NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Ke Tubuh Wanita Bersuami Dua

Reinkarnasi Ke Tubuh Wanita Bersuami Dua

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Harem / Mengubah Takdir
Popularitas:24.2k
Nilai: 5
Nama Author: Sandri Ratuloly

Kecelakaan pesawat mengakhiri hidup Aruna Maheswari— perempuan independent yang menolak akan adanya cinta dan pernikahan di hidupnya. Namun, saat membuka mata, ia justru terbangun di tubuh Sekar Calista Pranawijaya, seorang istri yang dibenci… dan memiliki dua suami.

Sekar dikenal sebagai perempuan temperamental yang membuat rumah tangganya berubah menjadi neraka. Dua pria yang seharusnya menjadi pelindungnya justru menunggu saat ia pergi dari hidup mereka.

Namun kini, wanita yang sama memilih diam.

Tidak marah. Tidak menuntut. Tidak meminta cinta.
Perubahan itu membuat segalanya terasa salah.

Karena di rumah penuh kebencian itu, bukan cinta yang paling berbahaya— melainkan rahasia di balik kematian Sekar, dan fakta bahwa istri yang mereka benci… telah berganti jiwa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sandri Ratuloly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

1

*****

Langit di luar jendela pesawat tampak bersih, terlalu bersih untuk sebuah perjalanan yang terasa salah sejak awal.

Aruna Maheswari menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi kelas bisnis, menutup laptop tipis berwarna hitam yang sejak satu jam lalu tak benar-benar ia baca. Grafik dan angka di layar hanya berlalu seperti bayangan— tidak menempel di pikirannya. Padahal biasanya, angka adalah satu-satunya hal yang mampu membuatnya tenang.

Perjalanan ini seharusnya menjadi rutinitas.

Negara asing, rapat panjang, kesepakatan bisnis bernilai miliaran, lalu kembali ke kota asalnya dengan jadwal yang lebih padat dari sebelumnya. Hidup Aruna selalu seperti itu— tersusun rapi, dingin, dan bebas dari hal-hal yang menurutnya tidak perlu.

Cinta, misalnya.

Ia menoleh sekilas ke kursi kosong di sebelahnya. Pesawat belum penuh. Beberapa penumpang masih berlalu-lalang, menyimpan tas, bercakap ringan. Di barisan depan, sepasang suami-istri berbisik pelan. Sang istri tertawa kecil, menyandarkan kepala ke bahu pasangannya.

Aruna memalingkan wajah.

Ia tidak iri. Tidak pernah.

Baginya, ketergantungan emosional semacam itu hanyalah ilusi kenyamanan. Ia sudah terlalu sering melihat perempuan cerdas runtuh karena cinta, kehilangan arah karena memilih mempercayakan hidup pada orang lain.

Dan ia bersumpah tidak akan menjadi salah satunya.

Telepon genggamnya bergetar.

Nama “Dimas” muncul di layar— rekan bisnis sekaligus pria yang beberapa kali mencoba melampaui batas profesional. Aruna tidak mengangkatnya. Ia membalikkan layar ponsel, memasukkannya ke dalam tas.

Hubungan selalu rumit. Selalu berujung tuntutan.

Ia lebih suka kesepakatan hitam di atas putih.

“Selamat datang di penerbangan GA-317 menuju ke  negara Solmara. Kami harap perjalanan Anda menyenangkan.”

Suara pramugari terdengar lembut dan netral. Aruna membuka mata, menarik napas panjang. Ada rasa tidak nyaman yang sejak tadi menggelitik di dadanya, seperti firasat yang belum menemukan bentuk.

Ia tidak percaya firasat.

Kepercayaan adalah kemewahan bagi orang-orang yang hidupnya aman.

Pesawat mulai bergerak. Getaran halus terasa di bawah kakinya.

Aruna menutup mata.

Ia tidak tahu bahwa ini akan menjadi perjalanan terakhirnya sebagai Aruna Maheswari.

Tiga jam kemudian, langit berubah.

Awan yang semula putih bersih kini menggelap, menggumpal seperti luka yang menganga. Lampu sabuk pengaman menyala. Suara mesin terdengar sedikit berbeda—lebih berat.

Aruna membuka mata.

