Amelia hanya gadis desa biasa yang hidup dalam kekurangan dan percaya bahwa kerja keras cukup untuk bertahan hidup.
Sampai suatu malam…
orang yang paling dia percaya menjualnya untuk melunasi hutang.
Dibawa ke kota asing dan dijadikan barang di tempat pelelangan ilegal, Amelia mengira hidupnya sudah berakhir.
Namun di malam yang sama—
dia bertemu pria yang seharusnya tidak pernah masuk ke dunianya.
Lorenzo Moretti.
Pria dingin, berbahaya, dan ditakuti seluruh dunia bawah tanah.
Awalnya Lorenzo hanya berniat memburu pengkhianat.
Tapi satu keputusan kecil membuat semuanya berubah—
dia membawa pulang gadis desa yang bahkan tidak mengenal namanya.
Amelia pikir mansion megah itu akan menjadi tempat perlindungan.
Dia salah.
Karena sejak malam itu, dia justru masuk lebih dalam ke dunia penuh darah, pengkhianatan, dan perang kekuasaan.
Dan ketika organisasi misterius mulai mengincarnya…
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hsnwy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 — Orang yang Tidak Pernah Ditunggu
Bab 30 — Orang yang Tidak Pernah Ditunggu
Malam terus berjalan.
Namun tidak semua orang bisa tidur.
Di ruang baca mansion Moretti, lampu masih menyala redup.
Ruangan itu besar, tenang, dipenuhi rak-rak buku tinggi yang membuat suasana terasa hangat meski di luar dingin.
Amelia duduk di sofa sambil memegang cangkir teh.
Dia tidak benar-benar membaca.
Matanya memang melihat halaman buku, tapi pikirannya ke mana-mana.
Lorenzo duduk tidak jauh darinya.
Membuka beberapa dokumen.
Diam.
Dan anehnya…
kesunyian itu tidak terasa canggung.
Beberapa hari lalu Amelia mungkin akan gugup berada berdua seperti ini.
Tapi sekarang…
dia mulai terbiasa.
Bahkan keberadaan Lorenzo justru membuatnya lebih tenang.
Beberapa menit berlalu.
Akhirnya Amelia bicara.
“Kamu benar-benar baca semua itu?”
Lorenzo tidak mengangkat kepala.
“Sebagian.”
Amelia melihat tumpukan dokumen.
“Aku kira mafia cuma…”
Dia berhenti.
Lorenzo melirik.
“Cuma apa?”
Amelia langsung salah tingkah.
“Tidak apa…”
Lorenzo kembali melihat dokumen.
“Bilang.”
Amelia menggigit bibir kecil.
“…aku kira kerjaanmu cuma marah-marah dan menyuruh orang.”
Ruangan langsung sunyi.
Beberapa detik.
Lalu—
Lorenzo menatapnya.
Tatapan datar.
Amelia langsung panik.
“Aku nggak bermaksud—”
Namun tiba-tiba Lorenzo berkata tenang.
“Kadang memang begitu.”
Amelia langsung diam.
Lalu tanpa sadar tertawa kecil.
Dan suara tawa itu membuat Lorenzo berhenti membaca.
Tatapannya berpindah.
Sejenak.
Lalu kembali lagi.
—
Di luar ruang baca.
Marco yang lewat tidak sengaja melihat ke dalam.
Lalu diam.
Dia melihat Amelia sedang bicara.
Lorenzo mendengar.
Dan suasana terlihat…
normal.
Marco menatap beberapa detik.
Lalu bergumam pelan.
“Gila…”
Sudah bertahun-tahun dia ikut Lorenzo.
Belum pernah lihat pria itu duduk diam selama satu jam cuma menemani seseorang.
Marco menggeleng lalu pergi.
Namun saat baru berjalan beberapa langkah—
ponselnya bergetar.
Nomor tidak dikenal.
Marco mengangkat.
Tidak ada suara.
Lalu—
sebuah kalimat terdengar.
“Salam untuk Moretti.”
Telepon langsung mati.
Tatapan Marco berubah.
Dia melihat layar beberapa detik.
Lalu berjalan cepat.
—
Di ruang baca.
Lorenzo baru menutup dokumen saat Marco masuk.
Ekspresinya tidak santai.
“Bos.”
Lorenzo langsung sadar.
“Apa.”
Marco diam sebentar.
Lalu berkata,
“Kita dapat tamu.”
Sunyi.
Lorenzo berdiri.
“Siapa?”
Marco menyerahkan foto dari ponselnya.
