NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Sang Kaisar Pedang

Reinkarnasi Sang Kaisar Pedang

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Epik Petualangan
Popularitas:9.8k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Lima ratus tahun yang lalu, Lin Chen adalah Kaisar Pedang Ilahi yang berdiri di puncak Alam Dewa. Namun, saat ia mencoba menembus batas tertinggi kultivasi, ia dikhianati oleh tunangannya, Dewi Teratai Salju, dan saudara seperjuangannya, Kaisar Naga Hitam. Tubuhnya hancur, dan jiwanya tercerai-berai.
​Kini, lima ratus tahun kemudian, jiwa Lin Chen terbangun di Benua Langit Biru, di dalam tubuh seorang pemuda dengan nama yang sama. Pemuda ini dikenal sebagai "Sampah Terbesar" di Kota Daun Musim Gugur karena meridiannya cacat sejak lahir. Namun, mereka tidak tahu bahwa di dalam lautan jiwanya, Lin Chen membawa Sutra Pedang Kehampaan, sebuah teknik kultivasi purba yang memungkinkannya menyerap energi alam semesta.
​Dimulailah perjalanan Lin Chen untuk merangkai kembali takdirnya, menginjak jenius arogan, menaklukkan naga suci, dan kembali ke Alam Dewa untuk menuntut darah para pengkhianatnya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16: Meninggalkan Daun Musim Gugur

​Satu bulan waktu yang diberikan oleh Utusan Mo berlalu dengan sangat cepat.

​Selama periode ini, Kota Daun Musim Gugur mengalami perubahan struktur kekuasaan yang drastis. Keluarga Wang, yang dulunya arogan dan tak tersentuh, kini harus menelan pil pahit. Tanpa dukungan dari Akademi Bintang Jatuh, bisnis dan tambang mereka perlahan-lahan ditekan oleh Keluarga Lin dan keluarga-keluarga menengah lainnya.

​Wang Xue'er mengurung diri di kamarnya dan tidak pernah terlihat lagi di depan publik, hancur oleh trauma kekalahan telaknya di atas arena.

​Namun, bagi Lin Chen, semua intrik politik kota kecil itu hanyalah permainan anak-anak yang membosankan.

​Di suatu pagi yang berkabut, tanpa mengucapkan salam perpisahan kepada Patriark Lin Zhentian atau siapa pun di Keluarga Lin, Lin Chen melangkah keluar dari gerbang kota. Ia hanya mengenakan jubah hitam sederhana, topi bambu andalannya, dan Pedang Berat Penelan Bintang yang tersarung rapat di punggungnya.

​Perjalanannya menuju Ibu Kota Kerajaan Api Biru secara resmi dimulai.

​Ibu kota berjarak sekitar lima ribu mil dari Kota Daun Musim Gugur. Bagi manusia biasa, perjalanan ini akan memakan waktu berbulan-bulan. Bahkan untuk kultivator tingkat rendah yang menggunakan kuda spiritual, dibutuhkan waktu setidaknya dua minggu penuh.

​Namun, Lin Chen memilih untuk berjalan kaki.

​"Tubuhku telah mencapai batas penempaan awal. Berjalan sejauh lima ribu mil sambil memanggul pedang seberat lima ratus kilogram ini adalah cara terbaik untuk memadatkan Qi murni di meridianku, mempersiapkan terobosan ke Ranah Kondensasi Qi Tingkat 7."

​Setiap langkah yang diambil Lin Chen meninggalkan jejak dangkal di atas tanah. Napasnya panjang dan teratur, seirama dengan detak jantung semesta yang diajarkan dalam Sutra Pedang Kehampaan.

​Tujuh hari kemudian.

​Lin Chen telah melintasi perbatasan Provinsi Selatan dan memasuki wilayah yang dikenal sebagai Jalur Angin Berbisik, sebuah lembah panjang yang menjadi rute tercepat menuju ibu kota, namun terkenal rawan karena dihuni oleh binatang buas tingkat menengah dan kelompok perompak.

