NovelToon NovelToon
Takdir Sang Penanda Langit

Takdir Sang Penanda Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Reinkarnasi / Balas Dendam
Popularitas:711
Nilai: 5
Nama Author: Leon Messi

Nama adalah hal yang sakral di dunia Haochun, Nama adalah berkah Dewa, nama adalah kekuatan. Manusia tanpa nama bukanlah siapa-siapa, semua manusia yang tak bernama hanyalah orang-orang buangan dan kriminal.

Karena hak pada Berkah dan Nama mereka dicabut.

Mereka akan dipanggil dengan sebutan apapun yang orang inginkan. Meskipun mereka bisa membuat nama sendiri, tetap saja itu tak memiliki makna apapun.

Nama lahir adalah kehormatan mutlak di dunia ini. Dan inilah kisah tentang anak Klan Bangsawan kelas satu. Dia memiliki Inti Spritual yang sangat buruk. Saking buruknya, bahkan tidak seorang pun sebelum dia di dunia Kultivasi yang memiliki Inti spritual seperti itu.

Sehingga dia dianggap sebagai aib keluarga. Berkah namanya miliknya dicabut layaknya hukuman bagi

penjahat keji.

Dimulailah kisah anak buangan yang membawa nasib baik dan buruk bersamaan.

Berjuang tanpa kekuatan Berkah Nama seperti yang dimiliki orang lain. Huang Kai yang berganti nama menjadi Feng Yan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leon Messi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13

Kota Pintu Angin

Feng Yan akhirnya sampai di pintu gerbang benteng kota, ia membaca tulisan besar di atas pintu gerbang itu KOTA PINTU ANGIN.

"Jadi nama kota ini Pintu Angin?" Ia bergumam sendirian.

"Aku sudah sering mendengar tentang kota ini sebelumnya, tapi tak sekecil yang kubayangkan. Kota ini cukup besar dan megah untuk dibilang sebagai kota kecil." Ia bergumam sambil terus melaju pelan dengan kudanya.

Ia kemudian melompat turun dari kuda saat melihat dua orang penjaga mendekat. Memberi hormat ia meminta izin memasuki kota.

"Salam tuan-tuan penjaga, aku Feng Yan berharap diizinkan memasuki kota".

Ia cukup risih saat kedua penjaga itu

Memperhatikannya dari ujung kepala hingga ke kaki, kemudian berbisik-bisik.

"Anak muda ini terlihat seperti seperti orang kaya tapi kenapa dia sendirian malam-malam begini."?

"Sudahlah kita izinkan saja dia masuk, lagi pula dia tidak mungkin berbahaya" balas temannya yang terlihat sudah lelah dan malas.

"Adik, kau boleh masuk asal jangan bertindak yang menimbulkan masalah."

Feng Yan mengangguk tanda mengerti. " Terima kasih tuan penjaga, kalau begitu saya permisi". Setelah memberi salam ia menuntun kudanya memasuki gerbang kemudian menunggangi kuda itu dengan pelan.

Semoga masih ada penjual dan pembeli kuda yang masih buka, kuda ini pasti laku cukup mahal." ia terus berjalan memasuki kota yang cukup padat dan ramai diterangi oleh banyak lampion.

Feng Yan terlihat mendekati pintu masuk sebuah penginapan, ini tempat ketiga yang ia datangi. Namun ia terlihat sangat kesal dan terus bersungut-sungut saat berjalan.

Ia berhasil menjual kuda yang ia ambil dari Huang Zhou, hanya saja harga yang ia dapatkan jauh dari harga pasaran. Yaah walaupun Itu mungkin menurut pandangannya sendiri.

"Dasar penjual penipu, masa dia hanya menghargai kudaku hanya 90 keping emas. Aku sering dengar orang-orang membeli kuda yang baik dengan harga setidaknya 200 keping emas. Seharusnya kuda itu di jual ke pedagang tak kurang dari 150 keping emas."

"Ah sudahlah, setidaknya malam ini aku ada tempat tinggal dan bisa makan!. Kuharap keping emas ini cukup untuk hidup beberapa waktu."

Begitu memasuki penginapan Feng

Yan langsung menuju meja penjaga penginapan. "Paman, kuharap masih ada kamar kosong disini? Tanyanya penuh harap.

Penjaga itu terdiam sejenak saat menatap pemuda yang terlihat seperti anak orang kaya itu. Namun pria yang tampaknya kepala pengelola segera berlari dari tangga menuju lantai dua mendekati Feng Yan.