Beberapa penumpang mulai gelisah. Pramugari berjalan lebih cepat dari biasanya, senyum mereka masih terjaga, tetapi mata mereka tidak.

“Apakah ada turbulensi?” tanya seseorang dari kursi belakang.

“Mohon tetap duduk dan kenakan sabuk pengaman,” jawab pramugari.

Pesawat berguncang.

Tidak keras, tapi cukup untuk membuat gelas air di meja Aruna bergetar. Ia menggenggam sandaran tangan, rahangnya mengeras.

Ia pernah mengalami turbulensi. Ini bukan pertama kali.

Namun yang ini… berbeda.

Getaran berikutnya lebih kuat. Lampu kabin meredup sejenak. Teriakan kecil terdengar. Aruna berdiri refleks, lalu duduk kembali ketika pramugari memberi isyarat agar semua tetap di tempat. Jantungnya berdetak cepat, tetapi pikirannya tetap dingin.

Jika ada sesuatu yang terjadi, ia akan menghadapinya dengan rasional.

Begitulah cara ia hidup.

Getaran ketiga datang tanpa peringatan. Pesawat seperti ditarik paksa ke bawah. Suara logam berderit memenuhi kabin. Teriakan pecah di segala arah. Masker oksigen jatuh dari langit-langit.

Aruna menahan napas.

Wajah-wajah panik di sekelilingnya tampak seperti potongan gambar yang tidak nyata. Tangannya gemetar saat menarik masker dan menempelkannya ke wajah.

“Tenang! Tetap tenang!” suara kapten terdengar terputus-putus.

Pesawat miring tajam.

Aruna memejamkan mata.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa kehilangan kendali.

Dan untuk pertama kalinya, ia berpikir— singkat dan tanpa emosi—

‘Jika aku ma*ti sekarang, aku tidak akan menyesal. Tidak ada cinta yang tertinggal tidak ada janji yang belum ditepati dan tidak ada siapa pun yang akan benar-benar runtuh karenanya.’

Dentuman keras terdengar.

Dunia terbalik.

Dan gelap menelan segalanya.

*****

Mata lentik itu perlahan-lahan terbuka dengan kebingungan. Aruna, itu Aruna. Yang baru saja mengalami kecelakaan pesawat, masih mengingat rasa sakit pada tubuhnya saat terjatuh dan terhantam tajam ke bawah bumi.

"Kenapa aku masih hidup? " gumam pelan Aruna, ia mengedarkan tatapannya keseluruh ruangan dengan gerakan pelan. "Ini di rumah sakit atau..... "

Ia menghentikan ucapannya, firasatnya bergema bahwa ada yang aneh. Ia bangkit dari posisi berbaringnya, kaki melangkah pelan menuju jendela besar di samping kirinya, Aruna melihat sedikit cahaya matahari yang malu malu menunjukkan dirinya pada dunia.

Di kaca jendela, Aruna dapat melihat pantulan samar dirinya di sana. Ia sontak memegang rambut panjangnya dengan ekspresi kaget.

"Kenapa warna rambut ku silver bukannya hitam legam. Seingatku, aku tidak pernah sekalipun mewarnai rambutku dengan warna terang ini. " gumam Aruna sambil mengelus pelan rambut panjangnya.

Panjang?

"Kenapa bisa rambut ku jadi panjang? " Aruna memundurkan langkahnya kebelakang dengan keterkejutan bercampur kebingungan, ia masih menatap pantulan samar wajah dirinya di kaca jendela.

Suara decitan pintu yang terbuka terdengar, "nona, anda sudah sadar? " kepala pelayan pribadi muncul dari pintu, ia melangkah beberapa langkah dan berdiri di belakang tubuh Aruna dengan posisi tegap penuh segan.

Aruna tebak kisaran umurnya sekitar 40- an tahun, ada sedikit garis uban di rambut hitam panjangnya.

Aruna membalikkan tubuhnya, menatap sosok wanita baya itu dengan pandangan penuh selidik.

"Jangan lama-lama berdiri nona muda, anda baru saja sadar dari koma. " kepala pelayan hendak melangkah dekat pada Aruna, berniat untuk menuntun nona mudanya itu untuk kembali berbaring di atas ranjang.

