Aris adalah definisi pecundang di mata dunia. Dipecat dari pekerjaan kasarnya, dikhianati oleh kekasih yang paling ia cintai, dan dihina oleh teman-teman sekolahnya saat reuni karena hanya mengendarai motor butut.
Satu-satunya harta yang ia miliki hanyalah sebidang tanah warisan kakeknya di pinggiran kota.
Namun, harapan Aris hancur saat ia kembali. Tanah yang ia impikan menjadi tempat tinggal yang tenang, telah berubah menjadi gunung sampah ilegal—sebuah "borok" kota yang dikuasai mafia dan oknum korup.
Di titik terendah hidupnya, sebuah suara dingin bergema di kepalanya:
[Ding! Sistem Petani Sultan Diaktifkan!]
[Misi Pemula : bersihkan 10 KG sampah]
[Hadiah : alat penyulingan esensi Cairan dewa]
[Mulai Proses Penyulingan... Menghasilkan: Cairan Dewa Tingkat 1!]
Satu tetes cairan itu mampu mengubah tanah beracun menjadi Lahan Surgawi.
. Satu tetes lagi mampu membuat tanaman mati tumbuh kembali dengan khasiat luar biasa, dengan cairan ini dia menjadi petani sultan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28--Event Sampah
Aninda berdiri mematung di pinggir area pembuangan, menatap Aris dengan kombinasi antara ngeri dan tak percaya. Ia baru saja berniat mengambil sarung tangan lateks dari tasnya, namun pemandangan di depannya benar-benar merusak selera makannya hingga tiga hari kedepan.
"Gila... itu orang beneran mandi sampah," gumam Aninda sambil menutup hidungnya rapat-rapat dengan tisu aromaterapi.
Aris, yang sedang sibuk bergulat dengan tumpukan sawi hancur dan kulit pisang yang sudah menghitam, tiba-tiba merasakan kehadiran seseorang. Ia mendongak, wajahnya coreng-moreng oleh debu pasar, tapi matanya berkilat cerah.
"Eh, Mbak KRL?!" seru Aris spontan. Ia berdiri tegak sambil memanggul karung yang meneteskan cairan hitam. "Mbaknya ikut toh? Wah, salut saya. Anak kota ternyata berani juga kotor-kotoran."
Aninda refleks melangkah mundur dua langkah, bau banget. "Jangan mendekat! Satu langkah lagi kamu maju, saya melaporkan pasal perbuatan tidak menyenangkan karena menyebarkan polusi bau!"
Aris tertawa terbahak-bahak, suara tawanya membelah kesunyian relawan lain yang sedang bekerja dengan wajah muram.
"Galak amat, Mbak. Ini namanya bau ekosistem. Coba Mbak liat ini," Aris menunjukkan segenggam tanah campur limbah organik yang sudah mulai membusuk. "Ini kalau diolah pakai metode yang pas, bisa bikin tanaman jadi raksasa!"
Tentu metode pas yang dimaksud adalah penyulingan dari sistem, namun Andina gak paham tentang gituan, ia malah mengira Aris itu gila … kan dia gak mungkin mas aris yang itu, orang didepan itu cuma edan, kasihan masih muda lagi.
Aninda mendengus sinis dari balik tisunya.
"Metode apa? Metode dukun? Secara mikrobiologi, yang kamu pegang itu sarang Salmonella dan E. coli. Kamu itu cari penyakit, bukan cari masa depan."
Aris menyeringai misterius.
"Yah, namanya juga usaha, Mbak Mikrobio … Mbak kan pinter teori, saya pintar eksekusi. Gimana kalau kita balapan? Siapa yang paling banyak ngumpulin limbah organik, dia yang menang."
"Siapa juga yang mau balapan sampah sama kamu!" ketus Aninda. "Dan jangan panggil saya Mbak Mikrobio. Nama saya Aninda!"
"Oke, Mbak Aninda. Tapi serius nih, daripada Mbak cuma bengong liatin saya yang ganteng ini kerja, mending bantuin. Katanya pengabdian masyarakat?" pancing Aris.
Aninda merasa harga dirinya tersentil. Sebagai mahasiswi teladan dan anak pejabat, ia tak mau terlihat lemah di depan pemuda kumal yang ia anggap "anomali" ini. Dengan gerakan penuh gengsi, Aninda memakai sarung tangan lateks dan masker medisnya.
Oke fine saatnya menunjukan siapa yang lebih jago!
"Jangan sombong. Saya bakal tunjukin cara kerja yang efisien tanpa harus terlihat seperti gembel pasar!"
Aninda menyambar penjepit sampah dan mulai memilah limbah organik dengan gerakan yang sangat kaku namun sistematis.
Aris hanya menggelengkan kepala melihat tingkah gadis itu, lucu juga. Namun diam-diam, Aris terus memicu sistemnya.
[Ding!]
[Progres: 350 kg / 500 kg.]
Aris makin semangat. Tangannya bergerak seperti mesin panen otomatis. Karung demi karung limbah organik ia angkut tanpa jeda.
Kulit nanas busuk, kubis hitam, tomat lembek, plastik, apapun itu! Semuanya dia masukan kedalam plastik. Semakin berat sampah yang dia bawa maka dia akan mendapatkan cairan dewa lebih banyak lagi.
Kalau beruntung mendapatkan sampah dengan kualitas terbaik dia bisa menyulingkan menjadi cairan dewa tingkat 3 yang mana tanaman dia tumbuh hanya dalam beberapa jam saja!
