NovelToon NovelToon
Satu Ranjang Dua Luka

Satu Ranjang Dua Luka

Status: tamat
Genre:Rumah Tangga / Perjodohan / Misteri / Tamat
Popularitas:8.1k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Keana Elvaretta percaya bahwa pisau bedah di tangannya bisa mengungkap kebenaran yang disembunyikan mayat, namun ia gagal mengungkap isi hati suaminya sendiri, Ghazali Mahendra. Menikah karena sebuah wasiat dan paksaan keadaan, Keana harus menerima kenyataan pahit bahwa ranjang pengantinnya hanyalah medan perang emosional yang dingin.Bagi Ghazali, seorang Jaksa Penuntut Umum yang ambisius dan memuja kesempurnaan, Keana hanyalah wanita "berbau formalin" yang merusak citra idealnya.
Di siang hari, mereka adalah rekan profesional yang bersinergi memecahkan kasus hukum dan forensik, namun di malam hari, mereka hanyalah dua orang asing yang berbagi luka di bawah satu selimut. Saat rahasia besar mulai terkuak dari sebuah meja otopsi, Keana menyadari bahwa dirinya selama ini hanyalah 'alamat yang salah' untuk cinta yang dikirimkan Ghazali. Mampukah Keana bertahan saat luka yang ia bedah setiap hari ternyata adalah hatinya sendiri?.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27: Skandal Foto Lama

​Jalan Keramat di Jakarta Pusat pada pukul tiga dini hari bukanlah tempat bagi mereka yang masih menyayangi nyawanya. Kawasan ini adalah labirin beton yang dipenuhi oleh gedung-gedung tua peninggalan kolonial yang merangkap sebagai sarang prostitusi kelas bawah, perjudian, dan klinik-klinik medis tak berizin.

​Hujan masih turun dengan rintik yang konstan, mencuci jalanan aspal yang berlubang, namun gagal membersihkan aroma pesing dan anyir darah yang seolah telah menyatu dengan dinding-dinding bata di sekitarnya.

​Mobil sedan perak yang dikemudikan Ghazali membelah genangan air kotor dan berhenti tepat di depan sebuah bangunan ruko tiga lantai yang catnya sudah mengelupas. Sebuah papan nama berbahan akrilik yang lampu neonnya sudah mati separuh tergantung miring di atas pintu rolling door. Tulisannya terbaca: Klinik Bersalin Kasih Bunda.

​Sebuah ironi yang sangat memuakkan, mengingat tempat ini adalah pusat aborsi ilegal terbesar di jaringan pasar gelap ibu kota.

​"Matikan mesinnya, Mas," bisikku, melirik ke arah Ghazali yang mencengkeram setir dengan tangan kirinya. Buku-buku jarinya memutih.

​Napas suamiku itu terdengar sedikit tersengal. Luka bakar kimia dari Asam Hidrofluorik di tangan kanannya pasti berdenyut menyiksa, menembus lapisan perban dan salep analgetik yang kuberikan. Namun, profil wajah pualamnya tak menunjukkan keraguan sedikit pun. Pria itu mematikan mesin mobil, mencabut kunci, lalu menoleh padaku dengan tatapan mata elangnya yang memancarkan kewaspadaan tingkat tinggi.

​"Tetap berada di belakangku, Keana. Jangan sentuh apa pun di dalam sana tanpa sarung tangan," perintahnya dingin, insting jaksanya mengambil alih. "Tempat seperti ini biasanya tidak memiliki CCTV untuk melindungi klien mereka, tapi mereka pasti memiliki preman bayaran di pintu belakang."

​Aku mengangguk, mengenakan sepasang sarung tangan lateks hitam dari tas medisku, lalu melangkah keluar menembus gerimis.

​Kami berjalan mendekati pintu rolling door yang berkarat itu. Ghazali tidak mengetuk. Ia hanya menekan telapak tangan kirinya ke permukaan logam yang dingin itu, dan pintu tersebut bergeser naik dengan mudah, seolah memang sengaja tidak dikunci untuk menyambut kedatangan kami.

​Udara di dalam klinik itu langsung menampar wajahku.

​Sebagai dokter forensik, hidungku telah terkalibrasi untuk memilah ribuan jenis bau. Namun kombinasi yang menguar dari klinik aborsi ini sungguh membuat lambungku bergejolak. Bau klorin pemutih lantai yang sangat pekat, bercampur dengan aroma logam dari darah kering, dan bau amis cairan ketuban yang membusuk. Tempat ini adalah pabrik kematian bagi mereka yang belum sempat menghirup udara.

