NovelToon NovelToon
Sistem: Peluang 100%

Sistem: Peluang 100%

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Action / Naik Kelas
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: UrLeonard

Dihina mandor, ditagih hutang, dan ditinggalkan pacar membuat hidup Fais berada di titik terendah.
Sampai sebuah sistem misterius muncul di hadapannya.

[Peluang keberhasilan pengguna meningkat menjadi 100%]

Dari taruhan, bisnis, hingga misi berbahaya; semua yang dilakukan Fais selalu berhasil. Hidupnya berubah drastis dari kuli miskin menjadi sosok yang membuat banyak orang iri dan takut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31: Jejak Lama

Hujan malam itu tidak turun. Hujan itu meludah. Meludahkan air es ke atas atap seng distrik Utara.

Suara tembakan sudah berhenti. Bau mesiu menggenang di udara, bercampur baur dengan bau karat. Bau karat dari darah ibunya.

Ia meringkuk di bawah meja makan. Tubuh kecilnya bergetar hebat. Ia mendekap kepala adik laki-lakinya rapat-rapat ke dadanya. Merapatkan telapak tangannya ke mulut bayi itu agar tidak ada satu pun suara tangis yang lolos ke udara.

Di depan matanya, sepasang sepatu bot hitam menginjak genangan merah.

Genangan itu mengalir dari kepala ibunya. Ibunya yang sudah tidak bernapas. Ibunya yang terlalu keras kepala mencari tahu ke mana ayah mereka menghilang bertahun-tahun lalu. Ibunya yang menggali terlalu dalam tentang orang-orang hilang, kargo manusia, dan mafia distrik Utara.

Ia melihat semuanya dari celah sempit taplak meja yang robek.

Sepatu bot itu bergeser pelan. Sebuah suara serak terdengar dari atas.

"Biarkan kedua anak itu hidup."

Kalimat itu diucapkan datar. Tanpa nada. Tanpa penyesalan.

Lalu sepatu bot itu melangkah pergi. Pintu depan tertutup dengan suara bantingan yang menggetarkan dinding kayu.

'Biarkan kedua anak itu hidup.'

Ia tidak tahu kenapa pria bermantel itu tidak menembaknya. Ia tidak tahu apa yang dilihat kelompok bersenjata itu dari kolong meja. Tapi kalimat itu merayap masuk ke gendang telinganya. Bersarang di otaknya seperti parasit kelaparan.

'Biarkan kedua anak itu hidup.'

Kalimat itu memakan masa kecilnya hidup-hidup. Menghantuinya setiap kali ia menutup mata.

Dan ia memang hidup. Ia memaksa dirinya hidup.

Bertahun-tahun waktu berlalu sejak malam hujan keparat itu.

Ia menyeret adiknya keluar dari lumpur distrik Utara. Menjauh dari bau mesiu. Mereka berpindah dari satu panti asuhan ke panti asuhan lain. Mengunyah makanan sisa. Menelan ejekan. Tidur dengan punggung bersandar pada dinding dan gunting di balik bantal.

Ia tumbuh menjadi baja. Karakter yang ditempa dari ketakutan parno dan insting bertahan hidup. Ia harus keras. Dunia ini tidak pernah ramah pada yatim piatu tanpa rumah.

Sekarang, ia hanya seorang pegawai kantoran.

Duduk di depan monitor dari pagi hingga malam. Mengetik deretan angka yang tidak ada artinya bagi semesta. Menerima gaji bulanan yang pas-pasan untuk membayar sewa flat sempit di distrik yang aman.

Sebuah kehidupan yang membosankan. Sebuah kehidupan yang sangat ia puja.

Adiknya masuk sekolah menengah. Remaja laki-laki biasa dengan seragam putih abu-abu. Membaca komik. Bermain gim. Mengeluh soal tugas matematika.

Normal.

Ia terus menjejalkan kata itu ke dalam tengkoraknya. Semuanya sudah normal. Kehidupannya sudah normal.

Atau setidaknya, ia selalu memohon agar dunia membiarkan mereka seperti itu.

