NovelToon NovelToon
Nusantara Pysco

Nusantara Pysco

Status: tamat
Genre:Trauma masa lalu / Sci-Fi / Time Travel / Tamat
Popularitas:97
Nilai: 5
Nama Author: Mr. Rei

Reiki Shield Eistein hanyalah anak SMA biasa yang pindah ke desa terpencil bersama pamannya. Hidupnya membosankan—sekolah, teman, rutinitas—sampai badai datang dan listrik di seluruh desa padam dalam sekejap. Bukan karena petir. Tapi karena Reiki. Tanpa sadar, ia menyerap energi listrik seluruh desa, dan matanya bersinar biru untuk pertama kalinya.

Di tengah kekacauan itu, ia bertemu Hime Hafitis—gadis misterius dengan perangkat canggih yang tiba-tiba muncul di desa dan menyewanya sebagai pemandu lokal. Hime membayar mahal, tapi tidak pernah menjelaskan apa yang sebenarnya ia cari. Semakin lama mereka bersama, semakin jelas bahwa pertemuan mereka bukanlah kebetulan. Dan semakin kuat kekuatan Reiki bangkit, semakin banyak perhatian yang tertarik—termasuk organisasi psikis yang dipimpin oleh Hubble Telesta, seorang pemimpin yang masih dihantui trauma masa lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Rei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2 - Badai yang Tidak Biasa

# Bab 2 — Badai yang Tidak Biasa

**POV: Reiki**

---

Pagi itu langit cerah. Cerah sekali—tanpa awan, tanpa angin, tanpa tanda-tanda bahwa sesuatu yang aneh akan terjadi. Aku berdiri di depan balai desa seperti yang dijanjikan, dan Hime sudah menungguku dengan mantel kremnya yang khas. Hari kedua sebagai pemandu bayaran.

"Kau bawa bekal?" tanyanya tanpa basa-basi.

"Tidak."

"Kita akan keliling sampai sore. Makan nanti di perjalanan."

Aku mengangguk. Hime mulai berjalan tanpa menunggu jawabanku, dan aku mengikutinya seperti anak domba yang patuh. Ada sesuatu tentang caranya bergerak—terburu-buru tapi terukur, seperti seseorang yang tahu persis apa yang ia cari, meskipun ia tidak ingin memberitahumu apa itu.

Kami mulai dari pinggir desa. Hime mengeluarkan perangkatnya—sebuah kotak kecil berwarna perak dengan layar tipis di atasnya—dan mulai memindai area. Setiap beberapa langkah, ia berhenti, menekan tombol, mencatat sesuatu, lalu melanjutkan perjalanan. Aku hanya mengikuti, sesekali menjawab pertanyaan tentang nama tempat atau sejarah jalan setapak.

"Apa yang sebenarnya kau cari?" tanyaku setelah satu jam berjalan tanpa tujuan yang jelas.

Hime tidak menoleh. "Anomali."

"Anomali seperti apa?"

"Seperti sesuatu yang tidak seharusnya ada di tempat ini."

"Kedengarannya seperti harta karun."

Hime berhenti. Ia menatapku dengan ekspresi datar. "Bukan harta karun. Lebih seperti... lubang di kain. Sesuatu yang bocor dari tempat lain."

Aku mengerutkan dahi. "Bocor?"

"Kau tidak perlu mengerti." Ia melanjutkan perjalanan.

Aku mendengus pelan. *Orang ini benar-benar sulit diajak bicara.*

---

Siang hari, kami sampai di area persawahan di pinggir timur desa. Hime berhenti di dekat sebuah pohon beringin besar yang berdiri sendirian di tengah sawah. Ia menatap pohon itu lama, lalu mengeluarkan perangkatnya.

"Di sini ada sesuatu," gumamnya.

"Apa? Pohon?"

"Bukan pohonnya. Tanah di sekitarnya." Ia menunjuk ke area di bawah pohon. "Ada jejak energi di sini. Tua. Sangat tua."

Aku mendekat, mencoba melihat apa yang ia lihat. Tapi yang kulihat hanya tanah biasa, rumput liar, dan akar pohon yang menjalar. "Aku tidak melihat apa-apa."

"Kau tidak akan melihatnya dengan mata telanjang." Hime menekan beberapa tombol di perangkatnya. Layarnya berkedip, menampilkan grafik yang tidak bisa aku baca. "Ini menarik. Polanya mirip dengan..."

Ia berhenti. Wajahnya berubah.

"Mirip dengan apa?"

