NovelToon NovelToon
Delapan Tahun Lalu Dan Sebuah Janji

Delapan Tahun Lalu Dan Sebuah Janji

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:404
Nilai: 5
Nama Author: S. Sage

Arga Baskara hidup dalam bayang-bayang janji masa kecil yang ia genggam selama delapan tahun. Ketika Nala Anindita kembali ke kehidupannya sebagai teman sekelas, ia berharap waktu akan menyatukan kembali keduanya. Namun, Nala telah berubah—ia tak lagi mengingat masa lalu yang begitu berarti bagi Arga.


Di tengah realitas baru, Arga harus menghadapi cinta yang tak berbalas, diperparah oleh kehadiran Satria yang semakin dekat dengan Nala. Terjebak antara kenangan dan kenyataan, Arga dihadapkan pada pilihan: terus bertahan pada perasaan lama, atau belajar melepaskan.


Kisah ini menggambarkan tentang cinta yang tertinggal oleh waktu, dan perjuangan seseorang untuk menerima bahwa tidak semua janji akan kembali utuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5

Pagi itu udara di SMA Tunas Bangsa terasa sedikit lebih lembap dari biasanya. Sisa hujan semalam masih meninggalkan aroma tanah basah yang menyelinap masuk melalui jendela kelas XI IPA Dua yang terbuka lebar. Arga Baskara duduk di bangku pojok belakang, posisi favoritnya yang memberikan sudut pandang luas ke seluruh penjuru ruangan tanpa perlu merasa terawasi. Tangannya sibuk memutar-mutar pulpen, sementara pikirannya masih tertinggal pada buku sketsa tua yang ia buka semalam di kamar.

Suasana kelas yang tadinya riuh mendadak mereda saat Pak Gunawan masuk dengan kacamata yang bertengger di ujung hidung. Guru biologi itu membawa tumpukan modul tebal yang langsung ia letakkan di atas meja guru dengan bunyi debam yang cukup keras.

Selamat pagi semuanya. Hari ini kita akan memulai proyek pengamatan jaringan tumbuhan. Tugas ini dilakukan secara berkelompok, masing-masing terdiri dari empat orang. Bapak sudah menentukan sebagian, tapi untuk sisanya, silakan kalian atur sendiri dengan syarat harus heterogen, kata Pak Gunawan dengan suara baritonnya yang tegas.

Arga menghela napas pendek. Tugas kelompok selalu menjadi momen yang melelahkan baginya. Bukan karena ia malas bekerja, melainkan karena ia harus berinteraksi lebih banyak dengan orang lain. Dimas Pratama, yang duduk tepat di sebelah Arga, menyenggol lengan sahabatnya itu dengan semangat.

Ga, kita berdua sudah pasti bareng. Sisanya tenang saja, biar aku yang cari mangsa, bisik Dimas dengan seringai jahilnya yang khas.

Arga hanya mengangguk pelan. Ia melirik ke arah barisan depan. Di sana, Tania Larasati tampak menoleh ke belakang, memberikan senyum tipis yang penuh harap ke arah Arga. Arga tahu Tania ingin bergabung dengan mereka, namun sebelum gadis itu sempat membuka mulut, sebuah suara lantang memecah konsentrasi kelas.

Nala, kamu mau masuk kelompok kami tidak? Satria Dirgantara berdiri dari kursinya di barisan tengah, melambaikan tangan ke arah Nala Anindita dengan percaya diri yang meluap-luap.

Nala yang sedang merapikan kotak pensilnya menoleh sebentar, lalu tersenyum sopan namun tampak ragu. Ia melirik ke arah Rara Kinanti, sahabatnya, seolah meminta pertimbangan. Sebelum Nala sempat menjawab ajakan Satria, Dimas tiba-tiba berdiri dan mengangkat tangannya tinggi-tinggi.

Maaf Satria, Nala sudah dipesan oleh kelompok kami. Rara juga sekalian saja masuk sini supaya genap empat orang. Benar kan, Ga? Dimas berkata dengan suara yang cukup keras hingga membuat seisi kelas menoleh.

Arga terbelalak. Ia menatap Dimas dengan pandangan tidak percaya. Jantungnya mulai berdegup kencang secara tidak teratur. Dimas benar-benar nekat. Sementara itu, Satria tampak sedikit kecewa namun segera mengalihkan perhatian ke siswi lain agar tidak terlihat kehilangan muka.

Nala dan Rara akhirnya berjalan mendekat ke barisan belakang. Bagi Arga, setiap langkah Nala mendekat terasa seperti detak jarum jam yang melambat. Wangi parfum Nala yang lembut, aroma yang asing namun entah kenapa terasa akrab di ingatan masa kecilnya, mulai memenuhi indra penciumannya.

Hai, Arga. Hai, Dimas. Jadi kita satu kelompok ya? sapa Nala dengan nada bicara yang sangat formal dan ramah, tipikal seorang teman baru yang tidak memiliki beban masa lalu sama sekali.

