NovelToon NovelToon
Istri Culun Sang CEO: Kebangkitan Sang Ratu Panggung

Istri Culun Sang CEO: Kebangkitan Sang Ratu Panggung

Status: tamat
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:264.2k
Nilai: 5
Nama Author: Eireyynezkim

Dulu, ia adalah Thalia Alexandria—artis papan atas yang hidup dalam sorotan, dipuja dan dielu-elukan oleh jutaan penggemar. Namun, satu malam mengubah segalanya ketika ia ditemukan tak bernyawa di apartemennya sendiri. Saat membuka mata, dunia yang ia kenal telah lenyap. Ia bukan lagi sang bintang gemerlap, melainkan Thalia Anderson—gadis culun, pemalu, dan dipandang rendah oleh keluarganya sendiri. Lebih mengejutkan lagi, ia telah terikat pernikahan dengan Aiden Hugo Maverick, CEO muda yang dingin, kejam, dan sama sekali tidak mencintainya.

Dihina oleh ibu tiri, disakiti saudara tiri, dan dipermalukan di lingkungan kampus, hidup barunya terasa seperti neraka. Namun, mereka semua tak menyadari satu hal—di balik penampilan polos itu, tersembunyi jiwa seorang ratu panggung yang tak mudah ditaklukkan. Dengan tekad membara, Thalia berjanji akan membalikkan keadaan. Termasuk menaklukkan hati sang CEO yang dingin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

25

Pagi itu kampus terasa lebih ringan. Meski gosip tentang insiden kantin kemarin belum sepenuhnya padam, Thalia memilih untuk tidak peduli. Baginya, yang terpenting adalah kuliah berjalan lancar. Usai kelas pagi, ia segera pulang ke mansion, berniat menebus waktu bersama Liam.

"Liam," panggilnya begitu tiba di ruang bermain. "Mau ikut Mama jalan-jalan di taman kompleks?"

Mata kecil Liam berbinar, tangannya langsung menepuk-nepuk boneka dinosaurus. "Mau! Jalan-jalan cama Mama!"

Rina tersenyum dari sudut ruangan. "Itu ide bagus, Nyonya. Udara hari ini cerah. Tuan Kecil juga belum banyak beraktivitas di luar sejak kemarin."

Thalia meraih tangan Liam. "Ayo kita ganti baju yang lebih hangat. Setelah itu, kita main di taman."

Kawasan elit tempat mansion Maverick berdiri bukanlah kompleks biasa. Hanya ada sepuluh mansion, masing-masing berdiri megah dengan arsitektur berkelas, halaman luas, dan pagar tinggi yang dihiasi ukiran mewah. Jalan setapaknya terbuat dari batu marmer impor, ditata rapi dengan lampu taman yang berjejer seperti permata. Di kejauhan, terlihat beberapa mobil sport berkilau diparkir di garasi masing-masing pemilik rumah-para triliuner, taipan bisnis, bahkan mantan presiden pernah tinggal di salah satunya.

Taman utama di tengah kompleks bak surga kecil. Rumput hijau terpangkas rapi, bunga mawar dan anggrek tumbuh berwarna-warni, sementara pancuran air mancur meliuk elegan, memantulkan sinar matahari seperti butiran berlian. Udara di sana bersih, jauh dari hiruk pikuk kota, seolah-olah dunia luar hanyalah mimpi.

Di sanalah Thalia berjalan pelan sambil menggandeng Liam. Anak kecil itu berlari kecil, lalu berhenti untuk menunjuk kupu-kupu.

"Mama, lihat! Kupu-kupu kuning! Cantik banget!"

Thalia tertawa kecil, jongkok di samping Liam. "Hati-hati, jangan ditangkap. Biarkan dia terbang bebas, ya."

"Liam cuma mau lihat." Liam mendekat pelan, lalu terkikik saat kupu-kupu itu terbang lebih tinggi. Ia kembali berlari ke pelukan Thalia. "Mama, Mama! Kupu-kupunya kabul."

Thalia mengusap kepala anak itu lembut. "Itu artinya dia juga punya rumah, Sayang. Sama seperti kita."

Adegan sederhana itu begitu manis, begitu murni hingga siapa pun yang melihatnya akan tahu, cinta di antara mereka tidak bisa dipalsukan.

Namun, dari kejauhan, ada sepasang mata yang mengawasi. Marrie baru saja keluar dari salah satu mansion mewah milik istri pengusaha kaya raya. Ia datang dengan membawa proposal investasi untuk perusahaan Yoshi-proposal yang ia susun dengan penuh perhitungan.

Sayangnya, jawaban yang ia dapat barusan tidak sesuai harapan.

"Maaf, Nyonya Marrie. Untuk saat ini, kami tidak bisa menanamkan modal di perusahaan Anderson. Keuangan kami dialokasikan untuk proyek lain."