Hime menatapku. Untuk sesaat, ada sesuatu di matanya—keraguan, mungkin ketakutan. Lalu ia menggeleng. "Tidak penting. Ayo lanjut."

"Kau bilang itu menarik, lalu kau berhenti. Jelas itu penting."

"Reiki." Suaranya tegas. "Aku yang bayar kau untuk memandu, bukan untuk bertanya. Ingat itu."

Aku mengangkat kedua tangan. "Baik, baik. Terserah kau."

Tapi dalam hati\, aku mencatatnya. *Pohon beringin di sawah timur. Jejak energi tua. Pola yang familiar.* Mungkin nanti aku bisa mencari tahu sendiri.

---

Sore harinya, langit mulai berubah. Awan gelap berkumpul dari arah laut, bergerak lebih cepat dari yang seharusnya. Aku menatapnya dengan curiga.

"Sepertinya mau hujan," kataku.

Hime menoleh ke langit, lalu kembali ke perangkatnya. "Tidak. Tidak ada prediksi hujan hari ini."

"Lihat sendiri. Awan hitam di sana."

Hime mendongak lagi. Alisnya berkerut. Ia mengeluarkan perangkatnya dan menekan beberapa tombol. Layarnya berkedip merah.

"Ini... tidak mungkin."

"Apa?"

"Tidak ada sistem cuaca yang memprediksi ini. Awan ini muncul begitu saja." Ia menatap langit dengan ekspresi serius. "Ini bukan badai biasa."

Angin mulai bertiup lebih kencang. Daun-daun beterbangan. Aku merasakan sesuatu yang aneh di dadaku—seperti tekanan yang tumbuh perlahan. Aku mengabaikannya.

"Kita harus berteduh," kataku.

Hime menggeleng. "Tidak. Kita harus tetap di sini."

"Kau gila? Badai mau datang!"

"Aku perlu merekam ini." Ia sudah sibuk dengan perangkatnya, matanya tidak berkedip. "Ini yang aku cari. Anomali."

"Aku tidak peduli apa yang kau cari. Kalau petir menyambar, kita mati!"

Tapi Hime tidak mendengarkan. Ia terus menekan tombol, merekam data, sementara angin semakin kencang dan awan semakin gelap. Aku berdiri di sampingnya, merasa bodoh karena tidak pergi begitu saja.

Lalu aku merasakannya.

Sesuatu di dalam tubuhku. Seperti getaran listrik yang menjalar dari ujung jari ke dadaku. Aku menunduk, melihat tanganku—dan untuk sesaat, aku bersumpah melihat percikan kecil di ujung jariku.

*Apa ini?*

"Reiki?" Suara Hime terdengar jauh.

Aku ingin menjawab, tapi tubuhku tidak mau bergerak. Getaran itu semakin kuat, seperti ada sesuatu yang mencoba keluar dari dalam diriku. Aku merasa panas. Dan dingin. Pada saat yang sama.

"Reiki!" Hime mengguncang bahuku. Wajahnya—biasanya datar—kini penuh kekhawatiran. "Kau dengar aku?"

"Aku..." Suaraku serak. "Ada sesuatu yang salah."

---

Petir menyambar di kejauhan. Tapi bukan itu yang membuatku tersentak—melainkan apa yang terjadi setelahnya. Listrik di seluruh desa padam. Lampu-lampu di rumah-rumah penduduk mati satu per satu\, seperti domino yang jatuh. Dan aku bisa *merasakannya*. Aku bisa merasakan energi listrik yang mengalir di kabel-kabel bawah tanah\, yang padam\, yang mati.

Dan tubuhku—tubuhku ingin menyerapnya.

Aku tidak tahu bagaimana aku tahu itu. Tapi aku tahu. Seperti insting yang tidak pernah aku sadari sebelumnya.

"Reiki, tatap aku." Hime memegang wajahku, memaksaku menatap matanya. Matanya biru, tajam, dan penuh sesuatu yang tidak bisa aku artikan. "Katakan apa yang kau rasakan."

"Aku... aku ingin..." Aku mencari kata yang tepat. "Menyerap."

"Menyerap apa?"

"Listrik. Energi. Aku tidak tahu." Aku gemetar. "Ada sesuatu di dalam diriku yang ingin keluar."

Hime melepaskan wajahku. Ia mundur selangkah, menatapku dengan ekspresi yang tidak bisa kubaca. Lalu ia melihat ke arah tiang listrik di dekat kami—tiang beton yang menjulang dengan kabel melintang di atasnya.

"Ke sana," katanya.

"Apa?"

"Ke tiang listrik itu. Sekarang."

