NovelToon NovelToon
CEO Terjebak Cinta Perjodohan

CEO Terjebak Cinta Perjodohan

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Dijodohkan Orang Tua / Janda
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ica Marliani

Aku adalah Raka. Seorang Pebisnis yang telah mapan sebelum usia kepala tiga. Aku mempunyai kekasih seorang janda beranak satu, hubunganku di tentang oleh mama dengan alasan perbedaan pandangan adat dan statusnya.
Aku dijodohkan dengan seorang wanita yang sama sekali tidak aku kenal. Akankah mama berhasil menjdohkanku atau mama akan luluh dengan pilihanku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ica Marliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22: Harga Sebuah Damai

"Sayang, tolong kasih kesempatan abang untuk menjelaskan,"

Aku berusaha merangkul pinggang Laras. Tapi ia mengelak.

"Semua ini nggak seperti yang kamu pikirkan. Abang dan Ningsih tidak ada hubungan apa-apa lagi."

Laras tetap bungkam. Ia sudah berdandan rapi sekali, rambutnya yang lurus iya ikat sanggul karena setiap keluar rumah, Laras memakai hijab. Perbedaan kontras yang cukup mencolok juga dengan Ningsih.

Kupeluk ia dari belakang, ia coba memberontak namun tenaganya kalah kuat denganku.

"Percayalah pada abang, sayang. Hanya Laras belahan jiwa abang."

Kutopang daguku kebahunya. Laras menghela napas berat. Entah pasrah atau marah aku buat begitu.

"Laras kecewa sama abang,"

Akhirnya suara Laras keluar juga. Aku sudah tidak dianggurin.

"Laras harus dengar penjelasan abang. Abang hanya niat menolong, tidak ada tujuan lain selain itu."

"Ya, abang memang terlalu baik sehingga tidak bisa membedakan mana yang modus mana yang tulus. Atau abang masih punya rasa padanya?"

Aku menelan ludah. Ini pertanyaan menghakimi. Sejak Ningsih mengirim foto itu ke mama, selesai sudah semua rasa untuknya.

"Abang dijebak sayang, soal foto itu apa itu, dia dan asistennya pasti sudah bekerjasama. Abang benar-benar panik, ia kehabisan banyak darah. Abang menolong hanya karena rasa kemanusiaan. Di hati abang cuma ada Laras,"

Laras tertawa mengejek.

"Di hati abang cuma ada Laras, tapi abang tidak bisa mengusir masa lalu dari hidup abang."

Ia membalikkan badannya menatapku. Kedua tangannya menyilang di dada.

"Abang janji akan menjaga jarak dari Ningsih."

Reaksi Laras masih dingin. Tidak seperti biasanya. Beberapa hari ini senyumnya cukup mahal.

"Oh iya, hari ini abang sengaja cuti. Mau kan Laras menemani abang? Sejak di Jakarta kita bel pernah belanja. Abang mau Laras beli apapun yang Laras suka,"

Laras tetap asyik dengan peralatan kosmetiknya. Biasanya wanita paling senang diajak belanja, tapi wanita di depanku ini tak bergeming sama sekali ditawari belanja sesuka hatinya.

"Ya udah, abang tunggu Laras di bawah ya, sekalian ajak Kania. Hari ini khusus untuk orang yang abang sayang,"

Gombalan ku benar-benar rak berguna. Buktinya Laras tetap acuh tak acuh.

Aku berjalan menuruni anak tangga, sambil otakku terus berpikir bagaimana caranya meluluhkan hati Laras.

"Melamun atau galau?"

Aku hampir terjatuh. Suara Kania seperti ember pecah yang tak berguna.

"Kaget ya, bang? Bagaimana? Sukses merayu kak Laras?"

Ia mengerling manja. Tersenyum penuh kemenangan.

"Udah, nggak usah senyum-senyum. Abang tahu yang kamu mau,"

"Oh, ternyata Bang Raka sudah paham. Maksud Kania. Nah mumpung abang sudah paham, jadi Kania nggak perlu basa-basi lagikan?"

Ia senyam-senyum melirik ku, menyipitkan matanya. Lalu ber gelendotan dibahuku.

"Cepat bilang! Asal Laras bisa memaafkan abang, apapun deh abang turuti."

Ia melonjak. Kegirangan.

"Yes, apapun. Janji ya?"

"Iya, abang janji, Kania!"

Uh, raut mukanya bikin aku gondokan. Giliran ada maunya, ia baik-baik sama aku.

"Oke, Kania akan atur supaya kak Laras bisa memafkan abang. Tapi Kania punya syarat,"

"Udah, cepatan kamu bilang. Nggak usah bertele-tele!"

"Oke Pak Raka. Sederhana saja, hari ini Kania hanya mau belanja tanpa batasan limit..."

Aku melirik tajam kearahnya, sebelum ucapannya selesai.

"Ya, sudah kalau nggak boleh. Kania juga nggak mau bantu abang,"

Ia pergi begitu saja meninggalkanku. Aku bergegas menahan langkahnya.