​Saat matahari mulai terbenam dan langit berubah menjadi ungu gelap, telinga Lin Chen menangkap suara dentingan logam dan teriakan panik dari jarak sekitar dua mil di depannya.

​Alih-alih menghindar, Lin Chen terus berjalan dengan ritme santai. Baginya, setiap pertumpahan darah di jalan adalah hiburan kecil atau peluang untuk mendapatkan sumber daya.

​Ketika ia mendekat, pemandangan di depannya menjadi jelas.

​Sebuah karavan dagang yang terdiri dari tiga kereta kuda mewah sedang dikepung oleh kawanan serigala berbulu merah darah. Serigala-serigala itu setinggi pinggang orang dewasa, dengan taring yang meneteskan liur korosif.

​"Bertahanlah! Lindungi kereta Nona Muda!" teriak seorang pria paruh baya yang merupakan kapten penjaga. Ia memegang golok besar yang telah berlumuran darah. Kultivasinya berada di Ranah Kondensasi Qi Tingkat 6, namun ia tampak kelelahan dan penuh luka cakaran.

​Di sekitar karavan, belasan penjaga lainnya telah tewas tercabik-cabik. Lawan mereka bukan hanya sekawanan serigala biasa, melainkan dipimpin oleh seekor Raja Serigala Darah yang ukurannya dua kali lipat lebih besar dan memancarkan aura Ranah Kondensasi Qi Tingkat 7!

​"Auuuuuuu!"

​Raja Serigala Darah itu melolong panjang, memberi perintah. Kawanan serigala yang tersisa serentak menerjang ke arah kereta utama, mengabaikan kapten penjaga yang sudah kehabisan tenaga.

​Tepat ketika serigala-serigala itu hendak merobek dinding kayu kereta kuda, sebuah batu kerikil berdesing di udara dengan kecepatan yang melampaui suara.

​WUSH! TUK! TUK! TUK!

​Tiga kerikil kecil menembus kepala tiga serigala terdepan dengan presisi absolut, menghancurkan otak mereka seketika. Ketiga binatang buas itu ambruk ke tanah tanpa sempat mengeluarkan suara.

​Kapten penjaga dan sisa pasukan yang masih hidup tertegun. Mereka menoleh ke arah asal serangan.

​Dari balik kabut senja, sesosok pemuda berjubah hitam bertopi bambu melangkah keluar. Ia memanggul sebuah pedang raksasa di bahunya. Pemuda itu memungut kerikil lain dari tanah dan memainkannya di telapak tangan.

​"Hewan ternak siapa yang dilepas sembarangan hingga menghalangi jalanku?" ucap Lin Chen dengan nada bosan.

​Kehadiran Lin Chen langsung memicu insting membunuh sang Raja Serigala Darah. Menyadari bahwa pemuda ini adalah ancaman terbesar, monster raksasa itu menggeram rendah, memfokuskan elemen angin pada keempat kakinya, dan melesat ke arah Lin Chen bagai bayangan merah.

​"Tuan Muda, awas! Itu Raja Serigala Darah Tingkat 7!" teriak kapten penjaga dengan panik. Mengingat usia Lin Chen yang terlihat masih sangat muda, kapten itu mengira Lin Chen akan langsung dirobek menjadi dua.

​Lin Chen tidak repot-repot menarik pedang dari punggungnya. Ia hanya berdiri diam hingga rahang raksasa serigala itu berjarak setengah meter dari wajahnya.

​BAM!

​Sebuah tendangan cambuk yang dilapisi Qi keemasan mendarat telak di rahang bawah sang Raja Serigala.

​Suara retakan tulang beresonansi di seluruh lembah. Tubuh serigala raksasa seberat ratusan kilogram itu terangkat vertikal ke udara dengan rahang hancur berantakan. Sebelum tubuh itu jatuh ke tanah, tangan Lin Chen melesat keluar bagai cakar naga, menusuk langsung ke dalam dada monster itu dan menarik keluar sebuah kristal merah yang bersinar terang.

