Krystal, reinkarnasi Naga Es yang melupakan 98 kehidupan lamanya, tumbuh menjadi putri terbuang Kekaisaran Aethermoor. Dibuang ke Istana Aquamarine sejak usia tiga tahun oleh ibu yang dimanipulasi sihir, ia ditemani Mira dan dilindungi Eros—Dewa Nafsu yang menjadikannya calon istrinya. Kecantikannya memikat, namun hatinya rapuh akibat trauma penolakan. Ia membangun Proyek LadyBug untuk menghancurkan Ratu Seraphina dari dalam, merekrut para jenius terbuang sebagai senjata rahasia. Ketika Eros menolaknya demi kesucian, egonya hancur; ia nekat memeluk Hyal hingga batuk darah, menyadari racun berkat sang kakaklah yang menyiksanya. Kini di tanah Herkimer, Krystal bangkit—lebih dingin, lebih licik, dan bertekad menggulingkan takhta dengan tangannya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noulmi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Krystal menghindari Eros sepanjang hari. Setiap kali melihat siluet pria itu di lorong, ia akan langsung berbalik arah dengan wajah memerah, masih terbayang-bayang betapa seksinya wujud dewa Eros malam tadi. Mira yang sudah tahu bahwa kedua sahabatnya itu sebenarnya saling menyukai hanya bisa menyeringai geli. Baginya, tingkah sepasang kekasih tersembunyi itu persis seperti anak kecil yang sedang bermain kejar-kejaran.
Sore harinya, saat Mira sedang sibuk di dapur lantai satu untuk menyiapkan makan malam, sebuah ketukan terdengar di pintu depan.
*Tok! Tok*!
Mira mengernyitkan dahi. Istana Aquamarine hampir tidak pernah menerima tamu, terutama setelah keributan besar di aula perjamuan tempo hari. Ia segera menghampiri pintu kayu besar itu dan mengintip waspada melalui lubang intai yang kecil. Di balik pintu, berdiri dua sosok misterius yang mengenakan jubah bertudung biru pekat yang menutupi seluruh wajah mereka.
"Siapa itu? Kenapa mencurigakan sekali?" gumam Mira lirih, bulu kuduknya meremang.
Tanpa membuang waktu, Mira segera memutar arah dan berlari cepat menaiki tangga menuju lantai dua. Ia langsung menghampiri Eros yang saat itu masih setia berdiri di depan kamar Krystal, mencoba membujuknya untuk keluar.
"Eros! Ada orang asing di depan pintu. Mereka memakai tudung dan terlihat sangat mencurigakan!" bisik Mira panik.
Mendengar hal itu, ekspresi santai Eros langsung lenyap. Dengan langkah tegap dan gagah, ia menuruni tangga menuju lantai dasar dan membuka pintu depan secara lebar. Mata tajam sang Dewa Nafsu langsung menyapu halaman depan. Indra dewanya tidak bisa dibohongi; ia tahu persis ada beberapa ksatria bayangan tingkat tinggi yang sedang bersembunyi, bersiap melakukan perlindungan.
Dua sosok bertudung di depan pintu perlahan menurunkan kain yang menutupi kepala mereka, menampilkan wajah yang sangat familier.
"Ada keperluan apa Anda datang ke istana terpencil ini, Yang Mulia?" tanya Eros dengan nada suara datar namun penuh penekanan yang berwibawa.
Rupanya, sosok di balik tudung itu adalah Felix, sang Putra Mahkota, yang datang bersama tunangannya, Putri Theresa dari Kekaisaran Suci. Wajah Felix tampak sangat pucat, dipenuhi gurat kelelahan dan kecemasan yang mendalam.
"Eros, tolong izinkan kami masuk. Kami tidak punya banyak waktu sebelum mata-mata Ratu menyadari kepergian kami," ucap Felix, suaranya parau dan sedikit gemetar.
Eros terdiam sejenak sebelum akhirnya menggeser tubuhnya, memberi jalan bagi Felix dan Theresa untuk masuk ke dalam ruang tamu lantai dasar. Kebisingan di lantai bawah rupanya memancing rasa penasaran Krystal. Gadis itu akhirnya keluar dari kamar dan mengintip dari balik pagar pembatas lantai dua, sebelum akhirnya melangkah turun dengan ekspresi dingin yang kembali terpasang.
"Kak Felix? Putri Theresa? Untuk apa kalian mengotori kaki kalian di istana terbuang ini?" sindir Krystal tajam, meski matanya menyiratkan rasa heran.
Felix menatap adiknya dengan pandangan mata yang dipenuhi penyesalan teramat dalam. Ia langsung berlutut di depan Krystal, membuat Krystal dan Mira tersentak kaget. Theresa ikut duduk di samping Felix, menggenggam tangan tunangannya untuk memberikan kekuatan.
"Krystal... maafkan aku. Maafkan kami semua," kata Felix, air matanya mulai menetes. "Aku baru saja kembali dari Kekaisaran Suci untuk menyelidiki sesuatu bersama Theresa dan para petinggi gereja suci. Kami menemukan kebenaran yang sangat mengerikan tentang apa yang terjadi di istana utama."
