadang kurang saat menjelang akhir bulan. Bahkan dia juga tak pernah membelikan pakaian atau sekedar bedak untuk istrinya.
Walau sekarang jabatannya naik menjadi kepala staf di salah satu perusahaan swasta. Tidak menjamin Jika kehidupan mereka jauh lebih baik. Karena dia juga harus menjamin hidup ibunya. Dia tak bisa menolak keinginan ibunya yang meminta setengah dari gajinya. Apalagi saat ini ibunya hanya hidup sendiri. Belum lagi dia masih memilih adik yang kuliah. Sehingga kebutuhannya jauh lebih banyak.
Selama ini Rumi tidak pernah mengeluh, dan selalu berusaha untuk mencukupi kebutuhan mereka sehari-hari dengan uang seadanya. Namun, dia juga tidak bisa memungkiri jika ucapan dan sikap ibunya kepada Rumi semakin ke sini semakin keterlaluan. Apalagi selalu membandingkan dengan kedua kakak iparnya yang lain. Namun dia bisa apa, Dia hanya bisa diam tak berani membela Rumi di depan keluarganya apalagi sang ibu.
"Pak, maaf barangkali butuh karyawan baru?" tanya Rumi mencoba mencari pekerjaan ke salah satu rumah makan.
"Maaf mbak, disini belum membutuhkan karyawan baru," jawabnya.
Rumi kembali harus menelan rasa kecewa entah sudah berapa tempat yang dia datangi hari ini. Dari toko, cafe, laundry. Semuanya sudah dia coba, namun tak ada satupun yang sedang membutuhkan tenaga baru.
"Ya Allah, nyari kerja itu ternyata susah juga ..." Rumi duduk di bawah pohon rindang.
Dia mengambil dompet dan menghitung sisa uang yang dia bawa hari ini. Itu adalah uang yang tersisa setelah dia hitung untuk belanja hingga akhirnya bulan.
"Uangnya sisa dua puluh lima ribu, hanya cukup sampai besok mencari pekerjaan. Aku tak berani menganggu uang belanja. Nanti Mas Fathur akan marah dan pada akhirnya melarang aku untuk mencari pekerjaan," ujar Rumi menarik napas panjang.
Dia hanya membawa air minum dan juga dua lembar roti dari rumah untuk mengganjal perutnya. Rumi sudah benar-benar bertekad untuk mencari pekerjaan. Dia tak bisa terus-terusan bergantung kepada suaminya. Dia juga sudah bosan selalu di jadikan ba bu gratisan oleh mertuanya yang tak pernah adil. Ucapan ibu mertuanya selalu terasa menyakitkan. Hal itulah yang membuat dia merasa lelah.
"Rumi ... Kamu ngapain ada di sini? Tumben sekali kelayapan? Biasanya juga di rumah saja!" suara seorang wanita menyadarkan Rumi dari lamunannya.
"Astii? Kamu juga kok ada di sini? Kamu nggak kerja?" kaget Rumi.
"Aku lagi istirahat habis cari makan, kamu ngapain ada di sini?" tanya Asti.
"Aku lagi cari kerja, namun ternyata cari kerja susah ya. Apalagi aku hanya lulusan sekolah menengah atas," jawab Rumi sambil terkekeh.
"Kamu seriusan mau cari kerja?" tanya Asti sedikit tak percaya.
"Iya Asti, aku serius. Ingin punya penghasilan sendiri, biar bisa bantu Mas Fathur dan setidaknya aku nggak suntuk di rumah terus. Dengan kerja aku juga bisa punya uang sendiri," jawab Rumi.
"Kebetulan, kamu mau kerja di toko roti tempat aku kerja? Cuma gajinya nggak besar. Tapi Alhamdulillah cukup, apalagi orang-orang di sana semuanya baik," tanya Asti membuat mata Rumi berbinar.
"Aku mau, Asti..." jawab Rumi penuh semangat.
"Ya sudah ayo!" jawab Asti.
"Alhamdulillah, bismillah... Mudah-mudahan aku di terima kerja di sana ya, Asti ..." ucap Rumi penuh harap.
"Amiiin ... Insyaallah pasti di terima karena mamang lagi butuh karyawan. Ada satu karyawan yang resign karena mau melahirkan," jelas Asti.
"Terima kasih, Asti ..." Rumi memeluk tangan Asti, tetangganya di rumah yang sering mengobrol dengannya saat Asti libur atau saat Rumi juga tak di minta ke rumah mertuanya.
rencana pura2 sakit akhir ny sakit beneran ,, fathur yg kecewa krn di bohongi dg alasan sakit ,, jd gx percaya ( semoga ) dsaat ibu ny sakit beneran ,, gmna tuuuh rasa ny bu sriii Dan kawan2 ,, 😒😒😒😒
punya rencana koq dangkal ,,
semoga rencana mereka gagal total ,, biarin tu si Dona Dan menantu bu Sri yg lain jd babu dadakan ,,
Dan Elisa yg tau rencana ini bisa kasih tau fathur ,,
biar fathur gx ke jebak ,,
nnti penyesalan akn tiba tempat pda waktu ny ,, disaat semua terjadii mungkin Rumi udh pergiii atau udh menjadi sosok yg gx mereka kiraa sebelum ny ,, 😒😒😒😒
bukan sama manusia ,, bner kata Rumi ,, rencana manusia tu baik ,, tp rencana Tuhan tu luar biasa ,,, semangat trus rumii ,, Tuhan tu tdak tidur ,, /Smile//Smile//Smile/