NovelToon NovelToon
KURUNGAN SANG MAFIA DINGIN

KURUNGAN SANG MAFIA DINGIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Elsa Sefia

Lucifer Azrael — Raja Dunia Bawah berkedok pengusaha. Sadis, dingin, mustahil disentuh. Tuhan pun seolah dia tantang.
Florence Beatrix — gadis panti yang seharusnya mati setelah jadi saksi transaksi gelapnya. Tapi Lucifer melanggar aturan: dia mengurung Florence di pulau pribadinya.
"Selamat datang di kurunganmu, Florence Beatrix. Di sini, aku adalah Tuhan."
Di pulau tanpa jalan keluar, Florence benci sekaligus takut. Tapi perlahan dia lihat retaknya: Lucifer selalu menatap salib di lehernya terlalu lama. Raja Dunia Bawah yang kejam, ternyata hafal ayat Mazmur karena masa lalu yang dia kubur dalam darah.
Ini bukan kisah cinta manis. Ini tentang gadis panti yang berdoa di kurungan mewah, dan mafia yang mulai bertanya apakah neraka miliknya bisa ditukar dengan surga di mata Florence

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elsa Sefia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayangan di Ujung Dermaga

---

Pulau Bira Tengah. Pukul 05.42 pagi.

Perahu cepat berlabuh di dermaga kayu yang lapuk, jauh dari permukiman utama. Lucifer turun seorang diri. Ia mengenakan kemeja hitam polos, celana kargo, dan topi yang menutupi sebagian wajahnya. Tidak ada jas mahal. Tidak ada pengawal berjas. Di pulau sekecil ini, penampilan mencolok hanya akan membuat buruannya lari sebelum ia sempat melihat wajahnya.

Udara di sini berbeda. Asin, lembap, dan tenang. Terlalu tenang. Jauh berbeda dengan New York yang bising atau pulaunya yang penuh dengan desing peluru dan teriakan.

Jadi di tempat seperti ini kamu bersembunyi, Florence?

Vulture dan dua anak buahnya sudah menunggu di balik rimbun pohon kelapa, memberi hormat singkat.

“Lokasi target, Bos,” bisik Vulture sambil menyerahkan sebuah teropong kecil. “Rumah panggung bercat biru muda. Ujung kampung, dekat pohon beringin besar. Hanya ada Kakek Samin dan istrinya. Tidak ada orang lain.”

Lucifer menerima teropong itu. Ia tidak langsung berjalan. Ia mengamati. Mempelajari. Raja Neraka tidak pernah menyerbu tanpa membaca medan.

Dari jarak tiga ratus meter, ia mengarahkan teropong ke rumah panggung itu.

Dan di sana, di teras depan, ia melihatnya.

Seorang gadis sedang menjemur jaring ikan. Rambut coklatnya diikat ke atas, tetapi beberapa helai terlepas, tertiup angin laut. Ia mengenakan daster sederhana bermotif bunga, jauh dari gaun putih mahal yang pernah Lucifer berikan. Tubuhnya masih kurus, tetapi pipinya tidak lagi secekung saat terakhir kali Lucifer lihat di layar CCTV.

Ia hidup. Ia bernapas. Ia... nyata.

Dada Lucifer terasa sesak. Bukan marah. Bukan benci. Sesuatu yang lebih primitif. Lega. Rasa lega yang begitu besar hingga hampir melumpuhkan. Selama dua bulan, ia hidup dengan asumsi bahwa Florence mungkin sudah mati di laut. Bahwa ia membusuk di suatu tempat tanpa ada yang tahu.

Tetapi tidak. Mawar layu itu ternyata bisa tumbuh di tanah lain.

Gadis itu menoleh sedikit, tertawa kecil karena sesuatu yang dikatakan Nenek Darmi dari dalam rumah. Tawa itu... tawa itu tidak pernah Lucifer dengar ditujukan untuknya. Tawa yang tulus. Tawa yang damai.

Dan tawa itu, entah mengapa, menusuk Lucifer lebih dalam daripada peluru.

"Kamu bisa tertawa. Di sini. Dengan mereka. Bukan dengan saya."

Tangannya mengepal. Ia menurunkan teropong. Rencana awalnya adalah mendobrak pintu itu sekarang juga, menyeret Florence keluar, dan membakar pulau ini jika perlu. Namun, melihat Florence seperti itu... ia ragu. Sedetik. Hanya sedetik.