"Hehehe, tuan muda selamat malam" Ucapnya sambil membungkukkan badan. "Di penginapan ini sayangnya hanya ada satu kamar yang tersisa, yaitu kamar kelas Raja. Untuk harganya Tiga keping emas" ia mengusap-usapkan kedua tangannya berharap anak muda yang dianggap kaya itu bersedia mengambil kamar tersebut.

"Tiga keping emas? Mahal sekali" pikir Feng Yan.

"Apa boleh buat, semua penginapan yang kudatangi sudah penuh." ia hanya

Bisa menghela napas berat.

"Siapkan saja kamar dan sekalian makan malam untukku paman pengelola!" Feng Yan tidak punya pilihan dari pada tidur di hutan sementara dia masih lemah.

Kepala pengelola itu segera menyuruh pelayan menyiapkan kamar dan makanan.

"Tuan muda sambil menunggu bagaimana jika tuan muda duduk sebentar mencicipi teh dan cemilan di penginapan kami. Tuan muda tidak perlu khawatir, ini hadiah penyambutan untuk tuan muda." ia mempersilahkan Feng Yan duduk di meja yang kasih kosong.

Setelah duduk Feng Yan baru menyadari kalau penginapan ini juga sebuah rumah makan di lantai bawahnya. Karena terburu-buru ia tidak memperhatikan sekitar.

Rumah makan ini masih saja ramai

Walau malam sudah cukup tinggi. Melihat hidangan diatas meja Feng Yan mengerti kalau mereka duduk-duduk tidak hanya untuk makanan. Mereka hanya bersantai untuk minum-minum.

"Tuan muda maaf menunggu, ini teh hijau dan cemilan penginapan kami" paman yang sebelumnya di anggap pengelola oleh Feng Yan ternyata adalah pemilik langsung penginapan ini.

Ia menuangkan teh pada cangkir dan menyerahkannya pada Feng Yan.

"Kakak lihatlah, bocah itu langsung di layani pemilik penginapan ini? Dia mungkin anak orang kaya". Bisik-bisik disalah satu meja disana.

"Terima kasih banyak paman, mohon maaf aku sebenarnya tidak ingin merepotkan paman."

Memiliki banyak pengalaman pemilik penginapan itu mengerti kalau tamu muda ini hanya ingin sendirian.

"Jika nanti tuan muda

Membutuhkan sesuatu silahkan memanggil pelayan" ucapnya sebelum pamit dan pergi dari sana.

Feng Yan yang sangat lapar dengan cepat menghabiskan cemilan diatas meja, dan tanpa sengaja ia melihat tiga orang duduk di meja sudut dibawah tangga. Dua orang pria berusia tiga dan empat puluh tahunan serta seorang gadis muda, menurut penilaian Feng Yan hanya sedikit lebih tua dari Xiao Xinxin.

Tiga orang itu sepertinya juga baru tiba di penginapan, mereka baru memesan makan malam.

"Sepertinya mereka bukan orang biasa," pikir Feng Yan. Dua orang pria itu sangat rapi dengan sanggul rambut. Sementara si gadis muda terlihat sangat cantik dan anggun dengan sanggul dan ada yang dibiarkan terurai.

Mereka juga menatap ke arah Feng Yan yang segera mengalihkan pandangan" Nona, teman kecil itu sangat

Menarik sekali." Ucap salah satu dari dua laki-laki itu.

"Memangnya apa yang menarik dari dia paman,? kulihat hanya seorang anak orang kaya."

"Ya, tadi kita juga dengar dia memesan kamar utama di penginapan ini. Sudah pasti anak orang kaya, Tapi kenapa dia sendirian ya?. Pria yang satu lagi bertanya-tanya.

"Itu tidak penting, teman kecil ini sudah berada di ranah pemurnian tubuh tahap akhir. Bahkan cenderung terlihat sudah pada puncaknya." Pria tadi kembali menjelaskan situasi Feng Yan dengan berbisik pelan pada dua rekannya.

Pria yang lain hanya melongo mendengar penjelasan temannya, sedangkan si gadis hanya diam menatap Feng Yan lekat-lekat.

"Apa paman yakin, tidak salahkah? Usianya mungkin hanya sebelas atau dua

Belas tahun. Anak-anak jenius biasanya baru membuka meridian pada usia itu." Si gadis tidak yakin dengan ucapan orang yang dia panggil paman itu

"Nona awalnya saya juga tidak yakin, tapi setelah memeriksa dua kali tidak ada alasan untuk tidak percaya."

