NovelToon NovelToon
Belunggu Pernikahan

Belunggu Pernikahan

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: Maya sabir

"Dia hanya memiliki aku, Maya. Sedangkan kau? Kau punya segalanya. Berhentilah bersikap menjijikkan dengan menuduhnya yang bukan-bukan!"

Kata-kata itu menjadi cambuk harian bagi Maya. Di rumah itu, dia adalah orang asing di tengah keluarga yang "sempurna". Arlan, suaminya, telah memindahkan seluruh pusat dunianya kepada Sarah dan anak almarhum adiknya.

Setiap kali Maya mencoba membela diri dari fitnah halus yang disebarkan Sarah, Arlan akan menatapnya dengan kebencian murni. Bagi Arlan, Maya adalah beban, sedangkan Sarah adalah amanah suci. Ketidakadilan itu semakin kelam ketika Arlan mulai memperlakukan Sarah layaknya seorang istri, dan membuang Maya ke sudut tergelap dalam hidupnya.

Ini bukan lagi tentang cinta, melainkan tentang pengabdian yang salah arah dan kehancuran seorang istri yang dipaksa menyaksikan suaminya mencintai bayangan orang lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya sabir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

Sarah tertawa nyaring, suara yang kini terdengar sumbang dan penuh keputusasaan yang dipaksakan. "Tanggung jawab? Perlindungan? Kau hanya menggunakan Dion sebagai alasan untuk mengikat wanita ini di sisimu, Arlan! Kau pikir aku tidak tahu?".

Sarah melangkah maju, menatap Arlan tepat di matanya dengan sisa keberanian yang ia miliki. "Hukum tetaplah hukum. Aku ibu kandungnya. Kau hanyalah pamannya. Tidak ada hakim di dunia ini yang akan memenangkan pria yang membesarkan anak di lingkungan yang penuh dengan ancaman dan... 'istri' yang kau tuduh sendiri sebagai pembunuh suamiku."

Arlan mengeraskan rahangnya. Cengkeraman tangannya pada lengan Maya mengerat, bukan karena marah pada Maya, melainkan karena ia sedang menahan gejolak emosi yang bisa meledak kapan saja.

"Hak asuh?" Arlan berbisik, namun nadanya jauh lebih mengerikan daripada teriakan Sarah tadi. "Kau bicara soal hak asuh setelah kau menelantarkannya ? Setelah kau membiarkannya menangis memanggil ibunya sementara kau asyik dengan duniamu sendiri?"

"Itu karena kau yang menjauhkanku darinya!" seru Sarah membela diri.

"Aku menjauhkanmu karena kau adalah racun, Sarah!" Arlan melangkah satu langkah ke depan, membuat Sarah terpaksa mundur. "Dan jangan pernah berpikir hukum akan berpihak padamu. Aku punya bukti-bukti baru tentang gaya hidupmu, kelalaianmu, dan..." Arlan merendahkan suaranya hingga hanya Sarah yang bisa mendengar, "...kejadian tiga tahun lalu. Pilihannya hanya dua, Sarah keluar dari rumah ini tanpa Dion, atau keluar dari sini menuju jeruji besi."

Wajah Sarah memucat, namun ia melihat Dion yang baru saja muncul di balik pilar tangga dengan wajah ketakutan. Naluri liciknya muncul.

"Dion sayang!" Sarah berteriak, mencoba berlari melewati Arlan. " Mama sudah datang,sayang! Ayo ikut mama ! Kita pergi dari rumah ini, pergi dari orang-orang jahat ini!"

Dion tersentak, ia memeluk boneka beruangnya erat-erat. Alih-alih mendekat ke Sarah, bocah itu justru berlari kencang menuruni tangga dan langsung menghambur ke pelukan Maya. Ia menyembunyikan wajahnya di perut Maya, terisak hebat karena ketakutan.

"Gak mau! Dion takut! mana Sarah jahat , Papa! Dion mau sama Mama Maya saja!" tangis Dion pecah.

Hening seketika. Sarah mematung, tangannya yang terulur menggantung di udara dengan kaku. Penolakan mentah-mentah dari darah dagingnya sendiri terasa seperti tamparan yang lebih menyakitkan daripada ancaman Arlan.

Maya memeluk Dion erat, mengusap punggung bocah itu dengan penuh kasih sayang. Ia menatap Sarah dengan sorot mata yang kini tak lagi mengandung ketakutan, melainkan ketegasan seorang ibu yang siap melindungi anaknya dari pemangsa.

