Li Zhen terbangun di ranjang jerami yang gatal, menggaruk kepalanya dengan wajah bingung. Dia menyadari dirinya terlempar ke Benua Awan Surgawi, masuk ke tubuh pemuda lemah dengan nama yang sama.
Alih-alih berlatih ilmu kanuragan seperti kultivator lain, Li Zhen hanya menguap lebar sambil menatap langit-langit yang bocor. Dia memilih menggunakan lidahnya yang setajam pisau untuk bertahan hidup di dunia persilatan yang kejam ini.
Dia tidak pernah sekalipun memukul lawan, namun musuhnya sering menangis tersedu-sedu sambil memeluk lutut. Ini adalah kisah berputar-putar tentang seorang pemuda yang mengacaukan dunia kultivasi hanya dengan ocehan tanpa henti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30
[Ding! Target Kepala Sekte Zhao Wuji mengalami serangan kecemasan akut dan degradasi harga diri total. Mendapatkan +8.000 Poin Sampah.]
Layar biru neon dari sistem berkedip terang di depan wajah Li Zhen, memberikan notifikasi poin yang selalu berhasil membuat senyumnya mengembang lebar. Dia mengabaikan Kepala Sekte yang sedang menangis tersedu-sedu di tanah, memutar tubuhnya untuk melihat ke arah jalan setapak yang menanjak.
Dari balik rimbunnya hutan pinus biru di kejauhan, terdengar suara langkah kaki yang diseret dengan sangat berat dan putus asa. Tetua Yao dan sepuluh kultivator lainnya akhirnya muncul dari balik kabut tipis, kondisi mereka terlihat jauh lebih tragis daripada tawanan perang.
Masing-masing dari mereka memikul sebuah tong kayu ek raksasa di punggung mereka yang sudah membungkuk parah menahan beban. Tong-tong kayu itu diisi penuh oleh air mendidih yang terus mengeluarkan uap panas dari Sumber Air Panas Naga Bawah Tanah.
Mereka baru saja berlari menempuh jarak puluhan mil menanjak dari lembah kematian yang beracun tanpa menggunakan cincin spasial sama sekali. Air mendidih itu terus memercik keluar setiap kali mereka melangkah, menyiram punggung mereka dan menciptakan luka bakar kemerahan yang mengerikan.
Jubah hijau zamrud kebanggaan Tetua Yao kini sudah robek-robek parah tersangkut duri hutan, menampilkan kulit rentanya yang melepuh merah. Pria tua itu berlari dengan napas yang terdengar seperti tarikan peluit rusak, lidahnya nyaris menjulur keluar karena dehidrasi tingkat parah.
"C-cepat... kita harus sampai sebelum air ini mendingin... atau Senior akan membunuh kita semua," racau Tetua Yao dengan pandangan mata yang sudah kabur. Kakinya tersandung sebuah akar pohon yang melintang di jalan, membuatnya jatuh tersungkur dengan sangat keras ke halaman paviliun.
Tong kayu di punggungnya terbanting ke tanah berbatu, menumpahkan sedikit air panas yang langsung mendesis saat menyentuh debu meteorit. Sepuluh tetua pengambil air lainnya juga ikut kehilangan keseimbangan, bertumbangan satu per satu layaknya bidak catur yang disapu dari papan permainan.
Mereka tergeletak tak berdaya di sekitar tong-tong kayu mereka, dada mereka naik turun dengan sangat cepat mencoba meraup oksigen sebanyak mungkin. Erangan kesakitan keluar dari mulut mereka yang kering kerontang, sementara luka bakar di punggung mereka terus berdenyut menyiksa saraf sensorik.
Li Zhen melangkah santai mendekati rombongan yang sedang meregang nyawa itu, sama sekali tidak memancarkan aura belas kasihan di wajahnya. Dia menatap Tetua Yao yang sedang merangkak lemah memeluk kaki tong kayunya, berusaha keras melindungi sisa air panas di dalamnya.
"S-Senior Agung... air panas murni dari lembah kematian... sudah kami bawa tanpa menggunakan sihir spasial sedikit pun," bisik Tetua Yao parau. Pria tua itu memaksakan sebuah senyuman memelas, berharap perjuangan hidup dan matinya ini akan mendapatkan sedikit apresiasi dari sang tiran.
