NovelToon NovelToon
GUS BAD BOY MY HUSBAND

GUS BAD BOY MY HUSBAND

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: putri Sefira

Arini, seorang mahasiswi sastra yang berjiwa bebas, terjebak dalam janji perjodohan antara ayahnya dengan pemilik Pondok Pesantren Al-Ikhlas. Ia membayangkan akan menikah dengan sosok pria religius yang kaku, namun kenyataan justru mempertemukannya dengan Gus Zikri.
​Zikri adalah anomali di lingkungan pesantren. Di balik statusnya sebagai putra Kyai, ia adalah seorang pemberontak yang lebih akrab dengan deru motor gede, jaket kulit, dan balapan liar daripada kitab kuning. Baginya, pernikahan ini hanyalah beban hutang budi yang harus ia bayar.
​Arini harus bertahan di tengah dinginnya sikap Zikri dan aturan ketat pesantren yang asing baginya. Namun, perlahan ia mulai menemukan sisi lain dari suaminya yang tersembunyi di balik topeng "bad boy". Di sisi lain, Zikri pun mulai terusik oleh kehadiran Arini yang tidak hanya melihatnya sebagai seorang "Gus", tapi sebagai manusia biasa.
​Dua dunia yang bertolak belakang ini pun berbenturan. Bisakah Arini melunakkan hati Zikri yang liar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri Sefira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17: Kepulangan Sang Pemilik Takdir

Fajar belum benar-benar pecah ketika Ninja 1000cc milik Zikri membelah kabut tipis yang menyelimuti jalan raya menuju pinggiran kota. Di belakangnya, Arini memeluk pinggang Zikri dengan kekuatan yang luar biasa, seolah takut jika ia melonggarkan pegangannya sedikit saja, realitas akan merenggut suaminya.

Tujuan mereka bukan langsung ke pesantren, melainkan sebuah desa kecil yang tersembunyi di balik perbukitan kapur, tempat di mana Mbok Nah—sang saksi kunci—dikabarkan menghabiskan masa tuanya dalam kesunyian.

"Zik, kamu yakin dia masih di sana?" Arini berteriak di balik helmnya, suaranya nyaris tertelan deru angin.

Zikri hanya mengangguk mantap. Ia ingat pesan dosen hukumnya semalam: Kebenaran seringkali bersembunyi di tempat yang paling kita lupakan.

Rumah Mbok Nah adalah sebuah gubuk kayu sederhana dengan pelataran yang dipenuhi jemuran kerupuk singkong. Saat Zikri turun dari motor dan membuka helmnya, seorang wanita tua yang sedang menyapu lidi mendongak. Matanya yang rabun menyipit, lalu seketika sapunya jatuh ke tanah.

"Gus... Gus Zikri?" suara itu gemetar, serak oleh usia.

Zikri berlari kecil dan langsung mencium tangan wanita itu. "Ini Zikri, Mbok. Zikri-nya Ummi Fatimah."

Mbok Nah menangis sesenggukan, memeluk Zikri seolah-olah pria itu masih anak kecil yang sering bersembunyi di balik sarungnya saat dimarahi Kyai Ahmad. Arini berdiri di belakang, merasakan haru yang luar biasa. Ia segera mengeluarkan alat perekam dan buku catatannya.

Di dalam rumah yang remang-remang, Mbok Nah mulai bercerita. Suaranya adalah melodi kepedihan yang selama sepuluh tahun ini tidak memiliki pendengar.

"Sore itu, sebelum Nyai Fatimah mengembuskan napas terakhir, beliau memberikan sebuah bungkusan kain jarik kepada saya," Mbok Nah bercerita dengan tatapan kosong ke arah dinding.

"Beliau bilang, 'Nah, simpan ini. Jangan berikan pada Kyai. Berikan pada Zikri saat dia sudah cukup dewasa untuk melawan'."

Zikri terpaku. "Bungkusan apa, Mbok?"

Mbok Nah bangkit dengan susah payah, menuju ke arah lemari tua yang kakinya sudah diganjal batu bata. Dari balik tumpukan kain usang, ia mengeluarkan sebuah kotak logam kecil yang sudah berkarat.

"Said tahu saya menyimpan sesuatu. Itu sebabnya dia memfitnah saya mencuri perhiasan Nyai dan mengusir saya tanpa pesangon. Tapi dia tidak tahu saya menanam kotak ini di bawah pohon sirsak sebelum pergi, dan baru mengambilnya setahun kemudian saat keadaan sepi."

