NovelToon NovelToon
Ayah Balqis

Ayah Balqis

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Action / Penyelamat
Popularitas:398
Nilai: 5
Nama Author: Ayah Balqis

Ini adalah kisah nyata Rudini, seorang ayah di Cirebon yang divonis stroke. Tidak ada uang, tidak ada pekerjaan, hanya ada seorang anak balita bernama Balqis yang menangis kelaparan di malam hari.

Di rumah yang sama, tinggal seorang nenek janda yang sudah tua dan tak berdaya. Dengan stok beras nol dan popok anak yang tinggal dua lembar, "Ayah Balqis" mencatat perjuangan seorang pria yang tubuhnya stroke, namun hatinya menolak menyerah demi senyum buah hatinya.

Bukan fiksi. Ini adalah teriakan harapan dari Desa Cilukrak. Sebuah catatan hariantentang lapar, sakit, doa, dan cinta seorang ayah yang tak terbatas.

Kisah ini ditulis sebagai bentuk ikhtiar dan doa agar Balqis bisa makan, Ayah bisa terapi, dan Ibu bisa tenang. Mohon doa dan dukungannya dari para pembaca.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayah Balqis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10: Ocehan Balqis & Keyboard yang Berantakan

Malam itu, hujan turun rintik-rintik membasahi atap seng rumah kami. Suaranya berirama pelan, menemani keheningan di dalam kamar. Aku duduk di depan layar laptop tua yang sering kugunakan untuk menulis. Cahaya biru dari layar menerangi wajahku yang lelah.

Tangan kananku terasa berat sekali malam ini. Pasca-stroke, memang ada hari-hari di mana otot-ototku seolah menolak diajak bekerja. Jariku kaku, sulit menekan tombol keyboard satu per satu. Ide untuk Bab 10 sudah penuh di kepalaku, tapi tanganku tidak mampu mengeksekusinya. Aku menghela napas panjang, menahan rasa frustrasi yang mulai naik.

“Bah… Bah…” suara cadel terdengar dari belakang.

Aku menoleh. Balqis, putri kecilku yang baru berusia dua tahun, sudah bangun dari tidurnya. Ia berdiri goyah di ambang pintu kamar, memeluk boneka kelinci kesayangannya yang sudah agak lusuh. Rambutnya yang halus acak-acakan, matanya yang bulat besar masih setengah tertutup karena mengantuk.

“Balqis? Kenapa bangun, Nak?” tanyaku lembut, berusaha menyembunyikan rasa lelahku.

Anak sekecil itu belum bisa menjawab dengan kalimat utuh. Ia hanya berjalan tertatih-tatih mendekatiku, langkah kakinya yang mungil masih belum terlalu stabil. “Yah… bah…” ucapnya sambil mengulurkan kedua tangan mungilnya, minta digendong.

Hatiku langsung luluh. Aku mengangkatnya pelan, meski pinggangku terasa nyeri, lalu mendudukkannya di pangkuanku. Balqis segera menyandarkan kepalanya yang hangat di dadaku, menghirup aroma khas ayahnya yang mungkin menenangkan baginya.

“Ayah mau nulis cerita, Dek. Tapi tangan Ayah sakit,” bisikku padanya, seolah ia mengerti setiap kataku.

Balqis mendongak, menatapku dengan polos. Lalu, tiba-tiba tangannya yang gemulai meraih ke arah keyboard laptopku.

“Tidak, Dek, itu jangan…” cegatku lemah.

Tapi terlambat. Jari-jari mungil itu sudah menekan-nekan tombol secara acak. *Tak tak tak tak!* Suara tombol keyboard berbunyi riuh. Di layar, muncul huruf-huruf aneh yang tidak beraturan: “asdfghjkl;;;;;”.

Awalnya aku ingin mencegahnya, takut naskahku rusak. Tapi saat melihat wajah Balqis yang tertawa girang karena bunyi tombol itu, hatiku berubah. Ia merasa sedang bermain piano. Bagi anak berusia dua tahun, keyboard ini adalah mainan terbesar di dunia.

“Ihihihi! Yah! Bah!” Balqis tertawa lepas, tangannya terus menari-nari di atas tombol, menciptakan ribuan karakter acak di layar.

Aku tersenyum tipis. Rasa frustrasiku tadi perlahan hilang. Mungkin ini memang cara Tuhan mengingatkanku. Bahwa menulis tidak harus selalu sempurna. Tidak harus selalu serius. Kadang, hidup itu ya seperti ocehan Balqis: acak, tidak terbaca, tapi penuh kebahagiaan.

“Ayo, Dek. Kita bikin tulisan rahasia sama-sama,” candaku.

