“Aku tidak sudi menghabiskan sisa hidupku menjadi pengasuh pria cacat yang membosankan. Jika Papa ingin menjual anak, jual saja Alesha. Dia sudah terbiasa hidup susah.”
Darah Alesha mendidih. Ia meremas kertas itu hingga hancur dalam kepalannya. "Si brengsek itu..." desisnya. Ia tidak terkejut Kiara kabur; kakaknya itu memang egois. Namun, menyebut pria yang akan dinikahinya sebagai 'pria cacat yang membosankan' adalah penghinaan yang rendah, bahkan untuk standar Kiara.
"Alesha, tolong... Papa mohon," Bramasta tiba-tiba menjatuhkan dirinya. Ia berlutut di atas lantai marmer dingin, memegang ujung jubah Alesha. "Keluarga Matteo Al-Ricci bukan orang sembarangan. Mereka adalah penguasa bisnis di Roma. Utang Papa pada mereka... Papa menggunakan seluruh aset perusahaan sebagai jaminan. Jika pernikahan ini batal, Papa akan dipenjara, dan kita akan gelandangan dalam semalam!"
Alesha menatap ayahnya dengan pandangan jijik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ifra Sulistya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23: RAHASIA DI BALIK KANVAS
Sisa kehangatan dari ranjang pagi itu masih membekas di kulit Alesha, menciptakan sebuah kecanggungan yang tak kasat mata di antara mereka.
Matteo telah berangkat sejak pukul sembilan pagi untuk pertemuan darurat dengan para pemegang saham Al-Ricci di pusat kota.
Villa yang biasanya terasa seperti penjara mewah, kini terasa sunyi dan kosong tanpa suara gesekan roda di atas lantai marmer.
Alesha mencoba menyibukkan diri dengan sketsa koleksi barunya, namun pikirannya terus kembali pada gumaman Matteo semalam. Rem yang blong. Pengkhianatan.
Rasa penasaran itu membawanya berjalan menyusuri koridor-koridor yang jarang ia lalui. Ia tidak berniat mencari masalah, namun langkah kakinya seolah dituntun oleh naluri jalanannya menuju bagian paling atas villa, sebuah loteng yang pintunya tersembunyi di balik sebuah permadani dinding tua.
Pintu itu tidak terkunci. Alesha mendorongnya pelan, mengantisipasi debu dan kegelapan.
Namun, apa yang ia temukan justru membuatnya terpaku di ambang pintu.
Ruangan itu adalah sebuah studio yang luas dengan jendela atap miring yang membiarkan cahaya matahari Roma masuk dengan melimpah.
Bau cat minyak, linseed oil, dan kayu pinus memenuhi udara, menciptakan aroma yang jauh lebih manusiawi daripada bau antiseptik dan kemewahan dingin di lantai bawah.
Alesha melangkah masuk, napasnya tertahan. Di sana, berderet-deret kanvas dari berbagai ukuran. Ada yang sudah selesai, ada yang masih berupa sketsa kasar. Namun, ada satu kesamaan yang mencolok dari semua karya itu, sudut pandangnya.
Setiap lukisan, mulai dari pemandangan air mancur di Piazza Navona hingga hiruk-pikuk pasar Campo de' Fiori diambil dari perspektif yang rendah.
Seolah-olah sang pelukis melihat dunia dari ketinggian satu meter di atas tanah. Sudut pandang kursi roda.
"Matteo..." bisik Alesha pelan.
Ia menyentuh sebuah lukisan Colosseum saat senja.
Tekniknya luar biasa, goresan kuasnya tajam namun penuh dengan emosi yang terpendam.
Matteo tidak melukis Roma yang megah dan angkuh. Ia melukis Roma yang rapuh, yang penuh retakan, yang dilihat oleh seseorang yang merasa dunianya telah menyempit.
Ini bukan hobi seorang amatir. Ini adalah jeritan seorang seniman yang terperangkap dalam tubuhnya sendiri.
Langkah kaki Alesha membawanya ke bagian sudut studio yang lebih gelap, tempat sebuah kanvas ditutup dengan kain beludru hitam. Entah kekuatan apa yang menggerakkan tangannya, Alesha menarik kain itu hingga terjatuh ke lantai.
Jantungnya seolah berhenti berdetak.
Di depannya terdapat sebuah lukisan seorang wanita yang sedang memunggungi pelukis.
Wanita itu duduk di sebuah bangku kayu tua di dalam sebuah toko yang berantakan namun hangat.
Cahaya lampu gantung yang remang-remang menyinari helaian rambutnya yang sedikit berantakan, sementara tangannya yang ramping terlihat sedang menarik benang di atas sehelai kain beludru biru.
Itu adalah butik dikawasan jalanan kumuh dan wanita itu... adalah Alesha.
Lukisan itu menangkap momen yang sangat spesifik saat Alesha sedang berjuang menyelesaikan pesanan pertamanya di tengah malam, jauh sebelum ia menjadi bagian dari keluarga Al-Ricci.
Detailnya sangat intim, cara bahunya sedikit membungkuk karena lelah, sisa-sisaan cat yang menempel di ujung jarinya, bahkan bayangan kelelahan yang terpantul di jendela butik.
Alesha mundur selangkah, tangannya menutupi mulutnya yang terbuka.
Matteo tidak hanya mengenalnya setelah pernikahan kontrak ini dimulai.