Tangan Zikri gemetar saat membuka kotak itu. Di dalamnya bukan emas atau permata, melainkan buku harian Ummi Fatimah dan sebuah kaset pita lama. Di lembar pertama buku harian itu, tertulis dengan tinta yang mulai memudar: "Untuk Zikri, agar kau tahu bahwa ibumu tidak pernah menyerah pada kegelapan."

Arini merasakan jantungnya mencelos. Inilah "rekaman" yang ia karang dalam email gertakannya kepada pengacara Said. Ternyata, fiksi yang ia ciptakan secara tidak sengaja bersinggungan dengan kenyataan yang lebih dalam.

"Zik, kita harus segera ke Al-Ikhlas," bisik Arini setelah membaca beberapa halaman buku harian itu. "Buku ini... bukan cuma soal kesehatan mental Ummi. Di sini beliau mencatat transaksi-transaksi aneh yang dilakukan Said sejak sepuluh tahun lalu. Said sudah mulai 'mencuci' uang hasil perdagangan ilegal melalui yayasan bahkan saat Ummi masih hidup. Beliau mencoba menghentikannya, dan itulah yang membuat beliau diisolasi."

Zikri menutup kotak itu dengan keras. Matanya kini tidak lagi memancarkan keraguan. "Said bukan cuma menghancurkan ibuku. Dia menjadikan pesantren sebagai tameng kejahatannya."

Mereka segera memacu motor menuju Al-Ikhlas.

Namun, di tengah perjalanan, ponsel Arini bergetar hebat. Sebuah panggilan dari nomor yang tidak dikenal.

"Halo?"

"Mbak Arini... ini Rian," suara di seberang terdengar panik, diiringi suara riuh rendah seperti keributan. "Jangan ke pesantren sekarang! Said nekat! Dia membawa rombongan orang berpakaian hitam, mereka memaksa masuk ke ndalem. Mereka mencari sesuatu di bawah ubin kamar kalian! Kyai Ahmad mencoba menghalangi tapi beliau didorong hingga jatuh!"

"Rian, tahan mereka! Kami hampir sampai!" Zikri merampas ponsel itu dan berteriak, lalu memacu motornya hingga kecepatan maksimal.

Saat Ninja merah itu memasuki gerbang pesantren, pemandangan di sana sangat kacau.

Para santri berdiri bergerombol dengan wajah ketakutan. Di depan ndalem, tiga mobil SUV hitam terparkir sembarangan.

Zikri tidak berhenti. Ia memacu motornya tepat ke arah teras ndalem, mengerem mendadak hingga ban belakangnya mencit dengan suara memekakkan telinga. Ia melompat turun bahkan sebelum mesin mati sempurna.

"SAID! KELUAR!" suara Zikri menggelegar, memantul di dinding-dinding tinggi pesantren.

Pintu jati besar itu terbuka. Said keluar dengan wajah yang tidak lagi tampak seperti ustadz yang berwibawa. Matanya merah, kemejanya berantakan. Di belakangnya stands Marco, tersenyum menyeringai sambil memainkan pisau lipat di tangannya.

"Gus Zikri... selamat datang di akhir ceritamu," ejek Marco.

"Mana rekaman itu, Arini?" Said maju, mengabaikan Zikri. "Serahkan rekaman itu sekarang, atau pesantren ini akan terbakar malam ini juga!"

Arini turun dari motor, memegang kotak logam berkarat itu tinggi-tinggi. "Rekaman yang aku ceritakan di email itu tidak ada, Said. Aku berbohong."

Said tertawa mengejek. "Aku tahu kamu penulis fiksi, Arini. Tapi aku tidak bodoh. Kamu pasti menyembunyikan sesuatu."

"Memang," Arini membuka kotak logam itu. "Aku berbohong soal rekaman digital, tapi aku tidak tahu kalau Ummi Fatimah meninggalkan sesuatu yang jauh lebih nyata. Buku harian ini... dan kaset ini. Isinya bukan cuma suara, tapi bukti tertulis kejahatanmu sejak sepuluh tahun lalu."

Wajah Said berubah pucat pasi. Ia menoleh ke arah Marco, memberi isyarat.

