Di dunia persilatan yang luas, pedang dan tombak dianggap sebagai raja senjata.
Namun, bagi Mo Fei, benda terkecillah yang paling mematikan.
Tidak menggunakan golok raksasa, tidak mengandalkan kekuatan otot. Senjatanya hanyalah jarum-jarum emas seukuran biji padi.
Siapa pun yang ditandanya... pasti mati sebelum sempat berkedip.
Dikenal sebagai Pengamat Malam, ia datang tanpa suara, pergi tanpa jejak, hanya meninggalkan kilatan cahaya emas dan mayat yang tertancap jarum di titik vital.
"Pedang hanya bisa memotong daging. Tapi jarumku... bisa menusuk jiwa."
Ketika ia ditugaskan melindungi putri cantik yang keras kepala dan terjerat dalam intrik istana, Mo Fei harus menghadapi sekte jahat dan pendekar-pendekar legendaris.
Bisakah seribu jarum emas ini mengubah takdir dunia?
Siap-siap terpukau dengan aksi bela diri tercepat dan paling elegan yang pernah ada! .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putra ilham, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: PENGUASA BARU DAN PERTARUNGAN TERAKHIR
Suasana di depan gerbang Istana Kematian itu mencekam sekali. Angin kencang berhembus menerpa tubuh mereka, membawa bau belati dan bau darah yang menyengat.
Di hadapan mereka, berbaris rapi ribuan pasukan elit yang siap membunuh dalam sekejap. Di tengah mereka, di atas singgasana yang megah dan angker itu, duduklah sosok yang paling ditunggu-tunggu dan paling ditakuti di dunia persilatan saat ini.
Itu adalah Kakek Tian Lao.
Namun, sosok di hadapan mereka ini terasa sangat berbeda dari kenangan Mo Fei. Wajahnya masih sama, keriput dan bijak, namun matanya... matanya kini berubah warna menjadi merah gelap yang menyeramkan. Aura yang dipancarkannya bukan lagi aura hangat dan menenangkan seperti di Lembah Naga Tidur, melainkan aura gelap, dingin, dan mematikan yang membuat udara di sekitar sana terasa berat bagaikan timah hitam.
Mo Fei berdiri tegak, tangannya mengepal kuat di samping tubuhnya. Bai Yue berdiri kokoh di sebelahnya, kipas peraknya sudah siap di tangan, wajahnya waspada maksimal.
"Selamat datang, Mo Fei... dan nona cantik di sebelahmu," ucap Kakek Tian Lao dengan suara yang tenang namun bergema di seluruh area, seolah terdengar langsung di dalam kepala mereka. "Kau benar-benar melebihi ekspektasi kakek. Aku tahu kau akan kuat, tapi tidak menyangka kau bisa sampai ke sini sendirian menembus pertahananku."
Mo Fei menelan ludah dengan susah payah. Dadanya terasa sesak, campuran antara rasa hormat, rasa sakit, dan rasa marah yang meledak-ledak.
"Kakek..." panggil Mo Fei dengan suara berat dan bergetar. "Aku datang bukan untuk memuji kekuatanmu. Aku datang untuk mencari jawaban. Jawaban atas semua pertanyaan yang menghancurkan hidupku."
Ia menatap tajam ke mata gurunya.
"Kenapa?! Kenapa kau melakukan semua ini?! Kenapa kau harus menghancurkan Lembah Naga Tidur yang kau bangun sendiri?! Kenapa kau harus membunuh saudara-saudaraku?! Dan kenapa... kenapa kau harus berpura-pura baik padaku selama ini?! Apa aku hanyalah alat bagimu?! Apa aku hanyalah wadah untuk matamu?!"
Pertanyaan demi pertanyaan meluncur keluar dari mulut Mo Fei, menusuk tajam ke hati sang kakek.
Kakek Tian Lao terdiam sejenak, lalu perlahan ia tersenyum. Senyum yang dingin dan tanpa emosi.
"Kau masih terlalu muda dan polos, Fei," jawabnya pelan. "Dunia ini keras. Hukum alam adalah yang terkuatlah yang bertahan hidup. Lembah itu? Itu sudah kuno, kaku, dan membosankan. Mereka terlalu takut untuk maju, terlalu takut untuk mengambil risiko. Aku hanya membersihkan sampah-sampah yang menghambat kemajuan."
Ia mengangkat tangannya perlahan, memamerkan kekuatan gelap yang berputar di telapak tangannya.
"Dan kau... kau adalah karya terindahku. Aku membesarkanmu, aku melatihmu, bukan karena aku keibaan atau sayang padamu semata. Tapi karena aku butuh bibit yang sempurna. Aku butuh seseorang yang bisa menguasai Mata Batin agar segel itu bisa terbuka. Dan sekarang... waktunya sudah tiba."