“Cukup,” perintahnya pelan kepada Vulture. “Awasi dari jauh. Jangan sampai dia melihat kalian. Saya yang akan mendekat sendiri nanti malam.”

Ia butuh waktu. Ia butuh menyusun kalimat. Apa yang akan ia katakan? _‘Pulang’? ‘Maaf’?_ Kata maaf tidak ada dalam kamus Lucifer Azrael. ‘Kamu milik saya’? Kalimat itu yang membuatnya kabur.

---

Siang hari. Di dalam rumah panggung.

Florence sedang membantu Nenek Darmi mengupas singkong di dapur. Namun, sejak pagi, hatinya tidak tenang. Ada rasa gatal di tengkuknya. Perasaan diawasi. Perasaan yang ia kenal betul selama tinggal di pulau neraka itu.

“Bunga, kamu nggak enak badan?” tanya Nenek Darmi, khawatir.

Florence menggeleng. Ia berjalan ke jendela, mengintip ke luar. Kampung itu sepi seperti biasa. Hanya ada anak-anak bermain, ibu-ibu menjemur ikan asin.

Tetapi kemudian ia melihatnya. Di ujung dermaga, dekat pohon kelapa. Sebuah perahu cepat berwarna hitam. Jenis perahu yang tidak pernah dimiliki nelayan di sini. Perahu yang hanya dimiliki orang-orang kaya. Orang-orang berbahaya.

Darah Florence berdesir dingin. Nalurinya berteriak.

Dia.

Ia tidak melihat wajahnya. Ia tidak perlu. Bau neraka itu sudah ia hafal. Bau kekuasaan, bau darah, bau Lucifer.

Kakek Samin dan Nenek Darmi... orang baik ini tidak tahu apa-apa. Jika Lucifer datang, jika terjadi keributan, mereka bisa menjadi korban. Mereka bisa mati.

Tidak. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Cukup aku saja yang hancur.

Florence memaksakan senyum. “Nek, Kek... Florence mau ke pasar sebentar, ya. Beli garam. Katanya di warung Bi Ijah garamnya habis.”

“Loh, Bunga, biar Kakek saja yang—”

“Tidak usah, Kek. Bunga ingin jalan-jalan sebentar. Udah lama nggak hirup udara pasar.”

Ia memeluk Nenek Darmi erat. Sangat erat. Lalu ia mencium tangan Kakek Samin. “Makasih ya, Kek, Nek. Udah rawat Florence. Florence nggak akan lupa.”

Kakek dan Nenek itu saling pandang, bingung dengan pamitan yang terasa tiba-tiba.

Florence mengambil tas kain kecilnya. Isinya hanya salib kayu, baju ganti satu, dan sedikit uang yang ia sisihkan dari hasil membantu Nenek Darmi menjual ikan. Ia tidak menoleh lagi. Jika ia menoleh, ia tidak akan sanggup pergi.

Ia berjalan cepat, bukan ke pasar, melainkan ke dermaga lain di sisi utara pulau. Dermaga kecil tempat kapal feri perintis bersandar seminggu sekali. Dan hari ini, jadwalnya kebetulan ada.

Ia membeli tiket dengan nama palsu. Tujuan: Pulau Manado Tua. Pulau mana pun, asalkan jauh dari sini. Asalkan Lucifer tidak menemukan Kakek dan Nenek.

Di atas kapal feri yang mulai bergerak menjauhi Bira Tengah, Florence berdiri di buritan. Ia melihat pulau itu mengecil. Ia melihat rumah panggung biru muda itu menghilang di balik cakrawala.

Air matanya jatuh. Untuk Kakek Samin. Untuk Nenek Darmi. Untuk kedamaian yang harus ia korbankan lagi.

“Maafkan Florence, Kek, Nek,” bisiknya kepada angin laut. “Florence harus pergi. Neraka itu... selalu menemukan saya.”

---

Pukul 19.00. Rumah panggung bercat biru muda.

Lucifer berdiri di depan pintu. Ia sudah menyusun kalimatnya. Sudah menenangkan amarahnya. Ia bahkan tidak membawa pistol. Hanya dirinya.

Ia mengetuk pintu. Tiga kali. Pelan.