​Ruang tunggu itu gelap gulita, hanya diterangi oleh lampu jalanan yang menembus celah ventilasi. Deretan kursi plastik usang berjejer rapi menghadap sebuah meja resepsionis berbahan kayu lapis.

​"Siapa di sana?" suara Ghazali memecah keheningan, menggema di ruangan sempit itu.

​Dari balik meja resepsionis, terdengar suara gesekan kursi roda. Sinar dari sebuah lampu senter kecil menyala, menyorot ke arah wajah kami secara bergantian.

​"Turunkan senter itu," desis Ghazali, melangkah maju memposisikan tubuhnya sebagai perisaiku.

​Cahaya senter itu turun, menyorot ke lantai. Di baliknya, berdirilah seorang wanita paruh baya dengan rambut beruban yang diikat asal-asalan. Ia mengenakan jas medis yang sudah menguning dan dipenuhi noda kecokelatan. Wajahnya dipenuhi keriput ketakutan, matanya bergerak liar memindai sekeliling seolah ia sedang dikejar oleh hantu.

​"K-kalian datang," wanita itu bersuara parau, tubuhnya bergetar hebat. Ia melangkah mundur, menjaga jarak dari kami. "Aku Bidan Darmi. Aku yang menyuruh anak buahku memegang papan tulisan itu di depan apartemen kalian."

​"Kau tahu siapa kami?" tanyaku, melangkah keluar dari balik punggung Ghazali.

​Bidan Darmi tertawa pelan, tawa yang terdengar seperti rengekan orang gila. "Seluruh Indonesia tahu siapa kalian sekarang, Dokter. Kalian adalah orang-orang gila yang berani menantang Nyonya Ratna Mahendra dan pengacara iblis itu. Tapi kalian tidak tahu seberapa dalam lubang yang kalian gali."

​Ghazali melangkah maju, sorot matanya mengintimidasi. "Di pesanmu, kau bilang kau tahu di mana Maia menguburkan anak dari panti asuhan itu. Berikan lokasinya sekarang, dan aku berjanji akan memberikan perlindungan hukum untukmu sebagai justice collaborator."

​"Perlindungan hukum?" Darmi meludah ke lantai. "Hukum kalian tidak bisa menghentikan Maia! Enam tahun yang lalu, wanita itu datang ke mari dengan membawa koper berisi uang tunai dan ancaman pembunuhan untuk keluargaku. Dia menyuruhku melakukan satu hal yang bahkan iblis pun akan ragu untuk melakukannya."

​Darahku mendadak berdesir dingin. Angka enam tahun yang lalu.

​"Apa yang dia suruh kau lakukan?" tanyaku, suaraku mengeras.

​Bidan Darmi tidak menjawab. Ia merogoh laci meja resepsionisnya dengan tangan gemetar, lalu mengeluarkan sebuah kotak besi kecil berkarat—sebuah kotak perkakas tua yang biasa digunakan untuk menyimpan kunci pas. Ia meletakkan kotak itu di atas meja kayu lapis dan mendorongnya ke arah kami.

​"Aku tidak menguburkan anak itu," bisik Darmi, matanya berkaca-kaca dipenuhi oleh horor masa lalu. "Karena anak itu tidak pernah mati di panti asuhan sebulan yang lalu. Kematian di panti asuhan itu hanyalah sebuah sandiwara, sebuah manipulasi data untuk menutupi fakta bahwa anak itu sudah dieksekusi di ruangan belakang klinik ini... atas perintah Nyonya Ratna."

​Napas Ghazali tercekat. "Apa maksudmu? Jika anak itu dibunuh enam tahun lalu, lalu siapa balita yang meninggal karena hipoksia di panti asuhan sebulan sebelum Kakekku dibunuh?"

​"Buka kotak itu, Jaksa Mahendra," Darmi menunjuk kotak karatan itu dengan jari telunjuknya yang bergetar. "Kalian selalu mencari mens rea—niat jahat—bukan? Di dalam sana, kalian akan menemukan niat jahat yang paling murni yang pernah diciptakan oleh manusia."

​Tanpa ragu, aku melangkah maju. Dengan sarung tangan lateks yang masih terpasang, aku membuka kait pengunci kotak besi tersebut.

​Bau debu dan kertas usang langsung tercium. Di dalam kotak itu, tidak ada serpihan tulang atau sampel jaringan seperti yang kubayangkan. Yang ada hanyalah sebuah map rekam medis berwarna kuning kusam, dan setumpuk foto polaroid lama yang disatukan oleh sebuah karet gelang.

​Aku mengambil tumpukan foto itu terlebih dahulu. Perasaanku mendadak tidak enak. Udara di dalam klinik ini tiba-tiba terasa menyusut drastis.

