Satria tidak pernah meminta hidup yang mudah.*
> *Ia hanya ingin satu hal sederhana: dicintai dan dihargai.*
> *Tapi di hari ia datang melamar perempuan yang ia cintai,*
> *yang ia dapat bukan jawaban…*
> *melainkan ludah di kakinya dan tawa yang merobek harga dirinya.*
>
> *Dari situlah semuanya dimulai.*
> *Ia bangkit. Membangun hidup dari nol dengan gerobak cilok dan tangan yang kapalan.*
> *Sampai akhirnya ia bertemu perempuan yang ia kira adalah jawaban dari doanya.*
> *Ternyata… itu awal dari penjara.*
>
> *Enam tahun hidup dalam hinaan.*
> *Enam tahun menahan luka yang tidak terlihat.*
> *Enam tahun bertahan — bukan karena kuat,*
> *tapi karena ada satu anak kecil yang setiap hari berkata:*
> *"Ayah jangan sedih… Aini sayang Ayah."*
>
> *Karena pada akhirnya, bukan soal seberapa lama kita bertahan —*
> *tapi untuk siapa kita memilih untuk tetap hidup.*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widianti dia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7.Bangun Dengan Malu.
Kepalaku pecah.
Itu yang pertama aku rasakan sebelum mataku benar-benar terbuka. Denyutan di pelipis kanan yang berdegup seperti ada yang memukul dari dalam, pelan tapi konsisten, tidak mau berhenti. Mulutku kering dan rasanya seperti ada yang mati di dalamnya semalam. Cahaya dari jendela yang tidak ditutup kain gordennya dengan sempurna itu menghantam mataku dan aku menutupnya lagi langsung.
Terlalu terang.
Semua terlalu keras. Suara ayam tetangga. Suara motor lewat di jalan luar. Suara sendok di dapur.
Dapur.
Aku membuka mata pelan-pelan. Perlahan. Seperti membuka sesuatu yang engselnya berkarat dan protes keras kalau dipaksakan.
Langit-langit kamarku. Retak di sudut kiri yang sudah dari dulu tidak diperbaiki karena tidak ada waktu dan tidak ada uang. Aku berbaring di kasurku sendiri dengan baju yang sama dari kemarin, bau yang aku sendiri tidak mau cium, dan selimut tipis yang entah kapan diselimutkan ke tubuhku.
Ibu.
Pasti Ibu yang menyelimuti.
Aku menutup mata lagi.
Ada sesuatu yang lebih sakit dari sakit kepalaku, dan itu bukan dari alkohol. Itu dari sesuatu di dalam dada yang tidak bisa diminum obat atau ditidurin. Sesuatu yang bentuknya seperti malu tapi lebih dalam dari malu biasa. Lebih menetap. Lebih berat.
Aku bangkit pelan. Duduk di tepi kasur. Kepala kutundukkan ke tangan, siku di lutut, dan aku duduk seperti itu beberapa saat, mencoba menyusun kembali sisa-sisa diri yang kemarin berhamburan di atas bukit itu.
Suara langkah kaki dari arah dapur.
Ibu masuk membawa gelas. Gelas yang uapnya naik tipis, bau jahe dan gula aren, bau yang dari kecil sudah aku kenal sebagai bau "kamu sedang tidak baik-baik saja dan Ibu tahu."
Beliau letakkan di meja kecil di samping kasur tanpa bicara.
Duduk di tepi kasur, di sisi yang satunya, menghadap ke depan bukan ke aku.
Aku tidak berani menatap beliau langsung.
Hening.
Hening yang aneh. Bukan hening yang nyaman seperti pagi-pagi biasanya. Tapi hening yang penuh, yang ada isinya, yang kalau kamu dengarkan cukup lama kamu bisa merasakan semua yang tidak diucapkan bergerak di dalamnya.
"Ma, aku—"
"Minum dulu."
Aku meraih gelas itu. Minum. Jahe dan gula aren masuk ke tenggorokan yang kering, hangat, dan aku menelannya pelan.
Ibu masih menatap ke depan.
Masih diam.
Dan kemudian, dengan suara yang sangat tenang, dengan nada yang tidak marah dan tidak menghakimi tapi entah kenapa justru itu yang membuatnya lebih menghantam, beliau bilang, "Bapakmu dulu... waktu titik paling gelapnya... selalu lari ke sajadah."
