Dia hanyalah sekretaris tak menarik dan berkacamata yang selalu terlihat sibuk dengan tugasnya.
Tapi di balik penampilannya yang polos, Cassia Manon diam-diam menyimpan rasa pada bos playboy, Maxence Kingsford.
Sayangnya, Maxence tak pernah menggodanya meskipun dia seorang playboy karena mungkin di matanya—Cassia sama sekali tak menarik.
Sampai suatu malam dalam sebuah pesta bisnis, Max dijebak dengan minuman perangsang oleh seorang wanita yang menginginkan dirinya.
Cassia Manon yang selalu bersamanya—akhirnya menyelamatkannya, tapi konsekuensinya berat, satu malam menjadi pelampiasan hasrat bosnya. Dan Cassia justru menyerahkan tubuhnya dengan sukarela.
Pagi harinya, Cassia mengira semuanya selesai. Tapi ternyata Maxence tak ingin berhenti.
Bagaimana hubungan mereka selanjutnya? Apakah tetap tanpa ikatan dan hanya sekadar pelampiasan semata? Ataukah akan ada benih-benih cinta di hati Max untuk Cassia yang semakin lama cintanya semakin besar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zarin.violetta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kekesalan Max
Cassia mengikuti Max memasuki lobi gedung. Langkahnya terburu-buru, hampir setengah berlari untuk menyamakan langkah panjang pria di depannya.
Hatinya berdebar tak menentu. Belum pernah dia melihat Tuan Max seperti ini—wajahnya dingin, rahangnya mengeras, dan matanya menyala.
Mereka masuk ke lift khusus eksekutif. Max menekan tombol lantai apartemen. Cassia berdiri di sudut lift, menunduk, jari-jarinya meremas tali tas tangan.
"Tuan Max ... aku benar-benar minta maaf. Aku tidak sengaja—"
"Diamlah.”
Suaranya terdengar datar, tapi ada getaran dingin di sana yang membuat Cassia menggigit bibir. Lift berjalan pelan, naik ke lantai 22 di mana apartemen mereka ada di sana.
Setiap angka yang berubah di layar terasa seperti hitungan mundur menuju eksekusi bagi Cassia.
Pintu lift terbuka. Max melangkah keluar tanpa menoleh. Cassia mengikutinya, melewati lorong panjang dengan karpet tebal yang meredam langkah kaki mereka.
Sampai di depan pintu apartemen, Max memasukkan kode keamanan dan kartu. Pintu terbuka dengan perlahan.
Cassia hampir lupa bahwa sang bos punya akses masuk ke apartemennya juga.
"Masuk," katanya singkat.
Cassia masuk ke ruang tamu yang luas. Penerangan otomatis menyala.
Max melepas jasnya dan melemparkannya ke sofa. Ia membuka beberapa kancing kemeja hitamnya, memperlihatkan garis leher yang kokoh namun kini terlihat tegang. Cassia tetap berdiri di dekat pintu, tak berani duduk.
"Tutup pintunya."
Cassia menutup pintu di belakangnya.
“Duduk,” kata Max ketika Cassia tak kunjung duduk.
Cassia mengangguk dan akhirnya duduk di sofa.
"Kau tak mendengar pesanku kemarin?”
Cassia mengerjap tak mengerti.
“Tentang Bryan,” lanjut Max.
Cassia menggigit bibirnya, dia pikir Max akan marah tentang ponselnya yang mati. Tapi ternyata pria itu menanyakan Bryan. “Dia … dia hanya mengajakku makan malam. Tidak lebih,” jawab Cassia ragu.
Max menghela napas panjang, lalu mendekat. Cassia secara refleks memundurkan tubuhnya hingga punggungnya menyentuh sandaran sofa.
"Kau tahu, Cass," Max berdiri sekitar satu meter darinya, cukup dekat untuk membuat Cassia mencium aroma tubuhnya yang maskulin. "Aku tidak suka sekretarisku bergaul dengan pria tanpa sepengetahuanku. Ayahnya salah satu partner bisnis kita dan aku tak mau dia memanfaatkan kedekatan kalian untuk hal-hal licik, contohnya mencari rahasia perusahaan melalu dirimu.”
Cassia mengerutkan kening. "Tapi ,.. kami tak membicarakan tentang—“
“Diam dulu! Dan masalah ponselmu, kau seharusnya memeriksanya setiap saat. Dan karena Bryan, kau jadi lupa tugasmu,” Max melanjutkan.
“Kewajibanmu sebagai sekretarisku adalah untuk selalu tersedia saat aku membutuhkanmu." Suara Max meninggi sedikit. "Kau mematikan ponselmu. Aku meneleponmu sebelas kali, Cass. Sebelas kali."
Cassia membelalak. "A-aku minta maaf.”
"Apa yang kalian bicarakan selama berjam-jam? Apa yang begitu penting sampai kau lupa kewajibanmu?"
Pertanyaan itu terdengar aneh di telinga Cassia. Kewajiban? Di luar jam kerja? Tapi dia tak berani membantah.
Max sedang dalam keadaan marah, dan Cassia tahu lebih baik tidak melawan bosnya saat emosi memuncak.
"Kami hanya makan malam, Tuan. Bryan membahas tentang hal-hal ringan saja.”
Max mendengus. “Kau benar-benar polos, Cass.”
Max menatapnya lama. Begitu lama hingga Cassia merasa seluruh pikirannya terbaca. Lalu Max mundur selangkah.
Cassia terdiam, tak berani menjawab. Dia takut dipecat karena hal ini.
"Apakah kau menyukai pria itu? Dalam artian romantis,” Max bertanya, tapi suaranya lebih pelan.
"Aku ... tidak tahu, Tuan."
"Tidak tahu?" Max menoleh, alisnya terangkat. "Artinya kau belum menolaknya ketika dia berusaha mendekatimu?”
"Tidak ada yang perlu ditolak karena dia belum—"
"Belum apa? Dia sudah menyatakan perasaannya. Lihatlah wajahnya tadi, Cass. Pria itu menatapmu dengan intens. Dan kau, dengan segala kebaikanmu yang polos itu, membuatnya semakin berani mendekatimu."
“Tapi … apa salahnya jika dia mendekatiku? Dalam artian romantis,” tanya Cassia dengan polosnya. “Mungkin … mungkin aku perlu mencoba. Bryan … pria yang baik.”
“Dia punya tunangan, Cass! Tunangannya tinggal di Inggris dan hubungan mereka sudah berjalan sejak kuliah. Aku baru mengetahui ini tadi. Aku sengaja mencari tahu.” Akhirnya Max mengatakan hal yang sejak tadi dia tahan.
Awalnya Max tak ingin mengatakannya. Cukup dengan alasan yang masuk akal mungkin Cassia akan menjauhi Bryan. Tapi tampaknya Cassia tetap tak bisa menerima jika alasannya hanya itu saja.
Cassia melebarkan matanya. Dia merasa terkejut, tapi kemudian merasa sangat malu. Malu karena Max terasa seperti sedang menjatuhkannya.
Cassia mengepalkan tangannya dan kemudian beranjak dari sofa lalu berjalan cepat ke arah kamarnya.
yuk semangatt cassia bentengi hati km yaa!
suka boleh, tapi dalam batas wajar.
biar kedepannya km tidak merasakan sakit mendalam.
ehh aku yakin cassia bukan type cwe yg bakal terpuruk oleh percintaan sii hihi
tpi untuk visual max disini bikin aku sedikit 🤏 salting 🤭