"Dasar anak Kunti!"
"Aku bukan anak Kunti! berhenti memanggilku anak Kunti! namaku Kalingga Arsana!"
Kalingga sering di panggil anak Kunti oleh teman temannya dan para warga di tempat dia tinggal, bukan tanpa alasan, itu karena dia lahir dari rahim seorang perempuan yang sudah di kubur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Draft
"Kakek Gatra itu masih leluhur Mbah Abidin, minta Mbah Abidin saja dan NYI Kalia kan istrinya" jawab Panca
"Iya juga, ayo kalau begitu, nanti setelah kita pulang dari kampung cadas kita langsung ke tempat Mbah Abidin" jawab Karna merangkul Panca.
"Aku tidak percaya, aku sekarang akur dengan seorang Karna" ungkap Panca
"Aku tahu aku dulu begitu jahat, bahkan aku sudah membuat banyak masalah bersama bapak, tapi sekarang aku sudah bertaubat setelah melihat air mata Aini, aku tidak tega dengan perempuan sabar itu" jawab Karna
"Kinanti juga sudah besar, kenapa belum kak Karna nikahkan?" tanya Panca
"Aku takut belum ada yang bisa menerima kebenaran tentang Kinanti, dia itu putri bapak dengan Almarhum mantan istriku dulu, aku takut kalau aku mengajukan lamaran untuk seseorang, orang itu akan menghina Kinanti" jawab Karna
Masa lalu Karna dan Karman begitu kelam, Karna pernah punya empat istri dan dua istrinya di gauli Karman tanpa sepengetahuan Karna, dan setelah Karna tau tentang itu, dia langsung menceraikan istri istrinya itu hingga hanya Aini yang tersisa, bahkan hasil dari kejadian itu mantan istrinya hamil dan melahirkan anak perempuan yang di akui Karna sebagai anaknya supaya nama Karman yang dulu begitu di hormati tidak rusak.
"Aku selalu merasa malu dengan kejadian di masa lalu" ungkap Karna
Setelah memastikan semua aman di sana, Karna dan Panca pergi ke kampung Sukun kembali untuk menemui Rumi dan mengajaknya ke kampung cadas untuk menemui Kaelan dan Kalingga.
"Aku juga lupa memberikan beberapa popok pada Kalingga untuk supaya dia nyaman saat malam hari, dan Kaelan tidak perlu terus terbangun untuk mengganti popoknya" ucap Rumi ketika mereka sudah berjalan menuju ke kampung cadas yang untungnya lebih dekat kalau dari kampung Sukun.
"Lihat Mbah, kami menemukan rambut kuyang itu" ucap Panca
"Masya Allah, dia ceroboh, apa dia tidak tahu kalau rambut itu bisa saja membunuhnya" ucap Rumi memegang rambut yang tercium bau darah di sana.
"Simpan rambutnya, jangan sampai dia melihatnya, biar nanti kita bicara di kampung cadas" ucap Rumi lagi
Satu jam mereka berjalan, mereka sudah sampai di kampung cadas, di depan pintu masuk kampung, mereka sudah di tanyai banyak pertanyaan dan Rumi mengatakan kalau dia ingin memberikan makanan untuk saudaranya Jamal dan istrinya, Panca juga sudah memberikan koin emas untuk ijin masuk pada penjaga jadi mereka diijinkan masuk meskipun penjaga itu masih menatap tidak suka ke arah mereka.
"Sepertinya karena kita sudah membantu Kaelan, warga di sini jadi membenci kita juga" ungkap Rumi
"Tidak apa apa Mbah, lagipula saya sudah bosan dengan tingkah Narno, dia so berkuasa sekali padahal masih ada Mbah Wisnu dan anaknya Tirta" ucap Panca
"Iya Mbah, Panca benar, kita juga tidak mengemis di kampung ini, justru mereka yang masih membutuhkan Mbah untuk bantuan melahirkan warga kampung di sini, mereka kan tidak percaya bidan" ucap Karna
"Itu Kaelan, dia mau ke mana ko buru buru" tunjuk Panca saat melihat Kaelan berlari mengejar seorang perempuan berambut panjang dengan sebuah keranjang di tangannya.
