Xu Natalia, wanita yang diam-diam mengangkat keluarga Li dari rakyat biasa menjadi bangsawan, justru dihina saat suaminya, Li Adrian, pulang dari perang membawa istri lain. Tanpa banyak kata, ia memilih bercerai dan pergi hanya dengan harga dirinya.
Tak ada yang tahu wanita yang mereka remehkan adalah putri kaisar dari negeri seberang sekaligus ahli pengobatan yang mampu mengubah takdir.
Bagaimanakah saat keluarga Li tahu identitas Natalia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Transaksi Selesai
”Baiklah, kita sepakat,” ucap Natalia dengan nada tenang, meski sorot matanya tetap tajam mengamati dua pria di hadapannya. Ia menyandarkan punggungnya sejenak, seolah memastikan bahwa keputusan itu memang sudah bulat.
A-Lin menghela napas lega, lalu dengan cepat merogoh kantong bajunya. Ia mengeluarkan sepuluh tael perak dan meletakkannya di atas meja dengan hati-hati, seakan itu adalah harta paling berharga yang ia miliki.
Di sampingnya, wajah Zhang Tian berkedut halus, jelas tidak terima dengan jumlah itu. Ia menatap perak tersebut dengan ekspresi tidak puas, namun tetap menahan diri.
Natalia tidak menunjukkan perubahan ekspresi. Ia justru dengan tenang mengeluarkan gulungan surat dari dalam lengan bajunya, lalu menyerahkannya ke arah A-Lin.
”Ini surat-surat kepemilikan kediaman itu,” ucapnya singkat. ”Mulai hari ini, semuanya resmi menjadi milik kalian.”
A-Lin menerima surat itu dengan kedua tangan, wajahnya penuh rasa terima kasih. ”Terima kasih banyak, Nona. Kami benar-benar tidak akan melupakan kebaikan hati Anda.”
Natalia hanya mengangguk kecil, lalu menatap mereka berdua bergantian. ”Kapan kalian akan menempati kediaman itu?” tanyanya lugas.
A-Lin melirik sekilas ke arah Zhang Tian, lalu kembali tersenyum canggung. ”Kami siap kapan saja, Nona. Semua tergantung pada Anda.”
Natalia menarik napas pelan sebelum menjawab. ”Kalau begitu, secepatnya aku akan meninggalkan kediaman itu. Kalian bisa segera menempatinya setelah aku pergi.”
Wulan yang berdiri di sampingnya tampak sedikit terkejut, namun tetap menunduk patuh. Sementara itu, A-Lin mengangguk berkali-kali, seolah tidak ingin melewatkan kesempatan emas tersebut.
Setelah urusan selesai, Natalia bangkit dari duduknya. ”Kalau begitu, kami permisi dulu,” ucapnya sopan, diikuti oleh Wulan yang segera bersiap mengikutinya keluar.
Tiba-tiba, Zhang Tian angkat bicara. ”Tunggu,” katanya, membuat langkah Natalia terhenti.
Natalia menoleh dengan alis sedikit terangkat. ”Ada lagi yang ingin dibicarakan?” tanyanya.
Zhang Tian tampak ragu sejenak, lalu berkata dengan nada jujur. ”Bagaimana kalau kita makan lebih dulu? Aku ... belum pernah makan di tempat seperti ini.”
A-Lin langsung menepuk dahinya pelan, jelas merasa ucapan itu terlalu polos. Namun, Natalia justru terdiam sejenak, memandang pemuda itu dengan ekspresi yang sulit ditebak.
Ia mengamati pakaian sederhana Zhang Tian, tingkah lakunya yang canggung, serta ucapan-ucapan anehnya sejak tadi. Dalam hatinya, muncul rasa iba yang perlahan mengalahkan kecurigaan.
”Baiklah,” jawab Natalia akhirnya dengan nada lembut. ”Kita makan sebentar.”
Wulan sedikit membelalakkan mata, namun tidak berkata apa-apa. Ia hanya mengikuti keputusan majikannya dengan patuh.
Sementara itu, wajah Zhang Tian langsung berbinar tanpa bisa disembunyikan. Berbeda dengan Natalia yang merasa kasihan, di dalam hati Zhang Tian justru dipenuhi rasa penasaran.
Sebagai seorang pangeran yang terbiasa dengan hidangan istana, tempat sederhana seperti ini adalah pengalaman baru baginya. Ia menatap sekeliling kedai teh dengan penuh minat.
*
*
Setelah transaksi selesai, Natalia akhirnya meninggalkan kedai teh bersama Wulan. Mereka naik ke kereta kuda sederhana yang sudah menunggu di depan, lalu perlahan menjauh dari keramaian kota.
Di dalam kereta, Wulan tak bisa menahan diri untuk tidak mengeluh. ”Nyonya, kediaman itu terlalu murah untuk dijual. Sepuluh tael perak bahkan tidak sebanding dengan halaman depannya saja,” gumamnya dengan wajah kesal.
