Dulu aku adalah pria biasa di Bumi, tapi suatu hari aku tewas tersambar petir dan terbangun di dunia lain. Namun, aku tidak memiliki sistem atau kemampuan curang; aku hanyalah manusia biasa. Lalu, aku memutuskan untuk menulis novel yang terinspirasi dari game Honkai Star Rail, dimulai dari High Cloud Quintet
dan saya juga setelah selesai dari dunia anime danmachi saya memutuskan untuk menambahkan alur nya ke berbagai dunia mulai dari anime hingga game
(Pernyataan penolakan: Saya bukan pemilik anime Danmachi; pencipta Danmachi adalah Fujino Omori, dan saya juga bukan pemilik Honkai Star Rail) Ini hanyalah cerita fanfiction yang saya buat
dan saya membuat fanfiction ini dengan bantuan AI, jadi jika Anda tidak ingin membaca cerita ini, itu tidak masalah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon the anonym, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Kaca Falna yang Retak dan Teror Sang Dewa Penipu
Dari sudut pandang Loki, dunia fana selalu terasa seperti sebuah teater besar yang menyenangkan. Menurunkan segel keilahian (Arcanum), berbaur dengan manusia, memberikan setetes darah untuk memicu potensi mereka, dan menonton pahlawan-pahlawannya—anak-anaknya—tumbuh dan berjuang. Itu adalah permainan yang tidak pernah membosankan.
Sore itu, di dalam ruang pribadinya di Twilight Manor, sang Dewi Penipu berambut merah itu sedang bersantai. Ia berbaring miring di atas sofa beludru, menenggak anggur berkualitas tinggi dari gelas kristalnya. Ekspedisi besar ke Lantai 60 sedang berlangsung. Ia tahu Finn, Riveria, dan Gareth akan mengurus sisa-sisa cacing Evilus itu. Loki tidak memiliki alasan untuk khawatir.
Hingga satu detik yang fatal itu tiba.
Prang!
Gelas kristal di tangan Loki hancur berkeping-keping. Bukan karena ia meremasnya, melainkan karena getaran kejut yang meledak dari dalam jiwanya sendiri.
"Ugh—khaakk!"
Loki terpental dari sofa, jatuh berlutut di atas karpet tebal. Ia mencengkeram dadanya dengan kedua tangan, batuk tersedak saat rasa sakit yang tidak masuk akal merobek kesadarannya. Itu bukan rasa sakit fisik. Sebagai seorang Dewa, tubuh fana ini hanyalah wadah. Rasa sakit ini menghantam langsung ke inti keilahiannya.
Di punggungnya, tempat di mana ikatan hierarki Falna terhubung secara spiritual dengan setiap anggota Familia-nya, terasa seperti disiram oleh besi cair bersuhu ribuan derajat.
Lebih spesifik lagi, jalur koneksinya dengan sang kapten, Finn Deimne.
"A-apa yang terjadi pada Finn...?" Loki menggeram, memaksakan mata merahnya untuk terbuka.
Sebagai Dewi yang memberikan Falna, Loki adalah tuan rumah dari jiwa anak-anaknya. Ia adalah cermin yang memantulkan potensi mereka. Namun saat ini, cermin itu sedang diserang oleh anomali. Sesuatu yang sangat masif, sangat asing, dan sangat purba sedang mencoba memasuki wadah Finn melalui jalur obsesi anak itu.
Didorong oleh insting perlindungan dan harga diri absolut seorang Dewa Olympus dan Nordik, Loki memusatkan pikirannya. Ia mencoba mengintip ke bawah sana, menembus lapisan Dungeon untuk melihat apa yang mengancam kaptennya. Ia siap memicu Arcanum-nya sedikit saja untuk menghancurkan monster apa pun yang berani mengutuk Finn.
Namun, saat kesadaran Loki menyentuh ujung jiwa Finn di Lantai 60, apa yang dilihat sang Dewi bukanlah monster. Bukan pula Evilus.
Kesadaran Loki tersedot ke luar angkasa.
Di dalam mata batinnya, dinding-dinding Dungeon menghilang. Langit biru Orario lenyap. Yang ada hanyalah kekosongan kosmis yang hampa dan dingin. Dan di tengah kehampaan itu, melayang sebuah entitas yang wujudnya terbuat dari rasi bintang berwarna cyan dan energi murni. Sesosok penunggang kuda raksasa yang besarnya menelan galaksi, menarik sebuah busur cahaya yang ujung anak panahnya diarahkan lurus ke depan.
Itu adalah tatapan dari The Reignbow Arbiter. Sang Aeon Pemburu, Lan.
Jantung ilahi Loki serasa diremas oleh tangan es raksasa.
Sebagai Dewa, Loki mengenal banyak eksistensi kuat. Ia tahu kekuatan Zeus, Hera, bahkan wujud asli naga hitam bermata satu (One-Eyed Black Dragon). Tapi entitas di depannya ini... ini sama sekali berbeda. Makhluk kosmis ini tidak memiliki "jiwa" atau "kepribadian" seperti Dewa-Dewi Tenkai. Ia hanyalah manifestasi murni dari sebuah konsep alam semesta: The Hunt (Perburuan). Ia adalah hukum alam yang berwujud.
