NovelToon NovelToon
TELAHIR SAKTI

TELAHIR SAKTI

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi
Popularitas:659
Nilai: 5
Nama Author: Abas Putra

TELAHIR SAKTI: "Pencarian Pusaka Primordial"

Dunia yang damai ternyata hanyalah lembaran kertas di mata para dewa.

Pahlawan legendaris bernama Raka mengorbankan jiwa dan raganya yang merupakan tetesan "Tinta Primordial" untuk membebaskan dunia dari belenggu Naskah Takdir. Pengorbanannya memberikan kehendak bebas bagi seluruh penduduk fana. Namun, di dimensi kosmik yang jauh lebih tinggi, sebuah tempat bernama Ruang Redaksi, kebebasan ini dianggap sebagai "Kecacatan Cerita" yang harus segera dihapus."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abas Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

B 21: Retakan Di Langit Takdir

Bangkitannya Kaisar Kekacauan: "Takhta Berdarah."

Sepuluh tahun kedamaian di Lembah Wening tiba-tiba pecah. Sore itu, matahari tidak terbenam, melainkan "retak". Langit yang biru mendadak dipenuhi garis-garis hitam seperti kaca yang pecah.

PRANGGG!

Suara itu begitu keras hingga memecahkan gendang telinga banyak penduduk desa. Dari retakan itu, mengalir cairan hitam pekat yang membakar oksigen.

Raka, yang sedang mencangkul di sawah, langsung berdiri tegak. Rambut peraknya berkibar liar, dan auranya meledak secara instan.

WUSSSSHHHH!

"Ayah! Itu bukan energi galaksi kita!" teriak Bumi (anaknya), yang kini sudah menjadi pemuda perkasa berusia 24 tahun. Di sampingnya, Vanya yang kini bertubuh fisik tampak pucat.

"Itu adalah Chaos (Kekacauan)," bisik Vanya. "Zat yang ada sebelum cahaya diciptakan. Sesuatu telah membukanya dari luar."

Malam itu, suasana sangat mencekam. Raka tahu musuh kali ini tidak bisa dihadapi hanya dengan kekuatan matahari. Ia butuh "Energi Kehidupan Murni" yang hanya bisa dihasilkan melalui penyatuan emosi dan fisik yang paling ekstrem.

Raka membawa Sekar dan Vanya ke ruang bawah tanah istana yang terbuat dari kristal penyerap energi. Udara di sana panas dan lembap.

"Kita tidak punya banyak waktu," ucap Raka dengan suara parau. Ia menanggalkan jubahnya, memperlihatkan tubuhnya yang penuh guratan otot bagai baja tempaan.

Sekar, Vanya tahu apa yang dimaksud, dan keinginan Raka."

Sekar dan Vanya langsung melepaskan kain sutra mereka. Di bawah cahaya obor yang bergoyang, kecantikan kedua wanita itu tampak begitu menggoda sekaligus suci.

Sekar dengan kulit sawo matang yang kencang, dan Vanya dengan kulit seputih pualam yang bersinar perak.

Raka menarik keduanya ke dalam pelukan, Menciumnya keduanya silih berganti, panas dan liar berpindah-pindah di antara mereka. Suara napas yang memburu mulai memenuhi ruangan.

Raka membaringkan Sekar dan Vanya di atas altar bulu serigala.

Tangan Raka menyentuh dua gunung dan lekuk tubuh mereka dengan penuh rasa lapar.

Desah Sekar saat bibir Raka menyentuh area sensitifnya.

Vanya merangkul leher Raka, kakinya yang jenjang melilit pinggang suaminya, menciptakan gesekan kulit yang membara.

Dan rintihan nikmat yang semakin keras menjadi musik di tengah kegelapan.

Penyatuan ini bukan hanya soal nafsu, tapi penggabungan tiga inti sukma. Raka merasakan energi darah Sekar dan energi roh Vanya mengalir masuk ke dalam kejantanannya, lalu meledak di dalam rahim mereka.

Raka menggeram rendah saat mencapai puncak penyatuan yang luar biasa dahsyat. Cahaya emas dan perak terpancar dari tubuh mereka, menyatu menjadi satu entitas kekuatan baru: Matahari Chaos Pemusnah."

Ditengah keindahan, tiba-tiba ada Istana di Serangan oleh Jenderal Kehancuran."

BOOOOOOMMMMM!

Istana berguncang hebat. Dinding kristal hancur berantakan. Dari lubang di langit, turun sesosok ksatria raksasa dengan zirah yang terbuat dari tulang naga purba. Ia adalah Mordred, Jenderal Pertama dari Kekaisaran Kekacauan.

"Raka! Keluar kau, anjing peliharaan pencipta!" suara Mordred menggelegar, menghancurkan rumah-rumah di sekitarnya.

Raka langsung melesat keluar, tubuhnya kini dikelilingi api hitam dengan inti putih yang menyilaukan.

SYUUUUUTTTTT!

