"What? Masa gue mati cuma gara-gara keselek air minum sih? Nggak estetik banget!"
Itu umpatan terakhir Arcelia sebelum jiwanya "nyasar" ke tubuh Alzena—seorang istri pajangan yang hidupnya lebih tragis dari drama sabun. Alzena yang asli mati karena menyerah, tapi Arcelia yang baru bangun dengan satu prinsip: Siapa yang nyenggol, bakal kena hack sampai ke akar.
Tak ada lagi Alzena yang penurut. Arcelia menggunakan otak hacker-nya untuk membongkar borok keluarga Halim dan membuat Shania kena mental. Sementara Keano, suami dingin yang biasanya menganggapnya sampah, mulai dibuat pusing tujuh keliling karena istrinya berubah jadi singa betina yang tak lagi memuja dirinya.
Game baru dimulai. Arcelia tidak datang untuk minta maaf, dia datang untuk berkuasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAYAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22
Setelah ledakan di *Evergreen Sanctuary* itu, telingaku masih berdengung hebat. Bau hangus kabel dan oksigen yang terbakar seolah menempel di paru-paruku. Kami bertiga—aku, Keano, dan Papa Adrian yang tampak hancur—berhasil keluar tepat sebelum sayap kiri bangunan itu runtuh ditelan salju dan api.
Keano tidak melepaskan cengkeramannya pada lengan ayahnya. Matanya yang biasa sedingin es kini memancarkan amarah yang sangat manusiawi, kemarahan seorang anak yang merasa dikhianati oleh pahlawannya sendiri.
"Jangan harap aku memaafkanmu karena alasan 'melindungiku', Pa," desis Keano saat kami sampai di dalam kabin helikopter. Suaranya rendah, bergetar di antara deru mesin yang mulai menyala.
Papa Adrian hanya menyandarkan kepalanya ke jendela kaca, menatap kobaran api di puncak gunung yang perlahan menjauh. Dia terlihat seperti pria tua biasa, bukan lagi penguasa Winchester yang disegani. "Papa tidak minta dimaafkan, Keano. Papa hanya ingin ini semua selesai."
Aku duduk di seberang mereka, napas masih tersengal. Tanganku gemetar, tapi bukan karena takut. Aku baru saja meledakkan satu-satunya benda yang dicari semua orang. Kalung itu hancur, formulanya lenyap—atau begitulah yang kupikirkan.
"Zen..." panggil Keano, suaranya melunak saat menatapku. "Lo nggak apa-apa?"
Aku hanya mengangguk pelan. "Gue cuma nggak nyangka kalau 'hantu' di keluarga lo lebih ngeri daripada setan beneran."
Mansion Calveron – Jam 04:00 WIB
Mansion yang tadinya terasa seperti kastel pelindung, kini terasa seperti penjara penuh rahasia. Kami sampai saat langit masih kelabu. Keano langsung memerintahkan Evan untuk mengunci seluruh akses mansion. Tidak ada yang boleh keluar atau masuk tanpa seizinnya—termasuk Papa Adrian.
Begitu sampai di kamar, aku langsung menghempaskan tubuhku ke sofa. Keano berdiri di depanku, melepas mantelnya yang kotor terkena abu.
"Lo beneran hancurin kalung itu?" tanya Keano.
Aku menatapnya diam-diam, lalu merobek lapisan dalam jaket kulitku. Dari sana, aku mengeluarkan sebuah *micro-SD* kecil yang sempat kuselipkan sebelum aku melempar kalung itu ke tangki oksigen.
"Gue hacker, Keano. Gue nggak sebodoh itu buat bener-bener ngilangin data berharga," kataku dengan sisa-sisa kesombongan bar-barku. "Isi kalung itu sebenernya chip digital. Gue udah *copy* isinya ke sini, dan yang gue lempar ke api tadi cuma casing kosong sama sirkuit palsu."
Keano tertegun. Dia berjalan mendekat, lalu tiba-tiba berlutut di depanku, memegang kedua tanganku. "Lo bener-bener luar biasa, Alzena. Atau... gue harus panggil lo siapa sekarang?"
Jantungku berdegup kencang. Tatapannya beda. Bukan lagi tatapan mengawasi, tapi tatapan mengakui.
"Panggil gue sesuka lo, selama itu bukan 'korban'," jawabku ketus untuk menutupi rasa gugupku.
Keano menarik napas panjang. "Papa bilang Alexander Crowe terobsesi sama formula ini karena dia mau monopoli pasar medis. Tapi ada satu hal yang Baron bilang tadi... soal Arcelia yang lari ke dalam api."
Aku terdiam. Itu adalah bagian yang paling menyakitkan.
"Gue perlu tau satu hal, Keano," kataku, suaraku mulai parau. "Kalau Arcelia beneran selamat, kenapa dia nggak pernah cari Alzena? Kenapa dia biarin kakaknya menderita sendirian di rumah Halim?"
"Mungkin karena dia pikir kakaknya juga terlibat? Atau mungkin dia nunggu waktu yang pas buat hancurin semuanya dari luar?" Keano mengusap punggung tanganku dengan ibu jarinya. "Tapi ada kemungkinan ketiga. Kemungkinan yang paling masuk akal setelah gue liat lo hari ini."
