Lily mati akibat kanker usus setelah hidupnya habis hanya untuk bekerja. Begitu membuka mata, ia telah menjadi Luvya Vounwad, gadis 12 tahun yang nantinya ditakdirkan menjadi antagonis tragis dalam novel yang pernah dibacanya. Ia bertekad mengubah alur agar tidak berakhir mati mengenaskan seperti nasib asli Luvya.
Namun, saat Luvya mulai bergerak mengubah nasibnya, Kael muncul sebagai anomali. Bukannya menjadi kakak angkat yang mewarisi gelar ayahnya, ia justru hadir sebagai Duke Grandwick yang berkuasa dan sangat terobsesi pada Luvya. Naskah yang ia tahu kini hancur total. Di tengah jalan cerita yang berantakan, bagaimanakah cara Luvya merubah segalanya demi mendapatkan kehidupan yang lebih baik?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rembulan Pagi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11. Bergabung ke Sekte
Malam itu, dengan tubuh yang masih sedikit lemas namun kesadaran yang tajam, Luvya mengikuti langkah kaki Matilda yang sangat ringan. Mereka tidak menuju ke arah ruangan Bapak yang mewah, melainkan berbelok ke arah sayap bangunan yang jarang dikunjungi saat malam hari.
Mereka melewati aula besar yang biasa digunakan untuk pertemuan informasi atau pengumuman kuil. Aula itu gelap dan dingin, menyisakan gema langkah kaki mereka yang teredam.
"Di sini?" bisik Luvya, merasa heran.
Matilda tidak menjawab. Ia menuntun Luvya ke bagian paling belakang aula, di mana terdapat sebuah pintu kayu kusam yang tampak rapuh. Di atasnya tertulis papan kecil yang hampir lepas: Ruang Penyimpanan.
Begitu Matilda membuka pintu itu, bau lembap yang pekat langsung menyergap indra penciuman Luvya. Aroma batuan basah, debu, dan lumut yang persis sama dengan yang ada di mimpinya.
Deg! Ini dia... batin Luvya bergejolak.
Luvya melangkah masuk dan terpaku. Ruangan itu penuh dengan tumpukan barang-barang yang tidak terpakai, meja-meja patah, kursi berdebu, dan gulungan karpet tua yang sudah berjamur. Namun, struktur dindingnya, sudut-sudut batunya, dan hawa dingin yang menusuk kulitnya, Luvya sangat mengenalnya.
Persis seperti di ingatanku, Luvya menyapukan pandangannya ke seluruh ruangan. Di dalam ingatannya, ruangan ini kosong melompong dan gelap, tapi sekarang ruangan ini penuh dengan barang rongsokan.
"Dulu ruangan ini kosong," gumam Luvya tanpa sadar.
Matilda menoleh dengan tatapan heran. "Kosong? Ruangan ini sudah jadi gudang sejak bertahun-tahun lalu, Luvya. Bagaimana kau bisa tahu?"
Luvya tersentak, segera menyadari kesalahannya. "Ah, maksudku... kelihatannya ruangan ini terlalu luas kalau hanya untuk menyimpan barang rusak," kilahnya cepat.
Luvya memperhatikan Matilda yang berjalan menuju sebuah kotak kayu besar di sudut ruangan. Dengan tenaga yang cukup kuat untuk gadis seukurannya, Matilda menggeser kotak itu hingga menimbulkan suara gesekan halus di atas lantai.
Di balik kotak itu, terlihat permukaan lantai kayu yang tampak sedikit berbeda. Matilda berlutut, jemarinya mencari celah di antara papan kayu tersebut, lalu dengan satu tarikan kuat, ia mengangkat sebuah pintu palka kayu yang tersembunyi.
Di baliknya, sebuah lubang gelap menganga, menampakkan tangga batu yang menurun tajam menuju kegelapan bawah tanah. Hawa dingin dan aroma lumut yang lebih pekat langsung berembus keluar dari sana.
"Pintu aslinya ada di sini," bisik Matilda sambil menatap Luvya. "Di bawah sana, Zargous menunggu kita. Di sana, kita bukan lagi domba yang menunggu disembelih, tapi serigala yang sedang mengasah taring."
Luvya menelan ludah, menatap tangga batu yang lembap itu. Inilah tempatnya. Pintu menuju jalan rahasia yang ditunjukkan oleh Luvya asli.
