Apa jadinya jika Elena, seorang Letnan Militer jenius dari masa depan terjebak di tubuh Rania Belmont. Nona bangsawan lemah yang selalu di siksa oleh Selir Ayah nya?
Di dunia baru ini, Elena bukan hanya harus membalas dendam pada mereka yang menyiksanya, tapi juga memikul beban berat dari sebuah Sistem. Mencegah Kiamat.
Caranya? Dengan menjinakkan Aron Gild, Raja Tirani berdarah dingin yang kekuatannya bisa menghancurkan dunia jika suasana hatinya memburuk.
Bagi dunia, Aron adalah monster, tapi bagi Elena, Aron adalah bayi besar yang haus kasih Sayang.
"Dunia ini bisa hancur besok, aku tidak peduli, tapi jika kamu yang pergi, aku sendiri yang akan memastikan tidak ada satu pun manusia yang tersisa di bumi ini untuk meratapi kematianmu, kamu adalah rumahku, Rania, dan rumahku tidak boleh tergores sedikit pun," ucap Aron posesif.
"Sial! Kalau dia se manis ini, indikator kiamatnya memang turun, tapi jantungku yang malah mau meledak!" batin Rania, mengigit bibir bawah nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PENYESALAN
Ingin rasanya, Duke Victor mendobrak pintu itu, memeluk Rania, dan meminta maaf. Namun, rasa bersalah yang begitu besar membuatnya merasa tidak pantas.
Di dalam kamar, Rania berdiri memunggungi pintu dengan wajah datar, tidak ada satu pun air mata yang jatuh di pipinya, matanya tetap jernih dan tajam, sangat berbanding terbalik dengan suara pilu yang terus dia keluarkan.
"Sistem, apa dia masih di sana?" batin Rania dingin.
"Duke Victor masih berada di depan pintu."
"Target mengalami trauma emosional akibat penyesalan."
"Bagus, biarkan dia tenggelam dalam dosanya sendiri, luka Rania selama bertahun-tahun tidak bisa sembuh hanya dengan kata maaf," ucap Rania menyeringai tipis.
Rania kembali mengatur suaranya, kali ini terdengar lebih pasrah, seolah-olah dia sudah menyerah pada hidup.
"Selamat malam, Ibu... Semoga besok Rania tidak perlu bangun lagi, Rania ingin pulang ke tempat Ibu..."
Di luar pintu, bahu Duke Victor bergetar hebat, dia tidak sanggup lagi mendengarkan lebih jauh, setiap kata Rania adalah racun yang membunuh jiwanya perlahan.
Dengan langkah yang berat dan lunglai, Duke Victor berbalik. Dia berjalan menjauh dari kamar itu dengan kepala tertunduk dalam.
Langkah kakinya yang biasanya tegas kini terdengar tidak berdaya, dia tidak jadi menemui Rania, dia merasa tangannya yang penuh darah itu akan menodai Rania jika dia masuk sekarang.
"Maafkan Ayah, Rania... Maafkan Ayah yang buta ini," bisik Duke Victor pelan saat dia sudah berada jauh di ujung lorong, suaranya menghilang ditelan angin malam.
Tanpa Rania ataupun Duke Victor sadari, ada sosok pria yang mendengar semua nya.
"Dia menderita karena keluarga nya sendiri, dan sialnya aku salah satu sumber rasa sakit yang dia terima," batin Dante, terkekeh dengan mata memerah.
"Apa yang telah kulakukan?" bisik Dante lirih.
Suara isakan tertahan dari dalam kamar itu terasa lebih menyakitkan daripada luka tebas di medan perang.
Dante kembali teringat saat Rania masih kecil, anak itu pernah mencoba menarik ujung jubahnya, memanggilnya kakak dengan mata berbinar. Namun, Dante saat itu hanya menghempaskan tangan mungil itu dan membentaknya untuk tidak mendekat.
Dante melihat kepergian Ayah nya, ingin sekali dia mengejarnya, ingin memaki ayahnya karena telah mengabaikan Rania, namun dia sadar, dirinya tidak lebih baik dari ayahnya.
Dante melangkah mendekati pintu kamar Rania setelah memastikan ayahnya benar-benar hilang dari pandangan, dia mengangkat tangannya, ingin mengetuk, ingin masuk dan mengatakan bahwa dia tidak akan bahagia jika Rania pergi, dan dia ingin meminta maaf pada adik nya itu.
Namun, tangannya berhenti di udara.
“Mungkin benar... Rania memang sampah.”
Dante memejamkan mata erat, membiarkan setetes air mata jatuh, kata-kata Rania terus terngiang-ngiang di kepala nya.
"Bukan kamu yang sampah, Rania, tapi aku, Aku yang pengecut karena melimpahkan duka kehilangan Ibu padamu," batin Dante dengan sesak yang menghimpit dada.
Dengan perasaan hancur, Dante berbalik arah, pergi dari depan kamar Rania.
Setelah memastikan langkah kaki ayahnya benar-benar hilang, Rania menghentikan aktingnya, dia mengusap tenggorokannya yang sedikit kering dan berjalan kembali ke meja rias dengan langkah anggun.