​Inti Binatang Buas Tingkat 7!

​Tubuh Raja Serigala Darah itu ambruk ke tanah tak bernyawa. Kehilangan pemimpin mereka, kawanan serigala yang tersisa langsung melolong ketakutan dan lari terbirit-birit masuk ke dalam hutan.

​Hanya butuh tiga tarikan napas untuk mengubah situasi antara hidup dan mati.

​Para penjaga karavan menelan ludah dengan susah payah. Pemuda ini membunuh monster Tingkat 7 dengan tangan kosong semudah mencabut rumput liar!

​Kapten penjaga segera menyimpan senjatanya, berlari mendekati Lin Chen, dan membungkuk dalam-dalam dengan penuh hormat. "Terima kasih atas bantuan Tuan Muda! Jika bukan karena Anda, seluruh karavan Keluarga Su dari Kota Danau Biru pasti sudah musnah hari ini. Nama saya Su Li, kapten penjaga karavan ini."

​Lin Chen mengelap darah dari tangannya menggunakan daun kering, lalu memasukkan Inti Serigala ke dalam cincin penyimpanannya. Ia tidak peduli dengan karavan tersebut dan hendak melanjutkan perjalanannya.

​Namun, pintu kereta utama tiba-tiba terbuka. Seorang gadis cantik berusia sekitar tujuh belas tahun dengan pakaian pelayan melangkah turun, memapah seorang wanita muda lain yang mengenakan cadar tipis dan gaun sutra biru.

​Wanita bercadar itu memiliki aura yang tenang dan anggun, meski wajahnya sedikit pucat karena terkejut.

​"Tuan Pendekar, mohon tunggu sebentar," panggil wanita bercadar itu dengan suara selembut sutra. "Saya Su Ruoxue, putri dari Keluarga Su. Budi baik Anda telah menyelamatkan nyawa kami. Melihat arah perjalanan Anda, apakah Tuan juga sedang menuju Ibu Kota Kerajaan?"

​Lin Chen berhenti melangkah. "Ya."

​Mata Su Ruoxue berbinar samar. "Jalur Angin Berbisik ini masih sangat panjang dan penuh bahaya. Jika Tuan tidak keberatan, silakan bergabung dengan karavan kami. Kereta kami cukup luas, dan kami bersedia membayar Tuan dengan lima ribu Koin Emas dan sepuluh Batu Spiritual Menengah sebagai ucapan terima kasih karena telah mengawal kami hingga ke ibu kota."

​"Batu Spiritual Menengah?" Lin Chen bergumam pelan.

​Di Kota Daun Musim Gugur, semua batu spiritual yang beredar adalah Tingkat Rendah. Batu Spiritual Menengah memiliki Qi sepuluh kali lipat lebih murni dan padat, sesuatu yang sangat ia butuhkan untuk menembus kemacetan kultivasinya saat ini.

​"Sepuluh batu spiritual menengah. Berikan setengahnya di muka, setengahnya lagi saat kita tiba di ibu kota," jawab Lin Chen tanpa menoleh.

​"Sepakat," Su Ruoxue tersenyum di balik cadarnya. Ia memerintahkan pelayannya untuk memberikan kantong kecil berisi lima batu spiritual bersinar kebiruan kepada Lin Chen.

​Lin Chen menerima bayarannya dan melompat naik ke atap salah satu kereta kuda. Ia duduk bersila di sana, meletakkan pedang beratnya di pangkuannya, dan menutup matanya. Sikapnya yang dingin dan tidak banyak bicara membuat para penjaga merasa segan namun sekaligus sangat aman.

​Perjalanan dilanjutkan. Malam itu berlalu dengan tenang. Kehadiran aura samar dari darah Raja Serigala di tangan Lin Chen cukup untuk menakuti binatang buas lainnya.

​Keesokan paginya, Su Li sang kapten penjaga menunggang kudanya di samping kereta tempat Lin Chen duduk. Ia mencoba membuka percakapan untuk mencairkan suasana.