Dimas menyengir lebar sambil menarik kursi kosong untuk mereka berdua. Tentu saja. Biar adil, yang pintar bagi dua. Nala dan Arga kan jago teori, aku dan Rara bagian operasional saja, canda Dimas sambil mengedipkan mata ke arah Arga.

Rara duduk di sebelah Dimas, sementara Nala menarik kursi tepat di depan meja Arga. Kini, mereka hanya terpisahkan oleh selembar meja kayu yang penuh coretan tipis. Arga merasa telapak tangannya mulai berkeringat. Ia menundukkan kepala, pura-pura sangat tertarik dengan sampul buku biologinya.

Arga, kamu tidak keberatan kan kalau aku bergabung? tanya Nala pelan, memastikan karena Arga sejak tadi hanya diam membisu.

Arga mendongak, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya. Ia menatap mata Nala, mencari-cari sedikit saja kilatan memori di sana, namun yang ia temukan hanyalah keramahan yang datar.

Tidak apa-apa, Nala. Silakan saja, jawab Arga sesingkat mungkin agar suaranya tidak terdengar bergetar.

Tania yang duduk tidak jauh dari mereka memperhatikan interaksi itu dengan tatapan sayu. Ia mengalihkan pandangan kembali ke bukunya, menyadari bahwa ruang di sekitar Arga kini sudah terisi oleh orang yang sejak dulu memang menghuni hati cowok itu, meski orang tersebut sama sekali tidak menyadarinya.

Jadi, kita mulai dari mana? tanya Rara sambil mengeluarkan buku catatan. Kita harus mengamati struktur akar dan batang monokotil minggu depan.

Dimas langsung mengambil alih pembicaraan dengan gayanya yang meledak-ledak, sementara Nala mendengarkan dengan serius sambil sesekali mencatat poin penting. Arga lebih banyak menyimak, namun matanya tidak bisa berhenti memperhatikan cara Nala menyelipkan anak rambut ke belakang telinganya, sebuah kebiasaan kecil yang masih sama seperti delapan tahun lalu.

Arga, menurutmu lebih baik kita pakai tanaman jagung atau padi untuk sampelnya? Nala bertanya sambil menatap langsung ke arah Arga.

Pertanyaan itu sederhana, namun bagi Arga, rasanya seperti sedang diuji dalam sebuah sidang besar. Ia menelan ludah. Jagung saja. Strukturnya lebih besar dan jelas untuk diamati di bawah mikroskop sekolah yang lensanya sudah agak buram.

Nala mengangguk setuju, matanya berbinar kecil. Ide bagus. Aku setuju dengan Arga.

Melihat Nala yang tersenyum dan menyebut namanya dengan begitu santai membuat Arga merasakan perih yang aneh di dadanya. Di satu sisi, ia bahagia bisa berada sedekat ini dengan Nala. Di sisi lain, kenyataan bahwa ia harus memperkenalkan dirinya kembali dari nol sebagai orang asing adalah luka yang terus terbuka.

Dimas yang menyadari kecanggungan Arga hanya bisa geleng-geleng kepala. Ia tahu sahabatnya itu sedang berjuang keras untuk tetap bersikap normal. Pertemuan kelompok ini baru saja dimulai, namun bagi Arga, ini adalah ujian ketahanan mental yang paling berat selama ia bersekolah di SMA Mentari Bangsa.

Di sela-sela diskusi mereka, Satria sesekali melintas di dekat meja mereka hanya untuk sekadar menyapa Nala atau melontarkan candaan kecil. Persaingan yang tidak tertulis mulai terasa di udara kelas yang makin menghangat. Arga menyadari bahwa perjalanan ini tidak akan mudah. Ia tidak hanya melawan waktu dan ingatan Nala yang hilang, tapi juga melawan orang-orang baru yang berusaha masuk ke kehidupan gadis itu.

Saat bel istirahat berbunyi, Nala berdiri dan merapikan bukunya. Sampai bertemu nanti ya, Arga. Aku senang bisa sekelompok denganmu, ucapnya sebelum melangkah pergi bersama Rara.

Arga hanya terdiam menatap punggung Nala yang menjauh. Di sampingnya, Dimas menepuk bahu Arga cukup keras.

Bagaimana rasanya, kawan? Berada di satu orbit dengan matahari yang sudah lama kamu incar? tanya Dimas dengan nada menggoda.

Arga tidak menjawab. Ia hanya menatap meja kayu di depannya, membayangkan betapa jauhnya jarak antara mereka meski kini mereka duduk berhadapan. Masih kamu, batin Arga pelan, mengulangi kalimat yang selalu ia simpan rapat-rapat dalam hatinya selama bertahun-tahun. Namun pertanyaannya, sampai kapan ia sanggup menjadi orang asing bagi seseorang yang ia kenal seluruh dunianya?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!