Ini adalah kisah nyata Rudini, seorang ayah di Cirebon yang divonis stroke. Tidak ada uang, tidak ada pekerjaan, hanya ada seorang anak balita bernama Balqis yang menangis kelaparan di malam hari.
Di rumah yang sama, tinggal seorang nenek janda yang sudah tua dan tak berdaya. Dengan stok beras nol dan popok anak yang tinggal dua lembar, "Ayah Balqis" mencatat perjuangan seorang pria yang tubuhnya stroke, namun hatinya menolak menyerah demi senyum buah hatinya.
Bukan fiksi. Ini adalah teriakan harapan dari Desa Cilukrak. Sebuah catatan hariantentang lapar, sakit, doa, dan cinta seorang ayah yang tak terbatas.
Kisah ini ditulis sebagai bentuk ikhtiar dan doa agar Balqis bisa makan, Ayah bisa terapi, dan Ibu bisa tenang. Mohon doa dan dukungannya dari para pembaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayah Balqis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Proyek Rahasia Dua Sahabat
Hari Sabtu pagi itu cerah sekali. Tidak ada awan mendung yang menggantung, hanya langit biru bersih yang seolah mengundang siapa saja untuk keluar rumah. Bagi Balqis, ini bukan hari biasa. Ini adalah hari yang dinantikannya sejak kemarin sore.
"Ayah, Nisa bilang dia mau datang ke sini jam sembilan!" seru Balqis sambil merapikan taplak meja makan yang sebenarnya sudah rapi. Ia tampak gugup tapi antusias.
Aku tersenyum melihat tingkah putriku. "Iya, Nak. Ayah sudah siapkan camilan. Ada kue bolu buatan tetangga dan jus jeruk dingin."
"Tidak usah repot-repot, Yah. Nisa nggak minta macem-macem kok," jawab Balqis cepat, lalu tertawa kecil. "Dia cuma mau bawa buku gambar baru dan spidol warna-warni."
Tepat pukul sembilan, bel rumah berbunyi. Balqis hampir berlari membukakan pintu. Di sana berdiri Nisa, dengan pita biru khasnya dan sebuah tas ransel lucu di punggung.
"Hai, Balqis! Hai, Pak!" sapa Nisa ceria.
"Halo, Nisa. Silakan masuk," sambutku hangat. "Ayah sudah siapkan jus di meja."
Setelah basa-basi singkat dan menikmati camilan, kedua gadis kecil itu langsung pindah ke ruang tengah. Mereka membentangkan kertas gambar besar di lantai. Wajah mereka serius, seolah sedang merencanakan misi rahasia negara.
"Apa yang kalian gambar kali ini?" tanyaku penasaran sambil duduk di sofa nearby, pura-pura membaca koran tapi sesekali mengintip.
"Ini proyek rahasia, Yah!" kata Balqis sambil melirik jenaka. "Nanti kalau sudah jadi, baru boleh dilihat."
Aku terkekeh. "Oke, oke. Ayah tunggu hasilnya ya."
Mereka mulai berdiskusi. Aku mendengar potongan-potongan kalimat mereka.
"Nisa, warnai langitnya biru muda ya, biar kelihatan pagi."
"Iya, Balqis. Kalau rumahnya kita kasih atap merah biar mencolok."
"Jangan lupa gambar ayahmu di depan pintu, lagi senyum."
"Wah, iya! Nanti aku gambar ayahku bawa kamera, soalnya hobi motret."
Suara mereka bersahut-sahutan, penuh tawa dan ide gila. Terkadang mereka berebut spidol, tapi tak pernah sampai bertengkar. Hanya saling lempar canda lalu lanjut bekerja lagi.
Aku memperhatikan mereka dengan hati yang lembut.
Dulu, ruang tengah ini sering kali sunyi. Hanya ada suara televisi atau dengkuranku saat kelelahan. Tapi hari ini, ruangan ini hidup. Hidup oleh imajinasi dua anak kecil yang percaya bahwa dunia bisa digambar sesuka hati mereka.
Siang semakin terik, tapi semangat mereka tidak surut. Kertas putih di lantai kini telah berubah menjadi lukisan berwarna-warni yang menakjubkan. Ada rumah besar dengan taman bunga, ada dua gadis bergandengan tangan, dan ada dua sosok ayah yang berdiri di samping mereka dengan wajah bahagia.
"Sudah selesai!" seru Balqis bangga.
"Yay! Akhirnya jadi juga!" tambah Nisa girang.
Mereka memanggilku. "Ayah! Sini lihat! Proyek rahasia kami sudah jadi!"