​"Tuan Muda Lin, kudengar Anda pergi ke ibu kota. Melihat usia dan bakat Anda yang luar biasa, apakah Anda berniat mendaftar ke Akademi Bintang Jatuh?" tanya Su Li ramah.

​"Mendaftar?" Lin Chen membuka sebelah matanya, lalu mengeluarkan token perak yang diberikan oleh Utusan Mo. "Aku sudah memiliki ini."

​Melihat lambang bintang jatuh di token itu, Su Li dan beberapa penjaga di sekitarnya tersentak kaget.

​"T-Token Perekrutan Khusus!" seru Su Li takjub. "Tuan Muda Lin pasti salah satu jenius puncak dari suatu kota besar! Tapi... Tuan Muda, maafkan kelancangan saya. Apakah Anda tahu bagaimana sistem sebenarnya di akademi tersebut?"

​Alis Lin Chen sedikit berkerut di balik topi bambunya. "Jelaskan."

​Su Li berdehem, merendahkan suaranya seolah takut didengar oleh pihak akademi.

​"Banyak orang awam mengira bahwa memiliki Token Perekrutan berarti sudah pasti menjadi murid akademi. Sayangnya, itu tidak sepenuhnya benar. Token itu hanyalah kualifikasi agar Anda tidak perlu mengantre dari jalur seleksi publik yang berisi puluhan ribu orang miskin."

​Su Li mulai merincikan fakta kejam tentang pusat kekuasaan Kerajaan Api Biru tersebut:

​Jalur Neraka: Pemegang token tetap harus melewati serangkaian ujian yang disebut 'Jembatan Penilaian'. Tahun lalu, dari 500 pemegang token yang dikirim dari berbagai kota, hanya 50 orang yang diterima. Sisanya tewas dalam ujian atau cacat seumur hidup.

​Faksi Bangsawan: Di dalam akademi, murid dari keluarga bangsawan ibu kota menindas murid dari kota-kota terpencil. Tanpa dukungan faksi yang kuat, seorang jenius pedesaan biasanya hanya akan berakhir sebagai pelayan atau bahan latihan bagi para pangeran.

​Kesenjangan Kultivasi: "Di kota pinggiran, Tingkat 6 di usia belasan tahun dianggap jenius," jelas Su Li. "Tapi di ibu kota, mereka yang berani memegang Token Bintang Jatuh rata-rata telah mencapai Tingkat 8, bahkan beberapa monster sudah melangkah ke Ranah Kondensasi Qi Tingkat 9 Puncak."

​Mendengar penjelasan panjang lebar yang penuh dengan peringatan bahaya itu, reaksi Lin Chen benar-benar di luar dugaan Su Li.

​Pemuda berjubah hitam itu perlahan mengangkat kepalanya. Sebuah tawa pelan namun sangat dalam keluar dari bibirnya, diiringi oleh senyuman yang menyiratkan antusiasme mematikan.

​"Tingkat 8? Tingkat 9? Ah, syukurlah." Lin Chen menepuk pedang berat di pangkuannya. "Kupikir ibu kota ini hanya akan dipenuhi oleh domba-domba lemah yang membosankan. Ternyata, ada beberapa serangga yang sedikit lebih besar untuk diinjak."

​Su Li membeku di atas sadelnya. Keringat dingin menetes di pelipisnya. Pria ini... apakah dia orang gila, atau sesosok monster yang sesungguhnya?

1
Eddy S
kecewa cerita tanpa kelanjutan episode nya
Anonim: sabar lah bos ya kali langsung tamat
total 1 replies
Eddy S
pasti cerita ga ada kelanjutan nya 🤣🤣🤣cape deh
Albiner Simaremare
lanjut thor
Zero_two
👍👍👍👍
Zero_two
Dewi teratai udah terpesona sama 'kekuatan' terpendam si naga hitam kayaknya/Doge//Doge//Doge//Blush/
Romansah Langgu
Mantap thor,,, bar bar..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!