NovelToon NovelToon
Raja Cahaya Yang Mencintai Ratu Kegelapan

Raja Cahaya Yang Mencintai Ratu Kegelapan

Status: sedang berlangsung
Genre:Iblis
Popularitas:761
Nilai: 5
Nama Author: leona athena

menceritakan seorang raja kehidupan yang tertarik dengan sang ratu kematian yang dia baca di sebuah buku legenda sang ratu kematian yang sangat cantik dan dingin

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon leona athena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 16 : dua pilihan dari hati yang terluka

Keheningan kembali menyelimuti seluruh ruangan luas itu. Tidak ada suara apa pun selain suara napas yang terdengar samar, dan tetesan air mata kristal yang sesekali jatuh ke lantai marmer hitam, menimbulkan bunyi yang lembut namun terdengar jelas di tengah kesunyian.

Elara masih menundukkan kepalanya, rambut hitamnya terurai menutupi sebagian wajahnya, menyembunyikan ekspresi yang penuh dengan perasaan yang campur aduk. Seluruh kata-kata yang diucapkan Xavier tadi terus berputar di dalam benaknya, terasa begitu nyata, begitu hangat, namun juga begitu asing baginya.

Ia tidak terbiasa dengan hal-hal seperti ini. Tidak pernah.

Sejak ia lahir ke dunia ini, ia sudah terbiasa dengan rasa ditinggalkan, rasa takut, dan rasa kesepian yang menyelimuti sepanjang hidupnya. Bahkan saat baru saja lahir, ia sudah ditinggalkan oleh keluarga kandungnya sendiri. Mereka takut padanya, karena ia membawa tanda kekuatan kematian yang dianggap sebagai kutukan. Rakyatnya pun menjauh, mengucilkannya, dan membiarkannya hidup sendirian di dalam kastil yang luas dan megah ini—tempat yang seharusnya menjadi tempat tinggal dan perlindungan, namun justru menjadi penjara baginya.

Kemudian, ketika ia tumbuh dewasa, ia pernah menemukan orang-orang yang ia harapkan bisa menjadi teman, menjadi keluarga, menjadi orang yang akan menemaninya melewati waktu yang panjang ini. Ia membuka hatinya, memberikan kepercayaan sepenuhnya, memberikan apa yang ia miliki, dan mencintai mereka dengan sepenuh jiwa. Tapi apa balasan yang ia dapatkan? Mereka juga meninggalkannya. Bahkan lebih buruk dari itu—mereka berbalik menyerangnya, hanya demi memenuhi keinginan dan keserakahan mereka sendiri.

Semua pengalaman itu terukir dalam ingatannya, menjadi bekas luka yang tidak pernah bisa sembuh. Selama ribuan tahun, ia hidup dengan pemikiran bahwa tidak ada orang yang benar-benar peduli padanya, tidak ada orang yang benar-benar mau bersamanya, dan tidak ada orang yang bisa dipercaya.

Karena itulah, saat dihadapkan pada perasaan dan perlakuan yang berbeda seperti yang diberikan Xavier, ia merasa sangat bingung, takut, dan tidak tahu bagaimana harus menyikapinya. Bagaimana ia bisa percaya, ketika semua yang ia alami seumur hidupnya justru membuktikan sebaliknya?

Setelah diam cukup lama, Elara perlahan mengangkat wajahnya. Air matanya sudah berhenti mengalir, meski bekasnya masih terlihat jelas di pipi putihnya. Tatapannya kembali tenang, meski masih terasa ada kesedihan yang tersembunyi di dalamnya.

Ia menatap lurus ke arah Xavier, dan akhirnya ia berbicara. Suaranya terdengar lembut, namun berat, seolah setiap kata yang diucapkannya membawa beban dari ribuan tahun perjalanan hidupnya.

"Aku tahu apa yang kau katakan... dan aku mengerti maksudmu..." ucapnya perlahan. "Tapi bagiku, semua ini terlalu baru, terlalu asing, dan terlalu sulit untuk aku terima begitu saja. Selama hidupku, tidak ada satu pun orang yang memperlakukanku seperti ini. Semua yang aku kenal hanyalah rasa takut, rasa benci, kesepian, dan pengkhianatan."

Elara berhenti sejenak, menarik napas panjang, seolah sedang mengumpulkan keberanian untuk melanjutkan ucapannya.

