NovelToon NovelToon
Aku Diculik Mafia Tampan

Aku Diculik Mafia Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: wiwi

Sinopsis – Aku Diculik Mafia Tampan

Alya, gadis sederhana yang bekerja keras demi menghidupi ibunya, tak pernah menyangka hidupnya berubah hanya karena satu kecelakaan kecil. Saat menabrak mobil mewah di tengah hujan, ia justru diculik oleh pemilik mobil itu—Kael Lorenzo, pria tampan, kaya raya, dan pemimpin mafia paling ditakuti di kota.

Dibawa ke mansion megah bak penjara emas, Alya dipaksa tinggal bersama pria berbahaya yang dingin dan kejam itu. Kael seharusnya menyingkirkannya, tetapi ada sesuatu pada Alya yang membuatnya tak mampu melepaskan.

Semakin Alya melawan, semakin Kael terobsesi.

Ia melarang Alya pergi.
Ia menghancurkan siapa pun yang mendekat.
Ia rela menumpahkan darah demi menjaga gadis itu tetap di sisinya.

Namun saat rahasia masa lalu Kael mulai terbongkar dan musuh-musuh mafia mengincar Alya, keduanya terjebak dalam permainan cinta yang berbahaya.

Bisakah Alya kabur dari pria yang menculiknya…
atau justru jatuh cinta pada mafia tampan yang menganggapnya milikny

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Target Sang Mafia

Bab 12 – Target Sang Mafia

WIIIIUUUU! WIIIIUUUU! WIIIIUUUU!

Alarm keamanan meraung keras memekakkan telinga di seluruh penjuru mansion. Lampu-lampu berkedip merah menyala, menciptakan suasana mencekam yang nyata.

Alya membeku kaku di tengah kamar. Wajahnya pucat pasi.

“Targetnya… aku?” bisiknya tak percaya.

Kael di depannya sedang memasukkan magasin peluru ke dalam pistol dengan gerakan cepat, cekatan, dan sangat tenang. Suara klak yang terdengar tegas.

“Ya.”

“Apa maksudmu ‘ya’ sih?! Kenapa semua orang mau bunuh aku?! Padahal kan aku cuma gadis biasa yang kerja di toko bunga! Aku nggak punya musuh!” seru Alya frustrasi, suaranya sedikit bergetar.

Kael menatapnya sekilas sebelum mengecek senjatanya.

“Karena sekarang kau dekat denganku. Menjadi dekat denganku berarti menjadi target semua orang yang membenciku.”

“Itu bukan prestasi! Itu namanya kutukan! Hidupku jadi ancaman terus!”

Kael hampir tersenyum mendengar omelan gadis itu, tapi situasi terlalu berbahaya. Ekspresinya kembali dingin dan serius.

Ia berjalan ke pintu kamar dan membukanya sedikit. Dua orang bodyguard sudah berdiri siaga di luar dengan wajah waspada.

“Tuan! Ada penyusup masuk! Terdeteksi di area barat!” lapor salah satu dari mereka cepat.

“Berapa orang?”

“Belum pasti, Tuan. Kamera pengawas sudah diputus dari luar.”

Kael mengangguk dingin.

“Bersihkan area. Dan tangkap satu orang hidup-hidup. Aku butuh informasi.”

“Siap, Tuan!”

Kael menutup pintu kembali dan menatap Alya.

“Masuk ke ruang ganti sekarang. Kunci dari dalam.”

“Hah? Kenapa aku harus masuk ke sana? Sendirian?” Alya langsung menolak, matanya membelalak takut.

“Kalau begitu ikut aku.”

“Aku juga nggak mau ikut! Aku nggak mau ikut ke tempat yang ada tembak-tembakan dan darah-darahan!”

Kael berjalan mendekat langkah demi langkah. Wajahnya tampak mengintimidasi, membuat Alya mundur perlahan hingga punggungnya menabrak tepi ranjang.

“Pilih salah satu. Di dalam lemari sendirian… atau ikut aku dan tetap hidup. Cepat.”

“Aku pilih pulang ke rumah nenek!”

“Pilihan ditolak. Pilih lagi.”

Alya mendengus kesal, memukul kasur dengan tangan kecilnya.

“Aduh, aku benci sekali sama hidupku sekarang!”

Kael menatapnya datar, tapi ada kilat aneh di matanya.

“Kalau kau benci hidupmu… aku justru mulai sangat menyukainya.”

“Aneh! Orang aneh!”

