NovelToon NovelToon
Rahim Bayaran Mafia Kaya

Rahim Bayaran Mafia Kaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: I'ts Roomie

Demi menyelamatkan nyawa ibunya yang sekarat, Aluna terpaksa menerima tawaran yang tak masuk akal yaitu menjadi rahim bayaran bagi seorang pria yang dikenal sebagai mafia paling kejam dan tak tersentuh.

Pria itu, Arka Mahendra, bukan hanya dingin dan berbahaya, tapi juga menyimpan rahasia kelam di balik keinginannya memiliki seorang anak. Tidak ada cinta dalam perjanjian mereka. Hanya kontrak, batasan, dan harga yang harus dibayar.

Namun semuanya berubah ketika kehidupan Aluna perlahan terjerat dalam dunia gelap Arka. Ancaman datang dari musuh-musuh yang mengintai, sementara perasaan yang seharusnya tidak pernah ada mulai tumbuh di antara mereka.

Di tengah bahaya, pengkhianatan, dan rahasia masa lalu yang terkuak, Aluna dihadapkan pada pilihan yang menghancurkan, tetap menjadi “rahim bayaran”… atau mempertaruhkan segalanya untuk cint

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon I'ts Roomie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 5

Waktu terus bergulir dan kini kehamilan Aluna sudah memasuki usia yang ke enam bulan. Bentuk perutnya mulai terlihat jelas membuncit dan membuat gerakannya menjadi semakin lambat serta terbatas.

Gadis itu sering kali merasa lelah dan cepat mengantuk, namun ia tetap berusaha menjaga kesehatannya sebaik mungkin demi nyawa yang sedang ia kandung.

Hubungan antara dia dan Arka berada dalam fase yang unik. Arka sangat perhatian dan memenuhi segala kebutuhan materi, namun ia tetap menjaga jarak emosional yang cukup jauh.

Segala kelembutan yang ia tunjukkan murni karena rasa sayang dan bangganya pada calon anaknya yang akan lahir nanti.

Suatu siang yang panas, Aluna merasa bosan dan ingin berjalan jalan sedikit di sepanjang koridor lantai dua. Ia ingin mencari angin segar dari jendela besar yang menghadap ke taman belakang.

Bude Min sedang sibuk di dapur sehingga Aluna memutuskan untuk berjalan sendiri tanpa mengganggu orang lain.

Lantai koridor itu terbuat dari marmer yang licin dan mengkilap. Saat Aluna sedang berjalan pelan, tiba tiba kakinya terpeleset oleh genangan air kecil yang entah bagaimana bisa ada di sana.

Tubuhnya yang sudah berat kehilangan keseimbangan dan ia terjatuh ke samping dengan keras.

"Aduh..." Aluna merintih kesakitan saat pinggulnya membentur lantai dingin itu. Rasa panik langsung menyelimuti hatinya. Ia segera memeluk perutnya erat erat dengan kedua tangan.

"Bayi... bayiku... apa kau tidak apa apa, sayang?"

Ia mencoba berdiri, namun rasanya sakit dan kakinya gemetar hebat. Air mata keluar tanpa bisa ditahan lagi karena rasa takut yang luar biasa.

Ia takut terjadi sesuatu pada janin yang selama ini ia jaga dengan penuh kasih sayang itu.

Beberapa saat kemudian, Bude Min lewat dan melihat majikannya tergeletak di lantai. Wanita itu berteriak kaget dan segera memanggil orang orang untuk membantu mengangkat Aluna kembali ke kamar tidur.

Berita tentang kecelakaan kecil itu dengan cepat sampai ke telinga Arka yang sedang berada di kantor. Pria itu sontak berdiri dari kursi kerjanya dengan wajah yang berubah pucat lalu merah padam menahan amarah yang meledak ledak.

Ia tidak peduli dengan rapat penting yang sedang berlangsung. Ia langsung memerintahkan sopir untuk mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi pulang ke rumah.

Di dalam mobil sepanjang perjalanan, wajahnya tampak sangat menyeramkan dan penuh dengan aura pembunuhan.

Sesampainya di rumah, Arka berlari besar menuju kamar Aluna tanpa mengganti baju atau meletakkan tas kerjanya. Ia masuk dengan hentakan pintu yang keras membuat semua orang di dalam kamar terdiam dan gemetar ketakutan.

"Kalian semua keluar!" teriak Arka dengan suara yang menggelegar memenuhi seisi ruangan.

"Tinggalkan aku berdua saja dengan dia sekarang juga!"

Semua dokter dan pembantu segera keluar dengan kepala tertunduk takut. Kini tinggalah mereka berdua di dalam kamar yang hening dan mencekam.

Arka berdiri di tepi ranjang menatap Aluna yang sedang terbaring lemah dengan wajah pucat dan mata bengkak karena menangis.

Tatapan mata pria itu bukan lagi tatapan lembut seperti beberapa hari terakhir. Tatapan itu dingin tajam dan penuh dengan kemarahan yang tak terbatas.

"Bangun!" ucap Arka dengan nada rendah namun sangat menakutkan. "Apa yang kau lakukan ini Aluna? Kau pikir rahim itu mainan atau apa?"

