Andra dan Diana sudah menikah selama lima tahun. Namun selama itu pula Diana memilih untuk menunda kehamilannya. Dengan alasan jika saat ini sedang berada di puncak karir yang selama ini dia impikan.
Selain karena tekanan dari kedua orang tua Andra yang ingin segera punya cucu. Dalam hati kecilnya, Andra juga ingin segera punya anak. Hingga akhirnya dia bertemu sahabat lamanya bernama Nadhira.
Entah ada pikiran dari mana hingga tiba-tiba Andra meminta Nadhira hamil anaknya. Jelas Nadhira menolak apalagi Andra sudah menikah.
Apakah rencana Andra aka berhasil untuk mendapatkan anak dari keturunannya sendiri. Apakah Nadhira akhirnya akan setuju? Lalu bagaimana dengan Diana dan keluarga Andra?
Konflik apa lagi yang akan terjadi setelah ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahim Untuk Sahabat 4
"Pak Andra?" kaget Dhira saat melihat Ardhan berdiri di depan rumahnya.
"Siapa yang bertamu nak? Apa Pak Jali datang lagi untuk melamar kamu?" tanya Bu Mila yang berjalan menggunakan kruk karena sebelah kakinya harus di amputasi setelah mengalami kecelakaan.
"Apa kabar Bu? Ini Andra ..." Belum sempat Dhira menjawab.
Andra sudah menerobos masuk ke rumah sederhana milik Dhira. Andra menyalami Bu Mila. Sudah lama mereka tak bertemu.
"Andra? Loh ini Andra temannya Dhira waktu kuliah dulu kan?" tanya Bu Mila. Karena memang Dhira hanya punya beberapa orang teman dan bisa di hitung dengan jari.
"Iya Bu, apa kabar? Maaf baru bertemu lagi. Karena Dhira menghilang dari peredaran setelah saya menikah," jawab Andra.
"Iya, dia memilih pulang kampung dan menyendiri di sana. Karena nggak tahu harus apa katanya di kota. Apalagi saat itu dia baru lulus kuliah sedangkan kamu katanya menikah. Nggak enak juga kalau di kota terus merepotkan pria yang sudah menikah, walau dia temannya kan? Omongan orang akan lain lagi," jelas Bu Mila membuat Andra melirik tajam ke arah Dhira.
Ternyata Dhira bohong padanya yang mengatakan terpaksa pulang karena ayahnya sakit. Namun ternyata alasan sebenarnya adalah karena dia merasa takut merepotkan dirinya. Padahal Andra pikir, Dhira dan Diana juga saling kenal. Diana juga sangat baik kepada Dhira. Lalu untuk apa sungkan dan memilih pergi.
"Oh begitu? Saya kira karena bapak sakit Bu," jawab Andra.
"Nda ... Bapak sakit setelah dua tahun Dhira di kampung. Dan setelahnya meninggal. Dan baru beberapa bulan ini kami ke sini juga karena Dhira ada panggilan kerja di sini. Sekalian katanya di kota ibu bisa dapat pengobatan yang lebih baik," jelas Bu Mila.
"Lalu siapa Pak Jali?" tanya Andra penasaran membuat Dhira yang sedang membawa nampan berisi air terkaget. Untuk apa Andra tanya hal itu juga?
"Oh itu, dia itu katanya juragan yang ada di kampung ini. Dia sudah tiga kali mencoba untuk melamar Dhira menjadi istri keempatnya," jawab Bu Mila.
"Apa? Istri keempat? Lalu kamu mau, Dhira?" tanya Andra.
"Walau saya seorang janda, tapi saya tak mau menikah dengan pria tua seperti itu, Pak Andra! Apalagi menjadi istri ke empat. Jadi istri ke dua saja saya nggak pernah kepikiran! Lebih baik sendirian daripada harus sakit hati dan berbagi suami saya lahir batin!" jawab Dhira tegas.
"Jadi sebenarnya kamu sudah menikah atau belum Dhira?" tanya Andra memastikan.
"Sudah! Dan sudah cerai!" jawab Dhira cepat.
"Maaf Pak, anda datang kesini untuk mengantarkan motor saya kan? Silahkan anda pulang, Pak! Jangan sampai Mbak Diana mencari suaminya karena pulang telat!" Dhira mencoba meminta Andra pergi.
"Jangan panggil aku Pak! Kita tidak sedang di kantor! Kenapa kamu menjadi batu begini sih Dhira! Jangan sok nggak kenal aku segala seperti itu! Menyebalkan sekali tingkah dan ucapanmu itu!" kesal Andra.
Tuk
Tuk
Andra menji-tak kening Dhira dua kali membuat sahabat lamanya itu merengut dan kesal karena kesakitan. Bu Mila hanya terkekeh melihat kembali mereka yang selalu bertengkar setiap bertemu.