"Kau gila? Itu tiang listrik!"

"Kau bilang kau ingin menyerap. Mungkin itu jawabannya." Suaranya tenang, tapi ada nada mendesak di dalamnya. "Cepat. Sebelum badai ini benar-benar datang."

Aku menatap tiang listrik itu. Tingginya sekitar sepuluh meter, beton, dengan kabel-kabel yang menjuntai. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika aku menyentuhnya. Tapi tubuhku bergerak sendiri.

Aku berjalan mendekat. Setiap langkah terasa berat, seperti melawan arus. Getaran di dadaku semakin kuat. Tanganku terangkat—tanpa aku perintahkan—dan menyentuh permukaan beton tiang itu.

Saat kulitku menyentuh beton, dunia berhenti.

Lalu ledakan.

Bukan ledakan fisik\, tapi ledakan di dalam kepalaku. Ribuan suara\, ribuan gelombang\, ribuan aliran energi membanjiri pikiranku. Aku bisa merasakan listrik yang mengalir di kabel-kabel di seluruh desa. Aku bisa merasakan lampu-lampu yang padam\, perangkat-perangkat yang mati\, dan—anehnya—aku bisa merasakan *kehidupan*. Detak jantung orang-orang di rumah mereka. Napas hewan-hewan di kandang. Semua terhubung oleh energi yang sama.

Dan aku menyerapnya.

Perlahan. Seperti air yang meresap ke dalam tanah kering. Energi listrik mengalir dari tiang ke tanganku, ke lenganku, ke dadaku. Rasanya hangat. Menenangkan. Dan menakutkan.

"Reiki!" Suara Hime terdengar dari jauh. "Cukup! Lepaskan!"

Tapi aku tidak bisa. Tubuhku tidak mau melepaskan. Energi itu terus mengalir, semakin cepat, semakin deras. Aku merasa diriku berubah—rambutku berdiri, kulitku terasa panas, dan ada cahaya biru di sudut mataku.

"Reiki!"

Seseorang menarikku. Tubuhku terlepas dari tiang listrik, dan aku jatuh ke tanah. Napasku tersengal-sengal. Tubuhku gemetar. Dan ketika aku membuka mata, aku melihat Hime di atasku, wajahnya pucat.

"Kau gila," bisiknya. "Kau benar-benar gila."

Aku tidak bisa menjawab. Aku hanya berbaring di tanah, menatap langit yang gelap, merasakan energi asing yang kini mengalir di dalam diriku.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku\, aku merasa *hidup*.

---

Hime membantuku berdiri. Tanganku masih gemetar. Di sekeliling kami, desa gelap gulita. Tidak ada lampu, tidak ada suara televisi atau radio. Hanya suara angin dan gemuruh petir di kejauhan.

"Kau bisa berjalan?" tanya Hime.

Aku mengangguk, meskipun kakiku terasa seperti agar-agar.

"Kita harus pergi dari sini. Sebelum ada yang melihatmu."

"Lihat apa?" Suaraku serak.

Hime menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan. "Itu."

Ia mengeluarkan ponselnya, mengaktifkan kamera depan, dan menunjukkan layarnya padaku.

Aku melihat bayanganku sendiri. Rambutku—yang biasanya hitam—kini berdiri tegak seperti tersengat listrik. Dan mataku... mataku bersinar biru terang di tengah gelap.

Aku tersentak, mundur selangkah. "Apa... apa yang terjadi padaku?"

"Aku tidak tahu." Hime menyimpan ponselnya. "Tapi kita akan mencari tahu. Sekarang ikut aku."

Ia meraih tanganku dan menarikku berjalan. Tangannya hangat—kontras dengan tubuhku yang masih terasa dingin. Aku mengikutinya tanpa perlawanan, karena aku tidak tahu apa lagi yang bisa kulakukan.

---

Kami berjalan dalam diam. Hime membawaku melewati jalan-jalan belakang, menghindari rumah-rumah penduduk. Sesekali ia berhenti, mengeluarkan perangkatnya, memeriksa sesuatu, lalu melanjutkan perjalanan. Aku hanya mengikuti, pikiranku masih kacau.

*Cahaya biru. Rambut berdiri. Menyerap listrik.*

Apa aku sedang bermimpi? Atau ini nyata?

Kami sampai di sebuah gudang tua di pinggir desa—bangunan kayu yang sudah tidak terpakai, atapnya bocor di beberapa bagian. Hime membuka pintu dengan dorongan keras, lalu menuntunku masuk.

"Duduk," perintahnya.