Sebelum Alya sempat memprotes lebih jauh, tiba-tiba terdengar suara pecahan kaca yang sangat keras dari lantai bawah.

BRAAAAKK!!!

Disusul dengan teriakan dan suara langkah kaki yang berlarian kacau.

Tanpa basa-basi, Kael langsung menarik tangan Alya dan menggenggamnya erat.

“Dekat denganku. Jangan lepas.”

“Aduh! Jangan seret terus dong! Kaki aku jalan kok!”

“Kalau bisa jalan cepat, ayo!”

Kael menyeret Alya keluar kamar menuju lorong panjang yang remang-remang. Beberapa penjaga berlari melewati mereka sambil membawa senjata lengkap, wajah mereka tegang dan siap tempur.

Jantung Alya berdegup kencang sekali, rasanya mau copot keluar dari rongga dada.

“Ini benar-benar gila…” gumamnya ketakutan.

Kael tidak berhenti. Ia membawa Alya menuju sebuah ruangan kerja di ujung lorong. Di sana, ia menekan sebuah panel tersembunyi di balik hiasan dinding.

KLIK.

Suara mekanisme terdengar. Rak buku yang besar itu perlahan bergeser terbuka, menampakkan sebuah ruangan rahasia yang gelap dan sempit di baliknya.

Alya melongo melihatnya.

“Wah… kamu punya pintu rahasia segala sih?”

“Aku mafia, Alya. Jangan ketinggalan jaman,” jawab Kael singkat.

“Benar juga ya…”

Kael mendorong pelan bahu Alya agar masuk ke dalam.

“Diam di sini. Jangan bersuara.”

“Aku nggak mau sendirian! Gelap dan serem!”

Kael masuk mengikutinya, lalu mendorong rak buku itu kembali menutup rapat dari dalam.

Ruangan itu sangat sempit. Hanya cukup untuk dua orang berdiri berhadapan.

Sangat dekat.

Hawa tubuh Kael langsung menyelimuti Alya. Bau parfum mahal bercampur dengan aroma maskulin pria itu tercium jelas.

Alya menelan ludah dengan susah payah.

“Tadi kan kamu suruh aku masuk sendiri…”

Kael menatap lurus ke depan, tangannya masih siap memegang pistol, tapi wajahnya sedikit menoleh ke arah Alya.

“Aku berubah pikiran.”

“Kenapa tiba-tiba?”

“Karena…” Kael berhenti sejenak, suaranya merendah menjadi sangat lembut, “aku tidak bisa tenang kalau kau jauh dari pandanganku.”

Jantung Alya berdetak liar tak karuan. Dadanya sesak oleh perasaan aneh yang campur aduk antara takut dan… deg-degan. Ia buru-buru memalingkan wajah agar Kael tidak melihat pipinya yang memerah.

Di luar sana, terdengar suara langkah kaki yang berlari kencang.

Dan beberapa detik kemudian…

DOR! DOR! DOR!

Suara tembakan menderu keras, bahkan terdengar jelas meski terhalang dinding tebal.

Alya refleks menjerit kecil dan menutup telinganya dengan kedua tangan, matanya terpejam kuat-kuat.

Seketika, tubuhnya ditarik masuk ke dalam pelukan hangat dan kokoh. Kael menariknya ke dadanya, melindungi tubuh kecil itu dengan badannya yang besar.

“Tenang. Aku di sini.”

“Aku nggak bisa tenang! Suaranya keras banget!” rengek Alya, tangannya secara tidak sadar mencengkeram kemeja Kael erat-erat, membenamkan wajahnya di dada bidang pria itu.

“Kau sedang memelukku erat sekali, tahu,” bisik Kael di atas kepala gadis itu.

Alya sadar dan buru-buru melepaskan pelukannya, berusaha menjaga jarak lagi meski ruangan sempit.

“Aku cuma refleks! Refleks manusia normal kalau takut!”

Kael menundukkan wajahnya mendekat, hidung mereka hampir bersentuhan.

“Lakukan saja lagi kalau kau takut. Aku tidak keberatan sama sekali.”

“Aku lebih takut sama kamu daripada sama penjahat itu!”

“Bohong.”

Alya mendelik kesal. “Kenapa sih semua jawabanmu itu nyebelin banget sih?!”

“Karena kau lucu sekali saat marah atau malu. Aku suka melihatnya.”

Alya sudah siap memukul lengan pria itu, tapi ruang geraknya terlalu terbatas. Akhirnya ia hanya bisa mendengus kesal.