Semangat dari Aris terlalu gila sampai-sampai membuat semua relawan masih geleng-geleng kepala.
Di mata mereka, Aris terlihat seperti manusia yang kehilangan rasa jijik Namun di mata sistem?
Dia adalah predator utama ekosistem sampah.
[Ding!]
[Limbah berkualitas tinggi ditemukan.]
Sementara itu, Aninda merasa menyesal karena menerima tantangan absurd ini.
“Kenapa… baunya makin lama makin nempel…” gerutunya sambil memegang penjepit sampah dengan ekspresi menderita.
Ia baru lima belas menit bekerja. Namun Aris? Sudah seperti veteran TPA sepuluh tahun pengalaman.
Bahkan pria itu masih sempat siul-siul santai sambil mengangkat peti sayur busuk sendirian.
“Mas itu manusia apa forklift…” batin Aninda.
Tiba-tiba—
Kreek! Salah satu tumpukan peti kayu lapuk di belakang pasar roboh ke arah Aninda.
“Eh?!”
Bruk!
Aninda refleks menutup kepala.
Namun benturan yang ia tunggu tidak datang.
Saat membuka mata… Aris sudah berdiri di depannya sambil menahan peti besar itu dengan bahu.
Peti kayu yang penuh dengan sisa sayuran busuk itu tertahan di atas punggung Aris. Wajahnya yang penuh noda debu pasar kini hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajah Aninda yang masih membeku ketakutan.
"Waduh, Mbak Aninda... Hati-hati dong,” ucap Aris dengan nada santai, meski urat lehernya tampak sedikit menegang menahan beban.
Aninda mengerjapkan mata. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena aroma sampah yang semakin menusuk, tapi karena kecepatan reaksi pemuda di depannya ini. Dari jarak sedekat ini, ia bisa melihat mata Aris yang tetap tenang—bahkan cenderung jenaka—di tengah situasi bahaya.
"K-kamu... awas! Itu berat!" seru Aninda gagap sambil buru-buru merangkak mundur.
Aris dengan satu sentakan bahu yang kuat menggeser peti itu ke samping hingga jatuh ke tumpukan limbah lain dengan suara berdebam keras. Ia mengibaskan jaket flanelnya yang kini makin hancur berantakan.
"Santai, Mbak. aman," Aris nyengir, seolah baru saja melakukan hal sepele seperti memetik cabai.
Aninda membeku beberapa detik. Dekat banget. Ia bisa melihat jelas peluh di leher Aris, napas beratnya, dan mata pria itu yang ternyata… cukup enak dilihat.
Aninda berdiri dengan kaki yang sedikit gemetar. Gengsinya sebagai anak kota perlahan terkikis oleh rasa syukur, meski mulutnya tetap tidak bisa diajak kompromi. "Makasih... tapi nggak usah pamer juga. Kamu hampir saja celaka gara-gara sok pahlawan."”
Aninda buru-buru mundur dari Aris.
Namun sebelum ia sempat membalas lagi— Suara keributan terdengar dari area tengah.
“WOI! SIAPA YANG NGANGKUT LIMBAH BELAKANG PASAR SEMUA?!”
Seorang koordinator relawan datang dengan wajah panik. “Itu buat tim kelompok tiga!”
Semua orang otomatis menoleh. Dan di tengah area… Karung milik Aris sudah menggunung seperti bukit kecil.
Aninda perlahan menatap Aris. GILA! Hasil panen sampah Aris gak main-main, gede juga ada batasnya kali! Kalau dlihat itu lebih dari 300 kg bahkan sampai 500 mungkin
“Mas…”
“Ya?”
“Kamu sebenarnya niat ikut acara sosial…” Ia menunjuk gunungan sampah itu. “…atau lagi farming sampah?”
“Ahahaha… ya namanya juga semangat gotong royong.”
Beberapa menit kemudian, sampah di area itu resik cling. Aris adalah MVP dari acara ini bahkan para koordinator acara memberikan hormat kepadanya.
Namun seperti dirasa kurang, Aris itu masih menyapu halaman sekitar yang penuh dedaunan lalu memasukan ke plastik miliknya.
Beberapa panitia sudah mengatakan bahwa mas Aris sudah melakukan lebih dari cukup jadi dia disuruh istirahat. Namun Aris enggan dan lanjut nyapu, kemudian yang buat mereka semua heran adalah permintaan Aris untuk membiarkan dia mengurus sampah miliknya sendiri alias dia mau bawa ke suatu tempat pembuangan sendiri.
Panita bingung itu jelas melawan acara, namun karena aris adalah MVP dan mereka yakin itu cuma tindakan sukarela baik iyain aja.
Nama Aris sekarang terkenal di pelosok pusat kota bukan sebagai petani melainkan pemuda berhati baik hati, suka rajin gotong royong dan manusia pembersih sampah. Sungguh titel yang koclok
[DING!]
[Misi Event Tahap Pertama Selesai.]
[500 KG Limbah Organik Terkumpul.]
[SELAMAT TUAN RUMAH BERHASIL MENYELESAIKAN MISI EVENT IKUT ACARA PEMBERSIHAN SUKARELA KOTA!]
[Evaluasi misi : Sangat Baik!]
[Hadiah : RP 50.000.000 (khusus modal pertanian) telah masuk ke saldo anda]
Aris menatap itu, dan berseru senang. Dengan begini dia dapat uang modal tambahan, sisanya dia cuma perlu membuat tuan putri anak dari gubernur yang pesan makanan dai senang!
Aninda menatap pemuda itu yang tiba-tiba berteriak.
“Fix, orang aneh”