"Sakit tau!" kesal Dhira.
"Biar otakmu nggak batu lagi!" jawab Andra.
"Kita makan dulu, Nak Andra. Tapi menu makanannya hanya seadanya. Kebetulan Dhira sudah selesai masak!" ajak Bu Mila.
"Bu! Andra udah punya istri, nanti mbak Diana malah nyariin suaminya yang belum pulang! Jangan bikin masalah, Bu!" tolak Dhira.
"Ah iya, ibu lupa ..." jawab Bu Milayang baru tersadar.
"Ayo Bu, kita makan! Kebetulan aku juga sangat lapar!" Andra malah bangkit dan membantu menuntun Bu Mila.
"Ck! Dasar kebiasaan! Kamu suka menyepelekan masalah! Giliran udah ada masalah pusing sendiri. Ambil keputusan tanpa pikir panjang ya begitu!" gerutu Dhira.
"Apa sih berisik banget!" jawab Andra santai.
Karena mereka sudah berteman lama sehingga satu sama lain tahu sifat buruk masing-masing. Andra tipe orang yang kadang bertindak sesuai kata otak. Dan kadang tindakannya itu malah membuat dia dalam masalah pada akhirnya. Dan Dhira yang akan menjadi tempat dia meminta tolong. Bukan hanya sekali tapi berkali-kali dia harus terlibat karena kelakuan Andra.
"Masakan kamu makin enak aja Dhira! Oh iya, kamu belum cerita kenapa kamu bercerai?" tanya Andra yang ingin tahu cerita yang di alami oleh temannya selama lima tahun ini.
"Nggak ada alasan bagi aku untuk cerita ke kamu!" jawab Dhira ketus.
"Ck! Dasar batu!" kesal Andra.
"Kamu tuh kepo urusan aku! Lagian aku juga nggak tanya-tanya urusan kamu dan mbak Diana kok!" Dhira mendebat.
"Lah, tinggal tanya apa salahnya! Pasti aku jawab!"
"Nggak usah! Makasih! Nggak boleh tanya-tanya urusan pribadi orang lain! Walau itu teman sendiri!"
"Iya deh. Gimana kamu aja! Dasar batu!
Kembali mereka bertengkar. Selalu seperti itu, namun itulah serunya. Dan Andra kangen masa-masa itu, mereka selalu berselisih paham selama ini. Tapi karena itulah dia merasa sangat senang. Apalagi saat bersama dengan Dhira dia bisa menjadi dirinya sendiri. Begitupun dengan Dhira.
"Aku pulang dulu!" Pamit Andra.
"Iya, kalau bisa tolong jangan kesini lagi! Aku mohon di kantor juga bersikap seolah kita tak kenal dan hanya sekedar atasan dan bawahan. Aku mohon, aku hanya ingin tenang bekerja dan tak mau ..."
"Iya ..." jawab Andra memotong ucapan Dhira.
"Maaf tapi ini semua demi kebaikan kita. Ingatlah Andra, kamu sudah menikah dengan Mbak Diana. Walau kita teman dan kamu tak memiliki perasaan apapun padaku. Tapi setidaknya kita harus menjaga sikap dan perasaan Mbak Diana. Aku seorang perempuan, dan aku tahu rasanya cemburu. Jangan bersikap berlebihan padaku yang pada akhirnya membuat salah paham!" jelas Dhira panjang lebar kemudian menutup pintu dan berdiri di balik pintu sambil mere-/mas da-danya sendiri.
Sesak. Itu yang Dhira sering rasakan setalah lima tahun merasa tenang dan lega tanpa kehadiran Andra. Kini temannya itu malah muncul kembali dengan sikap biasa. Dulu, Dhira pernah salah paham saat bersama dengan Andra.
Sedangkan di teras rumah, Andra juga menatap pintu rumah sederhana milik Dhira. Dia sangat senang bertemu dengan sahabat lamanya yang sudah lama tak pernah dia tahu kabarnya. Namun, ternyata Dhira sudah berubah dan sangat menjaga jarak dengannya.
Padahal dulu Diana juga tak pernah mempermasalahkan persahabatan dia dengan Dhira. Apalagi saat tahu jika Dhira sering mendapat perlakuan bu-ruk dari orang lain. Diana juga selalu bersikap baik kepada Diana saat mereka selalu bersama-sama.
"Padahal Diana pasti akan senang saat aku mengatakan kalau bertemu lagi dengan kamu, Dhira! Tapi kenapa sikap kamu seperti ini? Aku benar-benar kecewa padamu!" ucap Andra sebelum pergi dari sana.
percuma kaya raya tp ga punya penerus atau keturunan mh