"Sejak aku lahir, aku sudah ditinggalkan. Keluargaku tidak mau memelukku, rakyatku tidak mau mendekatiku. Aku hidup sendirian di tempat ini, di antara tembok-tembok yang tinggi dan dingin ini. Lalu saat aku bertemu orang-orang yang aku kira akan mengubah semuanya... mereka juga pergi, mereka juga menyakiti aku, hanya karena apa yang aku miliki, bukan karena siapa aku sebenarnya."

Air matanya hampir menetes kembali, tapi ia menahannya dengan kuat.

"Itulah sebabnya aku tidak bisa langsung percaya padamu. Aku sudah terlalu sering kecewa, terlalu sering terluka, dan aku tidak sanggup merasakan hal itu lagi. Jika aku percaya padamu dan ternyata kau juga sama seperti mereka... aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku. Mungkin aku akan hancur sepenuhnya, dan tidak akan pernah bisa bangkit kembali."

Elara menatap Xavier dengan tatapan yang tegas namun juga penuh harapan yang tersembunyi.

"Karena itu, aku akan memberikan dua pilihan padamu. Pilihlah satu di antaranya, dan apa pun keputusanmu, aku akan menerimanya dengan lapang dada."

Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan jelas dan tegas.

"Pilihan yang pertama: Kau bisa pergi sekarang juga. Aku akan memastikan jalanmu aman, tidak ada satu pun penjaga atau makhluk di wilayah ini yang akan mengganggumu. Kau bisa kembali ke kerajaannya, ke duniamu sendiri, dan kita tidak akan pernah bertemu lagi. Kau bisa melupakan apa yang kau lihat dan kau dengar di sini, dan hidup dengan damai seperti sedia kala. Ini adalah jalan yang paling aman untukmu, dan juga untukku."

Elara berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang berubah, menjadi lebih berat dan penuh makna.

"Dan pilihan yang kedua..." ucapnya, dan suaranya bergetar sedikit karena emosi. "...jika kau menolak pilihan pertama, maka aku akan memberikan kesempatan padamu. Satu kesempatan saja. Hanya sekali. Kau bisa mencoba untuk mengetuk hati ini—hati yang sudah membeku selama ribuan tahun, hati yang sudah tertutup rapat dan sulit sekali untuk dibuka."

Ia menunjuk dadanya sendiri dengan ujung jarinya yang putih dan ramping.

"Tapi ingatlah, ini bukan hal yang mudah. Aku tidak akan menjadi orang yang mudah untuk didekati. Aku akan tetap bersikap dingin, tetap penuh kecurigaan, dan mungkin aku akan menyakitimu, baik dengan kata-kata maupun dengan perbuatanku. Aku tidak berjanji akan bisa percaya padamu, dan aku tidak berjanji akan bisa membuka hatiku sepenuhnya. Jika suatu saat kau merasa lelah, merasa kecewa, atau merasa sudah tidak sanggup lagi... maka kau bisa pergi kapan saja, dan aku tidak akan menahanmu sedikit pun."

Elara menatapnya dalam-dalam, dan ada harapan kecil yang samar terlihat di dalam matanya.

"Ini satu-satunya kesempatan yang akan aku berikan. Jika kau gagal, atau jika kau berubah pikiran di tengah jalan... maka kau tidak akan pernah mendapatkan kesempatan kedua. Dan aku akan mengusirmu dari sini, dan kita tidak akan pernah bertemu lagi sampai akhir waktu."

Ia berhenti berbicara, dan ruangan kembali hening. Semua mata tertuju pada Xavier, menunggu keputusan yang akan ia ambil.

Elara menunggu dengan perasaan yang campur aduk. Di satu sisi, ia berharap Xavier akan memilih untuk pergi, karena itu berarti ia tidak akan terluka lagi. Tapi di sisi lain, ada bagian dari dirinya yang sangat berharap agar Xavier memilih untuk tetap tinggal, agar ada orang yang mau berusaha untuknya, agar ia bisa merasakan apa itu dicintai dengan tulus.

Ia tidak tahu keputusan apa yang akan diambil. Tapi apa pun itu, ia sudah siap menerimanya.

 

Bersambung...

1
𝐀⃝🥀Weny
akhirnya diterima juga😊
𝐀⃝🥀Weny
pembukaan ceritanya sangat bagus dan bikin penasaran😊
leona: hihihihi/Hey/
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!