NovelToon NovelToon
Rahasia Di Balik Pernikahan Palsu Kita

Rahasia Di Balik Pernikahan Palsu Kita

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / Penyelamat / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Candra Arista

Pernikahan tanpa cinta adalah impian Alya, atau setidaknya itu yang dia pikirkan. Namun, apa yang akan terjadi jika suaminya menyimpan rahasia tentang dirinya sejak awal? Alya tidak terduga bahwa suaminya, Raka Pratama, adalah seorang yang dingin, berkuasa, dan tidak terlalu terbuka. Mereka menikah dengan kontrak, tapi dengan satu syarat yang tidak biasa: jangan pernah jatuh cinta. Apakah Alya dapat memenuhi syarat itu, ataukah cinta akan menghancurkan kontrak pernikahan mereka?
Ketika kebohongan berlangsung terus-menerus, batas antara apa yang palsu dan apa yang nyata mulai kabur. Alya harus menghadapi keputusan sulit: mempertahankan kebohongan yang telah ia jalankan atau meninggalkan pria yang telah berhasil memenangkan hatinya. Pernikahan ini tampaknya telah terjadwal dengan baik, tetapi ada satu hal yang tidak termasuk dalam kontrak: perasaan yang sebenarnya. Sekarang, Alya harus memilih antara kebenaran dan kebahagiaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Candra Arista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 – Hak yang Tidak Seharusnya Ada

Suasana ruang tengah seketika berubah hening.

Ponsel Alya masih berdering dalam genggamannya.

Nama Dimas tertera jelas di layar.

Dan di seberang sana—

Tatapan Raka perlahan berubah dingin.

Alya langsung merasa gugup tanpa alasan yang jelas.

Padahal ini hanyalah telepon biasa.

Benar, kan?

“Kamu tidak mengangkatnya?” tanya Raka dengan tenang.

Terlalu tenang.

Dan Alya mulai memahami nada itu sekarang.

Bahaya.

“Oh… iya.”

Ia buru-buru menerima panggilan sebelum suasana menjadi semakin canggung.

“Halo?”

Suara Dimas terdengar cukup jelas dari seberang.

“Alya, maaf mengganggu di malam hari.”

“Tidak apa-apa. Ada apa?”

“Aku cuma mau memberi tahu hasil pemeriksaan ibumu tadi bagus. Dokternya bilang kemungkinan pemulihannya akan lebih cepat.”

Wajah Alya langsung tampak cerah.

“Serius?”

“Iya.”

“Syukurlah…”

Nada suaranya terdengar jauh lebih lega sekarang.

Dan entah mengapa—

Raka tidak suka melihat perubahan ekspresi itu karena pria lain.

“Besok aku juga kebetulan mendapatkan giliran kerja pagi,” lanjut Dimas. “Kalau kamu datang, kita bisa sekalian sarapan.”

Keheningan singkat terjadi.

Alya langsung menyadari ada sepasang mata yang masih memperhatikannya dari seberang sofa.

“Oh…” Alya sedikit salah tingkah. “Akan kulihat nanti ya.”

Dimas tertawa pelan.

“Kamu masih tetap seperti dulu.”

Kalimat itu membuat rahang Raka sedikit mengencang.

“Aku tutup dulu ya,” kata Alya cepat.

“Baik. Jangan lupa istirahat.”

Panggilan telepon berakhir.

Dan begitu layar ponsel padam—

Suasana ruang tengah langsung terasa terlalu hening.

Alya perlahan meletakkan ponselnya di atas meja.

Lalu diam-diam melirik Raka.

Pria itu masih duduk tenang.

Terlalu tenang.

Namun Alya bisa melihat sesuatu di matanya.

“Jika ada yang ingin dikatakan, katakan saja,” katanya pelan.

Raka menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa.

“Sejak kapan dia menelepon Anda di malam hari?”

Nah.

Mulai.

Alya hampir saja menghela napas.

“Dia hanya mengabarkan tentang ibu.”

“Dan mengajak sarapan.”

Nada suaranya tetap datar.

Namun justru itu yang membuat Alya ingin tertawa kecil.

Pria ini sungguh tidak pandai menyembunyikan kecemburuannya.

“Itu hanyalah sarapan.”

Tatapan Raka langsung beralih ke wajah Alya.

“Dengan pria yang jelas masih menyimpan perasaan pada Anda.”

Alya langsung memijat pelipisnya.

“Kamu terlalu berlebihan.”

“Saya realistis.”

“Aku bukan anak kecil.”

“Saya tahu.”

“Kalau begitu kenapa bicara seolah aku tidak bisa menentukan batasan?”

Hening.

Tatapan Raka berubah sedikit lebih tajam sekarang.