"Eit, iya abang setuju syarat Kania!"

"Yes!"

Ia mengambil kesempatan dalam kesempitanku.

"Nah, gitu dong bang. Kania udah lama nggak belanja keperluan skincare, baju soalnya. Habis jatah bulanan dibatasi mama terus,"

Senyumnya menyeringai.

"Oke, karena kesepakatan kita sudah tercapai, Kania mau menemui kak Laras. Menjalankan misi terselubung dari bang Raka!"

Ia berlari menaiki tangga lantai atas. Umurnya saja yang sudah 19 tahun tapi kelakuannya seperti bocah dibawah sepuluh tahun.

Aku akhirnya bisa menarik napas lega, pokoknya delapan puluh sembilan persen aku yakin, kalau Kania berhasil membujuk Laras.

Seperempat jam aku termangu di sofa tamu, scroll ponsel lalu tutup lalu scroll lagi dengan gelisah. Tapi Laras dan Kania tak juga turun, hingga panggilan telepon dari Ningsih membuat moodku berubah. Kubiarkan suara panggilan itu meraung-raung tanpa jawaban.

"Nak Raka, ponselnya berdering," Suara bik Iyem membuatku terkejut. Padahal aku hanya ingin pura-pura tidur tapi kenyataannya aku benar-benar tertidur.

"Iya bik, teman kantor," Balas ku sekenanya.

Kuraih ponsel tersebut, sepuluh kali panggilan tak terjawab dari Ningsih. Dan sebuah pesan singkat yang ia kirimkan.

Terimakasih, Raka. Kamu menepati janjimu mengembalikan posisiku di kantor. Aku janji tidak akan lagi membuat masalah denganmu atau istrimu. Dari wanita yang pernah singgah di hatimu Ningsih.

Kutaruh ponsel dengan kasar. Haruskah ia perjelas pesan terakhir itu. Apa ingin mengingatkan aku tentang kisah lama. Sudah aku kubur semenjak aku menikahi Laras.

"Pagi abangku yang baik hati!"

Kania seperti Jailangkung tiba-tiba muncul sekejap menghilang. Aku menoleh ke belakang, seusai janjinya, ia berhasil membawa Laras ke bawah.

"Siap bang, kita berangkat. Kania sudah nggak sabaran mau belanja,"

Bocah tengil itu berlagak seperti pahlawan kesiangan. Ku pandangi Laras ia masih dengan jurus cueknya. Ya sudahlah, yang penting dia mau ikut. Nanti aku pikirkan lagi cara merayunya.

"Karena abang nggak pake sopir, artinya abang yang jadi sopir. Dan kak Laras di depan nemanin bang Raka, biar Kania dibelakang. Bebas mau selunjuran."

Ia mengedipku. Licik-licik begitu, otaknya licin juga ya. Aku tersenyum puas, nggak rugi-rugi amat aku ngeluarin duit banyak untuk belanjainnya.

"Udah bang, gas. Kak Laras kita belanja sepuasnya hari ini. Soalnya CEO kita lagi baik hati,"

Kania menggoda Laras, tampak wanita cantik itu senyum tertahan. Padahal tinggal senyum aja kalau mau, tapi sok gengsi di depanku. Aku ini suamimu, Laras. Bukan musuhmu.

"Kania kapan mulai pendaftaran kuliah?"

Aku sengaja memancing Kania agar bicara. Sebab dari awal perjalanan sampai setengah perjalanan hanya diisi keheningan. Kania sibuk dengan loudspeakernya, sementara Laras sibuk dengan lamunannya. Dan aku? Aku berperang dengan pikiranku sendiri.

"Hmpz, nanyain Kania bang?"

"Bukannya abang yang urus semua, ah garing amat abang nih. Bilang ajalah maksud dan tujuannya. Nggak udah pake berbelit."

Jemariku meremas stang mobil dengan kuat. Apalagi kalau bukan karena ucapan Kania. Bocah tengik ini seperti bisa membaca pikiranku.

"Kania, ngomong dong. Abang sunyi kalau Kania nggak ribut. Nah, kwn seru kalau kek gitu. Nggak udah basa-basi."

Mukaku sontak memerah. Tapi ucapan memojokkan itu berhasil membuat Laras tertawa kecil.

Aku menarik tangannya.

"Maafkan abang, sayang. Abang janji akan lebih mengutamakan Laras."

"Cie ela, gombal terus. Anggap aja Kania ini nyamuk bang."

Aku meliriknya dari kaca. Ini anak benar-benar nggak bisa lihat abangnya senang sebentar saja. Udah perang dunia sama kakak iparnya beberapa, masih saja sewot lihat kemesraanku.

"Nah, asal jangn lupa ya perjanjian kita?"

Ucapannya membuat Laras melirikku dengan tatapan melotot. Ia mencubit pinggangku manja.

"Berarti Laras memaafkan abangkan?" Ia tersipu tapi tidak menjawab.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!