"Kau berani menyentuh rumahku?" tanya Raka dengan nada yang sangat rendah namun mematikan.

Tetapi Mordred langsung mengayunkan kapak raksasanya yang berlumuran darah dewa.

WUSSSHHH!

Raka menangkisnya dengan tangan kosong.

CLANGGG!

Benturan logam dan kulit sakti itu menciptakan gelombang kejut yang meratakan hutan di radius 5 kilometer.

DUAR!

Raka membalasnya melancarkan pukulan bertubi-tubi ke arah dada Mordred.

Bugh! Bugh!

Zirah tulang naga itu retak. Mordred terbatuk darah hitam yang sangat panas.

Raka menghantamkan telapak tangannya ke wajah Mordred.

PLAAAKKK!

Kepala Mordred terpelintir, dan energi hitam Raka masuk ke dalam tubuhnya, membakar sukmanya dari dalam.

"Arrrrghhhhh!"

Mordred melolong kesakitan sebelum akhirnya meledak menjadi ribuan kepingan kegelapan.

BOOM! Mordred Menghilang lenyap."

Raka berdiri di tengah reruntuhan, napasnya memburu. Namun, di atas sana, dari retakan langit yang semakin lebar, muncul ribuan ksatria seperti Mordred. Dan di belakang mereka, duduk di atas takhta yang terbuat dari ribuan tengkorak matahari, adalah Sang Kaisar Kekacauan.

"Mordred hanyalah pembuka jalan, Raka," suara Sang Kaisar terdengar dari kejauhan jutaan mil, namun terasa tepat di depan wajah Raka.

"Aku datang untuk mengambil kembali 'Esensi Chaos' yang kau curi melalui penyatuan harammu tadi."

Raka menoleh ke arah Sekar dan Vanya yang baru saja keluar dari istana. Mereka tampak lemah namun kuat di saat yang sama.

Raka tahu, ini akan menjadi perjalanan berdarah. Tetapi Ia harus naik ke atas sana, menembus retakan langit, dan menghancurkan Kekaisaran Kekacauan di pusatnya.

"Bumi, jaga ibu-ibumu!" perintah Raka.

Raka melesat ke langit, membelah awan dengan kecepatan yang melampaui segala musim sebelumnya.

ZINGGGGG!

Ia bukan lagi pelindung bumi. Ia kini adalah Kaisar Surya yang Berlumuran Darah, siap memenggal kepala siapa pun yang menghalangi jalannya."

"Jerat Sang Dewi"

Raka melesat menembus retakan langit yang membelah dimensi manusia dengan Dimensi Kekacauan.

Udara di sini terasa berat, kental dengan aroma tembaga dan kemenyan yang membakar hidung.

Langitnya bukan biru, melainkan merah daging yang berdenyut, seolah-olah seluruh dunia ini adalah bagian dari organ dalam makhluk raksasa yang sedang sekarat.

Wussssshh...

Raka mendarat di depan sebuah istana yang dibangun dari kristal hitam dan tulang-tulang dewa yang masih meneteskan sumsum. Di gerbangnya, berdiri seorang wanita yang kecantikannya sangat mematikan. Ia adalah Dewi, Selir Pertama dari Kaisar Kekacauan.

Dewi mengenakan jubah sutra merah yang sangat tipis, nyaris transparan di bawah cahaya merah dimensi tersebut. Rambutnya hitam panjang terurai hingga ke pinggulnya yang berisi. Matanya yang tajam menatap Raka dengan tatapan lapar.

"Selamat datang, Raka," suara Dewi mendesah lembut, namun mengandung gairah yang merusak. "Kaisar bilang kau punya api yang tak pernah padam. Aku ingin merasakannya di dalam tubuhku."

Siapa Kamu, mau apa? "Saya tidak punya urusan denganmu, Dewi! ucap Raka tegas."

Tetapi Dewi menjentikkan jarinya."

Zinggg!

Tiba-tiba Raka merasa tubuhnya ditarik oleh ribuan tangan tak kasat mata, melemparkannya ke atas sebuah ranjang besar yang dilapisi kulit harimau hitam.

"Jangan melawan, Sayang... Kekacauan hanya bisa ditaklukkan dengan menyerah padanya," bisik Dewi tepat di telinga Raka.

Dewi membuka jubah sutranya sendiri hingga luruh ke lantai, menampakkan tubuhnya yang sempurna, mulus, namun memancarkan aura kegelapan. Ia merangkak di atas tubuh Raka yang kaku.

Tangan Dewi yang lentik mulai memegang dada Raka yang keras, turun ke perutnya yang berotot, dan terus ke bawah."

Raka tak bisa bergerak, hanya bisa terdiam."

Dewi bibirnya yang cantik, basah menyentuh leher Raka. "kecupan yang panas memenuhi ruangan.

Tetapi Raka, mulai terpancing gairah, yang disalurkan Dewi." Raka mulai...

Bersambung....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!