Bermula dari benang kusut hubungan sang sahabat, seorang mahasiswi cantik nan manja yang merupakan calon guru itu justru terlibat cekcok dan saling sumpah serapah dengan kekasih sahabatnya yang sekaligus seorang perwira militer negri.
Alih-alih menjauh, kejadian tak mengenakan itu justru menjadi awal dari serentetan pertemuan yang menyatukan mereka pada sebuah takdir untuk saling mencinta di tengah rollercoaster nya perjalanan karir keduanya.
Siapa sangka justru pertemuannya dengan Panji membawa Ivy selangkah lebih dekat dengan cita-citanya yang sebenarnya....
Apakah ia akan membersamai Panji, mengukir lembayung di batas timur, ataukah mengejar mimpinya menjadi seorang model sukses di negri Paris?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 Itu namanya Komodo
"Vy, Lo nahan bokerr ya?" cibir Bumi saat menemukan Ivy hanya diam saja, senyap tidak seberisik sebelumnya, tidak secerewet tadi.
"Nih, saran gue mah bekel batu, Vy." ujarnya, Gege turut tertawa, "apaan deh, ngga nyambung banget. Batu segede apa yang mesti dibekel? Bekel tuh roti, buah, snack. disuruh bekel batu, dikira Ivy mau debus..."
"Katanya...menurut mitos urband legend, orangtua jaman dulu...ya kali aja maksud dari katanya itu batu dipake buat nyumbat lubang keluarnya." Dan itu ditimpali oleh Tami.
Kelana menggeleng merasa geli dan ikut tertawa tanpa suara mendengar obrolan unfaedah kaum terpelajar ini.
"Cuma mitos. Lagian siapa juga yang nahan bo ker. Lo itu mah...jangan curhat!" sewot Ivy. Tak tau saja ia sedang menahan rasa ingin menampar Panji di sampingnya.
"Nah, ini masuk proker kalian ngga?" tanya Panji kini membuat semuanya menoleh.
"Masuk om, minimalnya jarak yang ditempuh buat penampungan air dan sanitasi nanti masuk ke proker andalan kita, selain dari tugas sosial untuk pendidikan yang bakal jadi program kerja terkhusus Pravita...kita bakalan bikin metode RO untuk masalah air tanah, ada beberapa metode juga sih kaya desalinasi tenaga Surya, metode freezing, elektroda karbon, dengan cost murah untuk setiap rumah tangga." Jelas Arsa.
Baik Kelana, Panji dan Bara menganggukkan kepalanya paham. Namun pandangan Panji langsung melirik Ivy, "oh calon guru? "
Tapi yang tertangkap oleh Ivy justru seperti---calon guru? Pffttt!
Tepukan tangan Bara memecah keheningan setelah Arsa menjelaskan proker mereka, "amazing."
Sementara Gege menutup mulutnya merasa lucu saja dengan gerakan refleks Bara, "emang yang begini yang dibutuhkan negri sih...mahasiswa yang bukan cuma bisa nongkrong di cafe unfaedah..."
Tanpa menghiraukan interaksi yang terjadi diantara Panji dan Ivy, yang lain hanyut kembali dalam percakapan, terlebih setelah Kelana bilang, "jangan sungkan buat minta tolong, kalo lagi ngga ada tugas kita pasti ikut bantu."
Dan sorakan serta candaan kembali bergulir.
Sementara Ivy mendadak diam dalam pengawasan Panji, dalam tenang dan diamnya ada sejumput rasa yang tak bisa dijabarkan bersama aroma parfum yang menguar, bersentuhan? Sudah pasti. Space duduk mereka dipastikan mepet-mepet satu sama lain sehingga Panji benar-benar tak berjarak.
"Calon guru?" tanya Panji hanya membuat Ivy menoleh saja tanpa menjawab, entahlah jutek dan sinis pada Panji yang tak memiliki salah apapun, oh ralat! Pertemuan mereka pertama kalinya yang membuat Ivy merasa harus mengenyahkan Panji dari pandangan, pertemuan pertama mereka yang membuat Ivy merasa harus bersikap begini pada Panji, padahal di luar itu...Panji tak memiliki kesalahan apapun hanya caranya untuk memulai interaksi dengan Ivy lah yang sedikit tak lazim.
Mencibir, menyindir, menahan tasnya, bukan cara say Hay yang baik menurut Ivy.
1,5 jam terasa begitu lama bagi Ivy, bahkan sesekali isi reo mendadak sepi tanpa obrolan.
Akhirnya mereka sampai kembali di desa Tanjung komodo disaat hari sudah terik-teriknya menyengat kulit, Ivy sampai menyipitkan matanya saat turun dan kali ini, mau tak mau ia bertumpu pada tangan Panji yang sudah terulur jika tak mau terjatuh dan terjerembab.
Lagi, ketika ia setengah melompat, pijakan kakinya tak benar membuat ia hampir terjatuh dan oleng lalu Panji, tentu saja badan tegapnya yang seperti beton itu bisa menahan tubuh Ivy.
Dua kali, dua kali begitu dalam kurun waktu kurang dari setengah hari....
"Makasih." Ucapnya menunduk melepaskan tangannya dari Panji yang mendengus geli, "maama."
"Dih!" Ivy cukup terkejut dengan kerandoman Panji itu, so asik so imut dan ihhhhh! Geli! Ia hampir menyemburkan tawa kecilnya refleks, badan kaya Hanoman tapi ngomongnya begitu.
