"Wajah bak dewa, namun nasib bak debu."
Di dunia di mana kekuatan adalah segalanya, Han Feng hanyalah seorang pelayan rendahan tanpa bakat kultivasi. Ia dihina, disiksa, dan dibuang ke hutan kematian hanya karena ketampanannya dianggap sebagai penghinaan bagi para tuan muda sekte yang sombong.
Namun, maut justru menjadi gerbang kebangkitannya.
Di ambang kematian, sebuah pusaka terlarang yang telah lama hilang—Sutra Dewa yang Terbuang—memilihnya sebagai wadah. Kitab itu hancur, menyatu ke dalam nadinya, merekonstruksi tubuhnya menjadi sempurna, dan menanamkan ribuan tahun pengetahuan dewa langsung ke dalam benaknya.
Kini, Han Feng kembali bukan untuk melayani, melainkan untuk menagih hutang darah. Dengan otak yang mampu membedah kelemahan lawan dan tubuh yang menyimpan kekuatan surgawi, ia akan membuktikan bahwa mereka yang dulu mengabaikannya akan berlutut di bawah kakinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEHENINGAN YANG MENGHANCURKAN
Gemuruh sorak-sorai di Arena Sekte Pedang Langit perlahan surut, digantikan oleh ketegangan yang mencekam. Di tengah panggung batu, dua sosok berdiri dengan kontras yang tajam. Li Wei, dengan baju zirah biru mengkilap dan pedang bersinar di tangannya, tampak seperti singa yang siap menerkam. Di seberangnya, Han Feng hanya berdiri tegak dengan jubah pelayan abu-abunya yang kusam, tangannya jatuh lemas di samping tubuh seolah tidak memiliki niat untuk bertarung.
"Mati kau, sampah!" teriakan Li Wei pecah.
Ia melesat maju. Pedang Pemecah Angin miliknya membelah udara, menciptakan suara siulan tajam. Tebasan horizontal itu ditujukan tepat ke leher Han Feng. Bagi penonton, serangan itu terlalu cepat untuk seorang pelayan. Namun di mata Han Feng, gerakan itu tampak lambat, seperti seekor siput yang merayap di atas daun.
Han Feng tidak menangkis. Ia hanya memiringkan tubuhnya ke belakang sebanyak satu inci. Mata pedang itu lewat tepat di depan hidungnya, memotong beberapa helai udara namun tidak menyentuh kulitnya sedikit pun.
Li Wei menggeram, kembali melancarkan serangkaian serangan kalap. Tebasan vertikal, tusukan silang, dan putaran pedang. Namun, Han Feng bergerak seperti bayangan yang menari di bawah sinar rembulan. Menggunakan Langkah Bayangan Tanpa Jejak yang telah ia sempurnakan, ia selalu luput dari maut dengan selisih jarak yang sangat tipis.
Di mata penonton, Han Feng terlihat sangat "beruntung". Ia tampak seperti orang yang tersandung atau tidak sengaja bergeser tepat saat pedang akan mengenainya.
"Berhenti menghindar, kau pengecut!" Li Wei berteriak, napasnya mulai terengah-engah. Rasa paranoianya dari malam sebelumnya mulai muncul kembali. Setiap kali ia menyerang, ia merasa seperti sedang memukul kabut.
Han Feng berhenti sejenak. Ia menatap mata Li Wei yang memerah karena frustrasi. Dengan suara yang sangat pelan, yang hanya bisa didengar oleh lawan bicaranya, Han Feng berbisik: "Tuan Muda, apakah pedangmu hanya seberat ini? Bahkan hembusan angin di selokan jauh lebih tajam daripada seranganmu."
Wajah Li Wei seketika berubah menjadi ungu karena marah. Harga dirinya hancur berkeping-keping. "KAU! AKAN KUCINCANG KAU!"
Li Wei mundur dua langkah, mengumpulkan seluruh sisa energinya. Cahaya biru pekat menyelimuti pedangnya, menciptakan tekanan udara yang cukup besar hingga membuat debu di panggung beterbangan.
"Jurus Pamungkas: Tebasan Badai Biru!"
Ini adalah serangan terkuat yang pernah dipelajari Li Wei. Ia mengayunkan pedangnya dengan kekuatan penuh, bertujuan untuk membelah Han Feng menjadi dua bagian.
Kali ini, Han Feng tidak menghindar. Ia berdiri diam, menatap mata pedang yang mengarah tepat ke dahinya. Penonton menahan napas; beberapa murid perempuan bahkan menutup mata karena tidak sanggup melihat pemandangan berdarah yang akan terjadi.
Namun, sesuatu yang mustahil terjadi.
Han Feng mengangkat tangan kanannya, hanya menggunakan jari telunjuk dan jari tengahnya. Dengan ketepatan yang tidak manusiawi, ia menjepit bilah pedang itu tepat di titik retak mikro yang telah ia buat sebelumnya.
KRAK!
Suara baja yang pecah bergema di seluruh arena yang mendadak sunyi. Pedang Pemecah Angin—senjata tingkat Bumi rendah yang dibanggakan Li Wei—hancur berkeping-keping menjadi serpihan logam yang berjatuhan di atas panggung.
