Aina memutuskan untuk meminta cerai dari sang suami karena tidak sanggup untuk hidup berumah tangga dengan Darno lagi, Darno memang tidak berselingkuh namun segala sikap yang dia miliki begitu buruk serta sangat kasar sekali.
ekonomi mereka juga sangat turun sehingga membuat Aina begitu bingung untuk menghadapi ini semua, belum lagi mertua yang selalu ikut campur dalam urusan rumah tangga mereka, membuat Aina gelap mata dan memutuskan untuk bercerai.
namun belum sempat itu terjadi malah kejadian mengerikan terjadi pada wanita cantik itu, Aina mendadak saja sakit pada kemaluan dan mengeluarkan ulat berwarna putih yang berjumlah begitu banyak.
Apa terjadi pada Aina?
mengapa mendadak saja Aina menderita penyakit seperti itu?
ikuti terus kisah mereka di cerita Novita Jungkook.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1. Awal mula
"Aku sudah tidak ingin membangun rumah tangga dengan kamu lagi, Mas." Aina berkata dengan air mata berderai.
"Kita bisa bicarakan ini dengan baik, perpisahan bukan hal yang harus kita lakukan." Darno berusaha untuk membujuk sang istri.
"Mau sampai kapan aku harus bertahan dalam situasi seperti ini? kamu tidak pernah mengerti aku!" teriak Aina.
"Aku kurang mengerti bagaimana? aku bukan hanya diam di rumah untuk bermalas-malasan saja, selama ini aku juga sudah bekerja untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga kita!" Darno juga mulai emosi.
"Semua orang juga tahu bahwa kamu bekerja untuk mencukupi rumah tangga kita, tapi aku memang sudah sangat lelah dan tidak ingin melanjutkan hubungan ini lagi." Aina berkata sambil berlalu pergi.
Darno menatap punggung sang istri yang semakin menjauh Karena dia tidak terima bila sampai ada perpisahan dalam rumah tangga mereka, empat tahun mereka berumah tangga seperti ini dan sampai sekarang Aina memang masih belum berani untuk memiliki anak.
Sebab dia merasa ekonomi ini belum mencukupi untuk memiliki tambahan nyawa di dalam keluarga, jadi dengan sengaja Aina memutuskan melakukan kontrasepsi agar tidak ada buah yang bisa masuk ke dalam rahim dia, Darno juga sepakat dengan hal itu karena dia beranggapan dirinya memang belum mampu untuk mencari nafkah yang cukup.
Ini saja terkadang Aina masih membantu dengan menjadi buruh di sawah milik orang lain, hanya dengan begitu maka Aina bisa membeli apa yang dia mau dan itu saja terkadang Darno masih tidak peduli dengan sang istri, mau Aina lelah atau merasakan apa saja dia tetap beranggapan bahwa dirinya lah orang yang paling lelah.
Sebagai kepala keluarga dia memang tidak pernah berselingkuh sama sekali kepada wanita lain, tapi berbagai macam tabiat danau yang membuat Aina menjadi tidak nyaman dan dia merasa sang suami tidak pernah menganggap dia ada di dalam rumah ini, keberadaan yang serta kerja keras dia sama sekali tidak pernah dihargai.
Belum lagi bila Mak Katiyem sudah mulai datang dan dia akan membicarakan hal buruk tentang Aina, Mak Katiyem memang tidak tahu bahwa sang menantu melakukan kontrasepsi agar tidak mengandung terlebih dahulu, dengan lantang dia mengatakan bahwa Aina adalah wanita mandul sehingga sampai saat ini belum memiliki anak.
Aina sudah diam dan tidak pernah membantah ucapan itu karena menurut dia tidak ada guna juga berdebat dengan orang tua, daripada terus membuang energi maka lebih baik dia mengabaikan dan tetap fokus dengan pekerjaan yang dia miliki saat ini agar tidak kelaparan serta bisa membeli apa saja yang dia mau, di dalam standar kampung tentu saja itu adalah hal yang biasa.
"Kenapa lagi to, Na?" Wiwin menghampiri Aina ketika melihat wanita itu menangis di pinggir sungai.
"Demi Allah sebenarnya aku juga tidak tahu bagaimana jalan hidup ini." isak Aina dengan begitu perih.
"Kita sebagai manusia tentu saja hanya bisa menerima dan menjalani takdir yang sudah kita miliki, apa yang sedang kau pikirkan saat ini?" Wiwin bertanya lembut dan ikut duduk di sebelah Aina.