Natalia hanya tersenyum tipis, matanya menatap keluar jendela. ”Aku tidak terlalu membutuhkan uang, Wulan. Yang penting, kita bisa segera keluar dari sana,” jawabnya tenang.
Wulan terdiam sejenak, lalu akhirnya mengangguk pelan. ”Kalau itu yang Nyonya inginkan, hamba akan mengikuti,” ucapnya lebih lembut.
Kereta kuda itu terus melaju menyusuri jalan yang mulai sepi. Pepohonan semakin rapat, dan suara roda kayu yang berderit menjadi satu-satunya bunyi yang terdengar di tengah suasana hutan.
Tiba-tiba, kereta terguncang keras. Natalia dan Wulan langsung terhuyung, hampir kehilangan keseimbangan.
”Apa yang terjadi?” tanya Wulan panik sambil membuka tirai dan menoleh ke depan.
Kusir menghentikan kudanya dengan tergesa. ”Nona, sepertinya roda kereta rusak,” jawabnya dengan nada cemas.
Natalia mengernyit, lalu membuka pintu dan turun dari kereta. Wulan segera menyusul di belakangnya.
Benar saja, salah satu roda kayu kereta itu tampak retak dan hampir lepas. Kusir itu menunduk dalam-dalam, wajahnya penuh rasa bersalah.
”Maafkan saya, Nona. Saya akan segera memperbaikinya,” ucapnya dengan suara gemetar.
Natalia mengangguk pelan. ”Tidak apa-apa. Perbaiki saja dengan tenang,” katanya tanpa menunjukkan kekesalan.
Karena tidak ada tempat berteduh, Natalia dan Wulan akhirnya berjalan menuju sebuah pohon besar di pinggir jalan hutan. Bayangannya cukup rindang untuk melindungi mereka dari terik matahari.
Wulan mengipas-ngipaskan tangannya dengan wajah kesal. ”Hari ini benar-benar sial. Panas sekali, ditambah kereta rusak seperti ini,” gerutunya pelan.
Natalia hanya duduk dengan tenang di bawah pohon, bersandar pada batangnya. ”Aku tidak apa-apa, Wulan. Jangan terlalu dipikirkan,” ucapnya lembut.
Wulan menatap majikannya, lalu menghela napas panjang. ”Nyonya tunggu di sini. Saya akan mengambilkan air. Cuacanya terlalu panas,” katanya.
Natalia mengangguk pelan. ”Pergilah. Hati-hati,” jawabnya singkat.
Wulan segera berjalan menjauh, meninggalkan Natalia sendirian di bawah pohon besar itu. Suasana hutan kembali sunyi, hanya terdengar suara dedaunan yang tertiup angin.
Natalia memejamkan mata sejenak, mencoba beristirahat. Namun baru beberapa saat Wulan pergi, tiba-tiba sebuah tangan muncul dari belakang.
Seseorang langsung membekap mulut Natalia dengan kuat. Mata Natalia membelalak kaget, tubuhnya meronta, namun tenaga orang itu jauh lebih besar.
”Mmm—” suara Natalia teredam di balik telapak tangan kasar itu.
Tanpa memberi kesempatan, sosok itu segera menyeretnya masuk lebih dalam ke arah hutan. Langkahnya cepat dan senyap, seolah sudah terbiasa melakukan hal seperti ini.
Tak lama kemudian, Wulan kembali dengan membawa air di tangannya. Namun langkahnya langsung terhenti begitu melihat tempat tadi kosong.
”Nyonya?” panggilnya bingung sambil menoleh ke kiri dan kanan.
Tidak ada jawaban.
Wajah Wulan langsung pucat. Air di tangannya jatuh ke tanah tanpa ia sadari.
”Nyonya! Nyonya Natalia!” teriaknya panik, suaranya menggema di antara pepohonan.
Ia berlari ke sana kemari, matanya mencari-cari sosok majikannya. Namun yang ia temukan hanya jejak samar di tanah.
*
”Lepaskan aku!” suara Natalia akhirnya pecah begitu tekanan di mulutnya mengendur. Napasnya memburu, dadanya naik turun saat ia berusaha mengumpulkan tenaga.
Tiba-tiba, orang itu benar-benar melepaskan tangannya. Natalia segera berbalik dengan cepat, refleks tubuhnya bersiap menyerang tanpa ragu sedikit pun.
Namun begitu wajah sosok itu terlihat jelas di hadapannya, gerakan Natalia langsung terhenti. Matanya membelalak lebar, penuh keterkejutan yang tak bisa disembunyikan.
”Ka—” suaranya tercekat di tenggorokan, seolah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
itu siapa punya hak
hadeh dasar ya kko manusia serakah