Aku duduk di lantai kayu yang berdebu. Hime duduk di depanku, mengeluarkan perangkatnya, dan mulai memindai tubuhku. Layar perangkat itu menampilkan grafik-grafik yang tidak bisa aku baca—garis-garis berwarna yang naik turun seperti detak jantung.

"Kau psikis," katanya akhirnya.

"Apa?"

"Psikis. Manusia dengan kemampuan pikiran di atas normal." Ia menatapku serius. "Kau tidak tahu?"

Aku menggeleng. "Aku tidak tahu apa-apa. Aku pikir aku anak SMA biasa."

Hime menghela napas panjang. Ia menyimpan perangkatnya, lalu menatapku dengan tatapan yang—untuk pertama kalinya—tidak dingin. Ada kelelahan di sana. Dan sesuatu yang mirip dengan... iba?

"Kau tidak biasa, Reiki. Dan kau tidak akan pernah bisa hidup biasa setelah hari ini."

Aku menelan ludah. "Apa maksudmu?"

"Kemampuanmu baru saja bangkit. Dan dari apa yang kulihat, itu bukan kemampuan level rendah." Ia berhenti, seolah mempertimbangkan kata-katanya. "Kau bisa menyerap energi listrik. Mungkin lebih dari itu. Dan itu akan menarik perhatian."

"Perhatian siapa?"

Hime tidak menjawab. Ia hanya menatapku dengan tatapan yang membuatku merasa bahwa jawabannya adalah sesuatu yang tidak ingin kudengar.

---

Malam itu, aku tidak pulang ke rumah. Hime menyuruhku tinggal di gudang sampai kondisiku stabil. Aku duduk di sudut ruangan, memeluk lutut, menatap tanganku yang masih sesekali berkedip dengan percikan biru kecil.

*Psikis.*

Kata itu bergema di kepalaku. Aku pernah mendengarnya—dari film\, dari buku\, dari cerita-cerita aneh di internet. Tapi tidak pernah terbayang bahwa itu nyata. Bahwa *aku* adalah salah satunya.

Hime duduk di seberang ruangan, sibuk dengan perangkatnya. Sesekali ia menatapku, lalu kembali ke layarnya. Seperti sedang mengawasi sesuatu yang berbahaya.

"Hei," panggilku.

Ia mendongak.

"Kau tahu apa yang terjadi padaku, kan? Kau sudah tahu sejak awal."

Hime diam beberapa saat. Lalu ia berkata, "Aku curiga. Tapi tidak yakin."

"Curiga sejak kapan?"

"Sejak pertama kali aku melihatmu." Ia menatapku dengan tatapan yang tajam. "Ada sesuatu yang berbeda darimu, Reiki. Aura yang tidak biasa. Tapi aku pikir itu hanya imajinasiku."

"Dan sekarang?"

Hime tersenyum tipis. Senyum yang pahit. "Sekarang aku tahu itu bukan imajinasi."

Aku ingin bertanya lebih banyak. Tapi tubuhku tiba-tiba terasa sangat lelah. Energi yang kuserap tadi—atau mungkin proses penyerapannya—membuatku kehabisan tenaga. Mataku terasa berat.

"Istirahatlah," kata Hime. "Besok akan panjang."

Aku berbaring di lantai kayu yang keras, menggunakan tas sebagai bantal. Mataku terpejam. Tapi tidur tidak datang dengan mudah.

Pikiranku masih berputar pada apa yang terjadi hari ini. Pada cahaya biru di mataku. Pada energi yang mengalir di dalam diriku. Pada kata-kata Hime: *Kau tidak akan pernah bisa hidup biasa setelah hari ini.*

Dan untuk pertama kalinya, aku menyadari bahwa hidupku—yang dulu terasa membosankan dan monoton—mungkin tidak akan pernah sama lagi.

---

Aku terbangun beberapa jam kemudian. Gudang masih gelap. Hime duduk di sudut, perangkat peraknya menyala, memantulkan cahaya redup ke wajahnya. Ia sedang menekan tombol dengan cepat, seperti mengetik sesuatu yang panjang.

"Kau masih di sini?" tanyaku, suaraku serak.

Ia menatapku sekilas. "Kemana lagi aku mau pergi?"

"Pulang. Tidur di losmen."

"Tidak bisa. Aku harus memastikan kau tidak pingsan lagi."

Aku duduk, mengusap wajahku. Tubuhku masih terasa aneh—ringan, tapi juga penuh. Seperti ada sesuatu yang mengalir di bawah kulitku.

"Hei, Hime."

"Apa?"