Aku terdiam.
"Bukan ke botol."
Tiga kata terakhir itu keluar pelan sekali. Hampir tidak terdengar. Tapi telingaku menangkap semuanya dan kepalaku langsung seperti ditampar dari dua arah sekaligus.
Ibu berdiri. Tidak menambahkan apa-apa. Kembali ke dapur dengan langkah yang sama tenangnya seperti waktu beliau masuk.
Aku duduk sendirian di kamar dengan gelas jahe di tangan dan kata-kata itu masih menggantung di udara.
Bapakmu dulu selalu lari ke sajadah.
Bukan ke botol.
Aku tahu dari mana Ibu tahu. Imam yang mengantarku masuk semalam. Imam yang pasti kelihatan panik dan salah tingkah dan beliau pasti langsung paham situasinya dari satu tatapan. Ibu tidak perlu penjelasan panjang untuk mengerti sesuatu yang tidak mau dia mengerti.
Dan itu yang paling menyakitkan. Bukan Ibu yang marah. Bukan Ibu yang menangis di depanku dan membuatku merasa bersalah dengan cara yang dramatis. Tapi Ibu yang tetap tenang, yang tetap masakkan jahe, yang tetap menyelimutiku semalam, yang tetap duduk di tepi kasur sambil berdoa, dan hanya bilang tiga kata itu.
Tiga kata yang membandingkanku dengan Bapak.
Dan bukan perbandingan yang menguntungkanku.
Pintu kamar terbuka.
Agung.
Masih pakai seragam sekolah, tas ransel di punggung, rambut yang belum disisir sempurna karena tergesa, kancing baju paling atas yang belum dikancingkan. Dia berdiri di ambang pintu menatapku.
Matanya sudah basah.
Dia tahu. Tentu saja dia tahu. Di rumah sekecil ini tidak ada yang bisa disembunyikan dari siapapun, dan Agung sudah tiga belas tahun, sudah cukup besar untuk menambahkan dua dan dua dan mendapat jawabannya sendiri.
"Mas..."
Suaranya bergetar.
Aku tidak menjawab. Hanya menatapnya.
"Kenapa Mas lakuin ini..."
Bibirnya gemetar. Dia menggigit bibir bawahnya keras-keras, cara yang sama persis dengan cara Ibu menahan sesuatu, dan aku baru sadar Agung mewarisi itu dari beliau.
"Mas ingat pesan Ayah kan..." Suaranya makin susah keluar, makin berat, sampai di tengah kalimat dia harus berhenti dan menelan sesuatu dulu sebelum bisa melanjutkan. "Ayah bilang jadi laki-laki yang baik. Ayah bilang itu ke Mas. Bukan ke aku, Mas, ke Mas langsung, pegang tangan Mas, bilang jadi laki-laki yang baik..."
Satu tetes jatuh di pipinya.
"Terus Mas lakuin ini."
Aku tidak bisa bernapas.
Bukan karena sakit kepala. Bukan karena sisa alkohol semalam. Tapi karena adikku yang baru tiga belas tahun ini berdiri di depanku dengan seragam sekolah dan tas ransel dan kancing yang belum dikancingkan, menangis, dan mengembalikan pesan Bapak ke mukaku persis seperti kemarin Aisyah mengembalikan kata-kataku sendiri.
Dan aku tidak punya tempat untuk bersembunyi dari itu.
Aku letakkan gelas jahe di meja. Berdiri. Dua langkah ke arah Agung dan aku jongkok di depannya, supaya mataku sejajar dengan matanya, supaya dia tidak perlu ngangkat kepala untuk menatapku.
"Gung."
Dia tidak menjawab. Cuma menatapku dengan mata yang penuh dan bibir yang masih gemetar.
"Maaf."
Kata itu keluar dan rasanya tidak cukup. Rasanya terlalu kecil untuk semua yang ingin aku sampaikan. Tapi tidak ada kata lain yang aku punya pagi ini.
"Maaf ya. Mas salah. Mas janji, gak akan lakukan lagi."
Agung menunduk.
"Beneran?" Suaranya masih bergetar.
"Beneran."
Dia menghapus matanya dengan punggung tangan. Kasar, buru-buru, seperti malu ketahuan nangis meskipun sudah jelas ketahuan dari tadi. Lalu dia mengangguk. Satu kali. Pelan.