Tiga orang itu terus melanjutkan obrolan sementara Feng Yan sudah berada di lantai atas setelah diberi tahu pelayan bahwa kamar dan makan malamnya sudah siap.

"Silahkan masuk tuan muda" pemilik penginapan ternyata sudah menunggu di depan pintu kamar. "

"Jika tuan muda membutuhkan sesuatu, tuan muda tinggal membunyikan bel di atas meja." Kemudian ia dan pelayan pamit meninggalkan tamu mudanya untuk beristirahat.

Hari sudah tengah malam namun mata Feng Yan tidak juga bisa terpejam.

Terlalu banyak hal yang terjadi pada bocah malang itu hari ini.

"Menurut pendekar misterius tadi siang aku sudah berada di ranah Pemurnian tubuh tahap akhir, apa itu mungkin?."

"Sebaiknya kuperiksa sendiri untuk memastikan," Feng Yang bangkit untuk duduk bersila dari pembaringan dengan telapak tangan saling tindih di depan pusar.

Dengan mata terpejam ia mengumpulkan energi spiritual dalam tubuh untuk dialirkan ke telapak tangan, perlahan energi berwarna merah keluar mengalir dan berkumpul membentuk sebuah bola energi sebesar kepalan tangan orang dewasa.

Feng Yan membuka kedua matanya namun tetap berkonsentrasi mengontrol energi kemerahan itu. "Dari fluktuasi energi ini sudah dipastikan kalau perkataan pria tadi benar adanya" batin

Feng Yan.

"Namun ini sangat aneh, kenapa energi spritualku hanya elemen api.

Bukankah seharusnya masing masing akar elemen akan keluar dan bola energi akan memiliki lima warna?".

Diliputi kebingungan ia menarik kembali energi spiritualnya ke dalam inti spiritual. Ia benar-benar tidak mengerti dengan keadaannya saat ini.

"Aku ingat saat melawan kadal buas tadi elemen yang muncul berwarna coklat, apa aku belum bisa mengontrol akar spritualku ya?"

"Sebaiknya ku pastikan dengan bermeditasi lagi" ia kembali bermeditasi dan menarik energi spiritual ke telapak tangan, namun kali ini justru energi berwarna Putih yang muncul.

"Elemen angin"

Ucapnya setelah melihat warna energi itu, dan tentu saja di tahap akhir.

Ahkk...

"Ini sungguh menyebalkan, aku tidak mengerti sama sekali." ia hanya bisa menggaruk kepala yang sebenarnya tidak gatal.

"Tapi aku merasa ada yang aneh dengan dantianku, saat itu aku ingin menjelaskan pada mereka. Namun tak ada yang mau mendengar penjelasanku. Inti spiritual berada di dalam dantian, dan dantianku ukurannya kira-kira sebesar jempol kaki."

"Sedangkan ukuran dantian yang seharusnya hanya sebesar jari kelingking. Kuharap kesialanku tidak bertambah, cukuplah Inti pecah lima ini." ucapnya lirih

ahhk,,,

Feng Yan benar-benar kehilangan semangat saat ini, ia merebahkan badan di atas pembaringan mencoba untuk beristirahat. Namun saat ia meletakkan tangannya di atas dada ia teringat akan

Cincin penyimpanan pemberian ibunya yang diwariskan melalui Yunshang.

Cincin penyimpanan adalah sebuah benda yang memiliki semacam dimensi ruang untuk menyimpan barang-barang berharga. Semakin luas dimensi di dalam cincin tentu semakin mahal juga harganya. Dan tidak semua orang bisa memiliki cincin penyimpanan, walau yang berukuran kecil sekalipun.

Ia segera mengeluarkan cincin itu dan memasukkan ke salah satu jari kiri, yang secara ajaib ukuran cincin itu segera menyesuaikan dengan jari Feng Yan.

"Kalau tidak salah aku harus meneteskan darah dan mengalirkan energi spritualku untuk membuka segel darah di cincin."

"Sial, aku tidak memiliki benda tajam untuk menggores jariku."

Berpikir sejenak, Feng Yan akhirnya menggigit jari telunjuk kanan.

"Adduuuh,,, duhhh sakit juga" ia sedikit meringis kemudian meneteskan darah ke cincin.

Segera ia berkonsentrasi mengalirkan energi ke cincin, namun hal tak terduga terjadi.

