Cerita ini berpusat pada seorang wanita yang terjebak dalam pernikahan kontrak atau "pernikahan pajangan" dengan pewaris takhta perusahaan besar (Chaebol). Peran utamanya adalah menjadi pendamping sempurna di acara publik, namun di balik layar, hubungan mereka mungkin dingin atau penuh benci.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nia nuraeni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17: Runtuhnya Istana Pasir
Malam itu, dunia Devan Jacob seolah runtuh dalam hitungan jam. Di apartemen mewah yang ia beli untuk Viona, ia baru saja mengalami penghinaan terbesar. Saat hendak membayar makan malam romantis mereka, semua kartu kreditnya ditolak. Tak lama kemudian, beberapa pria berjas hitam—orang-orang suruhan tim legal Vanya—datang dengan surat penyitaan resmi. Apartemen itu, mobil sport yang biasa ia kendarai, hingga koleksi perhiasan yang melingkar di leher Viona, semuanya diambil alih kembali oleh Jacob Group karena dianggap sebagai aset perusahaan yang disalahgunakan.
Viona yang melihat hal itu langsung mengamuk, menyebut Devan pria tak berguna sebelum akhirnya mengusir Devan keluar dari apartemen yang kini bukan lagi miliknya.
Devan pulang ke mansion dengan keadaan emosi yang meluap-luap. Napasnya memburu, matanya memerah menahan malu dan amarah.
"Mana wanita dingin itu?!" teriak Devan saat melewati lobi. Ia tidak memedulikan tatapan para pelayan. Ia langsung melesat menuju lantai atas.
BRAK!
Pintu kamar Vanya dibuka dengan kasar hingga menghantam dinding. Devan masuk, membanting pintu itu kembali hingga tertutup rapat, mengurung mereka berdua dalam ketegangan yang pekat.
"Vanya! Kau sudah gila, ya?!" bentak Devan. "Kenapa kartu-kartuku dibekukan? Dan kenapa semua yang kubeli untuk... untuk kepentinganku, kau ambil alih semuanya? Kau sengaja ingin mempermalukanku?!"
Vanya yang sedang duduk di sofa sambil membaca laporan keuangan, bahkan tidak menoleh. Ia membalik halaman kertasnya dengan tenang. "Aku tidak mengambil apa pun, Devan."
"Jangan berlaga bodoh, Vanya! Aku tahu kau yang melakukannya! Petugas-petugas itu bilang ini perintah dari kantor pusat!" Devan berjalan menghampiri Vanya, berdiri tepat di hadapannya dengan tangan mengepal.
Vanya akhirnya menutup laporannya. Ia mendongak, menatap Devan dengan tatapan yang sangat datar. "Bukan aku secara pribadi yang mengambilnya, tapi perusahaan. Sesuai wasiat Papa, semua aset Jacob Group harus diaudit. Apartemen, mobil, dan perhiasan yang kau berikan pada wanita itu dibeli menggunakan dana operasional kantor tanpa prosedur yang benar. Itu namanya pencurian aset, Devan."
"Tapi aku anak Davit Jacob! Aku berhak atas uang itu!"
"Kau bukan lagi pemiliknya, Devan," potong Vanya dingin. "Sekarang, semua dikelola secara profesional. Mulai hari ini, jatah bulananmu hanya 10 juta. Begitu juga dengan Mama, Kakakmu, dan kakak iparmu. Jika kau butuh lebih, kau harus membuktikan kegunaannya bagi perusahaan."
Mendengar angka 10 juta, Devan seketika lemas. Baginya, uang segitu tidak cukup bahkan untuk membayar satu botol anggur langka kesukaannya. Amarahnya perlahan berubah menjadi keputusasaan.
"Vanya..." Devan tiba-tiba merengek. Ia duduk di pinggiran tempat tidur, menatap istrinya dengan wajah memelas yang jarang ia tunjukkan. "Aku mohon... kembalikan uangku. Aku punya banyak tagihan, dan... dan aku tidak bisa hidup dengan uang sekecil itu. Aku mohon, Vanya. Kau kan istriku."
Vanya menatap suaminya dengan rasa muak yang tertahan. "Uang kamu? Uang kamu dari mana, Devan? Kamu tidak kerja, kamu hanya menghambur-hamburkan hasil keringat Papamu selama ini. Dari mana kau bisa mengklaim itu uangmu?"
Devan terdiam, wajahnya memerah karena malu.
"Jika kau mau uang lebih, besok ikut aku ke kantor. Mulailah bekerja dari posisi bawah agar kau tahu bagaimana rasanya mencari uang pun dengan keringat sendiri," tawar Vanya.
"Tidak!" jawab Devan cepat dengan nada gengsi yang masih tinggi. "Aku tidak mau jadi pesuruh di kantorku sendiri!"
"Kalau begitu, silakan hidup dengan 10 juta itu," Vanya kembali membuka laporannya, mengabaikan kehadiran Devan seolah pria itu hanya udara kosong. "Dan jangan ganggu aku lagi. Aku harus bekerja untuk menghidupimu, suamiku yang pengangguran."
