NovelToon NovelToon
Kembalinya Sang Kaisar Agung

Kembalinya Sang Kaisar Agung

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi / Action
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Devourer

Ia hanyalah seorang "murid sampah" di Sekte Pedang Giok, pemuda tanpa masa depan yang hidup dalam kehinaan dan penindasan. Hingga suatu hari ia mendapatkan kembali ingatan masa lalunya, ketika ia masih seorang Kaisar Agung di alam atas dan pernah memimpin jutaan pasukan di atas medan perang berdarah.

Namun, karena mendapatkan pengkhianatan yang kejam dari murid kepercayaannya sendiri, Ia kini harus memulai segalanya dari awal.

Sampah? Tidak! Ia menggunakan seluruh memori masa lalunya dan mengubah dirinya menjadi sosok tak tertandingi yang dapat menyapu bersih semua semut pengganggu dari jalannya.

"Aku adalah ... Qin Xiang."

Genre: Aksi, Kultivasi, Reinkarnasi, Balas Dendam, Harem.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Devourer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#8: Teman Kamar

Jauh di kedalaman wilayah sekte dalam, terdapat sebuah lapangan luas yang dipahat dari batu pualam putih, tempat para elit sekte mengasah kemampuan mereka. Saat senja mulai turun dan tempat itu sedang sepi, angin musim dingin yang misterius mengalir memenuhi udara, membawa aroma dingin yang menusuk. Di tengah keheningan itu, suara tebasan pedang membelah angin dengan ritme yang konstan; suaranya selembut sutra yang robek, namun menyimpan daya ledak yang mematikan.

Di sana, seorang gadis muda dengan kulit semulus giok putih sedang menari bersama pedangnya. Rambut hitamnya yang panjang bergelai liar mengikuti setiap putaran tubuhnya, sementara mata hitamnya yang pekat seolah sanggup menelan cahaya di sekitarnya. Setiap ayunan pedang ramping di tangannya tidak hanya membawa ketajaman logam, tetapi juga hawa dingin yang sanggup membekukan tetesan embun sebelum sempat menyentuh tanah.

“Huft...”

Napasnya sedikit tersengal, membentuk uap putih di udara dingin. Keringat mulai mengucur di pelipisnya, meluncur jatuh ke dagunya yang lancip. Ia menghentikan latihannya, bukan hanya karena merasa fisiknya sudah mencapai batas, tetapi karena indranya yang tajam menangkap kehadiran seseorang di gerbang masuk lapangan.

“Saudari Senior! Aku punya berita besar!”

Seorang gadis yang lebih muda, bernama Liuliu, berlari masuk dengan napas memburu. Tampilannya sedikit sembrono dengan wajah yang dipenuhi binar gosip yang tidak sabar untuk ia tumpahkan.

“Ada apa, Liuliu?” tanya gadis itu sembari menyarungkan kembali pedang tipisnya ke dalam sarung giok. Gerakannya sangat anggun, seolah setiap inci tubuhnya telah terlatih untuk tetap tenang. “Apakah anak nakal itu berulah lagi?”

Ia sudah bisa menebak arah pembicaraan ini. Adiknya, Xiao Jing, memang sering menjadi sumber masalah yang memusingkan kepala.

“Oh? Kau sudah bisa menebaknya?” Wajah Liuliu sedikit kecewa, padahal ia ingin menjadi orang pertama yang mengejutkan Saudari Seniornya itu. Ia mengatur napas sejenak sebelum melanjutkan dengan semangat. “Apa kau ingat tentang kejadian beberapa minggu lalu, saat adikmu dibuat pingsan oleh seorang murid magang?”

Gadis itu mengangguk pelan. Kejadian itu cukup memalukan, meskipun ia sendiri tidak terlalu ambil pusing.

“Apa bocah itu mengajak orang lain untuk membalas dendam?” tanya gadis itu dengan ekspresi yang seketika mendingin. “Dia sendiri yang memulai masalah, lalu dia dipukuli karena lemah. Aku tidak peduli dengan itu. Tapi jika sekarang dia menggunakan kekuasaan keluarga untuk membalas dendam secara pengecut, aku sendiri yang akan mematahkan kakinya.”

Liuliu segera menggelengkan kepalanya dengan cepat hingga ikat rambutnya bergoyang. “Tidak, Saudari Senior! Justru sebaliknya! Adikmu baru saja mengalami pemerasan habis-habisan siang tadi di Paviliun Harta! Hampir semua orang di sana melihatnya disudutkan hingga menyerahkan seluruh poin sektenya. Tidak mungkin berita ini salah!”

“...”

Ia terdiam beberapa saat. Alih-alih marah, ia justru mendengus pelan dengan raut puas yang tipis. “Baguslah. Anggap saja itu harga yang harus ia bayar karena sifat buruk dan kesombongannya yang tidak berdasar itu,” balasnya acah tak acuh.

Liuliu hanya bisa mematung. Ia merasa sedikit kasihan kepada Xiao Jing; memiliki kakak perempuan yang sedingin es dan seobjektif adalah berkah sekaligus kutukan. Kakaknya benar-benar tidak mengenal kompromi, bahkan untuk keluarganya sendiri.

Gadis itu kemudian menyeka keringat di dahinya dan hendak melangkah pergi untuk bermeditasi di kediamannya. Namun, sesuatu yang asing—sebuah rasa penasaran yang jarang ia miliki—membuatnya berhenti sejenak.

“Siapa nama junior itu?” tanyanya tanpa menoleh.

Liuliu tertegun. Ia tidak menyangka Saudari Seniornya yang terkenal apatis terhadap urusan pria dan dunia luar, kini justru menanyakan nama seorang murid luar. “Ehmm, coba kuingat... namanya Qin... Qin Xiang!”

