NovelToon NovelToon
Posesif

Posesif

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Lasti Handayani

Kupikir setelah Dev sadar dari koma, dia sudah berubah menjadi seseorang yang tidak lagi mengekangku.
Namun justru, perubahan sikapnya menjadi lebih gila...

"Kita akan menikah hari ini."

"Aku tidak mau!"

"Jika kamu tidak mau, aku akan mengakhiri hidupku sekarang juga."

NB: Season 2 dari Obsession

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lasti Handayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 17

POV: Nara

Devandra mengangkat wajahnya menatapku dengan sorot mata yang sulit dijelaskan. “Buat aku jadi kotor, setelah itu baru aku mandi.”

Aku langsung melepaskan pelukannya sambil mengernyit heran. “Kamu mau aku lempar pakai kotoran?”

Beberapa detik ruangan itu hening sebelum wajah Devandra berubah kesal. “Nara...”

“Ya habis ngomongnya aneh.”

Tiba-tiba saja ia mengangkat tubuhku tanpa peringatan.

“Dev!” Aku refleks memukul pelan bahunya saat ia membawa tubuhku ke arah ranjang, lalu membaringkanku di atas kasur dengan mudah seolah berat badanku tidak berarti apa-apa baginya.

Ia menahan kedua tanganku di samping tubuhku, menatapku dengan ekspresi campuran antara kesal dan geli. “Kadang aku heran, kamu ini polos atau sengaja bikin aku emosi?”

...***...

POV: Devandra

Mataku masih terasa berat untuk terbuka. Rasa lelah setelah berjam-jam memeriksa berkas di kantor membuat seluruh tubuhku terasa remuk. Setelah perdebatan dengan Nara tadi, aku sempat tertidur beberapa saat di kamar. Hingga suara ketukan pintu perlahan membangunkanku.

Dengan langkah malas, aku bangkit dari ranjang lalu berjalan membuka pintu kamar. Dan di sana, Nara berdiri menatapku. Crop top yang ia kenakan memperlihatkan sebagian perut dan lekuk pinggangnya, sementara hot pants pendek itu membuat kaki jenjangnya terlihat semakin mencolok. Penampilannya sederhana, tetapi entah kenapa justru terasa jauh lebih menggoda di mataku.

Aku terdiam beberapa detik, memperhatikan perempuan di depanku tanpa berkedip. Sialnya, bahkan dalam keadaan lelah seperti ini, Nara tetap bisa mengacaukan pikiranku begitu saja.

Hanya dengan melihatnya seperti itu, tubuhku langsung bereaksi di luar kendali. Aku menarik Nara masuk ke dalam kamar sebelum kembali memeluknya erat. Tubuhnya terasa hangat di dalam dekapanku, sementara aroma lembut seperti mawar samar tercium saat wajahku tenggelam di leher jenjangnya.

Perempuan ini benar-benar bisa menghancurkan kewarasanku hanya dengan berdiri diam. Tanpa banyak bicara, aku mengangkat tubuhnya lalu membaringkannya perlahan di atas ranjang. Nara mengeluh pelan, rengekan kecil yang justru selalu berhasil membuat pikiranku semakin kacau.

Aku menatapnya beberapa detik, mencoba menahan gejolak yang semakin sulit dikendalikan. Dan sialnya, Nara terlihat terlalu indah untuk diabaikan.

Aku menatap kedua matanya lekat. Sorot sendu yang selalu ada di sana entah kenapa justru membuatnya terlihat semakin rapuh di hadapanku.

Perlahan aku menyingkap helai rambut yang menutupi sebagian tubuhnya, membiarkannya jatuh ke sisi ranjang. Jemariku bergerak pelan menyentuh kulit lembut di dadanya, menikmati kehangatan yang langsung terasa di telapak tanganku.