Satu persatu turun, dan mulai membawa barang mereka. Oh jangan lupakan dengan kehadiran beberapa warga yang riba membantu mereka bersama para tentara ini.
"Semalam bisa tidurkah Kaka?" tanya seorang bapak pada para mahasiswa, "Alhamdulillah, bisa. Terimakasih banyak untuk warga Tanjung komodo." Itu Raudhah yang menjawab.
"Nah, Lo bawa ini Vy...yang enteng..." ucap Bumi dengan sengaja memberikan sekotak dus berisi ransum yang diterima Ivy dengan keadaan tak siap, alhasil Ivy sampai terjatuh, "Bumiiii!" sementara cowok itu sudah berlari seraya membawa barang lain termasuk bahan proyek kerja mereka.
"Itung-itung latihan bawa air besok, Vy!"
Ivy mendesis, ya panas, ya berat, ya ngga ada air, ya berat pula... aaarghhhh! Ivy hampir dibuat menangis.
"Bumi ini berat mo nyong..." ia hampir terisak, untuk kemudian mencoba meminta tolong.
Benar yang dikatakan Kelana, sebenarnya tak begitu berat membawa ransum, sebab tidak sebanyak yang dikira hanya satu dus kecil saja. Sisa cemilan ransum pun dibawa yang lain.
Langkah Panji menghampiri, menghela nafasnya merasa----kasihan?
"Kamu mau bawa ini, biar saya bawa ransum?"
"Ngga perlu. Bisa sendiri." Jawabnya ketus, meskipun kadar ketusnya itu mulai berkurang tidak seperti di awal-awal.
Bukan Panji namanya jika tak menyebalkan, ia bergidik acuh tersenyum menanti reaksi Ivy yang sudah pasti menyenangkan untuk dilihat.
"Ah saya lupa, kalo kamu cewek mandiri. Ngga pernah mau minta tolong. Okelah...semangat..."
Benar, wajahnya yang sudah seperti kepiting rebus itu semakin keruh menatap punggung Panji yang berlalu, "hah?! Gila ya! Tega banget sama warga negara tak berdaya begini? Tentara macam apa begitu?!" omelnya masih bisa terdengar Panji, membuat lelaki itu sudah tertawa di balik badan kekarnya.
Ivy sudah misuh-misuh selama langkah kakinya menuju basecamp, keringat bercucuran, "gila, disini matahari ada berapa sih?" Ia menyipitkan matanya sedikit menengadah, "berasa dipanggang. Ngga ada awan buat nutupin gitu? Ya ampun...tinggal dimana sih ini?" ocehnya lagi.
"Hayok Vy, tuh ransum ngga akan nyampe kalo cuma Lo omelin doang, semangat Ivvyyy!" itu Gege yang sudah ongkang-ongkang kaki di beranda rumah sambil kipasan dan meneguk air minum.
Bara beberapa kali terkekeh melihatnya, begitupun Kelana.
"Bener kan kata gue. Kasian juga sih...ngga biasa."
Tapi Panji menggeleng, "harus dibiasain lah, biar ngerasain apa yang orang sini rasain, orang orang yang tinggal disini aja bisa."
Panji berpapasan dengan Ivy yang baru sampai di beranda dan langsung menjatuhkan badannya, sempat mendelik sinis ke arah pria berbadan atletis dalam balutan seragam lorengnya itu, "tentara jahanam." desisnya lirih saat menemukan senyum usil dan menyebalkan Panji.
Gege tertawa, "cape ya sist...minum nih minum!"
Ivy yang langsung merebahkan dirinya di beranda meraih botol minum dari Gege. Sempat rehat sejenak sementara yang lain masih sibuk memindah-mindahkan barang. Gege sudah beranjak dari samping Ivy, tapi Ivy merasa ada pergerakan di dekatnya.
Ia menoleh, dan Aaaa!!!
"Komodo! Komodo!" ia berteriak teriak dan heboh sendiri langsung beranjak. Entah kemana arah larinya sebab sambil menutup mata hingga menabrak seseorang dan meraihnya memeluk.
Praktis saja yang lain ikut panik, "komodo, dimana?!" bahkan Arsa sudah bersiap dengan batang kayu, Kelana pun menghampiri.
"Mana?" tanya Panji yang tengah dipeluk Ivy, "itu tadi kena rambut aku!" ia berbicara setengah panik setengah ketakutan sambil menepuk nepuk kepala, menepis rambut dan menunjuk ke arah tempat yang tadi ia tempati.
Namun kemudian tawa meledak, "gue kirain bener Ivyyyy! Bikin heboh, lo ngga pernah belajar di sekolah apa gimana, yang begitu disebut komodo?"Gabriel tertawa paling kencang, "itu namanya kuda Nil, Ivy..."
Seekor kadal yang bahkan tak mengerti ia itu jenis hewan apa sudah berlari kembali karena banyaknya manusia, mana difitnah komodo pula oleh Ivy.
Panji tertawa, "komoddooo uuu..." cibirnya mengolok-olok, "ibu guru kita ngga tau nama hewan."
"Si alan." Pukul Ivy di lengannya melepaskan pelukannya dari Panji dan bergegas masuk ke dalam.
"Ngelindur Vy, tidur siang sana di dalem. Makanya sebelum tidur tuh do'a dulu..."
Mereka masih saja tertawa, menertawakan Ivy.
.
.
.
sampe bawah, bang Nji g nongol 😢
alibi aja nyari sarapan, jauh bener lu nyari sarapan doank, sarapan mata ya nji 🤣🤣🤣🤣🤣
gua berdoa semoga para koruptor dan di hukum mati