"Ayo, Luvya. Jangan biarkan ketakutanmu memenangkan permainan ini," ajak Matilda sambil mulai menuruni anak tangga satu per satu.
Luvya mengepalkan tangannya, memantapkan hati. Baiklah, Luvya asli. Aku sudah menemukan tempat yang kau tunjukkan. Mari kita lihat rahasia apa yang kau sembunyikan di bawah sana.
Mereka mulai menuruni satu demi satu anak tangga batu yang licin. Matilda berjalan di depan sambil membawa sebuah lentera kuno. Sesampainya di dasar tangga, Matilda membuka penutup kaca lenteranya. Di sana, di sepanjang dinding lorong yang gelap, terdapat wadah-wadah obor yang terpasang permanen.
Matilda mendekatkan api dari dalam lenteranya ke sumbu obor di dinding hingga api itu berpindah dan berkobar, menerangi kegelapan. Setelah obor di dinding menyala, ia menutup kembali kaca lenteranya, membuat pendar cahaya oranye dari lentera itu kembali stabil menyinari langkah mereka.
Mereka berjalan menyusuri lorong yang berliku-liku. Setiap beberapa meter, Matilda melakukan hal yang sama, menyalakan obor-obor di dinding lorong hingga jalan yang mereka lalui tidak lagi buta. Suara tetesan air yang jatuh dari langit-langit batu terdengar berirama, menggema di antara dinding yang kian menyempit.
"Jangan jauh-jauh dariku, Luvya," bisik Matilda tanpa menoleh.
Setelah berjalan cukup lama, lorong sempit itu akhirnya berakhir pada sebuah ruang terbuka yang sangat luas. Ruangan itu berbentuk bulat sempurna, seperti sebuah aula perempatan raksasa di bawah tanah. Luvya menahan napas saat menyadari ada empat lorong besar yang bercabang dari sana.
Lorong yang paling terang adalah lorong yang baru saja mereka lewati. Tiga lorong lainnya masih tampak gelap dan menyimpan aura yang mencekam.
Luvya melangkah ke tengah ruangan bulat itu. Di bawah kakinya, terdapat sebuah simbol besar yang diukir dengan sangat detail pada lantai batu—sebuah lingkaran sempurna dengan garis-garis aneh yang melingkar di dalamnya.
Tepat di titik pusat simbol itu, berdiri sebuah meja batu setinggi pinggang. Di atas meja tersebut, diletakkan sebuah tengkorak kepala naga yang ukurannya cukup besar. Rahangnya yang tajam tampak mengerikan di bawah cahaya lentera, seolah-olah naga itu sedang menyeringai pada siapa pun yang berani masuk ke sana.
Tengkorak naga? batin Luvya bergejolak. Ia teringat akan naga-naga di Wryen yang sering dibicarakan orang-orang.
"Selamat datang di jantung Zargous," ucap Matilda dengan nada bangga sekaligus hormat. Ia meletakkan lenteranya di samping meja batu itu. "Di perempatan ini, setiap lorong memiliki tujuan. Tapi hanya mereka yang sudah mengikat janji dengan Zargous yang boleh melangkah lebih jauh dari sini."
Luvya menatap tengkorak naga itu dengan perasaan campur aduk. Ia menyadari satu hal: di dalam novel, naga selalu dianggap sebagai simbol kekuatan kuno yang murni. Namun di sini, di bawah kaki sekte terlarang, naga justru dijadikan altar bagi dewa kegelapan.
"Kenapa ada tengkorak naga di sini, Matilda?" tanya Luvya pelan, tangannya ragu-ragu untuk menyentuh permukaan meja batu yang dingin itu.
Belum sempat Matilda menjawab, suara langkah kaki yang berat dan teratur mulai bergema dari lorong yang sama dengan yang mereka lewati. Luvya segera menarik diri ke balik bayangan, namun Matilda justru berdiri tegak, menyilangkan tangan di dada sebagai tanda hormat.
Dari kegelapan, muncul sekelompok pria berjubah hitam pekat dengan tudung yang menutupi wajah mereka. Luvya mengenali postur tubuh pria yang berjalan di barisan depan. Dia adalah sang Ketua bernama Desmond, sosok yang di dalam novel dikenal sebagai otak di balik kebangkitan sekte ini. Di sampingnya, berjalan seorang pria dengan tubuh tegap dan bekas luka di tangan yang terlihat saat ia memegang obor.