"Misi Berhasil"
"Duke Victor dan Dante Belmont, dalam kondisi penyesalan."
"Hadiah, membaca isi hati telah diaktifkan."
"Bonus 200 Poin Energi."
"Dante?" tanya Rania, mengerutkan keningnya.
"Iya, Anda berhasil membuat Ayah dan Kakak Rania, tenggelam dalam penyesalan yang mendalam malam ini."
"Bagus lah aku tidak perlu repot-repot, lagi," gumam Rania, merasakan sensasi hangat mengalir ke kepalanya, seolah indra keenamnya baru saja terbuka lebar.
Rania duduk di depan cermin, menatap bayangannya sendiri dengan tatapan haus akan kekuasaan.
"Sekarang, aku bisa tahu apa yang dipikirkan ular-ular itu, dan apa yang sebenarnya direncanakan oleh kaisar gila itu di perjamuan nanti," gumam Rania, tersenyum miring.
"Ayah sudah berada di genggamanku, begitupun dengan Dante, sementara Viola sedang menderita, Diana sedang ketakutan, sepertinya bagus menyiram bensin ke api yang sedang berkobar," batin Rania tersenyum licik.
Rania berjalan ke arah ranjang nya, mengambil sebuah belati kecil yang dia sembunyikan di bawah bantal nya.
"Sebelum menghancurkan mereka di depan banyak orang, bagaimana kalau kita kasih sedikit hadiah untuk wanita ular itu," gumam Rania, menyeringai sambil memutar-mutar belatinya.
Rania berjalan keluar dari kamar nya, tujuan nya adalah paviliun mawar, lebih tepat nya kamar Diana.
Setiap langkahnya tidak bersuara, berkat skill yang baru saja dia dapatkan, dan belati di tangannya berkilat dingin.
Tiba di depan kamar Diana, Rania tidak mengetuk, dia langsung memutar gagang pintu dengan perlahan, beruntung, Diana sedang terlalu kalut hingga lupa mengunci pintu kamarnya.
Di dalam sana, Diana tampak sedang duduk di depan cermin, memijat keningnya sambil menggerutu tentang tamparan Duke Victor tadi.
"Sialan! Berani-beraninya dia memukulku hanya demi anak sialan itu," desis Diana dengan wajah penuh dendam.
"Anak sialan? Wah, kata-kata yang sangat kasar untuk seorang gundik," suara Rania memecah kesunyian.
"Rania?! Mau apa kamu ke sini?! Keluar!" teriak Diana dengan suara melengking.
Rania tidak keluar, justru dia melangkah masuk dan mengunci pintu dari dalam, dengan senyum di bibirnya yang terlihat sangat mengerikan, tipis namun tajam.
"Aku hanya ingin mengantarkan hadiah, Ibu tiri, bukankah tadi kamu sangat mengkhawatirkan Viola? Kenapa kamu tidak mengkhawatirkan diri mu sendiri saja?" tanya Rania sambil memainkan ujung belatinya.
"Apa maksudmu?! Pergi dari sini atau aku akan berteriak!" ancam Diana, meski tubuhnya kini bergetar hebat.
Diana teringat terakhir kali diri nya melihat sisi iblis Rania.
"Teriak lah, paviliun ini cukup jauh dari jangkauan penjaga malam ini, lagi pula, bukankah Ayah baru saja memarahi kalian? Jika kamu berteriak, Ayah hanya akan mengira kalian sedang membuat drama baru," ucap Rania tenang, melangkah maju, memojokkan Diana ke dinding.
HAP
Tangan kiri Rania mencengkeram rahang Diana dengan kuat, sementara tangan kanannya menempelkan bilah belati yang dingin tepat di pipi Diana yang tadi ditampar oleh Victor.
"Lepaskan... Rania, apa yang kamu lakukan?!" rintih Diana ketakutan.
"Sssttt... Diam lah," bisik Rania. Ia mengaktifkan Heart Reader.
"Bagaimana anak sialan ini bisa sekuat ini? Aku harus mencari cara untuk membunuhnya, sebelum semua rencana ku berantakan! Aku harus menghubungi kekasihku untuk membantuku!" batin Diana, geram.
Rania tertawa rendah, saat mendengar isi hati ibu tirinya, sebuah tawa yang sanggup membuat bulu kuduk siapa pun berdiri.
" Oh, jadi kamu ingin membunuhku? Dengan bantuan si pedagang kain pengangguran itu? Romantis sekali," ucap Rania, tersenyum miring.
"B-bagaimana kamu tahu?!" tanya Diana, membelalakkan matanya.
"Aku tahu segalanya, Diana, termasuk setiap koin yang kamu ambil untuk membelikan pria itu minuman keras," ucap Rania, mulai menggerakkan ujung belatinya, tidak sampai mengiris dalam, hanya memberikan goresan tipis yang memicu rasa perih luar biasa.
sehat selalu buat autor paling the best lah pokoknya 👏👏👏👏