Pemuda kurus itu tidak menjawab, dia hanya membungkukkan badannya dan mencelupkan ujung jari telunjuknya ke dalam air di tong kayu tersebut. Dia memejamkan matanya sejenak untuk merasakan suhu air tersebut, keningnya berkerut rapat membentuk lipatan yang sangat dalam.
Sensasi panas yang cukup menyengat kulit langsung terasa di ujung jarinya, membuktikan bahwa air itu masih sangat layak untuk digunakan mandi. Namun, senyum iblis perlahan kembali menghiasi bibir Li Zhen saat dia menyadari sebuah peluang emas untuk kembali memeras poin emosional mereka.
Dia segera menarik tangannya dari dalam air, mengibaskan jarinya ke udara dengan ekspresi wajah yang sangat marah dan sangat tidak puas. "Apakah ini lelucon? Kau menyebut air ini panas, dasar alkemis tua yang tidak berguna?!" bentaknya dengan suara yang membelah angkasa.
Tetua Yao membelalakkan matanya yang merah dan berair, rasa syok yang luar biasa berat langsung menghantam jantungnya tanpa ampun. Dia menatap air yang masih mengepulkan uap putih itu dengan kebingungan total, tidak mengerti mengapa suhunya dianggap kurang oleh Li Zhen.
"T-tapi Senior, air itu masih mendidih dan melepuhkan punggung kami sepanjang perjalanan... bagaimana mungkin itu kurang panas?" bantah seorang tetua perempuan dengan putus asa. Wanita itu memegangi bahunya yang memerah matang, air matanya menetes meratapi nasibnya yang jauh lebih buruk dari budak belian.
Li Zhen berkacak pinggang, menatap wanita tua itu dengan pandangan sedingin es abadi yang siap membekukan darah di dalam nadinya. "Ini hanya suam-suam kuku, suhunya selemah semangat kalian dalam berlatih kultivasi dan sama sekali tidak layak untuk menyentuh kulit suciku."
Pernyataan yang menentang hukum alam dan logika dasar itu membuat seluruh tetua pengambil air menangis histeris di atas tanah. Mereka telah mempertaruhkan nyawa dan menghabiskan seluruh energi mereka, namun hasil kerja keras mereka dihancurkan hanya dengan satu kalimat dusta.
"Bawa air dingin ini kembali ke lembah kematian sekarang juga, dan ambil yang baru sampai suhunya memuaskan standar kemewahanku," perintah Li Zhen mutlak. "Jika kalian berani membantah, aku akan menyuruh kalian mandi di kolam es puncak gunung selama seminggu penuh tanpa pelindung sihir."
Ancaman sadis itu membungkam seluruh bibir yang baru saja akan mengeluarkan protes, menyumbat napas mereka dengan rasa takut yang absolut. Tetua Yao memukul tanah berlumpur dengan kepalan tangannya yang melepuh, meratapi ketidakadilan dunia yang kini sepenuhnya dikendalikan oleh pemuda fana ini.
Dao Heart sang alkemis agung itu perlahan mulai retak semakin parah, menyadari bahwa tidak ada jalan keluar dari neraka dunia yang diciptakan Li Zhen. Dia dan rekan-rekannya harus kembali berlari menembus bahaya, menahan rasa sakit demi memenuhi tuntutan yang tidak akan pernah ada habisnya.
[Ding! Target massal Tetua Pengambil Air mengalami keputusasaan absolut dan kehancuran harapan. Mendapatkan +22.000 Poin Sampah.]
Notifikasi sistem yang bernilai puluhan ribu poin itu berdenting sangat merdu di dalam kepala Li Zhen yang licik dan penuh perhitungan. Dia menepuk-nepuk botol sampo mawar di tangannya, memutar tubuhnya dengan sangat elegan untuk kembali melangkah masuk ke dalam paviliunnya yang mewah.
"Pastikan bak mandi batu itu selesai dipahat sebelum air yang baru tiba, aku tidak suka membuang-buang waktuku yang sangat berharga," pesan Li Zhen tanpa menoleh. Dia menutup pintu kayu jati berukir naga itu dengan bantingan pelan, mengunci dunia luar yang penuh penderitaan dari kenyamanannya sendiri.
Di halaman yang panas membara itu, tangisan keputusasaan para dewa persilatan menjadi satu-satunya melodi yang mengiringi jatuhnya air mata mereka. Mereka kembali mengangkat palu dan memikul tong kayu dengan tubuh yang gemetar, tunduk sepenuhnya pada penindasan tanpa akhir dari sang kaisar mulut sampah.