Li Wei mematung. Ia hanya memegang gagang pedang yang kini buntung. Matanya melotot, otaknya tidak mampu memproses apa yang baru saja terjadi. "T-tidak mungkin... pedangku..."
"Giliran aku," ucap Han Feng datar.
Han Feng melangkah maju dengan sangat cepat. Sebelum Li Wei sempat bereaksi, Han Feng mendaratkan telapak tangannya tepat di dada Li Wei. Tidak ada ledakan energi yang besar, hanya dorongan singkat namun berisi getaran Qi emas yang sangat padat.
BUM!
Tubuh Li Wei terpental sejauh sepuluh meter, melintasi arena dan menghantam tembok pembatas hingga retak. Ia jatuh terjerembap, pingsan seketika dengan mulut berbusa. Sabotase ramuan yang dilakukan Han Feng sebelumnya meledak di saat yang sama, mengacaukan jalur meridian Li Wei hingga ia mungkin tidak akan pernah bisa berkultivasi lagi dengan normal.
Arena menjadi sunyi senyap. Ribuan orang terpaku. Di tribun kehormatan, Su Yan berdiri dari kursinya tanpa sadar, wajahnya yang dingin kini dipenuhi keterkejutan yang luar biasa. Para Tetua di sampingnya mulai berbisik dengan nada panik, mata mereka menatap tajam ke arah sosok pelayan di tengah panggung.
Wasit yang gagap akhirnya mengangkat tangan. "Pe-pemenang... Han Feng!"
Han Feng tidak menunggu upacara atau pujian. Dengan langkah tenang, ia berjalan turun dari panggung. Langkah pertamanya bukan menuju barak pelayan, melainkan menuju gerai bandar judi "Angin Langit" yang terletak di pinggir arena.
Si bandar judi tampak pucat pasi, wajahnya berkeringat dingin saat melihat Han Feng berjalan mendekat.
"Ku-kupon taruhanku," Han Feng meletakkan selembar kertas lusuh di atas meja. "Rasio 1:100. Aku bertaruh seribu koin emas."
Tangan bandar itu gemetar saat menghitung tumpukan koin emas ke dalam beberapa kantong penyimpanan. Total seratus ribu koin emas. Han Feng mengambil kantong-kantong itu dengan senyum kecil yang sangat puas. Bagi seorang pelayan yang dulu dihina karena kemiskinannya, memegang kekayaan sebanyak ini adalah kebahagiaan tersendiri yang sangat realistis.
"Terima kasih atas sumbangannya," ucap Han Feng santai sebelum melenggang pergi.
Ia keluar dari area sekte dan menuju kota di bawah gunung. Ia masuk ke sebuah restoran termewah bernama "Paviliun Surgawi", tempat yang biasanya hanya dimasuki oleh para pangeran dan murid inti.
"Beri aku meja terbaik dan hidangkan semua makanan paling enak di sini," perintah Han Feng sambil melempar sepuluh koin emas ke atas meja pelayan restoran.
Sambil menikmati daging binatang buas panggang yang lembut dan arak wangi, Han Feng merenung. Perasaan kenyang dan kaya adalah sesuatu yang sangat menyenangkan. Ia tahu bahwa mulai hari ini, hidupnya tidak akan pernah sama lagi.
Sementara Han Feng sedang menikmati makan malamnya, suasana di sekte masih kacau. Su Yan berdiri di balkon paviliunnya, menatap ke arah matahari terbenam. Pikirannya tidak bisa lepas dari kejadian tadi siang.
"Dua jari... dia menghancurkan baja tingkat Bumi dengan dua jari," batin Su Yan. Rasa penasarannya memuncak, namun harga dirinya sebagai murid jenius nomor satu membuatnya enggan untuk mencari pelayan itu secara langsung. "Mungkin itu hanya keberuntungan? Atau Li Wei yang terlalu lemah? Tidak, mustahil. Ada sesuatu yang dia sembunyikan."
Di sisi lain, di aula pertemuan para Tetua, suasana tak kalah tegang.
"Siapa sebenarnya Han Feng itu?" tanya Tetua Mo dengan nada suara yang dalam dan penuh selidik. "Nadinya dikabarkan cacat, namun apa yang kita lihat tadi adalah kontrol energi yang sangat presisi."
"Kita harus mengawasinya," sahut Tetua lain. "Jika dia benar-benar menyembunyikan kekuatannya selama ini, tujuannya di sekte ini mungkin bukan hanya sekadar menjadi pelayan."
Ketertarikan para petinggi sekte kini telah terusik. Umpan telah dimakan, dan panggung yang lebih besar sedang dipersiapkan. Namun bagi Han Feng, yang saat ini sedang menyesap arak mahalnya dengan santai, semua itu hanyalah bagian dari rencana besarnya.
Ia tahu, satu samsak telah tumbang. Dan besok, ia akan kembali ke sekte, bukan lagi sebagai pelayan yang bisa diinjak, melainkan sebagai naga yang perlahan-lahan mulai menunjukkan taringnya.
terlalu banyak kata2 mutiara thor hingga membuat cerita ini seakan jalan ditempat.🙏