Aku membiarkan Balqis menekan tombol sesuka hatinya selama beberapa menit. Layar laptopku kini penuh dengan simbol-simbol aneh hasil ketikan iseng seorang balita. Setelah puas, Balqis bosan. Ia meletakkan kepalanya kembali di lenganku, jempolnya masuk ke mulut, tanda ia mulai mengantuk lagi.

“Sudah ya, Dek? Sekarang giliran Ayah yang nulis pelan-pelan,” bisikku.

Dengan satu tangan kiri yang masih cukup kuat, dan tangan kanan yang kaku namun tetap kupaksa bergerak, aku mulai menghapus coretan-coretan Balqis. Perlahan, aku mulai mengetik ulang ide ceritaku. Setiap kali jariku sakit, aku menatap wajah Balqis yang tertidur pulas di pangkuanku. Napasnya teratur, bulu matanya yang lentik bergetar pelan.

Malam itu, proses menulis menjadi sangat lambat. Aku hanya bisa mengetik satu kalimat, lalu berhenti sejenak untuk mengelus punggung Balqis agar ia tidak terbangun. Satu paragraf selesai dalam waktu tiga puluh menit. Tapi anehnya, malam itu rasanya begitu istimewa. Kehadiran Balqis yang sekadar tidur di pangkuan, tanpa bicara banyak, tanpa membantu mengetik, justru memberiku kekuatan luar biasa.

Jam dinding menunjukkan pukul sebelas malam. Akhirnya, bab ini selesai juga. Naskahnya mungkin tidak sepanjang biasanya, tapi penuh dengan makna. Aku menatap layar, lalu menatap putri kecilku.

“Terima kasih sudah menemani Ayah, Dek,” bisikku sambil mencium keningnya yang halus.

Balqis bergumam pelan dalam tidurnya, “Bah… yah…” seolah menjawab dalam mimpinya.

Aku mengangkatnya pelan, lalu membaringkannya kembali di kasur kecil di sampingku. Selimutnya kuselimutkan rapat-rapat. Sebelum aku beranjak pergi, Balqis sempat membuka matanya sedikit, tersenyum tipis, lalu tidur lagi. Senyum anak dua tahun yang polos, tanpa beban, tanpa tahu bahwa ayahnya sedang berjuang mati-matian demi masa depannya.

Aku berdiri di samping tempat tidurnya, memandangi wajah polos itu dalam diam. Air mataku menetes lagi malam ini. Tapi ini air mata syukur. Allah mungkin mengambil kesehatan fisiku, membatasi gerak tanganku, tapi Dia memberi ganti yang jauh lebih berharga: kehadiran malaikat kecil bernama Balqis yang selalu membuat hari-hariku berwarna.

Pagi harinya, matahari bersinar cerah melalui celah gorden. Balqis bangun lebih dulu. Ia berlari-lari kecil di sekitar kasur, tertawa melihat debu yang menari di cahaya matahari. “Bah! Bah!” serunya riang.

Aku bangkit perlahan, sendi-sendi tubuhku masih terasa kaku, tapi hatiku ringan sekali. Di meja makan, aku menyiapkan bubur instan untuk sarapan kami. Balqis duduk di kursi makannya, memegang sendok dengan cara yang masih canggung, menumpahkan sebagian buburnya ke dagu.

“Makan yang habis ya, Dek,” kataku sambil mengelap dagunya.

Balqis tertawa, lalu menyodorkan sendoknya yang penuh bubur ke mulutku. “Yah! Makan!” pintanya.

Aku membuka mulut, menerima suapan dari putriku. Rasanya hangat, bukan hanya karena buburnya, tapi karena cinta yang terkandung di dalamnya. Anak usia dua tahun mungkin belum mengerti apa itu stroke, apa itu kesulitan ekonomi, atau apa itu target kontrak novel. Tapi ia mengerti satu hal: ia sayang pada Ayahnya. Dan itu sudah cukup bagiku.

Setelah sarapan, aku kembali ke laptop. Layar itu masih menampilkan dokumen Bab 10 yang kami kerjakan semalam. Ada beberapa baris kode aneh sisa ketikan Balqis yang sengaja tidak kuhapus. Biarkan itu tetap ada sebagai saksi sejarah bahwa seorang balita pernah menjadi sumber inspirasiku di malam yang sulit.

Sebelum aku menekan tombol 'Simpan' final, aku menambahkan satu catatan kecil di dokumen itu, khusus untuk diriku sendiri di masa depan:

*"Bab ini ditulis pada malam hujan, tanggal 27 April 2026. Diselingi dengan ocehan dan ketikan acak dari Balqis yang berusia 2 tahun. Jika suatu hari kamu merasa lelah dan ingin menyerah, baca kembali bab ini. Ingatlah bahwa kamu tidak pernah berjuang sendirian. Ada malaikat kecil yang selalu siap menemani malam-malam sunyimu, bahkan hanya dengan kehadirannya yang sederhana."*

Air mataku menetes lagi, membasahi keyboard laptop. Tapi kali ini, aku biarkan saja. Biarlah air mata ini menjadi tinta tambahan yang membuat ceritanya semakin hidup.