"Kau dengar itu, Sarah?" Maya berkata dengan suara rendah namun stabil. "Dion sudah menentukan siapa yang dia inginkan. Hubungan darah tidak akan pernah bisa membeli kasih sayang yang tulus. Sekarang, silakan pergi sebelum aku sendiri yang menyeretmu keluar."

Arlan menatap pemandangan itu dengan perasaan campur aduk. Ia melihat bagaimana Dion mencari perlindungan pada Maya wanita yang selama setahun ini ia perlakukan dengan tidak adil. Ia menyadari satu hal ia hampir saja menghancurkan satu-satunya tempat aman bagi Dion.

"Keluar, Sarah. Sekarang," titah Arlan dingin tanpa menoleh lagi pada wanita itu. Fokusnya kini hanya pada Maya dan Dion yang saling mendekap di belakangnya. "Dan jangan pernah berharap namamu akan muncul lagi di daftar kunjungan rumah ini."

" Baiklah jika itu keinginan kalian, jika kalian tak bisa memberikan Dion secara suka rela pada ku,maka aku akan menggunakan cara lain.Aku akan merebut Dion secara hukum... bersiaplah untuk kehilangan nya." Ujar Sarah dingin ,menahan amarahnya lalu berjalan keluar dari rumah mewah itu.

Sarah membanting pintu utama dengan kekuatan yang cukup untuk menggetarkan kaca di sekitarnya. Deru mesin mobilnya yang menjauh meninggalkan keheningan yang menyesakkan di ruang tamu. Ancaman Sarah barusan bukan sekadar gertakan; wanita itu akan menggunakan segala cara, termasuk memutarbalikkan fakta di pengadilan, demi mendapatkan kembali hak asuh Dion atau setidaknya, menghancurkan kehidupan Arlan dan Maya.

Dion masih terisak di pelukan Maya, bahu kecilnya naik turun menahan tangis. Maya segera berlutut, menyejajarkan tingginya dengan bocah itu, lalu menangkup wajah Dion dengan lembut.

"Sstt... sudah ya, Sayang. Mama di sini. Papa juga di sini. Tidak ada yang akan membawamu pergi," bisik Maya, suaranya parau namun penuh keyakinan. Ia mengecup kening Dion lama, mencoba menyalurkan ketenangan yang sebenarnya ia sendiri sulit rasakan.

Arlan berdiri mematung beberapa langkah dari mereka. Ia menatap Maya yang begitu tulus melindungi Dion, pemandangan yang menyentil nuraninya hingga ke dasar terdalam. Ia teringat kembali pada amplop cokelat di ruang kerjanya. Kebenaran bahwa Sarah adalah pelaku kecelakaan itu seharusnya menjadi senjata utama untuk menghancurkan wanita itu di pengadilan nanti. Namun, Arlan sadar, jika ia mengeluarkan bukti itu, Maya akan tahu bahwa ia sempat ingin menghancurkannya.

"Maya..." Arlan memanggil pelan, suaranya terdengar sangat lelah.

Maya mendongak. Sorot matanya yang hangat pada Dion berubah menjadi dingin dan waspada saat menatap Arlan. "Jangan sekarang, Mas. Tenangkan Dion dulu."

Arlan mengangguk lemah. Ia mendekat, mencoba mengusap kepala Dion, namun gerakannya ragu. "Bi Minah, tolong bawa Dion ke kamarnya. Berikan susu hangat dan temani dia bermain."

Setelah Dion dibawa pergi oleh Bi Minah, suasana di ruang tamu mendadak berubah menjadi medan perang yang sunyi. Maya berdiri, merapikan gaunnya, dan hendak melangkah menuju dapur tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

" Kamu baik-baik saja?" Tanya Arlan memecah kesunyian.

" Aku baik-baik saja ." Maya menghentikan langkahnya lalu berbalik menatap Arlan yang duduk di sofa ," Aku hanya khawatir Sarah akan serius dengan ucapannya. Aku tidak tahu kamu dan Sarah ada konflik internal, terakhir aku pergi dari rumah ini Sarah masih berada di rumah.Apa terjadi sesuatu terjadi di antara kalian?"

Arlan terdiam sejenak, menatap jemarinya yang masih sedikit gemetar. Pertanyaan Maya menghantamnya tepat di ulu hati. Ia ingin berteriak bahwa Sarah adalah iblis yang sesungguhnya, namun ia teringat bahwa ia juga tidak jauh berbeda karena menyembunyikan kebenaran itu.