Wussss

Sebuah gelombang energi yang sangat besar keluar dari cincin hingga membangunkan hampir semua pendekar di penginapan maupun di gedung yang jaraknya tidak terlalu jauh dari sana.

Bahkan kepala bocah itu terdongak oleh tekanan energi besar itu.

"Sialllll, aku tidak menyangka akan seperti ini, pasti banyak orang yang merasakan tekanan energi dari cincin."

Ia menggerutu dan menyesal membuka segel saat itu, padahal sebelumnya dia memiliki kesempatan lebih banyak saat di perjalanan.

Ia segera berlari membuka pintu dan

Melihat hampir semua tamu keluar dari kamar, termasuk yang yang ada di kamar lantai bawah dekat ruang makan.

Ia menemukan tamu di sebelah kamarnya adalah dua lelaki yang bersama wanita muda tadi. Mereka berdua menatap Feng Yan dengan penasaran.

"Paman apa itu tadi?" dia bertanya dengan mengeraskan suara sambil mengucek kedua matanya.

Sementara orang yang ditanya malah menatapnya dengan marah "bocah ini sangat licik, jelas-jelas fluktuasi energi tadi berasal dari kamarnya."

"Sepertinya bocah ini seekor rubah yang sangat licik kakak, ia sengaja menjadikan kita kambing hitam." kedua orang itu berbisik-bisik dan akhirnya menutup pintu.

Tidak ada yang bisa mereka lakukan saat mata semua orang menatap mereka

Berdua. Tak akan ada yang percaya kalau fluktuasi energi tadi berasal dari kamar pemuda kecil itu.

"Bocah kurang ajar, akan kuberi dia

pelajaran sampai terkencing-kencing." pria yang lebih muda sangat geram dengan perbuatan Feng Yan.

Semua orang disana tahu kalau gelombang energi tadi adalah fluktuasi saat sebuah segel darah di lepaskan. Biasanya hanya barang-barang berharga dan benda pusaka yang di beri segel darah. Dan sekarang semua orang di penginapan akan menganggap merekalah yang membawa barang seperti itu.

"Sepertinya kita belum bisa pergi dari kota ini besok pagi, kita diskusikan dulu dengan nona."

"Lalu kak, apa yang akan kita lakukan pada bocah rubah itu? Aku sangat penasaran benda apa yang ia bawa. Terlebih lagi kita mendapat

Masalah karena dia." Si adik benar-benar mengutuk perbuatan Feng Yan.

"Sudahlah kita pikirkan saja besok bersama nona" selama ada di dalam kota ini tidak akan ada masalah.

Feng Yan menjadi sangat gelisah, ia lalu memindahkan sebuah meja untuk menghalangi pintu.

Tak akan ada yang berani macam-macam di kota, tapi jika ada orang kuat muncul segala sesuatu bisa sangat berbahaya.

"Apa yang harus kulakukan sekarang?" Ia terus berpikir hingga kemudian memutuskan untuk memeriksa terlebih dahulu isi cincin peninggalan dari ibunya.

Setelah mengalirkan energi spiritual ke cincin ia segera memejamkan mata melihat isi yang ada dalam ruang di dimensi cincin.

"Ini!"

Mata bocah itu terbelalak melihat semua yang ditinggalkan oleh ibunya. Andai bisa bersorak tentu saja ia sudah melakukannya sambil melompat-lompat.

Sementara itu di sebuah atap sebuah bangunan yang tinggi seseorang dengan pakain yang mewah menatap ke arah penginapan yang dihuni oleh Feng Yan.

"hmm, sebuah pelepasan energi yang besar, membuatku cukup penasaran benda apa gerangan yang di segel dengan darah itu. Tampaknya aku harus meningkatkan penjagaan kota, kejadian ini pasti akan menarik minat banyak orang".

Ternyata pria berpakaian mewah ini adalah Raja kota Pintu Angin.

1
Nanik S
Lanjutkan Tor .. walau sayang ada perjodohan
azizan zizan
alur yang membingungkan blok blak blok blak blok blak blok blak tak ada hujung pangkal tau2 cerita beralih ke padang dewa...lah 🤔🤔🤔 ini orang gila ka hapa yang buat novel Nih..
azizan zizan
ini cerita undur kembali kebelakang kah...pantasan like nol...
Nanik S
Kenapa mesti ada perjodohan masih kecil .. kadang cerita seperti ini amat membosankan
Nanik S
Lanjut terus Tor
Nanik S
Cukup menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!