Bagian tubuh itu selalu berhasil menarik perhatianku. Dada Nara begitu besar dan lembut dalam genggaman, hingga telapak tanganku tidak bisa sepenuhnya menggenggamnya. Napasku menahan sesaat ketika perempuan itu menggeliat kecil di bawahku, sementara jemariku masih enggan berhenti menyentuhnya.

Ia mendesah pelan saat jemariku mulai meremas dadanya. Seperti biasanya, tangannya langsung mencengkeram bajuku erat setiap kali aku melakukan itu. Kadang reaksi seperti itu justru membuatku bingung. Aku tidak pernah benar-benar tahu apa yang sebenarnya dirasakan perempuan ini.

“Ck, sial...” keluhnya tiba-tiba dengan napas tidak beraturan.

Aku menatapnya kaget. “Kamu ngumpat?”

Nara memutar bola matanya sinis sebelum mendorong bahuku pelan. “Aku tuh lapar. Bukannya makan, malah disuruh muasin nafsu orang.”

Aku tidak bisa menahan tawa kecil mendengar protesnya. “Aku janji ini cuma sebentar,” godaku sambil kembali mendekatkan wajah ke arahnya.

Aku menarik tubuhnya perlahan hingga duduk di hadapanku.

“Buka,” ucapku rendah sambil menatapnya lekat.

Nara terlihat ragu beberapa detik sebelum akhirnya membuka bajunya pelan. Napasku tertahan sesaat ketika pandanganku jatuh pada tubuhnya.

“Kenapa kamu nggak pakai bra?” tanyaku sambil mengusap lembut kulit hangatnya.

“A-aku...” Kalimatnya terputus. Wajahnya mulai memerah saat menatapku gugup.

Jemariku bergerak pelan mengeksplor tubuhnya, membuat napas Nara terdengar semakin tidak beraturan.

“Memakai bra bikin sesak,” lanjutnya lirih.

Aku terkekeh pelan mendengar jawabannya.

“Jadi kamu sengaja bikin aku kehilangan fokus begini?”

Nara langsung memalingkan wajahnya malu-malu, sementara aku masih menikmati ekspresi gugup yang selalu muncul setiap kali berada sedekat ini dengannya

Tubuhnya kudorong perlahan hingga kembali terbaring di atas ranjang. Aku mengecup bibirnya singkat, menikmati kelembutan yang selalu membuatku sulit berhenti. Jemariku bergerak turun menyusuri tubuhnya, membuat napas Nara perlahan berubah tidak teratur.

Dengan gerakan pelan, aku membuka hot pants yang ia kenakan. Seketika dadaku terasa semakin sesak melihat perempuan itu berada di hadapanku tanpa berusaha menyembunyikan dirinya lagi.

Aku bangkit dari posisi semula, mulai melepaskan pakaian yang melekat di tubuhku satu per satu. Namun seperti biasanya, Nara justru memalingkan wajah ke samping, menghindari tatapanku.

Aku terdiam beberapa detik. Kenapa dia selalu melakukan itu? Apa tubuhku memang tidak cukup menarik di matanya? Atau sebenarnya dia hanya merasa malu?

Entahlah, sampai sekarang aku masih kesulitan mendapatkan tatapan matanya sepenuhnya saat berada sedekat ini. Dan anehnya, hal kecil itu justru selalu membuatku penasaran setengah mati.

Aku berjalan menuju kamar mandi untuk mengambil sesuatu. Lemari kecil yang tergantung di dinding kubuka pelan sebelum mengambil satu botol kecil dari dalamnya. Saat kembali ke ranjang, Nara menatapku dengan napas yang masih belum sepenuhnya tenang.

Aku menuangkan sedikit cairan bening ke telapak tangan lalu menyentuh tubuhnya perlahan. Sensasi dingin itu membuat perempuan di hadapanku kembali mendesah pelan sambil menggenggam seprai erat.

Aku mengecup kakinya singkat sebelum kembali menatap wajahnya.

“Santai...” bisikku.