Karena seringkali, kewarasan itu retak oleh kejanggalan tubuhnya sendiri.

Luka sayatan kertas di jarinya menutup sendiri sebelum darahnya sempat menetes. Lebam kebiruan akibat benturan ujung meja hilang tanpa bekas keesokan harinya.

Pernah suatu kali ia menangkap pot bunga yang jatuh dari lantai dua panti asuhan. Gerakannya terlalu cepat untuk mata manusia. Tangannya tidak patah. Tulang-tulangnya terasa lebih padat dari beton cor.

Tubuhnya tidak masuk akal. Tubuhnya merespons ancaman dengan refleks hewan buas yang lapar.

Tapi ia selalu memalingkan wajah. Ia mengubur kejanggalan itu di dasar pikirannya.

Ia tidak mau tahu. Ia menolak peduli. Selama adiknya bisa tertawa dan pergi ke sekolah dengan perut kenyang, rahasia tubuhnya tidak pernah eksis. Ia hanya wanita kantoran biasa. Titik.

Lalu malam ini tiba. Membongkar paksa ilusi damai yang ia bangun susah payah.

Ponsel di atas kasurnya bergetar pendek.

Satu pesan masuk. Dari adiknya. Tidak ada salam. Tidak ada kalimat basa-basi.

Hanya beberapa huruf acak dan satu kata yang salah ketik.

Tlg kakak.

Jantungnya berhenti berdetak selama satu detik penuh. Otaknya nge-blank.

Ia mengetik balasan dengan jari yang mendadak beku.

Kamu di mana?

Pesan itu terkirim. Tapi tidak ada tanda dibaca. Tidak ada balasan.

Ia menekan tombol panggil. Nada sambung berbunyi panjang. Sekali. Dua kali. Tiga kali.

Lalu suara operator otomatis mengambil alih jaringan. Ponsel itu mati.

Ia tidak membuang waktu satu detik pun. Ia menyambar jaketnya. Berlari menuruni tangga flatnya.

Malam merangkak naik menelan kota. Ia menelusuri aspal basah. Mencari ke sekolah adiknya. Pagar besi tinggi itu terkunci rapat. Lampu-lampu kelas gelap gulita. Sepi keparat.

Ia melacak rumah teman-teman adiknya. Mengetuk pintu-pintu asing. Memasang wajah tegar walau lambungnya terasa seperti diremas tangan kasat mata.

Semua orang menggeleng. Tidak ada yang tahu. Adiknya tidak pernah terlihat sejak bel akhir berbunyi sore tadi.

Pencariannya menyeret langkahnya semakin jauh. Semakin dalam. Menembus batas distrik.

Tanpa sadar kakinya berjalan mendekati wilayah yang paling ingin ia hapus dari peta bumi.

Distrik Utara lama.

Lampu-lampu jalan di sini berkedip sakit. Cat tembok mengelupas seperti kulit mati. Bau pesing bercampur alkohol murah mengudara tebal.

Ia menyusuri trotoar kotor itu. Matanya menyapu setiap sudut gang dengan liar.

Lalu ia menyadarinya. Sesuatu yang ganjil.

Tatapan orang-orang di pinggir jalan.

Beberapa pria berwajah keras yang duduk di depan warung tenda menoleh padanya. Tukang parkir bertato di ujung jalan menghentikan kegiatannya. Seorang wanita tua dengan sebatang rokok di bibirnya menyipitkan mata ke arahnya.

Mereka menatapnya tanpa kedip. Bukan tatapan iseng. Bukan tatapan menggoda dari preman pinggiran.

Itu tatapan mengenali.

Seolah wajahnya adalah hantu yang ditarik paksa dari masa lalu. Seolah rahang dan bentuk matanya mengingatkan mereka pada wajah wanita keras kepala yang ditembak mati belasan tahun lalu.

Ia mengabaikan tatapan mereka. Ia mempercepat langkahnya. Keringat dingin merembes deras dari tengkuknya.

Jangan hari ini. Tolong, jangan hari ini.

Langkah kakinya membawanya berputar kembali ke area batas sekolah. Ke bagian belakang gedung beton yang tidak tersentuh cahaya jalanan kota.