"Ambilkan cermin untukku. " pinta Aruna tiba-tiba mengagetkan kepala pelayan tersebut, tak mengindahkan perintah Aruna. Ia hendak kembali melangkah maju mendekati Aruna.

"Cepat!!!" perintah Aruna sekali lagi dengan penuh penekanan mutlak tak ingin di bantah, membuat kepala pelayan gemetar ketakutan dan dengan cepat mencari cermin dan langsung diberikannya pada Aruna.

Aruna melihat ke cermin. Wajah cantik, rambut panjang berwarna silver sedikit kecoklatan serta mata berwarna ice gray yang begitu memukau siapa saja yang melihatnya.

"Apa rambut dan mataku ini asli? " tanya Aruna dingin, mengelus pelan rambut panjangnya dengan sedikit perasaan kebingungan.

"Ten-tu saja, No-na. Itu merupakan simbol keturunan keluarga Pranawijaya. " jawab kepala pelayan dengan kepala tertunduk takut.

Aruna mengalihkan tatapannya pada kepala pelayan, "nama mu siapa?"

Kepala pelayan mengangkat sedikit kepalanya dan langsung bertemu tatap dengan mata tajam Aruna dan sontak kembali ia menundukkan kepala. "Na-ma saya Ratna, Nona. " balas kepala pelayan dengan terbata-bata.

"Ini di rumah sakit? " tanya Aruna kembali yang langsung di balas anggukan cepat dari kepala pelayan. "Aku ingin pulang." tutur Aruna pelan namun dengan nada perintah tak ingin di sela.

"B-baik, Nona. Saya panggilkan dokter terlebih dahulu untuk memeriksa kembali kondisi anda. " kepala pelayan itu dengan cepat berlari keluar dari ruangan.

"Keluarga Pranawijaya? Tidak asing, aku seperti pernah mendengar nama keluarga ini. Keluarga yang menguasai perekonomian di negara Lumatera dan sangat berpengaruh di lingkaran elit nasional..... " Aruna bergumam pelan. "Hendra Pranawijaya, seorang pengusaha sukses di wilayah Lumatera dan seorang duda ditinggal mati mendiang istrinya selama lima belas tahun yang lalu dan memiliki satu anak perempuan bernama Sekar Calista Pranawijaya. " Aruna seketika tersadar.

"Sial!! " Aruna mendengus kesal, ia mendudukkan dirinya di atas ranjang rumah sakit sambil menatap wajahnya di pantulan cermin. "Anak manja dan bodo. " Aruna meninju cermin kaca tersebut sebagai pelampiasan kekesalannya.

Darah segar mengalir dari jari jari tangannya yang tadi meninju cermin kaca, pandangannya ia angkat pada langit-langit ruangan rumah sakit. Ia memasuki tubuh wanita lain? Ke tubuh Sekar Calista Pranawijaya? Si wanita terkenal memiliki tempramental jelek, dan yang lebih buruknya lagi....

“Astaga, Nona!”

Suara panik itu datang bersamaan dengan pintu yang kembali terbuka lebar. Kepala pelayan tadi berlari masuk dengan wajah pucat, diikuti seorang perawat yang terkejut melihat kondisi di dalam ruangan.

“Nona Sekar! Tangan Anda—” suara kepala pelayan bergetar. Ia segera mendekat, meraih tangan Aruna dengan hati-hati, jelas menahan kepanikan agar tidak terlihat berlebihan.

Aruna menurunkan pandangannya. Darah memang menetes dari sela-sela jarinya, namun rasa perih itu justru membuat kepalanya semakin jernih. Ini nyata. Terlalu nyata untuk sekadar mimpi.

“Tenang,” ucap Aruna dingin, nadanya jauh berbeda dari kepanikan orang-orang di sekitarnya. “Ini hanya luka kecil.”

Namun kepala pelayan itu jelas tak berani membantah. “Perawat, tolong bersihkan lukanya. Cepat.”

Perawat itu mengangguk sigap dan mulai membersihkan pecahan kaca di sekitar ranjang, lalu membalut tangan Aruna dengan cekatan. Selama proses itu, Aruna hanya diam, pikirannya berputar cepat.

Sekar Calista Pranawijaya.