Arlan menarik napas panjang, mencoba menstabilkan suaranya yang serak. "Banyak hal yang berubah sejak kau tidak ada, Maya. Kesetiaan yang kupikir tulus ternyata hanyalah topeng untuk menutupi busuknya niat. Sarah... dia bukan lagi orang yang kupercaya."

Maya menyipitkan mata, melangkah satu langkah mendekati Arlan. "Hanya itu? Arlan, aku melihat ketakutan yang murni di mata Sarah kemarin saat kau membisikkan sesuatu padanya. Itu bukan sekadar konflik bisnis atau perbedaan pendapat tentang Dion. Kau memegang sesuatu yang besar, bukan?"

Arlan mendongak, menatap mata tajam istrinya. Kecerdasan Maya yang dulu sering ia abaikan kini terasa mengintimidasi. "Aku sedang menyelidiki banyak hal, Maya. Termasuk... penggelapan dana yang ia lakukan di yayasan keluarga. Aku ingin dia pergi dari hidup kita dengan cara yang bersih, tapi dia justru memilih jalur hukum untuk memperebutkan Dion."

"Lalu kenapa dia menyebutku pembunuh suaminya lagi di depanmu?" suara Maya meninggi, penuh luka yang kembali menganga. "Kenapa kau diam saja saat dia menghinaku tepat di wajahmu? Apakah di dalam hatimu, kau masih percaya bahwa aku yang menyebabkan kecelakaan itu?"

Arlan berdiri dengan cepat, mendekati Maya hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa inci. "Tidak! Aku tidak pernah lagi mempercayai omong kosongnya!"

Arlan ingin sekali mengatakan bahwa ia sudah memegang bukti keterlibatan Sarah dalam kecelakaan suaminya (adik Arlan), namun lidahnya terasa kelu. Jika ia mengaku sekarang, Maya akan tahu bahwa Arlan sempat berniat melenyapkan bukti itu demi kepentingan pribadinya.

"Maya, dengarkan aku," Arlan memegang kedua bahu Maya, suaranya parau karena emosi. "Aku akan melakukan apa pun untuk memenangkan hak asuh Dion. Aku akan mengerahkan seluruh tim hukum terbaik. Tapi aku mohon... untuk saat ini, jangan pertanyakan bagaimana aku akan melakukannya. Cukup percayalah bahwa aku tidak akan membiarkan wanita itu menyentuhmu atau Dion lagi."

Maya melepaskan tangan Arlan dari bahunya dengan gerakan perlahan namun tegas. "Kepercayaan adalah kemewahan yang sudah kau hancurkan setahun yang lalu, Mas. Aku akan tetap di sini bukan karena aku percaya padamu, tapi karena Dion membutuhkanku."

Maya berbalik, berjalan menuju tangga dengan langkah yang berat. "Jika kau benar-benar ingin melindungi kami, pastikan kau tidak melakukan kebohongan lagi. Karena jika suatu saat aku tahu kau menyembunyikan sesuatu dariku lagi... saat itu juga, aku akan pergi dan kau tidak akan pernah bisa menemukanku, sekalipun kau menggunakan seluruh kekuasaanmu."

Arlan terpaku di tengah ruangan, menatap punggung Maya yang menghilang di balik pintu kamar Dion. Ia merogoh saku celananya, menyentuh kunci laci meja kerjanya. Logam itu terasa sangat dingin, seolah mengingatkannya bahwa ia sedang berdiri di atas bom waktu yang siap meledak kapan saja.

"Maafkan aku, Maya," bisiknya pada keheningan. "Aku harus menjadi pengecut sedikit lebih lama, demi menjagamu tetap di sini."

1
Rini Yuanita
hadwch...udh bgus...maya mw pergi...ech mlah d bikin amnesia....skip dech thor...ujung² ny ttp balikan sm arlan😄😄😄
Bang Ipul
Cerita gak bermutu
Bang Ipul
jadi laki sok percaya diri sekali lo
Bang Ipul
bikin emosi deh
Nessa
hadeuhh 🤦🏻‍♂️🤦🏻‍♂️🤦🏻‍♂️
Nessa
baru awal bab udah menguras emosi
ㄒ丨乇
misi
partini
🙄🙄🙄🙄🙄
partini
wah Maya very good,,bikin Arlan kering kerontang biar mamposs
partini
enak benar nyalahi orang lain ,ayo Maya be strong be smart jadi wanita tangguh dan sukses bikin dunua mereka jungkir balik
maya: makasih KK sudah mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!