Marco melangkah maju, namun Zikri menghadangnya. "Cukup, Marco. Urusanmu denganku sudah selesai di jembatan itu. Hari ini, ini adalah urusan keluarga."

"Keluarga?" Marco tertawa. "Said menjanjikanku separuh dari aset yayasan jika aku bisa melenyapkan bukti-bukti ini. Itu urusan bisnis bagiku!"

Marco menyerang dengan cepat, mengayunkan pisaunya. Zikri menghindar dengan gerakan yang sangat gesit—hasil dari bertahun-tahun berkelahi untuk bertahan hidup. Namun kali ini, Zikri tidak membalas dengan kemarahan. Ia menggunakan teknik kuncian yang efektif, menjatuhkan Marco ke lantai teras dan menekan nadinya hingga pria itu mengerang kesakitan.

"YUSUF! SEKARANG!" teriak Zikri.

Dari balik asrama, puluhan santri senior dan alumni yang sudah dikoordinasi oleh Rian muncul. Mereka tidak membawa senjata, melainkan membawa saksi-saksi hidup: warga desa, beberapa mantan pengurus yang pernah dipecat Said, dan yang paling mengejutkan... tim jurnalis televisi yang sudah dihubungi Arini sejak semalam.

Kamera-kamera menyala. Lampu sorot media menerangi wajah Said yang kini tampak seperti tikus yang terjepit.

"Said... seluruh dunia sedang menonton ini," Arini berkata dengan tenang, meski hatinya berdegup kencang. "Kamu tidak bisa lagi membakar kebenaran."

Kyai Ahmad keluar dari pintu samping dengan bantuan tongkat, wajahnya tampak sangat berduka namun tegar. Ia menatap Said dengan tatapan yang menghancurkan.

"Aku yang memberikanmu kepercayaan, Said. Aku yang menganggapmu sebagai tangan kananku saat aku tersesat dalam duka," Kyai Ahmad bicara dengan suara yang berat.

"Ternyata, musuh yang paling berbahaya memang yang makan di meja yang sama."

Said terjatuh lemas. Marco dan anak buahnya sudah dikepung oleh para santri yang kini tidak lagi takut. Beberapa menit kemudian, suara sirine polisi meraung-raung di kejauhan.

Zikri melepaskan cengkeramannya pada Marco. Ia berdiri dan mendekati Arini. Mereka berdua berdiri berdampingan di depan teras *ndalem*, menghadap ke arah ratusan santri yang selama ini melihat mereka sebagai simbol kehancuran, namun kini melihat mereka sebagai pembawa cahaya.

Malam itu, setelah polisi membawa Said dan jaringan Marco pergi, pesantren Al-Ikhlas kembali tenang. Namun, ini adalah ketenangan yang berbeda. Ketenangan setelah sebuah badai besar yang membersihkan segala kotoran.

Zikri datang membawa dua cangkir teh hangat. Ia duduk di samping Arini, menatap bintang-bintang yang kini tampak lebih terang di atas pesantren.

"Jadi, bagaimana akhir novelmu, Rin?" tanya Zikri sambil tersenyum.

Arini menutup laptopnya. Ia menatap Zikri dengan penuh cinta. "Novel itu sudah selesai, Zik.

Dan ending-nya... bukan Bab yang menyedihkan itu. Ending-nya adalah sekarang. Saat kita menyadari bahwa rumah bukan lagi tentang dinding tinggi atau citra suci, tapi tentang kebenaran yang membuat kita bisa tidur dengan nyenyak."

"Lalu, apa yang akan kamu tulis besok?"

Arini bersandar di bahu Zikri. "Aku akan menulis cerita tentang seorang Gus yang menjadi sarjana manajemen, yang membangun pesantren paling transparan di dunia. Dan tentang istrinya... yang berhenti menulis tentang rahasia, dan mulai menulis tentang harapan."

Zikri tertawa kecil, mencium kening Arini. Di kejauhan, sayup-sayup terdengar suara santri mengaji. Kali ini, suaranya terdengar lebih merdu, seolah-olah setiap ayat yang dibaca benar-benar meresap ke dalam hati yang sudah merdeka.

1
Titik Sofiah
awal yg menari ya Thor moga konfliknya nggak trllau berat 😍
sefira🐼
makasih kak semangat juga💪
nis_ma
semangatttt Thor 🔥🔥
ceritanya menarikkk, sukses selalu thorr
Rian Moontero
lanjoooott👍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!