"Aku ingin bercerai saja dari Mas Darno." Aina berkata dengan pandangan kosong.
"Loh kau jangan nekat seperti itu, memangnya dia kenapa kok kamu memutuskan sampai bercerai?!" Wiwin terlihat kaget mendengar keputusan yang akan di ambil sepupu dia.
"Aku sudah tidak sanggup hidup bersama dengan dia, mungkin bila kami berpisah maka hidup ini akan lebih baik." ujar Aina.
"Tapi dia tidak ada nyeleweng atau berselingkuh kan?" Wiwin bertanya untuk memastikan terlebih dahulu.
"Tidak, namun ia tidak pernah bisa mengerti perasaan yang aku miliki." lirih Aina.
Wiwin hanya bisa menghelai nafas panjang Karena dia juga tahu bahwa tabiat dharma itu begitu keras, sulit sekali menjelaskan bagaimana tabiat Darno karena hanya orang tertentu yang bisa mengerti bahwa pria itu memang begitu rumit untuk memahami perasaan istri sendiri, sebab dalam pikiran Darno mengatakan bahwa istri dia selalu baik-baik saja.
"Mak Katiyem selalu menuduh aku adalah wanita mandul, dia akan mengoceh ke sana kemari tapi mas Darno sama sekali tidak pernah membela aku." Aina mulai bercerita.
"Itu lah kadang yang namanya orang tua, tidak tahu kalau ekonomi anak sedang sulit malah ingin mempunyai cucu pula." lirih Wiwin.
"Ini untuk makan saja masih pontang-panting tidak karuan, Mas Darno kalau dibantu mencari uang juga tidak pernah mengucapkan terima kasih." kesal Aina mulai emosi.
"Maksud mu gimana?" Wiwin menoleh karena barusan tidak paham.
"Ya kan kadang aku ini pamer dapat segini dari hasil buruh, aku itu kepingin terus dia mengucapkan terima kasih karena sudah membantu mencari uang. tapi itu tidak pernah dia ucapkan!" ucap Aina.
Wiwin menelan ludah dengan susah payah karena dia juga sempat mendengar ketika Darno sedang duduk ngobrol dengan para lelaki di pos ronda, Darno justru mengatakan bahwa Aina adalah istri yang tidak tahu diri dan hanya bisa menghabiskan uang dari suami.
Itu bila sampai Aina mendengar tentang hal itu maka pasti akan semakin sakit hati saja serta tekad dia untuk berpisah akan semakin kuat, tapi Wiwin tentu saja tidak mau mengatakan hal itu kepada Aina, karena dia tahu nanti justru akan menjadi pertengkaran yang semakin tidak menentu.
"Sekali saja aku ingin dia berterima kasih karena aku membantu." harap Aina pelan sekali.
"Dia paling gengsi karena sebagai suami tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan seorang istri." sahut Wiwin.
"Aku sudah sangat yakin untuk berpisah saja dari dia, walau tidak berpisah secara langsung namun setidaknya aku akan pulang ke rumahku sendiri." tekad Aina.
"Jangan langsung terbawa emosi seperti itu karena kalian juga sudah bersama selama empat tahun, jadi pikirkan saja dulu sampai matang." nasihat Wiwin.
Aina menggeleng dengan sangat yakin karena dia memang telah lama mempertimbangkan keputusan ini, tinggal sampai saat ini dia mulai merasa yakin dan keputusan itu dia anggap sangat tepat agar mereka bisa menjalani hidup masing-masing tanpa saling menyakiti suatu sama lain.
"Walau dia tetap bersikeras tidak mau bercerai dari aku namun aku akan segera pergi dari rumah itu." tekad Aina begitu kuat.
"Aku berharap Kau mengambil keputusan tepat dan tidak akan menyesal nanti." ujar Wiwin.
Aina mengangguk pelan walau saat ini hati dia memang sedang sangat kisruh karena tidak tahu keputusan apa yang akan dia ambil, semua ini terasa begitu berat karena dia juga sudah tidak mampu menjalani hidup rumah tangga yang telah berjalan selama empat tahun, ada niat di dalam hati ingin terus bersama namun tekad untuk berpisah semakin kuat saja di dalam hati ini.
Selamat malam, ketemu lagi di kisah Baru Novita Jungkook ya besti.
semoga ada kemudahan stlh kejadian barusan ,,, bisa melanjutkan perjalanan lg ke padepokan kyai Ahmad
apa cuma perasaanku ya kok sedikit ceritanya 🤭