Maira, seorang istri yang harus membagi penghasilan nya untuk istri dari kakak ipar nya yang sudah meninggal dunia.
Sang suami dan mertua hanya memanfaatkan uang nya, demi kepentingan mereka semua.
Tidak hanya itu, Suami nya, Azam malah menjalin hubungan dengan kakak ipar nya dengan alasan mau membantu janda kakak nya tersebut.
Mereka semua kelimpungan saat Maira memutuskan untuk tidak mau membantu lagi, dan menyerahkan semua nya pada Azam, suami nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leni Anita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
04
Maira meregang kan otot - otot nya yang terasa kaku, karena sudah beberapa jam dia duduk di depan laptop nya. Sudah waktu nya istirahat dan makan siang, Maira meaih ponsel nya yang tadi sengaja dia matikan.
Dia berniat untuk menghidup kan nya, tapi mendadak dia mengurungkan niat nya.
"Ah, nanti saja aku hidup kan ponsel ku. Lebih baik aku makan siang dulu, takut nya selera makan ku keburu hilang di teror mereka!" Guma Maira sambil tersenyum.
Maira memilih untuk makan siang di kantin saja. dia malas jika harus pergi ke luar di tengah panas terik seperti ini.
"Mai, tungguin dong, jalan nya cepat banget!" Panggil Arini dari arah belakang.
"Kamu aja yang lelet kayak bekicot!" Bals Maira sambil tersenyum.
Begitu lah 2 sahabat itu, mereka sering kali beradu mulut. Tapi setelah itu kedua nya kembali akur lagi seperti sedia kala. Kedua nya langsung pergi ke kantin untuk makan siang, cacing di dalam perut sudah berbunyi sejak tadi.
"Gimana Mai, mereka udah nanyain uang gaji kamu belum?" Tanya Arini dengan penasaran.
"Tadi mbak Nia udah telepon aku, tapi tidak aku jawab. Lalu ponsel sengaja aku matiin agar tidak ganggu aku kerja!" Jawab Maira sambil memperlihatkan ponsel nya.
"Ha ha ha, tahu rasa dia. Pasti sekarang dia sedang marah banget, secara kan biasa nya kamu udah kirim kan uang buat dia lagi!" Arini berkata sambil tertawa sumbang.
"Udah yuk makan, nanti lagi bahas tentang mereka!" Ajak Maira yang memang sudah sangat kelaparan.
"Ayuk!" Kedua sahabat itu langsung menikmati makam siang mereka.
Setelah selesai makan dan dia merasa kenyang, baru lah Maira menghidup kan ponsel nya kembali. Ketika ponsel di nyalakan, ada banyak panggilan tak terjawab dan pesan dari semua orang.
"Tuh kan, benar apa ku bilang. Mereka pasti telpon buat tanyakan uang yang sengaja tidak aku kirim!" Maira berkata sambil tersenyum miring.
"Udah lah Mai, biarkan saja mereka semua kelabakan tanpa uang dari mu. Kamu bisa lihat sendiri kan, seperti apa mereka tanpa uang mu!" Arini berkata pada Maira.
Dreeettt, dreeett, dreeett.
Ponsel Maira yang baru saja menyala langsung berdering, Azam yang menelepon nya.
"Hallo mas, ada apa?" Tanya Maira pura - pura lugu.
"Kamu sengaja ya belum kirim uang nya, Mai kasihan mbak Nia dan Ayu. Kalau bukan kita yang bantuin mereka siapa lagi?" Bentak Azam dari seberang sana.
Maira menjauh kan ponsel nya dari telinga, suara Azam sudah bagai kan toa di masjid saja. Membuat telinga Maira sakit mendengar nya, Maira hanya tersenyum puas mendengar nya.
"Maaf mas, aku belum gajian. Gajian bulan ini di tunda selama beberapa hari!" Jawab Maira memberikan alasan yang logis pada Azam.
"Oh ya, benar kah? Sampai kapan gaji mu di tunda Mai?" Suara Azam terdengar melunak.
"Aku gak tahu sampai kapan mas, tidak ada kepastian!" Maira memberikan alasan.
"Ya udah deh, pokok nya kalau nanti gaji mu sudah di bayar, buruan kamu transfer buat Nia, jangan lupa untuk ibu dan juga Lara!" Azam memberi perintah pada istri nya.
"Iya mas!" Jawab Maira sambil tersenyum.
Tut, tut, tut, sambungan telepon pun di putus secara sepihak oleh Azam sebelum Maira sempat bicara lagi.
"Dasar tidak sopan!" Omel Maira dengan kesal.