"Apa?"
"Mungkin Arcelia nggak pernah bener-bener lari jauh. Mungkin dia selalu ada di dekat Alzena, menjaga dari bayang-bayang, sampai akhirnya... takdir bawa dia ke sini."
Aku membuang muka. Keano terlalu cerdas, dan aku mulai merasa rahasia transmigrasiku ini sudah berada di ujung tanduk.
Pagi itu, suasana mansion berubah menjadi medan investigasi. Keano memanggil tim hukum dan tim keamanan siber Winchester yang paling tepercaya. Mereka mulai menyisir data yang berhasil kudapatkan dari chip itu.
Virel datang tak lama kemudian. Wajahnya kacau, bajunya kusut. Dia langsung berlari ke arahku begitu melihatku di ruang tengah.
"Zen! Lo nggak apa-apa?! Gue dapet kabar ada ledakan di puncak gunung!" Virel memegang pundakku, memeriksa setiap inci tubuhku seperti kakak yang ketakutan kehilangan adiknya.
"Gue aman, Kak. Tenang aja," kataku, mencoba menenangkan pria yang tulus ini.
"Ayah... maksud gue, Aldric Halim di penjara terus-menerus teriak soal 'anak terkutuk'," bisik Virel. "Dia bilang Arcelia belum mati. Dia bilang Arcelia bakal balik buat ambil nyawa kita semua."
"Dia bener, Kak," jawabku dingin. "Arcelia emang balik. Tapi bukan buat ambil nyawa kalian. Dia balik buat ambil kebenaran yang kalian sembunyiin."
Virel menatapku bingung, tapi Keano langsung memotong. "Virel, gue butuh bantuan lo buat cek sisa aset Halim Group di Calveron. Ada gudang tua atas nama Baron yang belum sempat diperiksa polisi. Gue curiga di sana ada dokumen panti asuhan yang asli."
Virel mengangguk mantap. "Apapun buat kalian. Gue udah muak sama semua rahasia ini."
Sore harinya, saat salju mulai turun lagi menyelimuti Calveron, aku duduk di perpustakaan, menatap keluar jendela. Papa Adrian datang menghampiriku. Dia tidak memakai setelan jas, hanya *sweater* rajut abu-abu.
"Alzena," panggilnya pelan.
Gue menoleh, tatapan gue masih tajam. "Mau jelasin apa lagi, Pa?"
"Ada satu hal yang belum sempat aku bilang di sana tadi," Adrian memberikan sebuah kunci kuno kecil padaku. "Alexander Crowe nggak cuma simpan formula itu. Dia simpan 'bukti hidup' tentang siapa yang sebenernya nyelamatin Keano sepuluh tahun lalu di pelabuhan."
Gue mengernyit. "Maksud Papa?"
"Bukan Arcelia yang nyelamatin Keano. Dan bukan juga Alzena," suara Adrian bergetar. "Anak itu... dia adalah anak ketiga. Anak yang kehadirannya bahkan nggak tercatat di akte kembar itu. Ada satu rahasia lagi di balik panti asuhan itu, Alzena. Sesuatu yang bahkan Aldric Halim nggak tau."
Gue berdiri dengan sentakan keras. "Anak ketiga?! Papa jangan ngaco ya! Di foto itu cuma ada dua bayi!"
"Cek alamat di Calveron itu lagi, Alzena. Bukan tempat matahari tenggelam... tapi tempat matahari 'disembunyikan'."
Papa Adrian pergi begitu saja, meninggalkanku dalam kebingungan yang lebih dalam. Gue langsung ambil ponsel, menelepon Keano yang lagi di luar sama Virel.
"Keano! Lo di mana?! Jangan ke gudang Baron dulu! Kita harus balik ke alamat panti asuhan yang asli! Ada yang salah sama jumlah kita!" teriakku di telepon.
Tapi dari seberang telepon, bukan suara Keano yang terdengar. Hanya suara desis statis dan suara tawa kecil seorang wanita yang sangat familiar di telingaku.
"Halo, Alzena... atau harus kupanggil 'Kakak'? Akhirnya kamu sampai di bab terakhir ya?"
Gue membeku. Suara itu... itu adalah suara gue sendiri. Suara Arcelia yang asli.
"Lo... siapa lo?!" teriakku, tanganku gemetar hebat.
"Aku adalah alasan kenapa panti itu dibakar. Dan sekarang, aku mau ambil kembali tubuhku. Sampai jumpa di dermaga tua, Kak."
Sambungan terputus. Gue langsung lari keluar mansion tanpa peduli hari sudah mulai gelap dan salju makin lebat. Gue nggak butuh pahlawan, gue nggak butuh Keano sekarang. Gue harus cari tau siapa yang berani pake suara gue buat neror hidup gue sendiri.
Dunia ini emang gila. Dan gue, Arcelia, bakal bikin dunia ini makin gila kalau ada yang berani main-main sama identitas gue.
...****************...
TBC
aku udh mmpir....crtanya seru mskpn pnuh misteri,tp ga sbar krna pnsran....
d tnggu up'ny kk....smnggttt.....😘😘😘