Pria itu telah memperhatikannya jauh sebelumnya. Di balik semua penghinaan dan sikap dinginnya, Matteo telah "melihatnya" di saat dunia lain hanya menganggapnya sebagai gadis jalanan yang berisik.
"Sangat tidak sopan memasuki ruang pribadi orang lain tanpa izin, Alesha."
Suara bariton itu terdengar dingin, bergema di loteng yang sunyi. Alesha tersentak dan berbalik cepat.
Matteo sudah berdiri, atau lebih tepatnya, duduk di kursi rodanya di depan pintu. Marcello tidak terlihat di belakangnya.
Alesha merasa seperti pencuri yang tertangkap basah.
"Matteo, aku... aku hanya mencari udara segar. Aku tidak tahu ini ruang studiomu."
Matteo menggerakkan kursi rodanya masuk, matanya menatap tajam ke arah kanvas yang terbuka itu.
Wajahnya yang kaku menunjukkan kilatan amarah yang sempat muncul, namun dengan cepat digantikan oleh rasa lelah yang sangat dalam. Ia tidak berteriak.
Ia justru tampak... malu secara emosional karena rahasianya terungkap.
"Kau melukisku," ucap Alesha, suaranya sedikit bergetar.
"Kenapa? Sejak kapan?"
Matteo berhenti tepat di depan lukisan itu. Ia menatap sosok Alesha di atas kanvas dengan tatapan yang sulit diartikan.
"jalanan kumuh itu. Aku sering melewati tokomu saat aku butuh melarikan diri dari pertemuan-pertemuan yang membosankan. Kau adalah satu-satunya hal yang tampak... nyata di distrik yang penuh dengan kepalsuan itu."
Matteo menarik napas panjang, jemarinya mengetuk pegangan kursi roda.
"Kau melukis dengan kain dan jarum. Aku melukis dengan warna. Kita berdua hanya sedang mencoba membangun dunia yang bisa kita kendalikan, bukan?"
Alesha melangkah mendekat, rasa takutnya berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih lembut.
Ia menatap Matteo, bukan sebagai monster atau investor, melainkan sebagai pria yang memiliki jiwa yang begitu indah namun terkubur di bawah tumpukan trauma.
"Lukisan ini sangat indah, Matteo. Kenapa kau menyembunyikannya?"
"Karena dunia tidak butuh melihat kelemahan seorang Matteo," sahut Matteo ketus, meski tatapannya melembut saat melihat lukisan itu.
"Seorang penguasa tidak boleh terlihat menghabiskan waktunya untuk memegang kuas seperti anak kecil."
Matteo kemudian menoleh, menatap Alesha dengan tatapan yang sama seperti saat ia melukis. Ada percikan yang sama dengan yang mereka rasakan saat berjabat tangan atau saat terbangun pagi ini.
"Kau sudah melihat rahasia terbesarku, Alesha. Dan sesuai dengan sifat bisnis keluarga ini, setiap rahasia yang terungkap harus dibayar dengan kompensasi."
Alesha mengerutkan kening.
"Kompensasi apa?"
Matteo menggerakkan tangannya ke arah sebuah kanvas kosong yang baru terpasang di atas easel.
"Aku sedang mengerjakan proyek baru. Sebuah lukisan yang akan menjadi pusat dari koleksi pribadiku. Dan aku butuh seorang model yang tahu caranya bertahan hidup."
Matteo menunjuk ke arah kursi kayu di tengah studio, tempat cahaya matahari jatuh paling sempurna.
"Duduklah di sana. Ini bagian dari perjanjian kita sekarang. Aku akan terus melindungi butikmu, dan kau akan meminjamkan wajahmu untuk kanvasku."
Alesha tertegun sejenak. Ia melihat perlengkapan lukis Matteo, melihat dedikasi pria itu pada seni yang ia simpan rapat-rapat. Ia menyadari bahwa ini bukan sekadar perintah, ini adalah cara Matteo untuk berkomunikasi, cara dia untuk membiarkan Alesha masuk ke dalam dunianya yang sunyi.
"Baik," ucap Alesha pelan.
Ia berjalan menuju kursi itu dan duduk, mencoba mengatur posisinya.
"Tapi aku bukan model yang sabar. Jika kau terlalu lama, aku akan mengenakan biaya tambahan."
Matteo tertawa kecil, tawa yang kali ini terdengar lebih ringan, hampir tulus. Ia mengambil kuasnya, mencelupkannya ke dalam warna merah marun, dan menatap Alesha seolah-olah dia adalah teka-teki yang paling ingin ia pecahkan.
"Diamlah, Alesha. Biarkan aku menangkap sisi bar-barmu sebelum matahari terbenam."
Selama sisa sore itu, satu-satunya suara yang terdengar adalah goresan kuas di atas kanvas dan deru napas mereka yang teratur.
Di loteng yang tersembunyi itu, dua dunia yang tadinya bertabrakan mulai menyatu dalam harmoni yang rapuh.
Alesha menyadari, di balik setiap warna yang digoreskan Matteo, pria itu sedang menceritakan kisah yang tidak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata, sebuah kisah tentang cinta, kehilangan, dan harapan yang belum sepenuhnya mati.
Dan saat ia menatap mata Matteo yang fokus pada pekerjaannya, Alesha tahu bahwa dia mulai jatuh ke dalam rahasia yang lebih berbahaya daripada apa pun yang pernah ia temukan, dia mulai peduli pada pria di balik kursi roda itu.