NovelToon NovelToon
Kehidupan Kedua: Kali Ini, Aku Yang Mengatur Permainan Mereka

Kehidupan Kedua: Kali Ini, Aku Yang Mengatur Permainan Mereka

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Pernahkah kamu salah memilih pasangan hingga berujung maut?

Shanaya tewas setelah dipaksa menelan racun. Suaminya, Alvian, dan sepupunya, Anastasia, merampas perusahaannya. Mereka berdua bahkan membunuh ibu Shanaya demi uang.

Mati ternyata bukan akhir bagi Shanaya. Dia terbangun tujuh tahun di masa lalu, tepat tiga hari sebelum acara tunangannya dengan Alvian.

Shanaya menolak mati konyol untuk kedua kalinya. Dia menyusun siasat untuk membalas dendam. Targetnya adalah menghancurkan Alvian dan Anastasia.

Untuk itu Shanaya butuh panggung besar. Dia mengincar Steven Aditya, bos media televisi. Dulu Steven ikut andil dalam kehancurannya. Kali ini, Shanaya akan memaksa pria itu tunduk dan bekerja sama.

Satu kejutan menanti Shanaya. Bukan cuma dia yang kembali ke masa lalu. Ada satu orang lagi yang juga hidup kembali dan mengulang waktu. Siapa orang ini? Apakah dia sekutu yang akan membantu Shanaya, atau musuh yang jauh lebih mematikan?

Baca cerita ini dan temani Shanaya menagih balasa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

16. Jalur Kudeta

Ponsel hitam di laci meja kerja Shanaya bergetar pendek. Ini bukan perangkat utamanya. Ini ponsel tanpa identitas yang jalur sinyalnya dilindungi enkripsi oleh Leo.

Layar redup itu menampilkan jendela obrolan. Leo berhasil meretas dan menyalin real-time data dari aplikasi pesan instan milik Alvian. Teks panjang baru saja masuk dari nomor Anastasia.

Umpan yang Shanaya lempar semalam membuahkan hasil. Kepanikan memaksa Anastasia bertindak ceroboh, menggunakan jalur komunikasi reguler tanpa pengamanan.

Angkat teleponnya, Al! Kamu pikir bisa cuci tangan gara-gara artikel Steven pagi ini? Kita udah sepakat sejak awal. Kamu nikahin Shanaya, aku pegang kendali desain, lalu kita gulingkan dia pelan-pelan buat ambil alih Kesuma Mode. Kalau kamu mundur sekarang, aku bongkar semua aliran dana proyek fiktif kita ke dewan direksi!

Ujung kuku Shanaya mengetuk tepi meja kaca. Irama ketukannya lambat dan stabil.

Fakta itu sudah ia ketahui sejak ia mati di kehidupan lalu. Namun, melihatnya tertulis hitam di atas putih dalam bentuk data digital mentah membuat suhu tubuhnya turun drastis. Pria yang dulu memeluknya dan berjanji melindunginya dari kerasnya dunia bisnis ternyata hanya menjadikan pernikahan mereka sebagai jalur kudeta.

Ponsel utama Shanaya berdering, menginterupsi keheningan ruang kerjanya. Panggilan masuk dari Steven Aditya.

Shanaya menekan ikon hijau.

"Alvian baru saja menarik paksa dana talangan dari tiga vendor kain lokal." Suara Steven langsung mengisi telinga Shanaya. Tidak ada sapaan. Nada bicaranya cepat dan efisien. "Dia memindahkan aset tunai ke beberapa rekening pribadinya. Calon suamimu sedang bersiap kabur atau sedang mencari uang tutup mulut."

"Dia panik. Anastasia baru saja mengancamnya."

"Kamu menyadap komunikasi mereka?" Suara Steven terdengar tertarik. Bunyi ketukan keyboard di ruangan pria itu berhenti total.

"Aku cuma mengamankan wilayahku, Steven." Shanaya menatap tajam ke arah luar jendela, mengawasi jalanan Jakarta yang macet.

"Apa yang mereka rencanakan?"

"Mempreteli Kesuma Group dari dalam." Shanaya bersandar pada kursinya. "Lewat jalur pernikahan. Rencana akuisisi yang paling klasik."

Jeda panjang membentang di ujung garis. Udara mendadak terasa lebih berat. Shanaya bisa membayangkan wajah dingin Steven di balik meja kayu hitamnya, sedang menghitung setiap variabel risiko.

"Tim legal saya bisa membekukan aset pribadinya sekarang juga." Suara Steven turun satu oktaf. Ada intimidasi kental yang menembus batas telepon. "Kita bisa seret dia ke meja hijau besok pagi atas percobaan penipuan korporat. Saya punya cukup koneksi di kepolisian untuk membuat dia tidak bisa keluar dari negara ini."