Dan yang paling membuat Loki diteror oleh ketakutan absolut bukanlah niat membunuh dari entitas itu. Melainkan fakta bahwa entitas raksasa itu mengabaikannya.
Aeon itu sama sekali tidak melirik ke arah Loki. Ia hanya menatap Finn yang memanggilnya melalui resonansi obsesi. Bagi Sang Aeon, Loki—seorang Dewi yang diagungkan di Orario—hanyalah partikel debu tak kasatmata yang kebetulan berdiri di jalur anak panahnya.
ZRAAAASSH!
Cahaya cyan itu melesat melalui jiwa Finn. Loki menjerit histeris. Ia merasakan otoritasnya sebagai Dewi secara paksa ditimpa selama sepersekian detik. Falna Loki yang berada di punggung Finn dipaksa menjadi konduktor bagi energi kosmis yang jauh lebih besar dari kapasitasnya.
Lalu, secepat kedatangannya, visi kosmis itu lenyap. Koneksi kembali normal.
Loki terkapar di lantai kamarnya, napasnya tersengal-sengal brutal seperti orang yang baru saja tenggelam. Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Rambut merahnya kusut masai. Mata merahnya yang biasanya penuh dengan kelicikan dan intrik, kini membelalak lebar, memancarkan teror murni yang belum pernah ia rasakan sejak alam semesta diciptakan.
Di punggungnya, luka bakar spiritual dari energi cyan itu masih berdenyut nyeri.
"I-itu tadi... bukan monster..." Loki bergumam, suaranya bergetar hebat. Ia memeluk dirinya sendiri. "Eksistensi apa itu tadi...? Itu bukan bagian dari Tenkai... Itu bukan dari dunia ini!"
Tiba-tiba, suara ketukan pintu yang terburu-buru menghentak kesunyian.
"Loki-sama! Anda baik-baik saja?!" Suara Raul Nord terdengar panik dari luar kamar. "Kami mendengar suara pecahan kaca dan jeritan dari dalam! Bolehkah saya masuk?!"
"J-jangan masuk!" bentak Loki sekencang mungkin, berusaha menstabilkan nada suaranya agar tidak terdengar gemetar. "Aku tidak apa-apa! Aku hanya... tersandung dan menjatuhkan minumanku! Menjauhlah, Raul!"
Langkah kaki Raul terdengar ragu sejenak sebelum akhirnya menjauh.
Loki perlahan bangkit, berpegangan pada tepi meja riasnya. Ia menatap pantulan dirinya di cermin. Wajah seorang Dewi yang baru saja disadarkan bahwa ia bukanlah penguasa tertinggi di rantai makanan alam semesta.
Pikirannya langsung tertuju pada satu hal. Laporan rahasia yang ia terima pagi ini dari jaringan intelijennya. Sebuah buku bidah berjudul "The Xianzhou Alliance" yang diselundupkan ke pasar gelap. Buku yang menceritakan tentang tatanan dewa-dewa bintang bernama Aeon, dan manusia yang bisa menarik kekuatan dari Path mereka tanpa perlu campur tangan Dewa-Dewi Orario.
Loki awalnya tertawa terbahak-bahak saat membacanya, menganggapnya sebagai lelucon sastra yang brilian untuk mengejek Hestia dan Freya.
Tapi sekarang ia tahu. Itu bukan lelucon. Itu adalah buku panduan pemanggilan.
Seseorang di kota ini secara sadar atau tidak sadar telah membuka gerbang konseptual, membiarkan energi dari entitas luar menembus masuk ke dalam cangkang dunia ini, hanya dengan menggunakan media tulisan yang diimani oleh banyak orang. Dan Finn... kapten kebanggaannya... baru saja "mencicipi" kekuatan itu.
"Penulis bernama Anonym itu..." geram Loki, mengusap sisa keringat dingin di dahinya. Matanya kembali menyipit, kali ini dipenuhi oleh insting membunuh yang gelap dan defensif. "Dia bukan sekadar tikus pencerita. Dia adalah anomali berjalan yang akan menghancurkan sistem keilahian kita dari akar."
Jika Freya tahu tentang kekuatan murni yang baru saja ditunjukkan oleh Path ini, Dewi Kecantikan itu akan melakukan apa saja untuk menjadikan sang penulis sebagai miliknya. Jika Guild tahu, Ouranos akan mengeksekusi mati penulis itu sebelum Orario hancur.
"Aku harus menemukannya lebih dulu," bisik Loki pada bayangannya di cermin. "Aku harus memotong tangannya, membakar semua catatannya, dan mengubur bajingan itu di kedalaman yang tidak akan pernah bisa dijangkau oleh cahaya bintang."
Malam itu, tanpa menunggu kepulangan ekspedisi dari lantai 60, Loki Familia secara diam-diam mengeluarkan perintah level merah. Seluruh unit intelijen, unit bayangan, dan sekutu terdekat mereka dikerahkan ke jalanan Orario dengan satu misi mutlak: Temukan Anonym. Hidup atau mati.
Perang dingin telah usai. Perburuan terhadap sang penulis baru saja dimulai secara terang-terangan.