Kata-kata penolakan itu masih terngiang. Wajah Marrie menegang. Dasar sombong. Suatu hari kalian akan menyesal menolak.

Ia berjalan keluar dengan langkah berat, tapi tiba-tiba matanya menangkap pemandangan di taman. Seorang perempuan muda dengan gaun sederhana-Thalia-berlari kecil bersama seorang anak laki-laki lucu. Marrie memperhatikan lebih saksama. Anak itu memanggil Thalia dengan riang, memeluknya erat, tertawa lepas.

"Si kecil ini..." Marrie mengerutkan dahi. Senyumnya terbit. Penolakan barusan masih panas, tapi adegan ini seperti api baru yang bisa ia nyalakan. Ia meraih ponsel, menyalakan kamera, dan merekam dari kejauhan. Tangannya bergetar sedikit, bukan karena emosi, melainkan karena terlalu bersemangat menemukan bahan baru.

"Bagus sekali," gumamnya. "Mari kita lihat, bagaimana reaksi Yoshi setelah melihat ini."

Kantor Anderson Corporation berada di pusat bisnis kota. Sebuah gedung tinggi berlapis kaca, dengan lobi megah yang dipenuhi marmer. Yoshi sedang duduk di ruang kerjanya, menatap grafik keuangan yang merosot. Laporan menunjukkan bahwa kondisi perusahaan semakin menurun, arus kas tersendat. Ia tahu mereka butuh investor besar untuk menyelamatkan perusahaan.

Saat itulah pintu diketuk, dan Marrie masuk dengan ekspresi penuh urgensi.

"Yoshi, kau harus melihat ini."

"Apa lagi?" Yoshi mengusap pelipis.

Marrie mengeluarkan ponsel, membuka rekaman, lalu meletakkannya di meja. Video itu menampilkan Thalia yang sedang tertawa, berlari bersama Liam di taman kompleks mewah. Anak kecil itu memanggilnya "Mama," lalu memeluk erat pinggang Thalia.

Yoshi mengangkat alis. "Siapa anak itu?"

"Itulah pertanyaannya, Sayang." Marrie menekan suaranya agar terdengar dramatis. "Aku tadi merekamnya tanpa sengaja. Kau lihat sendiri, anak itu memanggil Thalia dengan sebutan Mama."

"Dia... punya anak?" suara Yoshi merendah. "Tidak mungkin. Aku... aku tidak pernah-"

Marrie segera menambahkan racunnya.

"Pikirkan baik-baik. Thalia menolak makan malam bersama kita, dia jarang pulang, dan dia selalu menghindar darimu. Apa kamu tidak curiga, Sayang? Mungkin saja dia sudah menikah dengan duda tua kaya raya. Atau... mungkin dia hanya jadi istri simpanan. Itu menjelaskan kenapa dia hidup nyaman meski jarang pulang ke rumah Anderson."

Wajah Yoshi memerah. "Jadi maksudmu... anakku... anak kandungku... sudah jatuh begitu rendah?"

"Sayang, aku tidak ingin berkata begitu. Tapi bukti ada di depan mata." Marrie menatapnya penuh simpati palsu. "Dia bahkan tidak merasa bersalah. Dia tampak bahagia dengan bocah itu. Kau harus tegas. Jangan biarkan nama keluarga Anderson dipermalukan."

Yoshi menggenggam meja, nadinya berdenyut cepat. Video itu berulang-ulang ia tonton, seolah mencari celah untuk menyangkal, tapi setiap kali Liam memanggil "Mama," jantungnya semakin terhantam.

"Durhaka!" teriak Yoshi, menghantam meja.

"Aku gagal mendidiknya! Anak itu berani mempermalukan keluarga ini... demi jadi simpanan pria tua!"

Marrie menundukkan kepala,

menyembunyikan senyum puas. Bagus. Teruskan kebencianmu, Yoshi. Dengan begitu, posisiku dan Nadine akan semakin kuat.

Sementara di tempat lain, Thalia sama sekali tidak tahu bahwa hidupnya baru saja dijungkirbalikkan oleh rekaman singkat. Ia duduk di bangku taman bersama Liam. Bocah kecil itu sedang menggambar awan dengan ranting kecil di tanah.

"Mama, ini awan gede," katanya dengan bangga.

"Indah sekali," Thalia tersenyum, menatap karya sederhana itu.

"Awan bentuk dino!" Liam menambahkan, membuat Thalia tertawa kecil.

Cahaya matahari sore jatuh di wajah Thalia dan Liam. Senyum mereka tulus, hangat, dan tak ternoda. Tak ada yang tahu bahwa di balik kebahagiaan itu, sebuah fitnah sedang disusun untuk menghancurkan mereka.