"Jadi kau mengakui semuanya?!" mata Mo Fei memerah menahan amarah. "Kau mengakui bahwa kau adalah dalang di balik semua pembantaian itu?! Kau tidak punya hati sama sekali?!"
"Hati itu hanya beban, cucuku," jawab Kakek Tian Lao dingin. "Orang yang ingin menjadi penguasa dunia dan meraih keabadian tidak boleh punya hati. Hati hanya membuat orang lemah dan ragu. Lihatlah aku sekarang! Lihatlah kekuatan yang kumiliki! Ini adalah kekuatan para dewa! Dan sebentar lagi... aku akan menjadi Tuhan satu-satunya di dunia ini!"
BRUK!
Kakek Tian Lao melompat turun dari singgasana dan mendarat dengan lembut di tanah, namun hentakan kakinya membuat tanah di sekitarnya retak-retak!
Jaraknya sekarang hanya tinggal sepuluh langkah dari Mo Fei!
"Serahkan matamu dan teknikmu padaku sekarang, Mo Fei. Bergabunglah denganku. Bantu aku menguasai dunia. Maka kau akan menjadi orang kedua paling berkuasa setelahku. Kita akan hidup bersama selamanya. Bagaimana?" tawarnya dengan suara manis namun memuakkan.
"JAHANAMM!!"
Mo Fei tidak bisa menahan amarahnya lagi!
"Kau bicara indah sekali padahal kau sudah membunuh begitu banyak orang tak bersalah! Kau menghancurkan rumahku! Kau menginjak-injak kehormatan lembah! Dan sekarang kau berani memintaku bergabung?! DASAR MONSTER!!"
Air mata jatuh lagi dari mata Mo Fei, tapi kali ini air mata itu mengering seketika karena terbakar oleh api amarah!
"Aku datang ke sini bukan untuk bergabung! Aku datang ke sini untuk menghentikanmu! Aku datang untuk membersihkan noda hitam yang kau buat! Dan jika perlu... AKU AKAN MENGHENTIKANMU DENGAN TANGANKU SENDIRI!"
WIBBB!!!
Aura emas yang luar biasa kuat meledak keluar dari tubuh Mo Fei! Cahayanya begitu terang hingga bersinar terang benderang menandingi kegelapan yang menyelimuti istana itu!
"HAHHAHAHA! BAGUS! SANGAT BAGUS!" Kakek Tian Lao justru tertawa lebar penuh semangat! "Aku suka melihat semangatmu seperti itu! Semakin kuat perlawananmu, semakin nikmat rasanya saat aku menghancurkanmu nanti!"
Ia merentangkan kedua tangannya lebar-lebar.
"Kalau begitu... mari kita akhiri segalanya hari ini! Ini adalah pertarungan antara Guru dan Murid! Antara Kekuatan Lama dan Kekuatan Baru! Siapa yang menang, dialah yang berhak menentukan nasib dunia!"
Tiba-tiba...
"Jangan anggap remeh kami, Kakek Tua!"
Bai Yue melangkah maju berdiri di samping Mo Fei! Kipas peraknya terbuka penuh! Aura biru yang dingin dan tajam ikut menyala mengiringi aura emas Mo Fei!
"Kau pikir Mo Fei sendirian?! Aku Bai Yue ada di sini! Dan aku tidak akan membiarkanmu menyakiti dia sedikit pun! Siapapun kau, sekuat apa pun kau... lawan kami berdua dulu!!"
Kakek Tian Lao menatap Bai Yue sekilas, lalu tertawa mengejek.
"Hah! Seorang anak kecil yang baru belajar berjalan juga ingin ikut campur urusan dewa? Baiklah... kalau begitu kalian mati bersama saja! Jangan menyesal!"
Suasana menjadi hening sejenak. Detik-detik yang menegangkan.
Angin berhenti berhembus. Bahkan burung pun tidak berani berkicau.
Hanya tersisa dua kekuatan besar yang saling berhadapan.
Di satu sisi, ada Kakek Tian Lao dengan kekuatan gelap yang sudah mencapai level dewa iblis, penuh dengan ambisi dan kejahatan.
Di sisi lain, ada Mo Fei dan Bai Yue, berdiri bahu membahu, dipenuhi dengan tekad, kebenaran, dan semangat yang tidak bisa dipatahkan!
"MULAI!!" teriak mereka serentak!
WUSSSSSSS!!!
Pertarungan terakhir yang menentukan nasib dunia pun dimulai!