NovelToon NovelToon
MALAM TERLARANG BERSAMA MANTAN SUAMI KAKAKKU

MALAM TERLARANG BERSAMA MANTAN SUAMI KAKAKKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Duda
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: gendiz

Jangan pernah sebut Luna pelakor! Dia jauh lebih terhormat dibanding kamu yang berselingkuh di belakangku."

​Demi menyelamatkan kakaknya dari ancaman penjara, Luna Maharani terpaksa menyerahkan dirinya. Masuk ke dalam jebakan pernikahan kontrak bersama Devano—sang CEO dingin sekaligus mantan suami kakak kandungnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15: Retakan di Balik Kaca

BAB 15: Retakan di Balik Kaca

​Cengkeraman tangan Devano pada pergelangan tangan Luna terasa semakin erat, mengunci pasokan darah hingga jemari gadis itu sedingin es. Di sekeliling mereka, aroma manis melati yang pekat terus menguar, bercampur dengan wangi maskulin tubuh Devano yang panas akibat amarah yang meletup-letup. Kehadiran dua aroma yang saling bertolak belakang itu menciptakan atmosfer yang begitu menyesakkan di dalam ruang kerja yang luas tersebut.

​Luna bisa merasakan detak jantung Devano yang berdegup kencang membentur dadanya sendiri, karena jarak tubuh mereka yang nyaris tanpa celah. Dari balik dinding kaca transparan yang benderang, puluhan pasang mata karyawan di luar masih menatap ke arah mereka tanpa berkedip. Di luar sana, kasak-kusuk penuh kebencian semakin membara. Rania bahkan sengaja berdiri dari kubikelnya, melangkah beberapa senti lebih dekat ke arah kaca dengan pandangan mata yang menyala merah, menyaksikan bagaimana sang CEO yang terkenal tak tersentuh kini justru menghimpit tubuh sang asisten pribadi dengan begitu intim.

​"Jawab saya, Luna!" desis Devano lagi, suaranya merendah ke titik paling berbahaya, seolah-olah guntur bersiap pecah dari balik tenggorokannya. Rahang perseginya yang kokoh mengeras begitu hebat. "Untuk apa kamu menyemprotkan parfum menjijikkan itu di kursi saya?! Apa kakakmu yang tidak tahu malu itu yang menyuruhmu melakukannya?!"

​Luna memejamkan mata erat-earat, membiarkan butiran air mata hangat mengalir deras melewati pipi kuning langsatnya yang tirus, membasahi kerah blus sutra dusty rose-nya. Dia ingin sekali berteriak, mengatakan bahwa dia terpaksa melakukannya karena ancaman Siska dan ibunya. Namun, lidah Luna mendadak kelu. Jika dia mengaku, Devano pasti akan semakin menganggap keluarga Maharani sebagai komplotan penipu yang menggunakan segala cara kotor demi uang. Dan yang paling dia takuti, Devano bisa saja melimpahkan kemarahannya dengan menyebarkan video hotel malam itu ke tangan Siska sebagai bentuk balasan.

​"Maaf... Maafkan saya, Tuan Devano..." hanya kalimat itu yang sanggup lolos dari bibir tipis Luna yang bergetar hebat. Wajah melankolisnya tampak begitu layu dan hancur, memancarkan kepasrahan mutlak dari seorang wanita yang telah kehilangan seluruh harga dirinya.

​Melihat Luna yang hanya bisa menangis dan meminta maaf tanpa memberikan penjelasan, ego dan rasa muak di dalam dada Devano semakin membara. Di mata pria itu, diamnya Luna adalah sebuah pembenaran. Devano menganggap Luna memang sengaja bekerja sama dengan Siska untuk menjebaknya kembali ke dalam lingkaran kepalsuan masa lalu.