Lorenzo melihat.
Dan tatapannya langsung berubah.
Amelia yang melihat ikut diam.
Karena untuk pertama kalinya…
ekspresi Lorenzo terlihat seperti mengenali seseorang yang tidak dia harapkan.
Foto itu menunjukkan seorang wanita.
Cantik.
Elegan.
Memakai gaun hitam.
Tatapannya tajam.
Dan berdiri tepat di depan gerbang mansion.
Marco bicara pelan.
“Dia bilang mau bertemu.”
Lorenzo diam beberapa detik.
Lalu berkata singkat—
“Suruh masuk.”
Amelia tidak tahu kenapa.
Tapi entah kenapa dadanya terasa aneh.
Beberapa menit kemudian—
pintu ruang baca terbuka.
Suara langkah sepatu terdengar.
Lalu seorang wanita masuk.
Wajahnya tenang.
Anggun.
Tapi auranya kuat.
Begitu melihat Lorenzo—
wanita itu tersenyum tipis.
“Sudah lama.”
Lorenzo tetap datar.
“Apa maumu.”
Wanita itu tidak langsung menjawab.
Tatapannya justru beralih.
Ke Amelia.
Dia memperhatikan beberapa detik.
Lalu tersenyum lagi.
Namun kali ini…
senyumnya tidak terasa ramah.
“Jadi ini orangnya.”
Amelia langsung bingung.
Orangnya?
Wanita itu berjalan mendekat.
Lalu berhenti tepat di depan Amelia.
Dia mengulurkan tangan.
“Perkenalkan.”
Senyumnya tetap cantik.
Tapi dingin.
“Aku Elena.”
Dia berhenti sebentar.
Lalu berkata pelan—
“Tunangan Lorenzo.”
Sunyi.
Ruangan langsung terasa berbeda.
Amelia membeku.
Tangannya perlahan menegang.
Tunangan?
Dia menoleh ke arah Lorenzo.
Dan untuk pertama kalinya—
dia tidak tahu kenapa dadanya terasa tidak nyaman.
Lorenzo menatap Elena tanpa perubahan ekspresi.
Lalu berkata singkat.
“Bukan lagi.”
Elena tertawa kecil.
“Tapi keluargamu belum bilang begitu.”
Tatapan Amelia perlahan turun.
Entah kenapa…
kalimat itu terasa mengganggu.
Dan seseorang diam-diam memperhatikan semua itu.
Marco.
Dia melihat Amelia.
Lalu melihat Lorenzo.
Dan dalam hati hanya berpikir satu hal—
Malam ini bakal panjang.
---
Sementara itu…
di dalam mobil hitam yang parkir jauh dari mansion—
seseorang sedang melihat layar tablet.
Tampilan kamera memperlihatkan gerbang Moretti.
Pria itu tersenyum kecil.
Tangannya memainkan cincin burung hitam.
“Menarik…”
Tatapannya sedikit menyipit.
“Sekarang pemain baru masuk.”
Dia bersandar.
Lalu berkata pelan—
“Lihat baik-baik, Lorenzo.”
Senyumnya perlahan melebar.
“Kalau bukan musuhmu yang menghancurkanmu…”
Dia berhenti.
“…mungkin orang yang kau lindungi.”
Dan malam itu—
permainan mulai berubah arah.
Ruangan tetap sunyi beberapa detik setelah Elena memperkenalkan dirinya.
Amelia masih berdiri.
Tunangan.
Kata itu terus terulang di kepalanya.
Entah kenapa dadanya terasa sedikit sesak.
Padahal seharusnya itu bukan urusannya.
Lorenzo pria seperti apa, punya hubungan dengan siapa, itu bukan urusannya.
Tapi…
kenapa rasanya aneh?
Elena masih tersenyum.
Tatapannya berpindah lagi ke Amelia.
Lalu berkata lembut,
“Kau pasti Amelia.”
Amelia sedikit tersadar.
“…iya.”
Elena mengangguk kecil.
“Aku sering dengar tentangmu.”
Kalimat itu membuat suasana sedikit berubah.
Amelia mengernyit.
Tentang dirinya?
Dari siapa?
Sementara Lorenzo langsung bicara datar.
“Cukup.”
Elena menoleh.
Tatapannya tenang.
“Kenapa? Aku cuma menyapa.”
Lorenzo tidak menjawab.
Dan itu cukup membuat Amelia sadar—
ada sesuatu yang tidak sederhana di antara mereka.
Elena akhirnya duduk di sofa seolah dia memang terbiasa berada di mansion ini.