Aluna gemetar hebat menahan isak tangisnya. Ia menunduk dalam, tak berani menatap mata tajam itu.

"Ma... maafkan saya Tuan... saya tidak sengaja terpeleset..."

"Tidak sengaja?" potong Arka keras sambil menghantamkan tangannya ke nakas di samping ranjang.

"Kau tahu tidak berapa nilai yang ada di dalam perutmu itu? Kau tahu tidak berapa banyak orang yang ingin membunuhmu hanya untuk menyakiti hatiku?"

"Aku mempercayakan satu satunya ahli waris keluargaku padamu dan kau malah bersikap sembarangan dan teledor seperti ini!" Arka memegang dagu Aluna dan memaksanya menatap matanya. "Apa yang akan terjadi jika bayiku terluka atau kenapa nanti karena kecerobohanmu, hah? Apa kau bisa menggantinya dengan nyawamu sendiri?"

"Saya... saya janji tidak akan mengulanginya lagi Tuan..." Aluna menangis tersedu sedan dengan rasa takut bercampur rasa sakit di tubuhnya. "Saya juga sayang sama anak ini, saya tidak ingin apa apa terjadi padanya..."

"Kata sayang tidak cukup jika sikapmu ceroboh seperti ini!" bentak Arka tak mau kalah.

"Dari awal aku sudah bilang jaga dirimu baik baik karena nyawa anakku ada di tanganmu. Tapi nyatanya kau malah berjalan sendirian di tempat licin tanpa pengawalan."

Arka melepaskan cengkeraman tangannya lalu berjalan mondar mandir di depan jendela dengan napas yang memburu. Di dalam hatinya, sebenarnya ada rasa takut yang sangat besar.

Ia takut kehilangan anak yang sudah ia tunggu tunggu selama ini. Rasa marah itu muncul sebagai bentuk pertahanan diri dari rasa panik yang ia rasakan.

"Dokter bilang tidak ada apa apa dengan janinnya dan dia baik baik saja," ucap Arka akhirnya dengan suara yang sedikit lebih rendah, namun masih terdengar dingin.

"Tapi itu karena kebetulan semata. Jika kau jatuh sedikit lebih keras lagi, mungkin hari ini kita sudah kehilangan segalanya."

Aluna menangis semakin keras merasa bersalah yang sangat dalam.

"Maafkan saya Tuan... saya benar benar menyesal..."

Arka kembali duduk di tepi ranjang. Ia menatap perut Aluna yang membesar dengan tatapan yang sulit diartikan. Tangannya terulur, namun berhenti di udara seolah ragu ragu untuk menyentuh.

"Jangan harap aku akan memaafkanmu dengan mudah kali ini," bisik Arka pelan.

"Karena kau sudah membuktikan bahwa kau tidak bisa dipercaya menjaga diri sendiri, maka mulai hari ini aturannya akan berubah total."

"Mulai detik ini kamu tidak boleh bergerak sendirian ke mana pun. Bahkan untuk sekadar ke kamar mandi pun harus didampingi oleh dua orang pengawal," lanjut Arka tegas. "Kamu akan dikurung di kamar ini atau di ruang keluarga saja. Tidak ada lagi jalan jalan sendiri atau berkelana sendirian di koridor sepi."

"Dan ingat, ini peringatan terakhir untukmu Aluna," Arka menatap mata gadis itu dalam dalam.

"Jika sampai ada hal buruk yang menimpa anakku karena kesalahanmu lagi, maka jangan harap kamu bisa melihat ibumu hidup bahagia. Aku akan menarik semua janji yang sudah aku buat."

Ancaman itu terasa sangat dingin dan menusuk hati Aluna sampai ke tulang sumsum. Gadis itu mengangguk cepat sambil terus menangis.

"Iya Tuan... iya saya mengerti... saya janji akan lebih hati hati..."

Arka tidak berkata apa apa lagi. Ia berdiri dan berjalan keluar kamar dengan langkah yang berat meninggalkan Aluna yang masih terisak sendirian di dalam kesedihan dan ketakutannya.

Di luar kamar, Arka menyandarkan punggungnya ke dinding dan menarik napas panjang. Tangan nya ternyata gemetar hebat menahan rasa panik yang baru saja ia alami. Ia sadar, ia mungkin sudah terlalu keras pada gadis itu, tapi ia tidak punya pilihan lain.

Di dunia yang kejam ini, satu kelemahan terbesarnya hanyalah anak yang ada di dalam kandungan Aluna. Dan ia harus memastikan tidak ada satu celah pun yang bisa dimanfaatkan oleh musuh untuk menyerangnya.

Aluna di dalam kamar memeluk bantal erat erat. Ia sadar bahwa kemarahan Arka itu murni karena rasa sayangnya pada anak di dalam kandungannya itu. Meski sakit hati dengan kata kata kasar yang dilontarkan tadi, namun ia mengerti posisi pria itu.

Dan di saat yang sama ia sadar bahwa cintanya pada pria kejam ini justru semakin tumbuh besar meski sering kali harus dibayar dengan air mata dan rasa sakit hati.

1
Xiao Juan
ni orang tua mulutnya pen gua tampar, nyolot bet anying, manaa ada dimana-mana lagii, ikut campur bangett
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!