Saga Mahendra percaya satu hal, pengkhianatan tidak pernah memiliki alasan. Itulah yang ia yakini sejak hari ia melihat Sahira, wanita yang ia cintai, berpelukan dengan sahabatnya sendiri. Sejak saat itu, Saga memilih pergi. Meninggalkan cinta, mimpi, dan masa lalu yang terlalu menyakitkan.
Lima tahun kemudian, ia kembali. Bukan lagi remaja yang rapuh, tapi seorang dokter dengan hati yang telah membeku. Namun, takdir mempermainkannya. Sahira muncul kembali bersama seorang anak berusia empat tahun.
Waktu tidak pernah berbohong. Lalu, siapa ayah dari anak itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Di taman kecil rumah sakit itu, angin pagi berembus pelan membawa aroma bunga yang tumbuh di sepanjang jalan setapak. Sahir berdiri di dekat hamparan bunga sambil memandangi Saga lekat-lekat. Pertanyaan dari saga tak dijawab olehnya. Matanya yang bulat berkedip beberapa kali, seolah sedang memperhatikan sesuatu dengan serius.
Saga yang menyadarinya mengangkat sebelah alis tipis.
“Kenapa lihat saya begitu?”
Sahir tidak langsung menjawab. Anak kecil itu justru tersenyum kecil sebelum melangkah mendekat. Lalu, tanpa ragu, tangan mungilnya menyentuh wajah Saga.
Sentuhan kecil yang hangat itu membuat Saga sedikit terdiam.
“Ibu pelnah bilang…” ujar Sahir dengan suara cadelnya, “wajah ayah itu tampan.”
Jantung Saga seakan berhenti sesaat. Sahir masih melanjutkan dengan polos, tanpa sadar bahwa setiap katanya menghantam hati pria di depannya.
“Ibu bilang ayah idungnya mancung … telus sedikit lewel dan nakal.”
Saga membeku, tatapannya perlahan berubah.
“Katanya…” Sahir terkekeh kecil, “ayah itu kayak Sahel.”
Untuk pertama kalinya, Saga benar-benar kehilangan kata-kata. Dadanya terasa sesak oleh sesuatu yang tiba-tiba menyeruak begitu kuat. Tanpa sadar, matanya mulai memanas. Ia cepat mengalihkan wajah sedikit, namun satu tetes air mata tetap jatuh begitu saja.
Sahir langsung terlihat bingung.
“Doktel nangis?”
Saga buru-buru menyeka sudut matanya pelan.
“Nggak,” jawabnya lirih sambil tersenyum tipis. “Cuma kena angin.”
Sahir mengangguk kecil, mempercayainya begitu saja. Lalu anak itu kembali bicara dengan santai, seolah topik tadi bukan sesuatu yang besar.
“Sahel ndak takut ndak punya ayah.”
Saga kembali menatapnya.
“Kenapa?”
"Karena Sahel punya Papa Levano,” jawabnya polos. Nama itu membuat Saga sedikit menegang. Namun, Sahir tidak menyadarinya sama sekali.
“Papa Levano baik,” lanjutnya ceria. “Suka beliin Sahel lobot.”
Saga mencoba tetap tenang meski dadanya mulai terasa aneh.
“Papa Revano?” ulangnya pelan.
“Iya…” Sahir mengangguk semangat. “Walaupun keljanya jauh.”
Anak kecil itu lalu mendongak menatap Saga lagi dengan penuh rasa penasaran.
“Doktel udah punya anak?”
Saga tersenyum kecil lalu menggeleng.
“Belum.”
“Kenapa?”
“Belum ketemu orang yang cocok.”
“Oh…” Sahir tampak berpikir serius beberapa detik sebelum akhirnya berkata polos,
“Padahal Doktel tampan.”
Saga tertawa kecil mendengarnya.
“Gitu?”
“Iya,” jawab Sahir mantap. “Doktel tampan pasti banyak cewek cantik yang suka.”
Lalu tanpa dosa, bocah itu melanjutkan,
“Kayak ibu.”
Saga langsung terdiam.
“Tiap hali ada aja om-om genit datang ke toko bunga buat goda ibu,” ujar Sahir dengan ekspresi serius lucu. “Ada yang kasih coklat, ada yang pula-pula beli bunga padahal mau ngajak ibu makan.”
Saga spontan menahan napas kecil. Entah kenapa, ada rasa tidak nyaman yang tiba-tiba muncul di dadanya. Namun, Sahir justru tertawa keras sendiri.
“Tapi ibu ndak suka!” katanya bangga.
Saga akhirnya ikut tersenyum kecil sambil mengusap pelan rambut anak itu.
“Apa kamu suka es krim?” tanyanya tiba-tiba.
Mata Sahir langsung berbinar.
“Suka!”
“Rasa apa?”
“Stobeli dicampul mata.”
Saga mengernyit bingung.
“Mata?”
Sahir mengangguk semangat.
“Iya … yang ijo-ijo kayak lumput tetangga.”
Beberapa detik Saga mencoba memahami sebelum akhirnya tersadar.
“Matcha?” tebaknya.
“Iya itu!” Sahir tertawa keras. “Mata!”
Tawa polos anak itu membuat Saga ikut tertawa pelan. Namun, di balik senyumnya pikiran Saga justru semakin kacau. Ucapan Sahir tadi terus terngiang di kepalanya.
“Ayo kita beli es krim.”
Ajakan Saga membuat mata Sahir langsung berbinar lebar.
“Benelan?” tanyanya antusias.
Saga mengangguk kecil.
“Iya. Tapi habis itu balik, nggak boleh keliling terlalu lama.”