Putri tunggal Hendra Pranawijaya. Pewaris tunggal kerajaan bisnis keluarga. Cantik, manja, tempramental, terkenal karena skandal dan sikap kasarnya pada pelayan. Sosok yang dalam ingatan Aruna… berakhir dengan reputasi buruk.

“Jadi aku masuk ke tubuh wanita ini,” gumam Aruna nyaris tak terdengar. Sudut bibirnya terangkat miring, antara geli dan jengkel. “Hebat. Dari semua orang yang mungkin…”

“Nona?” Kepala pelayan menatapnya cemas. “Apakah kepala Anda masih terasa pusing? Dokter sebentar lagi akan datang.”

Aruna menggeleng pelan. Ia mengangkat wajahnya, sorot matanya kini jauh lebih tajam dan dingin dibanding Sekar yang dulu dikenal semua orang.

“Aku ingin pulang setelah ini,” ucapnya tegas.

Kepala pelayan langsung menunduk. “Baik, Nona."

Aruna menyandarkan tubuhnya kembali ke ranjang, menatap langit-langit putih dengan napas yang kini lebih teratur.

Jika ia benar-benar telah menjadi Sekar Calista Pranawijaya…

maka hidup keluarga Pranawijaya—dan semua orang yang pernah meremehkan wanita itu—akan berubah sepenuhnya.

******

1
Fatimah Ima
ceritanya bagus kak aku suka
CaH KangKung,
hukum Arkan ma damar....jgn biarkan mereka cepet ktemu ma Calista,biar mereka yg ngerasain ngidam...pokoknya jgn lngsung ketemu dan d maafin....
Muft Smoker
kelimpungan kn anda berdua ,, biarin aj dlu mereka gx bertemu calista ,, biar tau rasa ,,
😒😒😒😒


lanjuut kak ,,
Nurhayati Nurhayati
pas tau hamil Aruna nya, keguguran biar pada nyesel
Muft Smoker
sad ending gpp kak ,, buat suami calista merasa bersalah ,,
sad tu bukan berarti calista meninggal ,, buat dy menghilang aj ,,
Aruna di tubuh calista
kucing kawai
buat arkan dan damar menyesal thor 🤧
kucing kawai: thorrr apdet yang banyak donggg thorrr
total 1 replies
Susilowati Jais
nasibnya Aruna, g pernah buka hati sekalinya buka hati lngsung hncur. Up lg thor...
Muft Smoker
waaaah ad apa niih sama damar???
apa kah arkana juga terlibat???

krn waktu damar kerjaa di kmr mereka arkana pun melihat apa yg di kerjakan damar ,,
ad sesuatu niih ,,
aaaaa kak author jgn di gantung dooonk ,, 🤭🤭🤭🤭🤭🤭
E H Mukti
Lanjut thorrr🥰👌
Muft Smoker
dtggu kelanjutan ny kak,,
makin seruuu niiih ,,
ad rahasia yg Blum terungkap niii ,, ap yg lgi di kerjakan damar😁😁😁🤭🤭🤭🤭
Muft Smoker
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 dasar bayiii gedeee ,,
Muft Smoker
lanjuuuut kak
Muft Smoker
waah apa niiih yg lgi di lakuin damar ,, 😒😒😒😒
Muft Smoker
next kak ,,

terkadang kesalahan org tua justru ank yg jd pelampiasan ,,
semangat trus arkana ,,
bukti ny skrang km sukses ,,
Muft Smoker
duuh damar lgi ngerencanain ap niich🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭 ,,
jgn yg aneh2 yx damar ,, 👍👍👍
Titah Ibrahim
semangat thor 💪
Muft Smoker
mantap arkana ,, biar tau rasa tu mokondo Atharva 😒😒😒😒😒 ,,

next kak
Muft Smoker
waaaah Elina hany tinggal nama ,, 🤭🤭🤭
Muft Smoker: yx kak bnr ,, cerita ny seruuu ,,
dtggu kelanjutan ny yx kak
total 2 replies
Muft Smoker
dtggu kelanjutan ny yx kak ,,
waaaah Atharva km slah org ,,
dy buukan. sekar yg cengeng dn manjaaa ,,
dy arunaaa si ratu bisnis ,,
jgn maen maen ,, jgn maen maen ,, 🤭🤭🤭
Muft Smoker
kak ni revisi yx???
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!