Steven sedang bersikap protektif, tapi pria itu menutupinya dengan dalih keamanan bisnis. Steven Aditya benci barang investasinya disentuh orang lain.

"Jangan." Shanaya menolak tawarannya.

"Kamu mau membiarkan tikus itu lari membawa uang keluargamu?"

"Membekukan asetnya sekarang cuma bikin dia sadar kalau dia sedang diintai. Dia bakal langsung menghancurkan bukti transaksi aslinya dan melempar semua kesalahan ke Anastasia." Shanaya memutar pena di sela jari. "Aku mau dia merasa aman. Aku mau dia merasa masih memegang kendali."

"Jangan bertingkah seperti pahlawan kesiangan, Shanaya. Opini publik bisa berbalik kapan saja kalau dia berhasil meracuni direksi Kesuma."

"Aku tahu apa yang aku lakukan. Aku butuh dia membuat satu langkah bodoh lagi." Shanaya membuang napas pendek. "Luka gores cuma bikin mangsa kabur. Aku butuh dia masuk sendiri ke dalam perangkap."

Steven mendesah pelan. "Baik, tapi pastikan urusan domestikmu tidak merusak jadwal peluncuran kolaborasi digital kita. Kanal Satu butuh kepastian bukan drama murahan."

Sambungan terputus. Shanaya meletakkan ponselnya kembali ke atas meja. Ia mengusap pangkal hidungnya. Berkomunikasi dengan Steven selalu membutuhkan takaran logika yang pas. Namun, setidaknya ia tahu posisi pria itu. Steven mengawasinya dan secara tidak langsung menjaga perimeter luar dari serangan dadakan Alvian.

Sebuah notifikasi baru muncul di layar ponsel utama Shanaya. Pesan teks masuk dari Reva.

Nay, lunch yuk besok? Kangen banget nih. Ada yang mau aku obrolin juga soal Ana.

Shanaya membaca pesan itu tanpa minat. Reva, teman masa kecilnya, mengundang makan siang. Shanaya tahu ini bukan undangan biasa.

Di tengah badai sosial yang sedang menghancurkan reputasi Anastasia sejak ulasan Steven tayang pagi tadi, tidak ada anak pengusaha yang berani mendekati Shanaya tanpa motif yang jelas. Tadi malam, Reva adalah satu-satunya orang dari kelompok Elite Circle yang tidak keluar dari grup obrolan. Pertahanannya terlalu rapi.

Undangan ini adalah alat ukur. Reva dikirim oleh Anastasia untuk memancing informasi atau mencari titik lemah Shanaya yang baru.

Boleh. Ketemu di tempat biasa jam satu.

Shanaya menjauhkan ponsel utamanya. Ia kembali fokus pada ponsel hitam penyadap di tangannya. Ia menekan tombol kombinasi di sisi perangkat, mengambil gambar tangkapan layar dari pesan ancaman Anastasia kepada Alvian.

Bukti ini sangat besar. Niat jahat mereka terpampang nyata. Tapi ini belum cukup kuat untuk memenjarakan mereka berdua secara hukum dan menghancurkan nama mereka di mata publik secara bersamaan. Ia masih membutuhkan data rekam jejak transfer dari proyek fiktif yang Anastasia sebutkan.

1
gina altira
Rasakannn
gina altira
Gila, ini duo monster
gina altira
Bikin emosi ni Anastasia
sukensri hardiati
dari shanaya pindah ke sabrina...trus ke shanaya lagi....makasiiih....
sukensri hardiati: Sami2 👍💪🙏
total 2 replies
sukensri hardiati
tambah rameee....
sukensri hardiati
waduuuuh....
sukensri hardiati
bodoh banget yg mau kerja sama ama anastasia....dah ketahuan dua kali jadi plagiator
gina altira
Konflik nya makin seruu, 👍
gina altira
Shanaya kuat
tutiana
luar biasa
sukensri hardiati
cepet up ya....pingin tahu cara steven keluar dr jeratan masalahnya
sukensri hardiati
ayah shanaya dah meninggal ya...
sukensri hardiati
lama juga tunangannya...tujuh tahun..
sukensri hardiati: 🙏💪👍 ok....dah klir
total 3 replies
gina altira
Steven perhatian juga
Titi Liana
suka
tutiana
sm seperti bab sebelumnya Thor ?
INeeTha: Makasih kak🙏🙏
total 4 replies
gina altira
greget bgt sama Alvian
INeeTha
Makasih buat semua yang sudah mampir, semoga suka dan baca sampai tamat lagi ya 🙏🙏🙏
tutiana
hadirr Thor
gina altira
Semangat terus Thor
INeeTha: makasih kaka🙏🙏🙏
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!