​Aku melepaskan karet gelang yang sudah getas itu. Debu halus beterbangan saat aku membalik foto pertama.

​Sinar lampu jalanan yang redup dari ventilasi sudah cukup bagiku untuk melihat gambar yang tercetak di atas kertas foto berukuran empat kali enam inci tersebut.

​Jantungku berhenti berdetak selama tiga detik penuh.

​Di dalam foto tersebut, tergambar pemandangan sebuah ruang perawatan rumah sakit VVIP yang sangat mewah. Di tengah ruangan, duduklah Maia Anindita di atas ranjang. Ia mengenakan gaun pasien, rambutnya tergerai indah, dan wajahnya memancarkan senyuman paling tulus dan bahagia yang pernah kulihat.

​Namun, bukan Maia yang membuat paru-paruku seakan ditikam oleh ribuan jarum es.

​Di sebelah Maia, duduk seorang pria muda. Wajahnya masih sangat segar, mungkin berusia sekitar dua puluh empat tahun. Pria itu tertawa lepas, matanya melengkung membentuk bulan sabit kebahagiaan. Kedua tangannya yang kokoh memeluk Maia dari belakang, sementara telapak tangannya bertumpu dengan penuh kelembutan di atas perut Maia yang membuncit besar—hamil besar.

​Pria di foto itu adalah Ghazali Mahendra.

​"Keana? Ada apa?" Ghazali menyadari tubuhku yang mendadak mematung. Ia melangkah mendekat. "Foto apa itu?"

​Mulutku terbuka, namun tidak ada satu pun suara yang berhasil melewati pita suaraku. Tanganku yang terbalut lateks bergetar sangat hebat hingga foto polaroid itu nyaris terlepas dari genggamanku.

​Aku memaksa mataku untuk membalik foto kedua.

​Foto ini diambil di sebuah taman. Maia sedang berdiri menyamping, memamerkan perut kehamilannya yang mungkin sudah memasuki usia delapan bulan. Dan Ghazali berlutut di depannya, mengecup perut buncit itu dengan mata terpejam, memancarkan aura pemujaan yang begitu murni. Di sudut kanan bawah foto itu, tercetak sebuah tanggal digital berwarna jingga: 7 Tahun Yang Lalu.

​Aku menatap foto itu, lalu menatap Ghazali yang berdiri di sampingku.

​Rasa sakit yang menghantamku kali ini sama sekali tidak memiliki penjelasan medis. Ini bukan tentang sayatan scalpel, bukan pula tentang racun Sevoflurane. Ini adalah rasa cemburu, rasa pengkhianatan, dan rasa rendah diri yang meledak secara bersamaan layaknya bom termobarik di dalam rongga dadaku.

​“Kau hanyalah perban darurat, Keana.”

​Kata-kata Nyonya Ratna di ruang interogasi Bareskrim kembali berputar di kepalaku, kali ini dengan resonansi yang seratus kali lipat lebih mematikan. Pria yang berdiri di hadapanku ini... pria yang semalam mengatakan bahwa aku adalah satu-satunya rumah yang ia inginkan... ternyata pernah membangun sebuah istana cinta yang begitu utuh, begitu nyata, hingga menghasilkan sebuah nyawa bersama wanita musuhku.

​Ghazali merebut tumpukan foto itu dari tanganku.

​Begitu mata elangnya menangkap visual di atas kertas usang tersebut, seluruh darah di wajah Ghazali surut seketika. Tubuh tegapnya yang tak pernah goyah oleh ancaman peluru, kini terhuyung mundur hingga punggungnya menabrak meja resepsionis kayu lapis dengan bunyi debuman keras.

​"I-ini tidak mungkin," suara bariton Ghazali pecah, berubah menjadi parauan histeris yang menyayat hati. "Ini manipulasi! Maia... dia bilang padaku bahwa dia mengalami keguguran di bulan kedua! Ibuku yang memaksanya menggugurkan kandungan itu!"

​Ghazali menatap Bidan Darmi dengan mata yang melebar penuh horor. Tangan kirinya meremas foto-foto itu hingga kusut. "Darmi! Jawab aku! Apa arti foto-foto ini?! Maia bilang dia menggugurkannya di klinikmu!"

​Bidan Darmi menggelengkan kepalanya pelan, air mata mulai membasahi pipinya yang keriput. "Dia berbohong padamu, Jaksa Mahendra. Maia datang kepadaku bersama ibumu, Nyonya Ratna, saat usia kandungannya baru delapan minggu. Ibumu membayarku lima ratus juta rupiah untuk melakukan aborsi. Namun, setelah ibumu pergi..."

