Di sebuah kabupaten kecil di provinsi Jawa Barat, di Negara Nusantara, Arkan Wijaya baru saja lulus SMA, namun saat pulang dia mendapati rumahnya kosong, kedua orang tuanya tidak ada, dia mencari kesana kemari namun tidak ada kabar tentang mereka, hanya menemukan secarik kertas bertuliskan "Arkan kamu sudah dewasa, carilah jalanmu sendiri, kami tidak bisa terus menjagamu, dan ada kewajiban yang harus kami lakukan, suatu saat nanti mungkin kamu akan mengerti, maafkan kami Arkan." Dan di samping kertas itu ada cincin emas berbentuk kepala dan permata kecil berkilau di kedua matanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon suryadharma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 Istana Bawah Laut Flores
Kembali ke markas Paviliun Naga Emas di Jakarta, suasana penuh kemenangan sekaligus ketegangan. Arkan Wijaya duduk di singgasana utama aula besar, Mahkota Naga Emas di kepalanya berkilau lembut. Tubuh kekarnya memancarkan aura Nascent Soul Tingkat 1 yang membuat seluruh ruangan terasa penuh tekanan dominan. Di sampingnya, Sela Juanda duduk sebagai Ratu, gaun emasnya menonjolkan lekuk tubuh seksi dan wajah cantiknya yang semakin matang.
“Gua Abadi sudah dibersihkan,” kata Arkan dengan suara dalam yang menggema. “Sekarang saatnya Istana Bawah Laut di Flores. Menurut wahyu cincin, di sana tersimpan salah satu inti kegelapan terkuat — Darah Kuno Raja Kegelapan yang hampir bangkit.”
Para tetua dan elder mendengarkan dengan serius. Juanda Hartono melaporkan, “Kami sudah siapkan armada laut khusus. Delapan kapal perang spiritual dan dua kapal selam prototipe. Total 350 elit siap berangkat.”
Arkan mengangguk. “Kita berangkat besok pagi. Sela ikut bersamaku di garis depan. Juanda pimpin pasukan cadangan. Ayah dan Ibu tetap jaga markas.”
Malam sebelum keberangkatan, Arkan dan Sela menghabiskan waktu di kamar kerajaan. Cahaya lilin menerangi ruangan mewah. Arkan menarik Sela ke pelukannya, mencium leher gadis itu dengan penuh hasrat.
“Aku khawatir,” bisik Sela di antara desahan. “Istana Bawah Laut… tempat itu penuh racun dan ilusi. Bahayanya jauh lebih besar dari Gua Abadi.”
Arkan mengangkat dagu Sela, menatap matanya dalam-dalam. “Karena itu aku butuh kamu di sampingku. Kita adalah satu.”
Mereka jatuh ke ranjang besar. Malam itu penuh gairah yang intens dan penuh makna. Arkan mencintai Sela seolah esok tidak ada jaminan. Gerakan mereka liar namun penuh kasih sayang. Naga Qi mengalir deras, memperkuat ikatan jiwa mereka hingga terasa seperti satu jiwa yang terbelah dua. Di puncak kenikmatan, Arkan naik ke Nascent Soul Tingkat 1 pertengahan, sementara Sela mencapai Half-Step Nascent Soul.
Pagi harinya, armada besar berlayar menuju Flores. Perjalanan laut memakan waktu lima hari. Di hari ketiga, mereka diserang oleh armada bajak laut kultivator gelap yang bersekutu dengan kegelapan bawah laut.
Arkan melompat ke kapal musuh utama. Transformasi Naga Emas Sejati diaktifkan sebagian. Sisik emas menutupi lengannya, kekuatannya melonjak. Pedang Raja Naga menebas kapal musuh menjadi dua hanya dalam tiga jurus. Laut menjadi merah darah. Sela dari deck kapal utama mendukung dengan hujan panah Qi emas yang mematikan.
“Kalian memilih pihak yang salah!” raung Arkan sambil menghabisi kapten musuh.
Pertempuran laut itu dimenangkan dalam waktu singkat. Kemenangan ini semakin memperkuat semangat pasukan.
Pada malam kelima, armada tiba di perairan Flores. Arkan dan Sela berdiri di haluan kapal, memandang laut yang tenang namun penuh aura gelap di bawah permukaan.