Sebuah gang buntu yang sempit. Terjepit di antara tembok sekolah dan deretan ruko kosong tak berpenghuni.

Langkahnya mendadak melambat.

Insting abnormal di dalam darahnya mendadak berteriak histeris. Bulu kuduknya berdiri. Otot-ototnya menegang secara otomatis.

Ada bau yang sangat ia kenal menguar dari ujung gang gelap itu.

Bau besi. Bau karat. Bau keputusasaan.

Ia melangkah masuk. Sol sepatunya menginjak sesuatu yang basah dan lengket.

Ia menunduk.

Sebuah genangan merah pekat merendam aspal. Darah. Terlalu banyak darah untuk sekadar luka tonjok anak sekolah.

Napasnya mulai memendek. Ia mendongak menatap tembok gang.

Ada bercak cipratan merah memanjang di dinding beton itu. Bekas perkelahian sepihak. Bekas tubuh yang diseret paksa melewati permukaan kasar.

Lalu matanya menangkap sesuatu di dekat tumpukan kardus basah.

Serpihan daging. Kecil. Kemerahan. Tercabik dari tubuh entah milik siapa.

Dunia di sekitarnya mendadak mati. Suara angin lenyap. Deru mesin kendaraan dari jalan raya tidak lagi mencapai telinganya. Ruang itu hanya diisi oleh suara detak jantungnya sendiri yang memukul dinding dada.

Di ujung gang, bersandar pelan pada tembok kotor.

Sebuah tas sekolah biru pudar.

Tas yang ia belikan bulan lalu. Tas milik adiknya.

Ia berjalan mendekat. Kakinya terasa seperti terbuat dari balok timah. Ia berlutut perlahan. Tangan kanannya yang gemetar meraih ritsleting kain itu.

Terbuka.

Tas itu kosong.

Buku catatannya tidak ada. Kotak pensilnya hilang. Adiknya tidak ada di sana.

Udara di sekelilingnya mendadak terasa setajam silet. Oksigen menolak masuk ke paru-parunya.

Ia menatap genangan darah tebal di dekat ujung sepatunya. Menatap serpihan daging di sudut tembok. Menatap tas biru yang tergeletak seperti cangkang mati.

Dan saat itu juga, benteng pertahanannya runtuh.

Perasaan yang sudah ia kubur bertahun-tahun di dalam sudut otak terdalamnya kini merobek dadanya secara brutal.

Ketakutan itu kembali. Teror yang persis sama.

Teror absolut saat ia meringkuk di bawah meja makan tua. Teror saat genangan darah ibunya menyentuh ujung jarinya. Teror murni yang membuat jiwanya mati rasa malam itu.

Kini teror itu mencekik lehernya lagi.

1
ghost
novel ga jelas...ga usah di baca
Ironside: Terima kasih /Joyful/, kalau boleh tahu. Apa yang perlu aku perbaiki?
total 1 replies
ghost
novel tolol
Ironside: Oke /Smile/
total 1 replies
Cecilia
up heii, udh nunggu agak lama masih 25 chapter. 200 chapter lah kakk
Ironside: Apa-apaan kamu Kak /Curse/. Aku sedang revisi /Scream/
total 2 replies
Gege
kan bisa turun di ruangan fitness apartemen, lari diatas tritmil Thor...🤣🤣
Ironside: Iya sih /Facepalm/
total 1 replies
Gege
pelit bener systemnya Thor...dimana mana ada system buat memudahkan, dan banyak cheat..hiburan harapan dalam bentuk tulisan yang mengalir ringan..🤣
Ironside: Untuk perkembangan sifat MC juga, karena pengalamannya sebatas tukang bangunan aja 😆.
total 1 replies
Cecilia
mana Insectnya kak
Ironside: Tidak ada /Scream/
total 1 replies
Yui
Akhirnya setelah 3x bulan purnama, author ini bikin nopel yang ada insectnya /Proud//Proud/
Ironside: Sembarangan /Curse//Curse//Curse/, tidak ada insect di sini /Grievance/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!