Edmun, batin Luvya bergejolak. Dan pria itu... Desmond.
Loh, mengapa secepat ini? Luvya menghitung dalam hati. Seharusnya menurut novel, ia baru akan bergabung dengan mereka tahun depan setelah setahun penuh disiksa di sini. Tapi sekarang ia sudah berdiri di jantung ritual mereka.
Luvya menyadari bahwa kehadirannya telah mempercepat banyak hal. Ia tidak lagi hanya menonton alur novel, ia sedang dipaksa menjadi bagian dari mesin penghancur itu lebih dini.
Desmond berhenti tepat di depan meja batu bertengkorak naga. Di belakangnya, dua orang pengikut sekte yang namanya bahkan tidak pernah disebutkan dalam novel, orang-orang yang dilupakan oleh sejarah tertulis, melangkah maju. Mereka masing-masing membawa nampan perak besar.
Luvya menahan napas, rasa mual kembali menyerang ulu hatinya saat melihat apa yang ada di atas nampan itu.
Tiga kepala domba jantan dengan darah yang masih menetes segar. Mata domba-domba itu terbuka lebar, mencerminkan kengerian sesaat sebelum nyawa mereka direnggut.
"Darah untuk sang penakluk," suara Desmond bergema berat di ruangan bulat itu, menciptakan gema yang membuat bulu kuduk Luvya meremang. "Dengan persembahan ini, Zargous akan membukakan jalan bagi kita untuk menghancurkan mereka yang menindas kita di bawah cahaya matahari yang palsu!"
Luvya menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana kepala-kepala domba itu diletakkan di sekeliling tengkorak naga. Darah segar mulai mengalir, membasahi ukiran simbol di lantai batu, membuatnya tampak seperti urat-urat merah yang mulai bernapas.
Di tengah keheningan yang mencekam setelah darah domba membasahi lantai, Matilda melangkah maju. Ia menarik bahu Luvya, membawa gadis kecil itu keluar dari bayangan menuju pendar cahaya obor yang kemerahan.
"Ketua," suara Matilda terdengar tenang namun penuh pengabdian. "Aku membawa jiwa baru yang telah melihat busuknya cahaya matahari. Dia adalah Luvya. Dia telah menerima racun demi menghindari sang predator, dan dia siap bersumpah di bawah kaki Zargous."
Seketika, puluhan pasang mata dari balik tudung hitam menoleh ke arahnya. Luvya merasakan tekanan udara di ruangan itu meningkat. Desmond, sang pemimpin, menatapnya dengan pandangan tajam. Di tempat ini, tidak ada yang peduli siapa ayahnya atau dari mana ia berasal. Bagi mereka, Luvya hanyalah satu lagi jiwa yang dikhianati oleh dunia atas.
"Luvya..." Desmond menyebut namanya dengan nada berat. "Di sini, nama belakangmu tidak ada artinya. Di hadapan Zargous, kita semua hanyalah alat untuk membawa perubahan yang adil. Kau diterima."
Edmun dan para pengikut lainnya mulai bergumam rendah, sebuah suara dengungan yang terdengar seperti persetujuan massal. Mereka tidak menanyakan silsilahnya, mereka hanya melihat seorang anak kecil yang sudah merasakan pahitnya dunia, sama seperti mereka.
Luvya menunduk, bukan karena takut, melainkan untuk menyembunyikan binar matanya yang terlalu tajam. Ia mengatur napasnya agar tetap terlihat seperti anak yang butuh perlindungan.
Terima saja aku sebagai bagian dari kalian, batin Luvya dengan senyum sinis yang tersembunyi. Jika aku bergabung lebih cepat, maka aku punya waktu lebih banyak untuk menguasai tempat ini dari dalam.
Luvya tahu, ia baru saja melangkah masuk ke dalam sarang iblis. Namun, ia tidak berniat menjadi tumbal. Ia akan memanfaatkan akses rahasia ini, kekuatan terlarang ini, dan setiap orang di ruangan ini sebagai jalannya menuju kebebasan.
Zargous, Desmond, Matilda... akan kugunakan kalian semua sebagai batu loncatan agar tidak ada lagi yang bisa mengurungku.