Bagi Revanza, rumah bukanlah tempat untuk pulang, melainkan tempat di mana ia selalu menjadi figuran yang terlupakan. Di saat ia pulang dengan tubuh penuh luka akibat jatuh dari motor, pandangan ibunya justru tertuju penuh pada sang kakak, Arkael—si anak emas yang selalu sempurna. Namun, di balik senyuman tenang Arka yang merebut segalanya, ada sebuah rahasia berdarah yang perlahan mulai menggerogoti nyawanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amanda Shakira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16: KEHIDUPAN JALANAN
Bab 16: Kehidupan Jalanan
Deru suara knalpot motor yang memekakkan telinga dan aroma pekat oli bekas bercampur bensin menyambut Revan malam itu. Sebuah neon putih yang berkedip-kedip redup menjadi satu-satunya penerangan di Bengkel Mandiri Jaya, tempat nongkrong baru Revan sejak ia memutuskan untuk angkat kaki dari rumah tiga hari yang lalu. Cowok itu duduk di atas undakan semen depan bengkel, mengenakan kaos hitam oblong yang lengannya digulung sampai ke bahu, menatap kosong ke arah jalanan raya yang masih ramai oleh hilir mudik kendaraan.
Di sampingnya, sebuah ransel hitam besar—seluruh harta benda yang ia miliki saat ini—tergeletak pasrah di atas lantai yang ternoda bercak-bercak oli hitam.
"Nih, minum dulu. Muka lo tegang amat kayak orang mau tawuran," Miko datang sembari melemparkan sekaleng kopi dingin ke pangkuan Revan. Miko kemudian ikut duduk di sebelah sahabatnya, meluruskan kakinya yang pegal setelah seharian membantu montir bengkel.
Revan menangkap kaleng kopi itu, membuka tutupnya, lalu meneguknya hingga tandas setengah. "Gue cuma lagi mikir, Mik. Ternyata udara di luar rumah jauh lebih lega daripada di dalam sana."
Miko menghela napas panjang, menepuk-nepuk pundak Revan dengan prihatin. "Gue paham, Van. Tapi lo beneran gak mau aktifin HP lo? Minimal kasih kabar ke nyokap lo lah. Jujur, pas gue balik ke rumah kemarin, nyokap gue bilang orang tua lo sempet nanya-nanya ke tetangga sebelah. Mereka pasti lagi nyariin lo."
Revan tersenyum sinis, sudut bibirnya terangkat membentuk garis yang dingin. "Nyariin gue? Gak usah naif lo, Mik. Mereka itu paling cuma takut gak ada yang bisa disalah-salahin lagi di rumah kalau si anak emas tiba-tiba drop. Lagian, fokus mereka kan cuma satu: mastiin masa depan Arkael Dirgantara tetep berkilau. Gue ada atau gak ada, gak akan ngaruh buat mereka."
Ego Revan masih berdiri kokoh setinggi langit. Rasa sakit hati akibat tuduhan mencuri dan tamparan Ibu telah mengkristal menjadi sebuah dinding pertahanan yang tebal. Bagi Revan, menjauh dari rumah adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan sisa-sisa harga dirinya yang telah diinjak-injak.
"Trus, rencana lo gimana sekarang? Lo gak bisa selamanya numpang di kamar belakang rumah gue, Van. Nyokap gue sih santai aja, tapi gue gak enak kalau bokap lo tiba-tiba dateng ngelabrak rumah gue," tanya Miko logis.
Revan meletakkan kaleng kopinya di ubin, lalu menatap ke dalam area bengkel di mana beberapa montir paruh baya sedang sibuk membongkar mesin motor matic. "Gue mau kerja di sini, Mik. Tadi sore gue udah ngomong sama Cak To, pemilik bengkel ini. Dia mau nerima gue jadi asisten montir paruh waktu. Mulai besok malam, habis pulang sekolah, gue bakal langsung kerja di sini sampai jam dua belas malam."
"Lo serius, Van? Lo kan belum pernah megang mesin motor coretan gini, biasanya cuma bisa make doang," Miko melotot terkejut.
"Gue bisa belajar. Apa pun bakal gue lakuin asal gue bisa dapet duit sendiri," sahut Revan tegas, sepasang matanya memancarkan tekad yang keras. "Gue mau buktiin sama Ayah dan Ibu, kalau tanpa uang sepeser pun dari mereka, tanpa belas kasihan mereka, gue tetep bisa hidup. Gue bukan sampah yang gak bisa apa-apa kayak yang dibilang bokap."