​"Maaf?" Devano terkekeh sinis, sebuah tawa parau yang teramat kejam di telinga Luna. Dia memajukan wajahnya yang tampan, menatap lurus ke dalam manik mata bulat Luna yang basah dengan tatapan merendahkan. "Ternyata dugaanku selama ini tidak salah. Kamu memang sejenis dengan kakakmu. Menjual kesucianmu malam itu di hotel hanya taktik awal, kan? Dan sekarang, kamu bertingkah seolah-olah menjadi mata-mata setianya di dalam ruanganku."

​Devano perlahan melepaskan cengkeraman tangannya di pergelangan tangan Luna, namun dia tidak membiarkan gadis itu pergi. Tangan kanannya bergerak naik, menumpu kuat di dinding kaca tepat di samping telinga Luna, sementara tangan kirinya dengan kasar merogoh saku rok midi abu-abu milik Luna, mencari botol parfum yang disembunyikan di sana.

​"T-Tuan, jangan..." rintih Luna panik, mencoba menahan tangan besar Devano yang meraba saku roknya, namun kekuatannya tidak sebanding.

​Sret.

​Devano menarik keluar botol kaca kecil beraroma melati itu dari saku rok Luna. Pria itu menatap benda di tangannya dengan kilatan benci yang murni, lalu tanpa ragu melempar botol tersebut ke arah tong sampah logam di sudut ruangan.

​Prang!

​Botol itu pecah berkeping-keping, meninggalkan genangan cairan wangi yang semakin menginvasi ruangan. Devano kembali menatap Luna, menundukkan kepalanya hingga bibirnya nyaris menyentuh daun telinga gadis itu.

​"Dengar baik-baik, Asisten Luna," bisik Devano, suaranya terdengar sangat intim namun sarat akan racun intimidasi yang mematikan. "Jika kamu atau kakakmu berpikir bisa memanipulasiku dengan kenangan masa lalu yang menjijikkan ini, kalian salah besar. Mulai hari ini, kamu tidak akan pernah bisa melangkah keluar dari ruangan ini tanpa izin dariku. Kamu ingin menjadi mata-matanya, kan? Maka jadilah pembantu yang baik di depanku."

​Devano melirik ke arah dinding kaca luar melalui sudut matanya, sengaja memperhatikan bagaimana Dika—Manajer Keuangan yang tadi membela Luna—baru saja keluar dari lift dan menghentikan langkah kakinya dengan wajah terkejut saat melihat pemandangan di dalam ruang CEO.

​Melihat kedatangan Dika, senyuman iblis yang manipulatif kembali terbit di bibir Devano. Pria itu sengaja mengangkat tangan kanannya yang bebas, membelai lembut helaian rambut panjang Luna yang tersisa di dekat sanggulnya, mengusap jepit rambut perak berbentuk bunga kecil itu dengan gerakan yang terlihat sangat posesif dan penuh kasih sayang di mata orang luar.

​"Lihat ke luar, Luna... pahlawanmu yang tampan itu sedang menatap kita dengan hati yang patah," bisik Devano kejam, menikmati bagaimana tubuh Luna kembali menegang hebat dalam dekapannya. "Biarkan dia melihat bagaimana asisten pribadi yang kasihan ini... sebenarnya adalah milikku sepenuhnya di dalam ruangan ini."

​Luna meremas ujung blus sutranya dengan sisa tenaga yang dia miliki, menatap ke luar kaca dengan pandangan mata yang mengabur oleh air mata. Dia bisa melihat Dika menundukkan kepalanya perlahan, lalu berbalik pergi dengan langkah kaki yang berat, mengira bahwa Luna memang memiliki hubungan khusus yang terlarang dengan sang CEO. Hati Luna runtuh seketika. Satu-satunya orang yang bersikap baik padanya di kantor ini, kini telah pergi membawa kesalahpahaman yang teramat dalam. Luna terjebak, hancur, dan terkurung di dalam retakan sangkar kaca milik Devano tanpa tahu bagaimana cara untuk menyelamatkan dirinya sendiri.

1
gendiz
up
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!