Siangnya ruang rapat Anderson Corporation dipenuhi wajah-wajah tegang. Para manajer duduk berjejer, sebagian menunduk, sebagian lainnya gelisah memutar pena. Di ujung meja, Yoshi bersandar dengan mata merah dan rahang mengeras.

Manajer Keuangan berdiri, menyodorkan map laporan. "Tuan... ada masalah mendesak. Gaji beberapa karyawan bulan lalu belum dibayarkan. Dana operasional kita tersendat. Jika situasi ini berlanjut, kami khawatir akan terjadi aksi mogok bekerja."

Suasana hening sesaat, lalu bergemuruh kecil. Manajer divisi lain ikut bersuara.

"Gudang produksi sudah resah, Tuan. Beberapa staf mengancam berhenti."

"Divisi pemasaran juga terganggu, moral karyawan menurun drastis."

"Kami tidak tahu berapa lama bisa menahan mereka."

Yoshi menutup mata, kepalanya berdenyut. Masalah ini datang bertubi-tubi: penolakan proposal investasi pagi tadi, kabar tentang Thalia yang memenuhi kepalanya, dan kini kabar pahit dari dalam perusahaan sendiri.

"Bodoh semua!" teriak Yoshi tiba-tiba, menghantam meja hingga map laporan terlempar.

"Apa gunanya kalian duduk di kursi manajer kalau masalah sepele seperti ini tidak bisa diatasi?"

Manajer-manajer itu menunduk semakin dalam. Beberapa wajah pucat, takut jadi sasaran berikutnya.

Marrie yang duduk di samping Yoshi mencoba menenangkan. "Sayang, jangan terlalu keras pada mereka. Mereka juga-"

"Diam, Marrie!" Yoshi memotong, matanya membara. "Kau juga gagal! Proposal yang kau ajukan ditolak mentah-mentah! Apa yang sebenarnya kalian semua kerjakan?!"

Marrie terkejut, wajahnya memucat. Jarang sekali Yoshi meluapkan amarahnya padanya di depan orang lain.

Hening panjang melingkupi ruangan. Yoshi bangkit, berjalan mondar-mandir. "Aku butuh solusi, bukan alasan! Investor belum ada, keuangan seret, karyawan mulai resah... Apa kalian ingin perusahaan Anderson runtuh di tanganku?!"

Tidak ada yang berani menjawab.

Yoshi berhenti, menatap kosong ke dinding kaca gedung tinggi itu. Dari atas, kota terlihat ramai dan berkilau, seakan mengejek keruntuhan yang perlahan terjadi di bawah namanya. Dadanya sesak. Ia merasa dunia bersekongkol menjatuhkannya:

Anak durhaka, istri yang gagal, dan para manajer yang tak becus.

Bagaimana nasib Anderson Corporation ke depan? pikirnya. Apa benar aku akan dikenang sebagai pewaris gagal?

1
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
ternyata Lucas suka jg bergosip ☺️☺️ Aiden bikin geger jahat Maya nih 😱☺️☺️
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
Lucas yg sabar ya karna bosmu skrng lg mode bucin sama istrinya ☺️☺️
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
gak usah berkoar" tp semuanya terselesaikan tanpa pakai urat atau adu jotos 😏😏
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
makin bucin Aiden ke Tahlia 😘😘
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
bknya Aiden nyuruh Lucas buat nuntut siapa aja yg sdh fitnah Thalia kok gak ada kelanjutannya sih 🤔😏
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
nyawa Thalia dlm bahaya 😱😱
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
kapan nih Aiden nyatain cinta sama Thalia dan mereka satu kamar biar mereka jalanin rumah tangga kayak yg lainnya 🤔😏
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
jd Aiden dan Thalia tidurnya terpisah gak satu kamar 😏😏
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
kl kamu jujur dr awal aja Aiden pasti Thalia gak akan menanggung hinaan dan cemoohan dr netizen yg maha benar 😏😏
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
ternyata Lilya jahat ya 😏😏
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
makanya umumkan pernikahan kalian jd Thalia gak akan kena bully 😌😏
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
tunjukan taringmu Thalia 💪💪
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
telat Aiden karna seluruh dunia sdh menghina dan mencemooh Thalia akibat mantan mu itu 😌😏😏
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
kasihan Thalia jd bulan"an di kampus
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
apa yg akan Aiden lakukan skrng 😌🤔😏
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
bakal jd masalah ke depannya dan anehnya kok sahabat" Aiden mendukung kl Aiden balik sama Lilya pdhlkan mereka th kl Aiden itu dah nikah 😌😌😏😏
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
kenapa Nadine tinggal di rumah ayahnya bknnya dia tinggal di rumah Abraham ya 😏
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
semoga Aiden gak lama" nyatain cinta ke Thalia ya 😏😌
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
apa nanti Aiden akan tinggal Thalia pas dia sdh ketemu sama Lilya 🤔🤔😏
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
Liam bikin Thalia jd adem ya 😘😘
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!