“Besok kita turun,” kata Arkan. “Siapkan formasi pernapasan air.”
Keesokan paginya, tim inti menyelam. Arkan menggunakan teknik khusus dari cincin untuk menciptakan gelembung Qi besar yang melindungi seluruh tim. Mereka turun semakin dalam, hingga mencapai dasar laut yang gelap.
Di depan mereka muncul Istana Bawah Laut yang megah namun mengerikan — bangunan hitam berkilau dari batu karang dan tulang raksasa, dikelilingi ribuan makhluk laut kegelapan.
“Serang!” perintah Arkan.
Pertempuran bawah laut meledak dengan dahsyat. Arkan memimpin di depan, Pedang Raja Naga menebas makhluk-makhluk laut seperti rumput. Sela menggunakan formasi air emas untuk mengendalikan medan pertempuran, menciptakan pusaran yang menjebak musuh.
Mereka menerobos masuk ke istana. Di aula utama, mereka bertemu dengan Penjaga Istana — seorang kultivator kuno setengah mayat bernama Elder Abyss, Nascent Soul Tingkat 4.
“Kau datang terlambat, Pewaris,” kata Elder Abyss dengan suara berat. “Darah Kuno sudah hampir matang.”
Pertarungan sengit pun terjadi. Elder Abyss memanggil ribuan tentakel hitam dari dinding istana. Arkan menebasnya dengan jurus Mahkota Naga Abadi, sementara Sela menghancurkan inti formasi dengan serangan presisi.
Arkan terdorong mundur berkali-kali, tapi ia bangkit lagi dan lagi. Darah mengalir dari mulutnya, tapi matanya semakin berkobar. Sela yang terluka parah di bahu tetap berdiri di belakangnya, mengalirkan Qi penyembuhan tanpa henti.
Di saat kritis, Arkan memanggil kekuatan cincin lebih dalam. “Naga Emas Agung… berikan aku kekuatanmu!”
Bayangan naga raksasa muncul di dalam istana bawah laut. Arkan melepaskan jurus pamungkas Jiwa Naga Abadi. Cahaya emas membanjiri seluruh istana. Elder Abyss berteriak kesakitan saat tubuhnya hancur. Darah Kuno di altar utama juga retak dan akhirnya meledak.
Ledakan besar mengguncang dasar laut. Arkan dan Sela terpental keluar istana. Gelembung Qi mereka hampir hancur. Dengan sisa kekuatan, Arkan menarik Sela dan seluruh tim kembali ke permukaan.
Sesampainya di kapal, Arkan langsung pingsan karena kelelahan. Sela menangis sambil merawatnya tanpa henti selama tiga hari tiga malam.
Ketika Arkan sadar, ia langsung mencari Sela dan memeluknya erat. “Kamu baik-baik saja?”
Sela mengangguk, air matanya jatuh. “Kamu yang membuatku khawatir. Jangan lakukan itu lagi.”
Arkan tersenyum, mencium bibir Sela lembut. “Aku janji.”
Dari kemenangan di Istana Bawah Laut, Arkan naik ke Nascent Soul Tingkat 2 awal. Sela mencapai Nascent Soul Tingkat 1. Mereka juga mendapatkan harta karun luar biasa — kristal Darah Naga Kuno, artefak air, dan gulungan teknik kuno “Lautan Qi Abadi”.
Di perjalanan pulang, Arkan dan Sela berdiri di deck kapal saat matahari terbenam. Arkan memeluk Sela dari belakang, dagunya bertumpu di bahu gadis itu.
“Masih ada satu tempat tersisa — Altar Terlarang di Papua,” kata Arkan pelan. “Setelah itu, segel ketiga akan terbuka sepenuhnya.”
Sela bersandar ke dada kekarnya. “Apapun yang menanti di sana, kita hadapi bersama. Aku mencintaimu, Raja Nagaku.”
Arkan mencium lehernya. “Dan aku mencintaimu lebih dari segalanya, Ratu Nagaku.”
Armada melaju pulang di bawah cahaya senja. Kemenangan demi kemenangan membuat Paviliun Naga Emas semakin tak terhentikan. Tapi di Altar Terlarang Papua, sesuatu yang jauh lebih gelap dan kuat sedang menunggu.
Rahasia cincin semakin terkuak. Takdir Arkan Wijaya semakin jelas.