Aku mendekat, lalu berjongkok di samping lukisan itu. Napasku tercekat sejenak.
Lukisan itu sederhana, tapi penuh makna. Di sudut kanan bawah, tertulis tulisan tangan anak-anak yang agak miring: *"Rumah Kita Semua - Oleh Balqis & Nisa"*.
"Ini... ini bagus sekali," kataku terbata-bata. "Rumah apa ini, Nak?"
"Ini rumah impian kami, Yah," jelas Balqis sambil menunjuk gambar rumah besar itu. "Di sini nanti kita bisa main bareng tiap hari. Ada taman luas buat lari-larian. Ada kolam ikan. Dan lihat, itu ruang khusus buat Ayah nulis novel!"
Aku menunjuk sebuah ruangan kecil di gambar yang dilengkapi meja dan laptop.
"Iya!" sahut Nisa antusias. "Kata Balqis, Ayah butuh tempat tenang buat nulis cerita hebat. Jadi kami buatkan ruang khusus. Jendelanya menghadap taman, biar kalau Ayah lelah bisa lihat bunga-bunga."
Hatiku hancur lebur. Bukan karena sedih, tapi karena rasa syukur yang begitu besar hingga dada ini terasa sesak.
Mereka berpikir tentangku.
Mereka memikirkan kebahagiaanku.
Mereka merancang masa depan di mana aku ada di dalamnya, bahagia dan produktif.
"Makasih, Nisa. Makasih, Balqis," bisikku sambil memeluk mereka berdua erat-erat. "Ini hadiah terbaik yang pernah Ayah terima."
"Jadi, kapan kita wujudkan rumah ini, Yah?" tanya Balqis polos.
Aku menatap mata mereka dalam-dalam. "Kita akan usahakan, Nak. Pelan-pelan. Mungkin tidak besok, mungkin tidak bulan depan. Tapi Ayah janji, Ayah akan terus berusaha. Lewat cerita-cerita yang Ayah tulis, lewat kerja keras Ayah, suatu hari nanti, rumah ini akan jadi nyata."
Nisa tersenyum lebar. "Aku yakin bisa! Kan Ayah penulis hebat!"
Kalimat itu, *"Ayah penulis hebat"*, terdengar seperti mantra ajaib.
Ragu-ragu yang masih tersisa di hatiku luruh seketika.
Jika anak-anak sekecil ini saja percaya padaku, mengapa aku harus ragu pada diriku sendiri?
Sore itu, setelah Nisa pulang dijemput ibunya, aku kembali duduk di depan laptop. Lukisan karya Balqis dan Nisa kini tergantung di dinding ruang tengah, menjadi penghias sekaligus pengingat janji kami.
Aku membuka dokumen bab baru. Judulnya sudah siap di kepala: *"Proyek Rahasia Dua Sahabat"*.
Jari-jariku menari lebih cepat dari sebelumnya.
Aku mengetik tentang bagaimana harapan itu tidak selalu datang dari langit, tapi seringkali dibangun dari kertas gambar, spidol warna-warni, dan tawa dua anak kecil.
Aku mengetik tentang keyakinan baru: bahwa setiap kata yang aku tulis hari ini adalah satu bata untuk membangun "rumah impian" itu.
Bahwa setiap bab yang terbit adalah satu langkah mendekati realisasi janji pada Balqis.
Novel "Ayah Balqis" bukan lagi sekadar cerita fiksi.
Ini adalah blueprint kehidupan kami.
Ini adalah doa yang diwujudkan dalam aksara.
Malam turun perlahan. Lampu kamar Balqis sudah mati, ia tidur dengan nyenyak setelah seharian bermain. Aku masih terjaga, menyelesaikan paragraf terakhir bab ini.
*"Dan di atas dinding ruang tengah yang sederhana, tergantung sebuah lukisan anak-anak. Ia mungkin terlihat naif bagi orang dewasa. Tapi bagiku, itu adalah peta harta karun paling berharga. Peta yang menunjukkan arah menuju kebahagiaan sejati."*
Aku menekan tombol "Simpan".
Bab #29 selesai.
Aku menarik napas panjang, menatap langit malam melalui jendela.
Terima kasih, Tuhan.
Terima kasih untuk Nisa, untuk Balqis, untuk setiap detik yang Kau izinkan aku gunakan untuk berkarya.
Besok adalah hari baru.
Tantangan baru menanti.
Tapi aku tidak takut lagi.
Karena aku tahu, aku tidak berjalan sendirian.
**Selamat malam, dunia.**
**Besok, kami akan menulis babak baru lagi.**