Yang membukakan pintu adalah Kakek Samin. Wajahnya waspada melihat pria asing yang tinggi besar dengan sorot mata tajam.

“Cari siapa, Nak?”

Lucifer tidak menjawab. Matanya menyapu ke dalam rumah. Kosong. Tidak ada jaring ikan di teras. Tidak ada suara. Tidak ada bau Florence.

“Gadis yang tinggal di sini,” suara Lucifer rendah, menuntut. “Di mana dia?”

Kakek Samin mengernyit. Nenek Darmi muncul dari belakang, langsung memasang badan.

“Di sini tidak ada gadis, Nak. Cuma kami berdua, suami istri tua.”

Bohong. Mereka melindungi Florence.

Rahang Lucifer mengeras. Ia melangkah masuk tanpa izin, memeriksa setiap sudut. Kamar kecil. Dapur. Tidak ada. Hanya ada selimut yang dilipat rapi di pojok, dan di atasnya, tergeletak sebuah salib kayu kecil, yang Florence bikin di pulau ini.

Lucifer memungut salib itu. Masih hangat. Artinya Florence baru pergi beberapa jam lalu.

Ia berbalik, menatap Kakek Samin dengan mata biru yang kini berubah menjadi badai. “Ke mana. Dia. Pergi.”

Nenek Darmi gemetar, tetapi Kakek Samin menatap balik, teguh. “Kami tidak tahu. Tadi siang dia bilang mau ke pasar, sampai sekarang belum pulang. Mungkin dia... mungkin dia memang tidak mau ditemukan, Nak.”

Vulture datang dari belakang, berbisik, “Bos. Kapal feri perintis berangkat jam empat sore. Tujuan Manado Tua.”

Manado Tua.

Lucifer menggenggam salib kayu itu hingga ujungnya menusuk telapak tangannya. Darah menetes. Ia tidak peduli.

Mawar itu kabur lagi. Kali ini, ia tidak hanya kabur dari Lucifer. Ia kabur untuk melindungi orang lain dari Lucifer.

Dan sialnya, hal itu membuat Lucifer semakin gila. Karena artinya, Florence masih peduli. Peduli pada orang lain. Peduli untuk tidak menyakiti. Sifat yang tidak akan pernah Lucifer miliki.

Ia keluar dari rumah itu tanpa kata. Tidak menyakiti Kakek dan Nenek itu. Karena menyakiti mereka berarti menghapus tempat terakhir di dunia yang pernah membuat Florence tertawa.

“Siapkan kapal,” perintahnya kepada Vulture. Suaranya tenang. Terlalu tenang. “Kita kembali ke New York. Bakar mesinnya kalau perlu. Aku mau sampai di sana sebelum matahari terbit.”

---

1
Nia Nara
Lanjut thor
balonku adalima
ya ampunn😭😭 kakk cerita mu buat aku gak sabar buat cepet cepet pulang kerja, trus baca.. aaa sehat sehat orang baik💪
Elsa Sefia: Makasih banyak ya kak 😭🫶 Senang banget ceritaku bisa jadi alasan buat buru-buru pulang dan baca. Oh iya, aku udah update lagi kak! Semoga kamu juga selalu sehat dan lancar kerjaannya ya!
total 1 replies
Nia Nara
Lanjut thor.. Ceritanya bagus, unik. Gak sama dari yg biasa.
Nia Nara: Siap Thor, ditunggu. Jangan lama-lama ya 😅
total 2 replies
Elnata
cepat update lagi, udah tidak sabar dengan kelanjutannya 😭
Elsa Sefia: siap kak, di tunggu ya update selanjutnya 😍
total 1 replies
Elnata
kerenn😍
Elnata
merinding 😭
Elnata
🤭🤭
Elnata
ceritanya bagus, semangat terus kak🥳
Elnata
sadis, Lucifer gilaaa😭
Elnata
nyesek😭
Nia Nara
Lanjut thor, ceritanya bagus banget 👍
Elsa Sefia: oke kak. terimakasih ya udah like. 😍
total 1 replies
Nia Nara
Pahit ya, kasian anak yg dididik terlalu keras jadi kejam begini
Nia Nara
Ceritanya bagus thor. Lain dari yg lain 👍
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
hadir thor
Elsa Sefia: Terimakasih 😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!