Saya harus menyelesaikan bab ini.

Saya harus memastikan dunia membaca kisah kami.

Supaya para ayah di luar sana tahu, bahwa mereka punya kekuatan tak terbatas di mata anak-anak mereka, bahkan ketika anak itu masih bayi.

Supaya semua orang tahu, bahwa cinta seorang anak kecil bisa menjadi obat bagi luka-luka terbesar ayahnya.

Satu bab akhirnya benar-benar selesai.

Sepuluh bab sudah menjadi kenyataan.

Setengah perjalanan menuju kontrak sudah kami lalui bersama.

Terima kasih, Balqis.

Terima kasih, Tuhan.

Aku tidak sendirian.

Kita tidak sendirian.

Catatan Akhir dari Ayah:

Menulis bab ini mengingatkanku pada satu hal penting: bahwa keterbatasan bukanlah akhir dari segalanya. Ketika tangan ini tak lagi mampu mengetik dengan lincah, Tuhan mengirimkan malaikat kecil-Nya dalam wujud Balqis yang berusia dua tahun. Ocehannya yang belum jelas, tawanya yang renyah, dan pelukannya yang hangat adalah bahan bakar terbaikku.

Mungkin bagi sebagian orang, mengurus anak balita sambil sakit adalah beban ganda yang berat. Tapi bagiku, itu adalah momen paling berharga dalam hidup. Setiap kali Balqis menjatuhkan sendok, setiap kali ia menangis minta digendong, itu adalah pengingat bahwa aku masih dibutuhkan. Bahwa aku masih punya tanggung jawab besar untuk tumbuh bersamanya.

Saya menulis cerita ini bukan hanya untuk hiburan. Saya menulis karena saya ingin meninggalkan warisan untuk Balqis. Suatu hari nanti, ketika ia dewasa dan membaca kisah-kisah ini, ia akan tahu bahwa ayahnya pernah berjuang sekuat tenaga. Bahwa di tengah sakit dan keterbatasan, ayahnya tetap berusaha menjadi pahlawan dalam hidupnya, bahkan sejak ia masih berusia dua tahun.

Kepada para pembaca yang mungkin sedang menghadapi kesulitan serupa, pesan saya sederhana: jangan pernah menyerah. Mungkin jalan kalian terjal, mungkin tubuh kalian lemah, tapi selama ada cinta dan harapan, tidak ada yang mustahil. Anak-anak kita adalah kekuatan terbesar kita. Mereka adalah alasan kita untuk bangkit setiap pagi.

Terima kasih kepada semua yang sudah membaca hingga titik ini. Doa dan dukungan kalian adalah bahan bakar bagi saya untuk terus menulis. Mohon doakan agar saya dan Balqis selalu diberi kesehatan dan kekuatan untuk menyelesaikan perjalanan ini.

Bab 10 ini adalah simbol dari setengah perjalanan kami. Sepuluh bab telah kami lalui, sepuluh bab lagi menanti di depan. Dengan semangat baru dan hati yang lebih kuat, kami akan terus melangkah. Karena kami tahu, di ujung jalan ini, ada kebahagiaan yang menunggu.

Sekali lagi, terima kasih, Balqis. Terima kasih, Tuhan.

Aku tidak sendirian.

Kita tidak sendirian.

Sampai jumpa di Bab 11.

1
Wawan
Semangat ✍️
Ray Penyu: Terima kasih, Mas Wawan. Komentar "Semangat" dari Mas berarti banget buat saya. Cerita ini adalah kisah nyata saya — istri saya sedang disiksa di Malaysia, ayah saya baru meninggal, dan saya sakit stroke. Tapi saya terus menulis karena saya percaya Allah tidak meninggalkan hamba-Nya yang berjuang. Doakan istri saya selamat. Doakan saya kuat. Terima kasih sudah peduli. 🙏
total 1 replies
Ray Penyu
Siap, Kak Alana! 👍 Terima kasih sudah menemani sampai bab ini. Bab selanjutnya sedang dalam proses. Doakan lancar ya perjalanan Ayah Balqis ini. Salam hangat! ✨
Alana kalista
lanjut
Ray Penyu
baca sampai habis yah kak 🙏
Hasyim Syawal
Okeh Nice karya nya bagus sekali kak
Ray Penyu: makasih kak🙏
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!