"Agung telat," Ibu memanggil dari dapur. "Sarapan dulu."
Agung menatapku sekali lagi. Sesuatu di matanya yang tidak sepenuhnya pergi, sesuatu yang akan butuh waktu untuk benar-benar hilang dan mungkin tidak pernah sepenuhnya hilang, tapi untuk sekarang cukup. Dia berbalik dan berjalan ke dapur dengan langkah yang masih sedikit berat.
Aku berdiri.
Menatap kasur yang tadi aku tidur di sana. Selimut tipis yang masih terlipat berantakan. Gelas jahe yang uapnya sudah tidak naik lagi.
Seharian itu aku tidak banyak bergerak. Duduk di teras. Makan siang tanpa rasa. Memandang jalan kampung yang ramai dan sepi bergantian tanpa benar-benar melihatnya.
Kata-kata Ibu terus berputar.
Bapakmu dulu selalu lari ke sajadah.
Dan kata-kata Agung.
Ayah bilang jadi laki-laki yang baik. Ke Mas langsung.
Dan pesan Bapak sendiri yang sudah lima tahun aku simpan di tempat yang paling dalam.
Jadi laki-laki yang baik, Tri.
Malam itu, setelah Ibu dan Agung tidur, setelah rumah sunyi dan satu-satunya suara yang tersisa adalah suara kipas angin kecil di kamar Ibu yang bunyi krek kecil tiap beberapa putaran, aku buka lemari.
Di lipatan paling bawah, di bawah tumpukan baju yang jarang dipakai, ada sajadah. Warna hijau tua, sudah agak pudar, pinggirnya sedikit mengelupas jahitannya. Sajadah Bapak. Yang dulu selalu digelar di sudut kamar setiap malam.
Aku keluarkan.
Baunya masih sama. Entah itu nyata atau cuma kepalaku yang mengarang, tapi baunya masih sama, bau yang susah dijelaskan, bau waktu, bau sesuatu yang sudah lama disimpan dan dijaga.
Aku gelar di lantai kamar.
Berdiri di atasnya.
Malam ini aku shalat taubat dulu. Dua rakaat, dengan bacaan yang keluar pelan dan tidak sempurna karena tenggorokanku masih terasa aneh, tapi aku selesaikan. Lalu duduk sebentar. Lalu berdiri lagi untuk tahajud.
Di rakaat kedua tahajud, waktu sujud, aku tidak langsung bangkit.
Aku tahan di sana.
Dahi di atas sajadah Bapak, tangan di kiri dan kanan kepala, dalam gelap yang hanya diterangi cahaya kecil dari lampu jalan yang masuk tipis lewat jendela, dan aku meminta satu hal.
Cuma satu hal.
Bukan minta kaya. Bukan minta balas dendam. Bukan minta Aisyah kembali atau Pak Hendra minta maaf atau hidup tiba-tiba jadi mudah.
Hanya satu.
Tunjukkan jalan.
Itu saja. Karena aku sendiri sudah tidak tahu ke mana harus melangkah. Sudah tidak tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya. Sudah tidak tahu bagaimana caranya memulai dari nol ketika nol itu terasa seperti lubang yang tidak kelihatan dasarnya.
Tunjukkan jalan.
Aku tidak tahu berapa lama aku dalam posisi sujud itu.
Yang aku tahu, waktu akhirnya aku mengangkat kepala, ada sesuatu di dadaku yang berbeda dari tadi. Bukan lebih ringan. Bukan tiba-tiba semua jelas. Tapi lebih seperti... sesuatu yang tadinya terasa sangat penuh dan mau meledak, sekarang ada sedikit ruangnya. Sedikit saja. Tapi cukup untuk bernapas.
Aku lipat sajadah Bapak.
Tidak aku kembalikan ke lemari.
Aku taruh di atas meja kecil di samping kasur, di tempat yang bisa aku lihat tiap pagi waktu bangun.
Bapak dulu selalu lari ke sajadah.
Mulai malam ini, aku juga.
yang ada makin rumit
uang bisa di cari
pesan buat author tetap berkarya jangan buat lelaki lemah.. lelaki harus istiqomah dan kuat pentingkan perasaaan sendiri bukan orang lain