​Darmi menelan ludah dengan susah payah, "...Maia menawarkan uang sepuluh kali lipat lebih besar kepadaku. Dia menyuruhku membuat sertifikat aborsi palsu untuk ditunjukkan pada ibumu dan padamu. Kenyataannya, aku merawat kehamilannya secara sembunyi-sembunyi di lantai atas klinik ini selama sembilan bulan penuh."

​Bumi yang kupijak seolah terbelah dua.

​Jadi, Ghazali memang menghamili Maia di masa lalu. Ia pernah menaburkan benih kehidupan di dalam rahim wanita itu. Dan selama bertahun-tahun, ia hidup dalam duka dan penyesalan karena mengira darah dagingnya telah dibunuh oleh ibunya sendiri.

​"Lalu... di mana anak itu?" Ghazali berjalan terhuyung maju, mencengkeram kerah jas medis Bidan Darmi dengan tangan kirinya. Wajah suamiku itu tampak seperti orang gila. "Di mana anakku, Darmi?! Jika dia tidak mati di bulan kedua, di mana dia sekarang?!"

​"Itulah tragedinya, Jaksa," isak Darmi, tubuhnya merosot ketakutan. "Maia melahirkan seorang bayi laki-laki yang sangat sehat. Namun, ibumu akhirnya mengetahui kebohongan itu enam tahun lalu. Nyonya Ratna murka besar. Beliau mengancam akan menghancurkan karir Maia sebagai pengacara jika skandal anak di luar nikah ini sampai ke telinga publik atau kakekmu."

​Darmi menunjuk ke arah map kuning kusam di dalam kotak besi tersebut. "Nyonya Ratna memaksa Maia untuk menyingkirkan bayi itu secara permanen. Tapi Maia tidak mau mengotori tangannya sendiri. Jadi..."

​Aku tidak menunggu Darmi menyelesaikan kalimatnya. Aku menyambar map kuning itu dan membukanya dengan paksa. Di dalamnya terdapat sebuah dokumen rekam medis autopsi swasta yang ditulis tangan, lengkap dengan cap klinik ini.

​Nama Pasien: Gala Anindita.

Usia: 6 Tahun.

Sebab Kematian: Asfiksia Hipoksia akibat injeksi Kalsium Sianida intra-vena.

Waktu Kematian: 12 November 2020.

​Dan di bagian bawah dokumen itu, terdapat sebuah foto pasfoto bayi laki-laki berusia sekitar dua tahun. Wajahnya sangat tampan, memiliki garis rahang yang tegas dan sepasang mata elang gelap yang... sangat identik dengan pria yang berdiri di sampingku.

​Tanganku luruh ke sisi tubuhku. Map itu jatuh berserakan di atas lantai yang kotor.

​"Maia membawanya kembali ke mari saat usianya belum genap tiga tahun," suara Darmi mengalun layaknya melodi kematian. "Dia membayarku untuk menyuntikkan sianida ke dalam pembuluh darahnya. Balita yang meninggal di Panti Asuhan sebulan lalu itu hanyalah anak yatim piatu tak bernama yang datanya dimanipulasi oleh yayasan ibumu untuk menutupi jejak pembunuhan Gala enam tahun lalu. Tikus percobaan untuk racun Digoxin kakekmu itu... bukanlah anak Maia. Anak Maia sudah lama mati di lantai atas klinik ini."

​Ghazali melepaskan cengkeramannya dari kerah Bidan Darmi. Ia melangkah mundur pelan-pelan.

​"Anakku..." bisik Ghazali, sebuah gumaman yang begitu hancur, begitu kosong, hingga tak ada satu pun literatur hukum yang mampu mendeskripsikannya. Ia menatap telapak tangannya sendiri yang bergetar. "Maia membunuh darah dagingku sendiri... demi sebuah karir?"

​Ghazali jatuh berlutut di atas lantai beton yang dingin. Pria yang tak pernah hancur oleh ancaman Bareskrim, pria yang mampu tersenyum saat tangannya terbakar asam korosif, kini luluh lantak seutuhnya di depan sebuah kotak berkarat. Ia memeluk foto polaroid itu ke dadanya, menundukkan wajahnya hingga menyentuh lantai, dan menangis.

​Raungan kepedihan Ghazali membelah keheningan malam Jalan Keramat. Itu adalah tangisan seorang ayah yang baru saja mengetahui bahwa ia memiliki seorang putra, tepat di detik ia juga mengetahui bahwa putranya itu telah dibunuh oleh wanita yang pernah ia cintai.

​Aku berdiri mematung di tempatku.