Dia melihat sekitar sebentar lalu tersenyum kecil.
“Sudah berubah.”
Lorenzo berdiri.
“Kalau cuma nostalgia, kau bisa pulang.”
Elena tertawa kecil.
Masih tenang.
“Masih sama seperti dulu.”
Marco yang berdiri di belakang mulai merasa pusing.
Karena dia kenal Elena.
Wanita itu bukan tipe yang datang tanpa tujuan.
Dan kalau dia datang sekarang…
artinya ada sesuatu.
Elena akhirnya berhenti tersenyum.
Tatapannya kembali ke Lorenzo.
“Aku datang bukan karena keluarga.”
Sunyi.
Lorenzo tidak bicara.
Elena melanjutkan.
“Black Raven.”
Ruangan langsung diam.
Amelia langsung menoleh.
Nama itu lagi.
Elena menyandarkan tubuh.
“Mereka mulai bergerak lebih cepat dari perkiraan.”
Tatapan Lorenzo berubah sedikit.
Elena memperhatikan reaksi itu.
Lalu berkata lagi,
“Mereka bahkan mulai masuk wilayahmu.”
Marco menyipitkan mata.
“Kau tahu sesuatu?”
Elena melihat Marco.
Lalu menjawab tenang,
“Aku tahu lebih banyak dari yang kalian pikir.”
Sunyi lagi.
Lalu Elena berdiri.
Dia berjalan beberapa langkah.
Berhenti.
Dan berkata pelan—
“Dan mereka mencari seseorang.”
Tatapan Lorenzo langsung tajam.
Elena menoleh.
Tatapannya jatuh ke Amelia.
Beberapa detik.
Lalu dia tersenyum tipis.
“…dia.”
Amelia langsung membeku.
Elena melanjutkan.
“Tapi anehnya…”
Tatapannya kembali ke Lorenzo.
“…mereka tidak berniat membunuh.”
Ruangan langsung terasa lebih dingin.
Marco langsung serius.
Lorenzo diam.
Sementara Amelia mulai merasa tidak nyaman.
Karena untuk pertama kalinya—
dia merasa dirinya bukan sekadar korban yang kebetulan terlibat.
Elena memperhatikan wajah Amelia beberapa detik.
Lalu berkata pelan,
“Kau benar-benar tidak ingat apa pun?”
Amelia bingung.
“Apa?”
Elena mengangkat alis.
Namun belum sempat bicara—
Lorenzo langsung memotong.
“Cukup.”
Suaranya lebih dingin dari sebelumnya.
Elena diam sebentar.
Lalu tersenyum kecil.
Dia mundur.
“Oke.”
Dia mengambil tasnya.
Lalu sebelum pergi—
dia berhenti tepat di depan Amelia.
Suaranya tetap lembut.
Tapi aneh.
“Jaga dirimu.”
Dia berhenti sebentar.
Lalu menambahkan.
“Karena orang yang mendekatimu sekarang…”
Tatapannya sekilas ke Lorenzo.
“…tidak semuanya datang untuk menyakitimu.”
Lalu dia pergi.
Pintu tertutup.
Ruangan kembali sunyi.
Amelia masih diam.
Sementara Marco menatap pintu lama.
Lalu pelan berkata,
“Bos…”
Tatapan Lorenzo masih ke arah pintu.
Marco melanjutkan.
“…dia tahu sesuatu.”
Sunyi.
Lorenzo akhirnya bicara.
“Cari tahu kenapa dia datang.”
Marco mengangguk lalu keluar.
Tinggal Amelia dan Lorenzo lagi.
Amelia akhirnya pelan bertanya.
“…kalian benar-benar bertunangan?”
Sunyi.
Lorenzo diam beberapa detik.
Lalu menjawab pendek.
“Dulu.”
Amelia menunduk.
Tidak tahu kenapa.
Tapi jawabannya membuat dadanya terasa sedikit lebih ringan.
Dan itu membuatnya bingung pada dirinya sendiri.
Sementara di luar mansion—
mobil Elena melaju pelan.
Dia duduk diam.
Lalu membuka ponselnya.
Satu pesan masuk.
Apa dia masih belum ingat?
Elena menatap layar beberapa detik.
Lalu mengetik singkat.
Belum.
Dia melihat keluar jendela.
Tatapannya pelan berubah.
Dan untuk pertama kalinya—
senyum kecilnya menghilang.
“…semoga memang belum.”
Mobil terus melaju.
Dan malam itu—
rahasia lama mulai bergerak kembali.