NovelToon NovelToon
Sekolah Hantu

Sekolah Hantu

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Hantu / Sistem
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: I'ts Roomie

SMA Nusantara bukan sekadar tempat menuntut ilmu. Ia adalah mesin raksasa yang memangsa jiwa. Di balik kemegahan arsitekturnya, tersimpan eksperimen gelap "Proyek Nusantara" yang telah mengorbankan ribuan siswa sejak tahun 1985. Setiap detak lonceng adalah tanda maut dan setiap koridor adalah penjara bagi mereka yang tak pernah kembali ke rumah.

Arga, seorang remaja dengan kemampuan Indigo yang ekstrem, terpaksa memasuki neraka ini demi mencari kakaknya yang hilang. Berbekal tangan perak yang menjadi kunci sekaligus kutukannya, Arga bersama Lintang dan Rian harus mengungkap konspirasi berdarah Sang Kepala Sekolah, Bramantyo.

Di dunia di mana batas antara realitas dan alam Barzakh kian menipis, mampukah Arga mematahkan sumpah hitam pendiri sekolah sebelum fajar terakhir ditelan kegelapan abadi?

Since: 10-04-2026

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon I'ts Roomie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27: Lawanlah!

Gema harmonika Arga membelah udara yang pengap, menciptakan riak cahaya biru yang bertabrakan dengan gelombang suara hitam dari piano tulang milik Sang Arsitek. Namun, begitu melodi itu mengalun, suasana di Ruang Musik berubah drastis.

Cairan perak yang menggenangi lantai mulai bergejolak, dan dari sela-sela senar piano yang menjuntai. Aroma melati yang sangat kuat menyeruak, aroma yang begitu manis, namun membawa rasa perih yang mendalam. Seolah-olah bunga itu tumbuh dari air mata yang membeku.

"Jangan berhenti, Arga!" teriak Lintang. Ia bersandar di pintu masuk, mendekap Raka yang kembali menggigil.

Di sekeliling mereka, senar-senar piano yang menjuntai mulai bergerak sendiri seperti tentakel, mencoba melilit siapa pun yang berada di dekatnya.

Sang Konduktor bayangan di depan piano bergerak semakin liar. Tangan-tangannya yang panjang dan hitam menghantam tuts piano dengan kekuatan yang mampu meretakkan lantai marmer.

Setiap dentuman piano menghasilkan gelombang kejut yang membuat telinga Arga berdengung hebat. Namun, Arga tetap berdiri kokoh. Sisik perak di tubuhnya berpendar terang setiap kali aroma melati itu menguat.

"Kau pikir kasih sayang bisa mengalahkan struktur frekuensi yang kubangun selama puluhan tahun?" Suara Sang Arsitek menggema, kali ini terdengar lebih nyata, seolah ia berada tepat di belakang leher Arga.

"Aroma melati ini adalah residu kegagalan ibumu. Dia lebih memilih memeluk ingatannya tentang kalian daripada menjadi dewa di sini. Dan kau... kau akan berakhir sama!"

Tiba-tiba, salah satu senar piano melesat dan melilit pergelangan tangan Arga yang memegang harmonika. Arga mengerang kesakitan saat senar itu mulai menyedot energi perak dari nadinya. Warna indigo di matanya meredup sesaat.

"Arga!" Raka tiba-tiba bersuara, suaranya serak namun penuh kesadaran. "Gunakan... gunakan partiturnya... di bawah kaki piano!"

Arga melirik ke bawah. Di antara genangan cairan perak dan bayangan Sang Konduktor, terdapat lembaran kertas tua yang terendam namun tidak hancur. Itulah Partitur Nyanyian Kematian, atau bagi ibunya itu adalah Partitur Pembebasan.

Dengan sentakan kasar, Arga menggunakan cakar peraknya untuk memutuskan senar yang melilit tangannya. Ia menerjang maju, mengabaikan serangan gelombang suara yang menghantam dadanya hingga ia memuntahkan darah berwarna perak. Ia meraih partitur itu.

Begitu tangannya menyentuh kertas tersebut, sebuah penglihatan menghantamnya.

Ia melihat ibunya, Saraswati, duduk di kursi piano yang sama tiga puluh tahun yang lalu. Ia melihat bagaimana Sang Arsitek memaksa ibunya memainkan nada-nada yang akan mengunci jiwa para murid.

Namun, di antara nada-nada terkutuk itu, Saraswati menyisipkan satu kunci frekuensi rahasia, sebuah "cacat" yang sengaja ia ciptakan agar suatu saat nanti, seseorang dengan darah yang sama bisa menghancurkan mesin ini.

"Cacat itu adalah aku," bisik Arga.

Arga melompat ke atas piano raksasa itu, berdiri tepat di depan sang konduktor bayangan. Ia tidak lagi meniup harmonikanya. Ia meletakkan harmonika itu tepat di atas senar-senar piano utama, membiarkan getaran instrumen ayahnya menyatu dengan instrumen ibunya.