Ia mengulang nama itu di dalam hati. Qin Xiang. Ia mengangguk singkat sebagai tanda pamit, lalu berjalan pergi dengan punggung yang tegak dan langkah yang tenang. Pemandangan punggungnya yang dingin membuat Liuliu menghela napas panjang penuh kekaguman.

“Saudari Xiao Yue... dia benar-benar sudah bertambah kuat lagi. Sepertinya dia benar-benar serius mempersiapkan diri untuk kesempatan di Alam Rahasia Misterius yang akan terbuka dua bulan lagi,” gumam Liuliu penuh harap.

...

Sementara itu, di bagian lain sekte, Qin Xiang baru saja memasuki kamar di asrama murid luar. Ruangan ini jauh lebih baik daripada gubuk tuanya yang bocor. Lantainya kayu bersih, ada meja belajar, dan jendela yang menghadap ke taman kecil. Namun, suasana ramai dan suara tawa murid-murid lain di lorong membuatnya merindukan kesunyian gubuknya yang tentram. Bagi seorang kultivator yang membawa memori ribuan tahun, ketenangan adalah kunci untuk menyentuh hakikat energi alam.

“Hei, kau Qin Xiang, bukan?”

Sebuah suara bernada tinggi menginterupsi pikirannya. Qin Xiang menoleh ke kiri dan ke kanan, sebelum akhirnya menunduk sedikit ke bawah. Di sana berdiri seorang pemuda pendek dengan tubuh bulat seperti domba yang terlalu banyak makan, menatapnya dengan senyum lebar yang membuat matanya hampir menghilang.

“Siapa... kau?” tanya Qin Xiang bingung.

Suasananya mendadak canggung. Pihak lain tampak sangat antusias, sementara Qin Xiang benar-benar tidak mengenalnya.

Pemuda itu tidak merasa tersinggung; ia justru memperkenalkan diri dengan gaya yang sangat ramah. “Aku Qu Long! Kita teman sekamar sekarang, kawan!” Ia menunjuk ke arah tempat tidur tingkat yang terbuat dari kayu jati di sudut ruangan. “Aku tidur di bagian atas, dan kau bisa memakai bagian bawah, oke?”

Qin Xiang menatap tempat tidur tingkat itu, lalu beralih menatap tubuh bulat Qu Long yang tampak sangat berat. Sebuah gambaran buruk melintas di benaknya: ia sedang bermeditasi dengan tenang, lalu tiba-tiba ranjang di atasnya patah dan ia berakhir tertindih oleh tumpukan lemak rekannya ini.

“Aku di atas,” pungkas Qin Xiang dengan wajah serius yang tak bisa diganggu gugat. Tanpa menunggu persetujuan, ia melompat ringan dan langsung menduduki kasur bagian atas.

“Hei! Beginikah cara kau memperlakukan seniormu?” Qu Long tidak terima. Ia memanjat tangga kayu dengan susah payah hingga wajahnya yang bulat dan penuh protes muncul di hadapan Qin Xiang. “Aku sudah di sini lebih dulu, seharusnya aku yang memilih!”

Qin Xiang merasa geli di dalam hatinya, namun ia memutuskan untuk menetapkan hierarki sejak awal agar hidupnya di asrama ini tetap tenang. Tanpa basa-basi, ia melepaskan sedikit tekanan aura dari puncak Pemurnian Qi Tahap 9 miliknya. Udara di kamar itu seketika menjadi berat, menyelimuti tubuh Qu Long dengan tekanan yang mencekam.

“Apakah saudara senior tadi berbicara sesuatu?” tanya Qin Xiang santai, namun matanya yang tajam menatap langsung ke pupil Qu Long dengan ancaman yang tersirat.

Qu Long tercekik sesaat. Keringat dingin mengucur di lehernya yang berlipat. Aura ini... bagaimana mungkin seorang murid luar baru memiliki tekanan seperti seorang ahli Qi Fondasi?

“Ah, bercanda! Aku hanya bercanda, Saudara Qin!” Qu Long langsung memaksakan tawa yang kaku. “Kaulah yang senior di sini! Aku? Aku hanyalah babi gemuk yang tidak perlu kau perhatikan! Silakan, tempat atas itu memang diciptakan khusus untuk orang sehebat dirimu!”

Begitu Qin Xiang menarik kembali auranya, Qu Long langsung meluncur turun secepat kilat dan menyembunyikan seluruh tubuhnya di bawah selimut di kasur bawah.

“Gila... kupikir berita dia menindas trio pengacau itu hanya rumor berlebihan, ternyata aslinya jauh lebih mengerikan!” gumam Qu Long dari balik selimut, tidak berani lagi mengeluarkan suara.

Qin Xiang hanya menggelengkan kepala melihat tingkah laku teman barunya. Ia tidak berniat jahat, ia hanya butuh ketenangan. Namun, sebelum ia memulai meditasinya, rasa lelah yang luar biasa menghampiri tubuh fananya. Ia sadar, meskipun jiwanya abadi, tubuh ini belum tidur dengan layak selama berminggu-minggu sejak ia terbangun di gubuk tua itu.

Sembari memejamkan mata, Qin Xiang membiarkan dirinya jatuh ke dalam istirahat yang mendalam untuk melepaskan rasa penatnya.

Bersambung!

1
budiman_tulungagung
sepuluh mawar 🌹
budiman_tulungagung: oke.. masama brother
total 2 replies
budiman_tulungagung
lima mawar 🌹
Nanik S
Awal yang bagus
Devourer Is Back: Thanks udah mampir🙏🏻
total 1 replies
T28J
saya kasih like dan hadiah 👍
Devourer Is Back: Thanks ya🙏
total 1 replies
Devourer Is Back
Janji deh, sampai tamat 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!