​Secara insting, aku ingin berlutut di sampingnya, memeluknya, dan menyalurkan seluruh kekuatanku untuk merekatkan kembali kepingan jiwanya yang hancur. Namun kakiku seolah dipaku ke lantai.

​Ada dinding tak kasatmata yang mendadak terbangun sangat tinggi di antara kami. Dinding itu bernama masa lalu.

​Ghazali sedang menangisi seorang anak yang ia ciptakan bersama wanita lain. Ia sedang meratapi hancurnya sebuah keluarga kecil yang pernah ia impikan jauh sebelum ia mengenalku. Di dalam tangisan itu, di dalam duka yang begitu privat dan absolut itu... tidak ada ruang untukku.

​Aku hanyalah penonton luar. Aku hanyalah seorang dokter forensik yang memegang senter, menyoroti luka di dalam hidupnya, tanpa pernah benar-benar menjadi bagian dari cerita tersebut.

​"Kau hanyalah perban darurat, Keana."

​Aku memejamkan mata, membiarkan setetes air mata cemburu yang paling menyedihkan jatuh ke pipiku. Aku cemburu pada seorang anak kecil yang sudah meninggal. Betapa kotor dan rendahnya perasaanku ini. Namun inilah realitas dari sebuah ranjang yang bermula dari transaksi wasiat.

​Aku perlahan membalikkan badan.

​Aku tidak berlari. Aku hanya melangkah dengan sangat pelan, seolah takut suara sepatuku akan mengganggu duka suamiku. Aku berjalan keluar dari klinik aborsi itu, menembus rintik hujan yang kembali membasahi bumi Jakarta.

​Aku membiarkan hujan membilas wajahku. Aku merogoh saku hoodie-ku, mengambil lencana timbangan emas milik Ghazali yang kusembunyikan sejak semalam. Logam itu terasa sangat berat di tanganku sekarang.

​Kebenaran memang telah terungkap. Niat jahat Maia dan Nyonya Ratna telah telanjang di depan mata kami. Mereka bukan hanya pembunuh orang dewasa, mereka adalah pembunuh darah daging mereka sendiri.

​Namun, bersamaan dengan terungkapnya kebenaran itu, benih kesalahpahaman yang ditanamkan ibunya di ruang interogasi akhirnya tumbuh menjadi pohon berduri yang mencekik hatiku. Ghazali tidak akan pernah bisa lepas dari bayang-bayang Maia. Wanita itu tidak hanya mengambil masa lalunya, tetapi ia juga telah mengambil sebagian jiwanya melalui anak itu.

​Aku menyetop sebuah taksi yang melintas lambat di jalanan sepi itu.

​Saat aku duduk di kursi belakang dan taksi mulai melaju menjauh dari klinik tersebut, aku menatap bayangan klinik Kasih Bunda dari kaca spion yang perlahan mengecil dan menghilang.

​Penyakit yang disembuhkan dengan amputasi tidak akan pernah membuat tubuh pasien kembali utuh. Malam ini, aku menyadari bahwa luka di ranjang kami terlalu dalam untuk dijahit oleh pisau bedah mana pun.

​Ghazali telah menemukan kepingan masa lalunya yang hilang. Dan mungkin, sudah saatnya bagiku untuk mencari alamat yang benar bagi diriku sendiri, di luar bayang-bayang keluarga Mahendra.

1
falea sezi
ya uda end
falea sezi
novel sekeren ini sedetail ini sepi like ya ampun😍 aq ksih hadiah deh
falea sezi
uda Keana dia cocok ma maia yg uda di ewe
falea sezi
🤣 laki najis pernah tidur gk dia sama maya pasti pernah donk
falea sezi
mending cerai aja lah😕
Detia Anastasia
Gila aku suka novel gini, kenapa baru nemu sekarang🤧
Yeni Puspitasari
pernikahan yang mengerikan Thor,
baca part ini aku merinding
Mei TResna Rahmatika
kapan bahagianya thorr😭
Mei TResna Rahmatika
pliss thor nanti bikin happy ending buat keana sama ghazali😭
Mei TResna Rahmatika
kasian banget keana😭
Mei TResna Rahmatika
susah di tebak alurnya tp seruuu poll
Mei TResna Rahmatika
plisss Ghazali jangan mati thorr😭
Mei TResna Rahmatika
deg"an tiap baca part nya thor
Mei TResna Rahmatika
nangisss bangettt part ini 😭😭
Dewy Aprianty
seru banget, lanjut thorr
Mei TResna Rahmatika
baguss kak, cerita nya lain drpd yg lain
nunggu update selanjutnya kak😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!