Mulai malam itu, lembaran baru kehidupan Revanza dimulai. Dunia jalanan yang keras menyambutnya tanpa basa-basi. Pagi hari, ia tetap memaksakan diri masuk ke sekolah dengan seragam abu-abu yang mulai tampak agak kusam karena ia harus mencucinya sendiri di kamar mandi umum bengkel. Di kelas, Revan menjelma menjadi sosok yang semakin menutup diri. Ia tidak pernah lagi melirik ke arah ruang kelas dua belas, tempat di mana Arka berada. Ia menganggap Arka sudah tidak ada lagi di dalam kamus hidupnya.
Saat bel pulang sekolah berbunyi, di saat teman-teman sebayanya pergi nongkrong di kafe atau pulang ke rumah untuk disambut masakan hangat ibu mereka, Revan justru memacu motornya menuju Bengkel Mandiri Jaya.
Tugas pertamanya sebagai asisten montir tidaklah mudah. Kulit tangannya yang semula bersih kini mulai dipenuhi luka goresan obeng dan noda hitam legam dari oli mesin yang sulit dibersihkan bahkan dengan sabun colek sekalipun. Punggung dan pinggangnya terasa encok karena harus membungkuk berjam-jam membersihkan karburator atau mengganti rantai motor yang aus. Sering kali, Revan harus menahan kantuk yang luar biasa di bawah kolong motor sembari mendengarkan dentingan kunci pas yang beradu dengan mesin.
Namun, di tengah semua rasa lelah fisik yang menyiksa itu, Revan merasakan sebuah kepuasan yang aneh. Setiap kali ia menerima upah harian sebesar lima puluh ribu rupiah dari tangan Cak To, Revan akan menatap lembaran uang lecek itu dengan senyuman bangga.
Lihat, Yah, Bu, batin Revan setiap kali mengantongi uang hasil keringatnya sendiri. Gue bisa cari duit tanpa harus jadi anak emas kesayangan guru. Gue bisa hidup tanpa perlu pura-pura sakit atau akting lemes di atas kasur kayak anak kesayangan kalian.
Revan tidak pernah tahu—dan semesta sedang memainkan sebuah lelucon yang teramat kejam di balik punggungnya—bahwa di saat dia sedang sibuk membanggakan uang puluhan ribu hasil kerja bengkelnya, di dalam rumah yang ia tinggalkan, sang Ayah justru sedang mengalami tekanan batin yang luar biasa hebat. Ayah harus mengambil jam kerja lembur gila-gilaan hingga subuh, banting tulang di dua tempat berbeda demi menutup lubang biaya cuci darah Arka yang membengkak jutaan rupiah setiap minggunya. Ayah sengaja tidak mencari Revan ke rumah Miko bukan karena tidak peduli, melainkan karena tenaga dan pikiran pria paruh baya itu sudah terkuras habis untuk mempertahankan nyawa Arka yang kian kritis di ambang batas.
Dan di kamarnya yang terkunci rapat, Arka sering kali duduk termenung menatap ke arah jendela luar yang diguyur hujan. Tubuhnya kini semakin layu, namun matanya selalu menatap ke arah gerbang rumah, berharap siluet motor matic adiknya akan muncul membelah malam.
Lo di mana, Van? Maafin Abang... Abang bikin lo pergi... lirih Arka di dalam hati, memegang dada kirinya yang kerap kali berdenyut nyeri akibat racun dalam tubuhnya yang mulai menyerang jantung.
Malam itu, jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Revan baru saja selesai membersihkan sisa-sisa peralatan bengkel ketika sebuah motor sport besar berhenti di depan bengkel dengan suara raungan mesin yang keras. Pengendaranya turun, meminta Cak To untuk memeriksa bagian koplingnya.
Revan berjalan ke belakang bengkel untuk mencuci tangannya yang berlumuran oli hitam. Ia menatap pantulan wajahnya di cermin kaca yang buram. Wajahnya tampak lebih tirus, matanya dipenuhi gurat kelelahan, namun ada binar kemandirian yang mengeras di sana. Revan tersenyum tipis, mengeringkan tangannya menggunakan lap kain kumal. Di kepala Revan, kehidupan barunya di bengkel malam ini adalah bukti kemenangan awalnya atas ketidakadilan di rumahnya.
Bersambung......
.
.
.
.
.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...