"Tuh kan kamu dengar sendiri kan Mai, mereka cuma butuh uang mu saja!" Arini kembali berkata.
"Tenang saja Rin, mulai hari ini mereka semua tidak akan pernah bisa menikmati uang ku lagi!" Maira berkata sambil memamerkan senyum manis nya.
"Bagus, aku suka Maira yang sekarang!" Ujar Arini sambil mengagungkan kedua jempol nya.
******
Hari sudah sore, sudah waktu nya bagi Maira dan yang lain nya untuk pulang. Maira segera membereskan meja nya, dia bersiap untuk pulang.
Triing.
Sebuah notifikasi masuk ke ponsel nya Maira, Maira meraih ponsel nya dan melihat ada pesan dari Azam, suami nya.
[Mai, kamu pulang pake ojek saja ya. Aku gak bisa jemput kamu, aku ada urusan mendadak!] Begitu lah bunyi pesan yang di kirim kan oleh Azam pada nya.
"Mau kemana lagi kamu mas?" Guman Maira sambil menggeleng kan kepala nya.
Maira langsung keluar dari ruangan nya, dan di depan pintu dia berpapasan dengan Arini yang juga mau pulang.
"Pulang bareng yuk, sekalian aku anter kamu pulang!" Arini menawarkan bantuan pada Maira.
"Boleh deh Rin, mas Azam gak bisa jemput. Dia bilang ada urusan mendadak!" Ujar Maira pada Arini.
"Prett lah, urusan mendadak kata nya!" Arini berkata sambil mencibirkan bibir nya.
Arini tidak percaya pada Azam yang mengatakan ada urusan mendadak, dia pasti sengaja tidak mau menjemput Maira karena Maira belum mengirim kam uang untuk keluarga nya.
Arini mengemudikan mobil nya dengan kecepatan sedang, saat ini jalanan sedang macet karena ini memang jam nya orang - orang pulang bekerja.
"Makasih ya Rin atas tumpangan nya!" Maira berkata pada Arini saat mobil berhenti di depan pagar rumah nya.
"Sama - sama, awas jangan berubah lagi. Jangan mau di manfaat kan lagi!" Arini kembali mengingat kan sahabat nya sebelum dia turun dari dalam mobil.
"Ok, kamu tenang saja. Maira udah bukan Maira yang dulu lagi!" Jawab Maira sambil tersenyum.
Maira memasuki halaman rumah nya, dia melihat mobil nya terparkir di halaman rumah. Itu arti nya Azam sudah pulang dan ada di rumah.
Maira berjalan menapaki kaki nya di teras rumah, tapi dia mendadak menghentikan langkah nya ketika tiba di depan pintu yang sedang tidak tertutup rapat. Dia mendengar percakapan antara Azam, Mama Wina dan juga Nia dari dalam rumah.
"Kok bisa sih gaji istri mu telat gini, Zam. Ibu jadi batal belanja sama Nia!" Mama Wina berkata dengan nada kesal.
"Iya ni Zam, skincare mbak udah pada habis ni. Bisa - bisa nya Maira telat gajian!" Tedengar suara Nia dari dalam rumah.
"Zam, mulai hari ini biar Mama aja yang atur semua pengeluaran di rumah ini. Kamu suruh si Maira kasih semua uang nya sama Mama!" Mama Wina kembali berkata.
"Terserah Mama aja lah, nanti aku akan bicara sama Maira!" Jawab Azam.
"Zam, kira - kira Maira marah gak kamu sengaja gak jemput dia hari ini?" Tanya Nia pada Azam.
"Ngapain dia harus marah, biarin aja dia pulang naik angkutan umum. Maira gak pantas naik mobil itu, Zam mulai hari ini kamu biarkan saja Nia pergi dan pulang naik angkutan umum saja. Mobil biar bisa di pake sama Nia!" Mama Wina berkata pada anak nya.
Maira yang saat ini berada di depan pintu, mengepalkan tangan nya dengan erat. Bagaimana bisa Mama Wina melarang Maira naik mobil nya sendiri, mobil itu adalah mobil yang di beli oleh Maira sebelum dia menikah dengan Azam dulu.
"Mama, rupanya ini lah sifat kalian yang sebenar nya, aku tidak akan membiarkan kalian semua menikmati harta ku lagi!' Batin Maira di dalam hati dengan begitu marah nya.
rasa sakit itu akan menjadi dasar balas dendam mu, kau harus bangkit berdiri dan lawan semua musuh mu.. TATAKAE TATAKAE
LAKNATULLAH... AYO SEMUA NYA TERIAK LAKNATULLAH