Dan Alya mulai sadar—

Pembicaraan ini tidak lagi terasa ringan.

“Saya hanya tidak suka dia terlalu akrab.”

“Apakah karena kontrak kita?”

Pertanyaan itu terucap dengan cepat.

Dan begitu keheningan tercipta setelahnya—

Alya sadar dirinya baru saja menyentuh titik yang sensitif.

Tatapan Raka tidak berpindah.

Beberapa detik berlalu sebelum pria itu akhirnya menjawab dengan pelan—

“Kalau saya bilang bukan?”

Jantung Alya seketika berdetak kencang.

Suasana mendadak berubah lagi.

Dan Alya mulai membenci betapa mudahnya pria ini mengacaukan pikirannya.

“Aku tidak mengerti kamu,” gumamnya pelan.

Raka bangkit perlahan dari sofa.

Lalu melangkah mendekat.

Satu langkah.

Dua langkah.

Sampai akhirnya berhenti persis di hadapan Alya yang masih duduk.

Tatapan pria itu lurus menatapnya.

“Kalau Dimas bukan siapa-siapa,” katanya rendah, “kenapa saya harus suka melihat dia terus mencari perhatian dari Anda?”

Napas Alya tertahan seketika.

Karena untuk pertama kalinya—

Raka terdengar begitu posesif.

Dan itu sangat berbahaya.

“Apakah kamu sadar,” gumam Alya pelan, “kalau kamu mulai berbicara layaknya seorang suami?”

Tatapan Raka berubah sedikit.

Lebih gelap.

“Dan kalau saya memang mulai merasa demikian?”

Jantung Alya nyaris berhenti.

Kalimat itu menghantam begitu telak.

Dan yang paling menakutkan—

Tidak ada bagian dari dirinya yang ingin menyangkalnya.

Suasana di antara mereka menjadi begitu sunyi.

Begitu dekat.

Sampai akhirnya Alya berdiri perlahan agar tidak terus terlihat lebih pendek di depan pria itu.

Namun begitu berdiri—

Jarak mereka justru malah semakin dekat.

“Alya.”

Nada suara Raka sangat rendah sekarang.

Dan Alya tahu—

Kalau mereka terus seperti ini, sesuatu pasti akan terjadi.

“Aku takut,” bisiknya pelan, tanpa ia sadari.

Tatapan Raka langsung berubah.

“Apa?”

“Aku takut semua ini hanyalah sementara.”

Kalimat itu akhirnya terucap.

Jujur.

Dan begitu kata-kata itu terucap, Alya merasa dadanya sedikit lebih ringan, sekaligus terasa lebih sakit.

Karena inilah inti dari semua ini.

Mereka bukan pasangan sungguhan.

Pernikahan ini memiliki batas akhir.

Dan Alya tidak tahu apakah hatinya siap menghadapi hal itu.

Untuk pertama kalinya malam itu—

Raka benar-benar terlihat kehilangan kata-kata sesaat.

Pria itu menatap Alya untuk waktu yang lama.

Lalu perlahan mengangkat tangan dan menyentuh pipinya.

Dengan lembut.

Hati-hati.

Seolah Alya adalah sesuatu yang sangat berharga.

“Saya juga tidak tahu bagaimana semua ini akan berakhir,” katanya jujur. “Tapi satu hal yang saya tahu…”

Jantung Alya kembali berdetak tak karuan.

Tatapan Raka turun sejenak ke bibirnya sebelum kembali menatap matanya.

“…saya tidak suka membayangkan Anda bersama pria lain.”

Napas Alya langsung tercekat.

Dan sebelum Alya sempat berpikir—

Ponselnya kembali berdering.

Keduanya langsung sedikit terkejut.

Alya buru-buru menjauh setengah langkah sambil menatap layar.

Dimas lagi.

Dan untuk pertama kalinya—

Alya benar-benar merasa bersalah hanya karena melihat nama pria lain saat berada sedekat ini dengan Raka.

“Haruskah aku mengangkatnya?” tanyanya pelan tanpa sadar.

Tatapan Raka turun ke layar ponsel tersebut.

Lalu kembali ke wajah Alya.

Hening beberapa detik.

Dan ketika pria itu akhirnya berbicara—

Nada suaranya begitu rendah hingga membuat jantung Alya kembali gelisah.

“Itu pilihan Anda.”

Namun tatapan mata Raka mengisyaratkan hal yang sama sekali berbeda.

Pria itu jelas tidak menginginkan Alya menjawab panggilan itu.

Dan untuk pertama kalinya—

Alya menyadari sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada rasa cemburu Raka.

Ia mulai menikmati kenyataan bahwa pria itu menginginkannya tetap berada di sisinya.

1
Mtch🍃
Tiba tibaaa bngt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!