Suara kegaduhan dan tembakan di luar perlahan mereda. Kembali tenang.

Ponsel di saku celana Kael bergetar. Ia mengangkatnya dan menjawab dengan suara pelan agar tidak terdengar.

“Apa?”

Suara Riko terdengar samar dari seberang.

“Tuan, situasi sudah aman. Satu penyusup berhasil kami tangkap hidup-hidup. Dan… dia membawa foto Nona Alya di dompetnya.”

Wajah Kael yang tadi sedikit tenang langsung berubah mengeras dan gelap. Rahangnya terlihat menegang.

“Bawa dia ke ruang bawah tanah. Tunggu aku.”

Kael memutus sambungan telepon.

Alya menatapnya dengan wajah ngeri.

“Ruang bawah tanah? Buat apa?”

“Untuk interogasi.”

“Kamu… kamu bakal nyiksa dia kan?” tanya Alya was-was.

“Kalau itu perlu untuk mendapatkan informasi… ya.”

“Kael! Itu kejam!”

Kael menatap lurus ke mata Alya, sorot matanya tajam dan serius.

“Dia masuk ke rumahku, dia membawa senjata, dan tujuannya membunuhmu, Alya. Apa kau masih merasa kasihan?”

Alya terdiam. Mulutnya terkunci rapat. Benar juga…

Kael mendorong rak buku itu hingga terbuka kembali.

“Keluar.”

Mereka kembali ke lorong utama. Mansion mulai terlihat berantakan sedikit, beberapa kaca pecah dan penjaga sibuk membersihkan area, tapi suasana sudah jauh lebih aman.

Tanpa berkata apa-apa, Kael kembali menggenggam tangan Alya dan menariknya berjalan cepat menuju tangga yang mengarah ke bawah.

“Hei! Ke mana lagi kita mau pergi?! Aku mau ke kamar!”

“Ke ruang bawah tanah.”

“Aku nggak mau! Aku nggak mau lihat orang disiksa! Ngeri banget!”

Alya mencoba menghentakkan kakinya dan berhenti, tapi tenaga Kael jauh lebih besar. Ia tetap menarik gadis itu berjalan.

“Kael, tolonglah! Jangan bawa aku ke sana!”

Kael tiba-tiba berhenti mendadak dan berbalik badan. Karena momentum itu, Alya yang berusaha menahan diri langsung menabrak dada bidangnya keras-keras.

Bugh.

Pria itu menunduk, wajahnya sangat dekat dengan Alya. Tatapannya serius dan dingin.

“Dengar aku baik-baik. Mulai malam ini, ini bukan permainan lagi. Seseorang di luar sana sedang membayar mahal… untuk kepalamu.”

Tubuh Alya membeku sempurna. Darah seakan berhenti mengalir.

“Apa… apa maksudmu?”

Kael menyentuh pipi gadis itu perlahan dengan ibu jarinya, sentuhan yang lembut tapi suaranya terdengar mematikan.

“Dan aku bersumpah… aku akan membunuh siapa saja yang berani mencoba mengambilnya dari dunia ini.”

Napas Alya tercekat di tenggorokan. Jantungnya berhenti berdetak sejenak mendengar kalimat itu.

Tanpa menunggu respon, Kael kembali berjalan, membawanya menuruni tangga besi yang dingin menuju bagian paling bawah bangunan itu.

Udara di sana semakin dingin dan lembap.

Lampu-lampu neon redup menerangi lorong panjang yang menyeramkan.

Dan samar-samar… terdengar suara rintihan kesakitan dari kejauhan.

Alya menggigil ketakutan, tangannya semakin erat menggenggam jari Kael.

Akhirnya mereka sampai di depan sebuah pintu besi tebal. Kael mendorongnya terbuka.

Di dalam ruangan yang remang itu, terlihat seorang pria bertopeng duduk terikat kuat pada sebuah kursi besi. Wajahnya sudah babak belur, hidungnya berdarah, dan terlihat sangat kelelahan.

Mendengar suara pintu terbuka, pria itu perlahan mengangkat kepalanya.

Matanya yang merah menatap lurus ke arah Alya.

Lalu… ia tersenyum.

Senyum yang berdarah, menyeramkan, dan penuh makna.

“Akhirnya… putri kecil itu datang juga.”

1
Erna sujana Erna sujana
lanjut Thor,suka dgn CRT nya
wiwi: tunggu update bsok yah kak😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!