“Iya!” jawab Sahir semangat sampai melompat kecil.
Saga sampai harus menahan bahu anak itu agar tidak terlalu aktif mengingat kondisinya baru membaik. Mereka akhirnya berjalan keluar taman kecil rumah sakit menuju minimarket yang berada di area lobby bawah.
Sepanjang jalan, Sahir terus berceloteh dengan suara cadelnya, membuat beberapa perawat yang melihat mereka tersenyum gemas.
Sementara itu di kamar rawat inap, pintu terbuka tergesa.
Sahira masuk dengan napas sedikit memburu setelah kembali dari toko bunganya. Namun, langkahnya langsung terhenti, ruangan itu kosong. Ranjang Sahir sudah rapi tak ada anak kecil itu di sana.
Wajah Sahira seketika pucat.
“S… Sahir?” Jantungnya langsung berdegup keras.
Tangannya gemetar hebat saat matanya bergerak mencari ke setiap sudut ruangan. Dalam sekejap, berbagai kemungkinan buruk memenuhi kepalanya.
'Bagaimana kalau Sahir jatuh? Bagaimana kalau anaknya dibawa orang? Bagaimana kalau...'
“Nggak…” bisiknya panik. Air matanya langsung menetes tanpa sadar. Ia berbalik cepat hendak keluar kamar ketika seorang perawat menghampirinya.
“Bu Sahira?”
Sahira langsung memegang lengan perawat itu panik.
“Anak saya mana? Sahir ke mana?”
Perawat itu sedikit terkejut melihat wajah Sahira yang pucat ketakutan.
“Tenang, Bu,” ujarnya cepat. “Sahir sama Dokter Saga.”
“Dokter … Saga?”
Perawat itu mengangguk.
“Tadi Sahir bilang bosan di kamar, jadi Dokter Saga mengajaknya jalan-jalan ke taman.”
Tubuh Sahira perlahan melemas lega. Napasnya yang sempat terasa sesak akhirnya sedikit membaik. Namun, setelah rasa lega itu datang, muncul perasaan lain yang perlahan membuat dadanya kembali tidak tenang. Takut jika Saga terlalu lama berada di dekat Sahir. Takut jika pria itu mulai menyadari sesuatu. Sahira segera melangkah menuju taman rumah sakit. Matanya mencari ke setiap sudut, namun ia tidak menemukan siapa pun di sana.
“Ke mana…” gumamnya pelan. Ia berbalik hendak mencari ke arah lain dan saat itulah langkahnya terhenti. Dari kejauhan, ia melihat Saga berjalan ke arahnya.
Pria itu menggendong Sahir di satu tangan, sementara di tangan kecil anak itu ada cup es krim strawberry dan matcha.
Sahir tertawa kecil sambil sibuk memakan es krimnya, sedangkan Saga sesekali menahan tubuh bocah itu agar tidak terlalu banyak bergerak.
Pemandangan sederhana itu membuat jantung Sahira berdetak lebih keras dari biasanya.
Saga yang melihat Sahira berdiri tak jauh dari sana perlahan menghentikan langkahnya. Tatapan mereka bertemu lalu Saga menurunkan Sahir perlahan.
Begitu melihat ibunya, Sahir langsung berlari kecil menghampiri.
“Ibu!”
Sahira spontan berjongkok dan memeluk anaknya erat.
“Kamu bikin ibu takut…” bisiknya pelan sambil mencium rambut Sahir.
“Tadi sama Doktel Saga beli es klim!” ujar Sahir antusias sambil menunjukkan cup kecil di tangannya.
Sahira berusaha tersenyum kecil.
“Iya, Ibu lihat.”
Tak lama kemudian seorang perawat datang menghampiri mereka sambil membawa map.
“Bu Sahira,” panggilnya sopan. “Untuk kondisi Sahir sudah membaik dan diperbolehkan pulang hari ini.”
Sahira mengangguk lega.
“Alhamdulillah…”
“Nanti Ibu bisa tunggu obatnya di farmasi, ya.”
“Baik, terima kasih.”
Perawat itu tersenyum lalu pergi. Sahira perlahan berdiri sambil menggenggam tangan Sahir. Ia berniat segera pergi sebelum keadaan menjadi semakin rumit.
Namun baru beberapa langkah,
“Sahira.”
Langkahnya langsung terhenti. Suara yang dulu selalu terdengar hangat, kini terasa begitu berat di telinganya. Perlahan Sahira berbalik Saga berjalan mendekat dengan wajah yang sulit dibaca. Tatapannya lurus menatap Sahira. Penuh sesuatu yang selama ini tertahan.
“Aku mau tanya sesuatu.”
Sahira diam, jantungnya mulai kembali tidak tenang.
Saga berhenti tepat di hadapannya.
“Siapa ayah Sahir?”
Sahira menegang.
Sementara Saga terus menatapnya tanpa melepas sedikit pun.
“Atau…” lanjutnya pelan namun menusuk, “selama ini kamu memang main belakang bukan cuma sama Revano?”
Napas Sahira tercekat.
“Apa kamu juga punya laki-laki lain selain aku dan Revano?”
Kalimat itu menghantam begitu keras tetapi Sahira tidak membela diri. Dia hanya menatap Saga dengan mata yang perlahan dipenuhi air mata.
Sementara di samping mereka Sahir berdiri kecil sambil memegang es krimnya, tidak mengerti kenapa suasana tiba-tiba berubah begitu menyesakkan.
Sudah tahu salah,bukannya mengakui dan meminta maaf untuk kesalahan mu..Malah dengan gobloknya mau di manfaatkan manusia sikopet macam Laura..Bodoh memang kau,otak udang memang.