Devan merasa harga dirinya diinjak-injak hingga hancur berkeping-keping. Ia keluar dari kamar dengan langkah santai, menyadari bahwa wanita "kaku" yang dulu ia remehkan, kini benar-benar memegang lehernya dengan tali kemiskinan yang mencekik.
Setelah insiden tamparan dan pemangkasan jabatan Karlo, Vanya benar-benar menjalankan kepemimpinannya dengan disiplin yang tak tergoyahkan. Ia tidak hanya memangkas jatah bulanan keluarga Jacob menjadi hanya 10 juta rupiah, tetapi juga melakukan efisiensi besar-besaran di seluruh struktur perusahaan. Anggaran-anggaran "siluman" yang biasanya digunakan Olivia untuk pesta sosialita atau perjalanan mewah Karlo, dialihkan sepenuhnya untuk riset dan pengembangan produk.
Mansion Jacob kini terasa seperti asrama yang dingin. Olivia seringkali hanya bisa meratapi nasibnya sambil memandangi koleksi tas mewahnya yang kini tak bisa bertambah, sementara Karlo setiap pagi harus berangkat dengan wajah lesu untuk bekerja di bagian arsip—tempat yang dulu tak pernah ia injak.
Namun, di balik penderitaan keluarga itu, Jacob Group justru mengalami keajaiban yang luar biasa.
Dalam waktu hanya satu bulan sejak Vanya mengambil alih kursi pimpinan, laporan keuangan Jacob Group menunjukkan angka yang mencengangkan. Saham perusahaan yang sebelumnya sempat merosot akibat ketidakpastian pasca kematian Pak Davit, kini melesat naik hingga melampaui rekor tertinggi dalam sepuluh tahun terakhir.
Vanya bekerja hampir 18 jam sehari. Dengan insting bisnisnya yang tajam—yang diam-diam telah ia asah melalui Lumina Jewelry—ia melakukan restrukturisasi total. Ia menutup divisi-divisi yang merugi dan memperkuat sektor ekspor.
Puncaknya, berita besar mengguncang bursa saham internasional. Jacob Group di bawah kepemimpinan Vanya Benjamin resmi mengumumkan ekspansi besar-besaran. Tidak tanggung-tanggung, dua cabang baru dibuka sekaligus di pusat mode dan bisnis dunia: Berlin, Jerman, dan Paris, Prancis.
"Nona Vanya," ucap Pak Hans sambil menyerahkan tablet yang menampilkan grafik pertumbuhan perusahaan di ruang rapat yang kini selalu tampak sibuk. "Keuntungan kuartal ini naik 40%. Investor dari Eropa sangat antusias dengan peluncuran koleksi eksklusif kita di Paris minggu depan."
Vanya menyesap kopi hitamnya tanpa gula. Matanya yang lelah namun tajam menatap angka-angka itu. "Pastikan logistik di Berlin siap dalam dua hari. Aku tidak mau ada keterlambatan sekecil apa pun. Nama Jacob harus bersinar lebih terang dari sebelumnya."
Kabar kesuksesan Vanya ini tentu saja sampai ke telinga keluarga di rumah. Saat sarapan pagi yang kini terasa sangat sunyi, Karlo membaca koran bisnis dengan tangan gemetar.
"Saham Jacob Group naik lagi..." gumam Karlo tak percaya. "Dia bahkan membuka cabang di Jerman dan Prancis. Papa saja butuh waktu sepuluh tahun untuk merencanakan itu, dan dia melakukannya dalam satu bulan?"
Olivia, yang sedang mengoles selai dengan wajah masam, mendengus. "Pasti itu semua karena koneksi keluarga Benjamin. Mana mungkin wanita kaku itu bisa sehebat itu sendirian."
Namun, di sudut meja, Devan hanya terdiam. Ia mendengarkan pembicaraan itu sambil menatap layar ponselnya yang sepi dari notifikasi Viona. Sejak hartanya dibekukan, Viona semakin sulit dihubungi. Ia melihat foto Vanya di sampul majalah bisnis yang tergeletak di meja—Vanya tampak sangat berwibawa, anggun, dan jauh dari jangkauan siapa pun.
Ada rasa kagum yang mulai menyelinap di antara rasa bencinya. Devan mulai menyadari bahwa wanita yang ia sebut "membosankan" itu ternyata adalah seorang penguasa yang sanggup menaklukkan dunia, sementara dirinya sendiri sedang berjuang untuk sekadar membeli bahan bakar mobil dengan jatah 10 juta.
"Dia bukan lagi Vanya yang kita kenal," bisik Devan pelan, hampir kepada dirinya sendiri.
Malam itu, saat Vanya pulang larut malam dengan kawalan ketat, suasana rumah terasa berbeda. Para pelayan membungkuk lebih dalam, bukan karena takut, tapi karena rasa hormat yang tulus pada wanita yang telah menyelamatkan nasib ribuan karyawan mereka dari kebangkrutan yang hampir diciptakan oleh anak-anak kandung Pak Davit sendiri.