Jemariku mengusap pinggangnya perlahan, mencoba membuat tubuhnya lebih rileks di bawahku. Setelah kurasa cukup, aku mulai mendorong milikku masuk ke tubuhnya. Awalnya pelan—hanya untuk sekedar pemanasan, lalu aku mengguncang cepat hingga tubuhnya ikut bergerak. Tumpukan lemak di dadanya berguncang mengikuti ritme gerakanku.

“Sakit...” Suaranya terdengar lirih dan bergetar. Wajah itu mulai terlihat rapuh, seolah tangis bisa pecah kapan saja. Jemarinya mencengkeram seprai erat sambil berusaha mengatur napas yang sejak tadi kacau.

“Pe-pelan...” Kalimatnya terputus oleh napas yang tersengal.

Aku langsung mendekat, mengecup bibirnya singkat untuk menenangkan perempuan itu. Tangannya bergerak memukul pelan lenganku, lalu mencakar pundakku seolah ingin melampiaskan rasa tidak nyaman yang ia tahan.

“Hei...” Aku menahan pergelangan tangannya perlahan sebelum mengusap sisi wajahnya.

“Sedikit lagi. Santai... jangan tegang.”

Napasku sendiri mulai tidak teratur saat melihat mata Nara yang memerah menahan malu dan emosi. Dan sialnya, setiap reaksi kecil dari perempuan itu selalu berhasil membuatku semakin kehilangan kendali.

"Dev... aku," ia terbata, nafasnya semakin berat.

Gerakanku semakin menjadi.

"Aku ingin pipis," ia terus menggelengkan kepalanya berulang kali, seolah sedang menahan sesuatu.

"Lakukan! Jangan di tahan," perintahku.

Nara langsung memukul bahuku pelan dengan wajah panik, membuatku justru semakin gemas melihat reaksinya. Napasnya semakin kacau, sementara ia terus berusaha menyembunyikan wajah malunya dariku.

Dan di saat seperti itu, perempuan ini selalu terlihat terlalu manis untuk tidak kuganggu sedikit lebih lama.

Beberapa saat kemudian ia berteriak kecil, tubuhnya menegang, diikuti air yang mengalir dari dalam, miliknya.

“Dev, cukup...” Suaranya mulai melemah. Jemari yang sejak tadi mencengkeram tubuhku perlahan kehilangan tenaga, jatuh begitu saja di atas kasur.

Aku mengusap pelan keringat di wajahnya sambil menatap ekspresi lelah perempuan itu.

“Kamu nyuruh aku berhenti,” gumamku pelan disertai tawa kecil, “padahal aku bahkan belum selesai.”

Nara memejamkan mata rapat sambil berusaha mengatur napasnya yang kacau.

“Kamu egois, Nara.” Aku terkekeh kecil sebelum akhirnya menarik tubuhnya kembali ke dalam pelukanku.

Tidak lama kemudian puncak kenikmatan itu membuncah, aku mendesah pelan, tubuhku terasa ringan. Aku menjatuhkan diri di atas tubuh Nara dengan napas berat, sementara perempuan itu langsung mengeluh pelan karena tertimpa tubuhku.

“Berat...” protesnya lirih.

Aku hanya tersenyum tipis tanpa berniat bergerak sedikit pun. Untuk beberapa saat, ruangan itu kembali dipenuhi suara napas kami yang perlahan mulai tenang.

Setelah napasku mulai kembali teratur, aku perlahan bangkit dari ranjang. Nara masih tertidur di sana dengan wajah lelah dan rambut yang berantakan di atas bantal. Untuk beberapa detik aku hanya diam memperhatikannya. Perlahan kuangkat tubuhnya sedikit, membenarkan posisi tidurnya agar lebih nyaman. Setelah itu, aku menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang masih tidak memakai apapun.

Perempuan itu mengerjap pelan dalam tidurnya, lalu kembali terlelap tanpa menyadari apa pun. Aku mengusap singkat kepalanya sebelum berjalan menuju kamar mandi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!