Ia mulai menyanyi. Bukan dengan kata-kata, melainkan dengan frekuensi Indigo yang murni, mengikuti notasi tersembunyi yang hanya bisa dilihat oleh mata mutannya pada partitur tersebut.

Aroma melati meledak, menutupi bau formalin dan logam. Cahaya putih keluar dari tubuh Arga, menyebar ke seluruh Ruang Musik. Senar-senar piano yang tadi menyerang kini lunglai dan rontok menjadi abu.

Sang Konduktor bayangan menjerit, tubuhnya mulai retak seolah-olah ia terbuat dari kaca hitam yang dipaksa bergetar pada frekuensi yang tidak sanggup ia tahan.

"TIDAK! KAU AKAN MENGHANCURKAN SEMUANYA!" raung Sang Arsitek.

"Aku tidak menghancurkan sekolah ini," Arga berkata dengan suara yang bergema seperti ribuan lonceng. "Aku membebaskannya."

Ledakan cahaya terakhir menyapu ruangan. Cairan perak di lantai menguap seketika. Ruang Musik yang tadinya megah kini tampak seperti apa adanya di dunia nyata, sebuah ruangan tua yang berdebu, penuh dengan alat musik yang sudah rusak dan dimakan rayap. Namun, di tengah ruangan, sosok Saraswati muncul kembali untuk terakhir kalinya.

Ia tidak lagi berada di Ruang Isolasi. Ia berdiri di samping Arga, tersenyum lembut. Tangannya yang transparan mengelus kepala Raka yang kini sudah bisa berdiri sendiri.

"Waktuku sudah habis, anak-anakku," bisik Saraswati. "Penyegelan frekuensi ini hanya sementara. Sang Arsitek akan menarik kembali kekuatannya di Sektor Bawah. Kalian harus segera pergi ke Aula Sekolah. Di sana, Gerbang Menuju Sisi Lain yang sebenarnya terbuka."

"Ibu..." Raka mencoba meraih tangan ibunya, namun tangannya hanya menembus udara yang berbau melati.

"Ibu akan selalu ada dalam setiap nada melodi yang kalian mainkan," Saraswati perlahan memudar menjadi kelopak-kelopak bunga melati yang terbang tertiup angin gaib.

"Arga... kau harus menjaga hatimu. Cairan perak itu... lawanlah dengan ingatanmu tentang rumah."

Keheningan kembali menyelimuti Ruang Musik. Sang Konduktor telah hilang, dan pintu perak tadi kini telah berubah menjadi pintu kayu biasa yang terbuka lebar.

Namun, Arga merasakan sesuatu yang berbeda. Meskipun mutasinya mereda, ia bisa merasakan bahwa ia telah menjadi "bagian" dari sistem Sektor 6. Ia bisa merasakan setiap pergerakan di koridor luar.

"Arga, lihat tanganmu," Lintang menunjuk dengan cemas.

Cairan perak tadi tidak lagi mengalir di bawah kulit; kini ia membentuk pola permanen yang menyerupai sirkuit piano di punggung tangan Arga. Arga telah berhasil memutus satu jalur energi Sang Arsitek, namun ia tahu bahwa ini baru awal dari Duel Gaib yang lebih besar.

"Kita harus ke Aula," ujar Arga tegas. "Sang Arsitek belum menyerah. Dia hanya sedang mengganti strateginya."

Saat mereka melangkah keluar dari Ruang Musik, aroma melati itu tetap mengikuti mereka, menjadi pelindung tipis di tengah kepungan asap hitam yang mulai kembali merayap dari langit-langit koridor. Arga menggenggam harmonika ayahnya yang kini telah berubah warna menjadi perak murni.

1
cintanya ningning
jadi tu jahat atau baik ya?
papi junkyung: yg mana ka?
total 1 replies
Xiao Juan
lanjutt lagi
rimaa~~~°
lanjut lagi thor
Cleo
masi harus berjuang lagi di pintu berikutnya wkwk, semangat arga💪
Cleo
lanjut lagi dong, up 2 tor sehari hehe, maap ngelunjak🤭🙏
papi junkyung
keren mom ceritanya
Sartika Monik
mana lagi lanjutannya,,duh padahal lagi penasaran banget bun haha🤭
cintanya ningning
lanjuttt
yeol
lagi dungg tor, tadi update di fb langsung ke sini haha
Fimela Angelia
duh masi gantung banget ni
Koo Eun Tak
next thor
Cleo
lanjut💪
Cleo
widih kata katanya bagus, resonansi indigo mutlak/Drool/
Fimela Angelia
cepetan update huhu/Sob//Sob/
Fimela Angelia
ini ya tangan perak yang dimaksud di blurb nya
Xiao Juan
lanjutinn author semangat kutunggu crazy up mu
Xiao Juan
fantasi banget hahaha keren keren tor🤭
Koo Eun Tak
lanjut lanjut
Cleo
gantung banget tor/Frown/
papi junkyung
mana lagi ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!