"Kaelan!" panggil Karna
"Ayah, mbak tunggu sebentar mbak, saya mau beli mangganya" ucap Kaelan
Karna segera mendekati anak angkatnya itu karena dia melihat sedikit pengaruh sesuatu yang mungkin berasal dari orang yang dia kejar, dan itu adalah sihir ilusi yang akan mempengaruhi orang yang dia incar, orang itu akan melihat seolah olah ada seseorang yang dia suka di dalam diri di pemilik sihir itu.
Puk.
"Istighfar" bisik Karna menepuk bahu Kaelan dan Kaelan segera mengusap wajahnya sambil beristigfar.
"Akang memanggil saya?" tanya perempuan itu menghampiri Kaelan.
"Itu... tadi saya mau membeli mangga yang mbak jual, untuk ibu saya" jawab Kaelan yang sepertinya tadi melihat Maryani berada di belakang perempuan itu.
"Silahkan, satunya lima ribu saja" jawabnya sambil tersenyum manis ke arah Kaelan tanpa merasa takut pada Karna, Panca dan Rumi yang sedang menatap serius padanya.
"Saya beli enam saja, buahnya besar besar, apa tadi ada yang mengikuti mbak?" tanya Kaelan
"Mengikuti? tidak ada sama sekali" jawabnya merasa yakin kalau dia berhasil menarik perhatian Kaelan.
"Ini uangnya dan bungkus mangganya" ucap Karna memberikan lima puluh ribu pada perempuan itu.
"Saya belum punya kembalian Mbah, saya masih baru dan ini penglaris" ucap perempuan itu
"Tidak apa, sisanya sedekah untuk janda Mbah Imron, hati hati dengan tanda merah di leher kamu itu" jawab Karna membuat mata perempuan itu terbelalak.
"Pergilah, kami ada perlu dengan lelaki ini Salbiah" ucap Rumi membuat perempuan yang ternyata Salbiah itu kesal.
"Terima kasih" ucapnya datar sambil meremas uang itu dan pergi dari sana.
"Ada apa yah, Mbah?" tanya Kaelan
"Kita pulang dulu ke rumah" jawab Karna menuntun Kaelan.
"Jelaskan kenapa kamu mengejar perempuan itu tadi?" tanya Panca
"Tadi Kaelan sedang menjemur pakaian Kalingga karena dia belum punya banyak baju, jadi meskipun siang Kaelan cuci supaya ada pakaian ganti untuk nanti malam, Kalingga cukup sering ngompol" jawab Kaelan
"Lalu penjual itu lewat dan Kaelan sekelebat melihat Maryani ada dalam diri perempuan itu, jadi Kaelan kejar, apa mungkin karena hari sudah masuk pukul tiga sore makanya Kaelan berhalusinasi, kandang Kaelan memang sering seperti ini kalau malam" jawab Kaelan lagi
"Pasti penyamar keberadaan Maryani itu berpengaruh pada Kaelan, kita harus segera mencari cara supaya Maryani bisa di lihat Kaelan juga, energi Malak terlalu besar untuk terus bergesekan dengan energi Kaelan juga para pasukan tanpa nama, jadi pasti energinya menguap dan berpengaruh pada Kaelan" ucap Panca
"Menguap, bukankah itu bagus, energi si Malak itu akan perlahan hilang dan Maryani bisa di lihat Kaelan" ucap Rumi
"Mbah Rumi benar, kalau terus bergesekan dengan energi putih yang cukup banyak energi hitam akan kalah" ucap Karna
"Astagfirullah, kenapa aku baru sadar, Kaelan kamu harus terus beristigfar dalam hati setiap kalian kamu merasa ada sesuatu yang berat di tengkuk kamu" ucap Panca
"Insya Allah Mbah, tapi kenapa kalian ke sini?" tanya Kaelan
"Kami mau melindungi Kalingga dari kuyang" jawab Karna
"Kuyang? Apa kematian perempuan yang ada di hutan itu juga karena ulah kuyang yah?" tanya Kaelan terkejut bahkan berjalan dengan cepat supaya cepat sampai rumahnya.
"Iya, dan perempuan yang tadi kamu kejar itu adalah kuyangnya, Salbiah" jawab Rumi
"Inalillahi, pantas saja tadi pasukan tanpa nama langsung waspada saat perempuan itu lewat di depan rumah" kaget Kaelan