Felix menarik napas dalam-dalam, mencoba menstabilkan suaranya yang bergetar. "Ibumu... Ratu Seraphina, dia telah menggunakan sihir manipulasi pikiran tingkat terlarang. Dia menanamkan sihir itu pada Ayah dan semua orang yang semula menentangnya. Dia memanipulasi mereka agar menjadi sekutu setianya, memaksa Ayah untuk segera menyerahkan takhta sepenuhnya, dan mengubah sistem kekaisaran kita menjadi monarki Ratu Absolut."
Krystal membeku di tempatnya mendengar penuturan itu.
"Bukan hanya itu, Krystal," lanjut Felix, suaranya semakin tersendat oleh rasa bersalah yang menghimpit dada. "Alasan mengapa Ayah, Hyal, aku, dan semua orang di istana memperlakukanmu seperti sampah dan mengabaikanmu selama belasan tahun ini... itu karena Ratu juga menggunakan sihir manipulasi yang sama pada kami. Dia sengaja memutarbalikkan emosi kami untuk membuat semua orang membencimu tanpa alasan yang jelas. Dia ingin mengisolasimu, membuatmu menderita sendirian di istana dingin ini agar jiwa dan fisikmu melemah."
Ruangan itu seketika hening. Hanya terdengar suara deburan ombak dari luar jendela yang beradu dengan napas tertahan milik Mira. Krystal mengepalkan tangannya di balik gaun tidur, menyadari bahwa kebencian keluarganya selama ini ternyata didalangi oleh seutas sihir hitam yang keji dari wanita yang melahirkannya.
Di sudut ruangan, mata Eros berkilat merah berbahaya. Kebenaran ini menjelaskan mengapa Krystal yang merupakan reinkarnasi Naga Es murni bisa begitu mudah ditekan oleh berkat Astraia milik Hyal—karena sejak awal, Ratu Seraphina telah melemahkan pertahanan jiwa Krystal menggunakan sihir manipulasi secara berkala dari balik bayangan.
Eros melangkah maju dengan tenang, memecah keheningan yang mencekam setelah pengakuan Felix. Auranya sebagai seorang dewa tersamarkan dengan sempurna oleh wujud manusianya, namun ketegasan dalam suaranya tidak dapat dibantah.
"Kembalilah sekarang, Yang Mulia," ucap Eros, menatap Felix dan Theresa secara bergantian. "Akan sangat berbahaya jika Anda berdua berlama-lama di tempat ini. Mata-mata Ratu Seraphina bisa mencium pergerakan ksatria bayangan Anda kapan saja."
Felix mendongak, menatap putra bungsu Biov itu dengan dahi berkerut. Ia terkejut melihat betapa tenangnya Eros di saat rahasia terbesar kekaisaran baru saja terbongkar.
"Kembalilah ke Kekaisaran Suci," lanjut Eros dengan nada memerintah yang halus namun tak terbantahkan. "Buatlah alasan apa pun agar Yang Mulia berada di sana setidaknya selama tiga bulan ke depan. Jangan tunjukkan perubahan sikap apa pun di depan Ratu Seraphina sebelum Anda pergi. Aku yang akan memikirkan cara terbaik untuk menangani sihir manipulasi itu selama waktu tersebut."
Felix dan Theresa saling bertukar pandang. Di bawah tekanan sihir manipulasi Seraphina yang perlahan menggerogoti istana, perlindungan dari pihak gereja Kekaisaran Suci memang menjadi satu-satunya tempat teraman bagi mereka saat ini. Theresa mengangguk pelan pada Felix, mengisyaratkan bahwa rencana Eros adalah pilihan yang paling logis.
Mereka berdua pun bangkit berdiri, merapikan kembali tudung jubah biru mereka untuk bersiap melakukan teleportasi instan. Namun, tepat sebelum Felix mengaktifkan lingkaran sihir di bawah kaki mereka, Eros mengucapkan satu hal yang terdengar sangat aneh di telinga mereka.
"Lebih baik kau berperan menjadi Putra Mahkota yang sangat tergila-gila dengan tunangan Anda, Yang Mulia," ujar Eros, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum misterius yang dingin. "Buatlah sandiwara seolah-olah Anda akan memenggal siapa saja yang berani mengusik Putri Theresa, bahkan jika itu adalah perintah Ratu sendiri."
Felix tertegun, menatap Eros dengan pandangan bingung. Sebagai sesama pria, ia tahu Eros tidak sedang bercanda, melainkan sedang memberikan sebuah bidak catur politik yang sangat krusial. Dengan menunjukkan sifat protektif yang ekstrem dan 'buta' karena cinta di mata publik, Seraphina akan mengira bahwa Felix sepenuhnya berada di bawah kendali emosinya sendiri, bukan karena ia telah menyadari manipulasi sihir sang Ratu. Itu adalah topeng sempurna untuk mengulur waktu.
"Aku... aku mengerti," bisik Felix dengan tekad yang mendadak membakar matanya.
Wuuuush!
Lingkaran sihir di bawah kaki mereka bersinar terang sekilas, lalu sosok Felix dan Theresa lenyap tanpa bekas dari ruang tamu lantai dasar. Ksatria-ksatria bayangan yang bersembunyi di luar istana pun seketika bergerak mundur mengikuti tuannya.
Kini ruangan kembali sunyi. Krystal yang sejak tadi terdiam di anak tangga terbawah perlahan mengembuskan napas panjang. Amarah di dadanya meluruh, digantikan oleh kesadaran baru yang dingin tentang mengapa ibunya begitu membencinya.