"Apa yang terjadi padaku... apakah ini permanen?"

Hime meletakkan perangkatnya. Ia menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan. "Kemampuan psikis tidak hilang, Reiki. Mereka hanya tidur. Dan sekarang kemampuanmu sudah bangun."

"Jadi aku akan seperti ini selamanya?"

"Kau akan belajar mengendalikannya. Atau kau akan dikendalikan olehnya."

Aku menelan ludah. "Pilihan yang menyenangkan."

Hime tersenyum tipis. "Selamat datang di dunia psikis."

Aku menatap tanganku sendiri. Masih normal—tidak bercahaya, tidak ada percikan listrik. Tapi aku bisa merasakan sesuatu di dalam. Sesuatu yang sebelumnya tidak ada.

"Hei, Hime."

"Apa lagi?"

"Terima kasih."

Ia menatapku, sedikit terkejut. Lalu ia tersenyum—untuk pertama kalinya, senyum yang tulus. "Sama-sama."

Kami diam lagi. Tapi kali ini, keheningan terasa lebih hangat.

Di luar, badai mulai reda. Awan gelap perlahan bergerak pergi, meninggalkan langit yang bersih. Dan untuk pertama kalinya malam itu, aku melihat bintang.

---

Pagi harinya, aku bangun dengan perasaan yang berbeda. Tubuhku masih pegal, tapi pikiranku terasa lebih jernih. Aku bisa mendengar suara-suara dari luar—burung berkicau, ayam berkokok, dan suara mesin diesel yang menyala. Listrik mulai pulih.

Hime sudah bangun. Ia duduk di ambang pintu gudang, memegang secangkir kopi yang pasti ia beli dari suatu tempat.

"Selamat pagi," sapaku.

Ia menoleh. "Sudah bangun? Kupikir kau akan tidur sampai siang."

"Biasanya iya. Tapi hari ini berbeda."

"Karena kau baru tahu kalau kau bukan manusia biasa?"

Aku tersenyum getir. "Kedengarannya aneh kalau diucapkan."

"Memang aneh. Tapi kau akan terbiasa."

Aku duduk di sampingnya. Dari sini, aku bisa melihat desa yang mulai hidup kembali. Ibu-ibu menjemur pakaian. Anak-anak berlarian ke sekolah. Pedagang keliling mulai berteriak menjajakan dagangannya.

Kehidupan normal. Yang tidak akan pernah bisa kukembalikan.

"Hime."

"Hm?"

"Kenapa kau membantuku?"

Ia menyesap kopinya. "Karena kau butuh bantuan."

"Tapi kau tidak kenal aku. Aku bisa saja berbahaya."

"Kau tidak berbahaya."

"Kau tidak tahu itu."

Hime menatapku. Matanya—biru terang itu—menatapku dengan intensitas yang membuatku tidak nyaman. "Aku tahu," katanya. "Percayalah. Aku tahu."

Ada keyakinan dalam suaranya yang membuatku tidak bisa membantah.

"Sekarang," ia berdiri dan menepuk debu dari mantelnya, "kau harus pulang. Pamammu pasti khawatir."

"Aku akan bilang aku menginap di rumah teman."

"Bohong yang bagus. Tapi lain kali, beri tahu aku kalau kau mau berbohong. Biar aku bisa menyesuaikan."

Aku tertawa kecil. Untuk pertama kalinya dalam 24 jam terakhir, aku tertawa.

---

Aku berjalan pulang melewati sawah. Matahari pagi menyinari padi yang mulai menguning. Udara segar. Burung-burung beterbangan.

Dunia masih sama. Tapi aku tidak.

Aku berhenti di tengah jembatan kecil yang melintasi sungai. Aku menatap bayanganku di air. Masih wajah yang sama. Masih rambut yang sama. Tapi di dalam... ada sesuatu yang berubah.

Aku mengangkat tanganku, menghadapkan telapak tanganku ke atas. Aku berkonsentrasi, mencoba merasakan energi di sekitarku.

Dan aku merasakannya.

Getaran halus di udara. Aliran listrik di kabel-kabel bawah tanah. Bahkan energi panas dari matahari yang menyinari kulitku.

Semuanya terhubung. Dan aku bisa merasakannya.

Aku menurunkan tanganku. Napasku sedikit tersengal. Tapi ada perasaan aneh di dadaku—perasaan bahwa ini baru permulaan.

Di luar, badai masih bergemuruh. Tapi di dalam diriku, ada sesuatu yang baru saja lahir.

Sesuatu yang menunggu untuk dilepaskan.

---

**— Bersambung —**

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!