Abram adalah pemuda yang baik hati dan suka membantu, tapi sejak ia mengalami penyakit kulit, semua masyarakat menjauh. Hingga akhirnya ia di usir dari tempat tersebut dan pingsan di pinggir jalan setelah kesandung sebuah batu krikil aneh.
Tapi hari itu, ada seseorang menemukannya dan ia di bawa ke rumah sakit, sayangnya nyawanya tak tergolong lagi.
Tapi batu kerikil itu terkena darah Abram dan menjadikan Abra sehat kembali dan menjadi dia tabib dewa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22
...⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️...
...Happy Reading...
...⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️...
Tanpa berpikir panjang, Abram berdiri dan mendekat ke arah Dokter Rahmat, kemudian dengan lembut memegang bahu dokter tersebut.
"Ada apa, Abram?" tanya Dokter Rahmat dengan tatapan bingung, melihat mata muda yang ada di depannya.
"Dokter... diam saja sebentar. Jika nanti ada sesuatu yang merasakan masuk ke dalam tubuh Anda, jangan berusaha menolaknya ya. Biarkan saja," kata Abram dengan suara pelan namun tegas
"Eh? Apa yang kamu maksud? Apakah ada sesuatu yang akan kamu lakukan?" tanya Dokter Rahmat semakin kebingungan, tubuhnya sedikit mengerut karena rasa penasaran dan sedikit kekhawatiran.
Namun Abram tidak menjawab pertanyaan itu. Ia hanya mengangguk perlahan dan kemudian menjepit kedua tangan Dokter Rahmat dengan erat.
Setelah kulit mereka bersentuhan, seutas sinar cahaya keemasan yang sangat lembut mulai muncul dari telapak tangan Abram, melintas perlahan ke arah tubuh Dokter Rahmat.
Dokter Rahmat merasa ada sensasi yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya, seperti aliran energi hangat yang mengalir dari ujung jari jemari hingga ke seluruh tubuhnya.
Ingat kata Abram untuk tidak menolaknya, ia pun memejamkan mata dan membiarkan diri menikmati sensasi yang menenangkan itu. Energi demi energi mengalir dengan lancar, membawa rasa segar yang menggantikan kelelahan yang luar biasa di dalam tubuhnya.
Setelah beberapa menit kemudian, Abram mengangkat tangannya perlahan dan sinar cahaya itu pun menghilang dengan sendirinya.
Ia melihat Dokter Rahmat dengan tatapan penuh perhatian. "Bagaimana sekarang, Dokter? Apakah tubuh Anda masih merasa capek?"
Dokter Rahmat membuka matanya perlahan, kemudian melihat kedua tangannya dengan ekspresi terkejut yang segera berubah menjadi senyum ceria.
Ia berdiri dengan cepat dari kursinya, menggerakkan bahu dan lengan dengan bebas. "Ya ampun, Abram! Tubuhku benar-benar kembali segar lagi, bahkan lebih segar dari biasanya. Rasanya seperti aku baru saja tidur selama sepuluh jam penuh. Apa yang kamu berikan padaku? Ini bukanlah hal yang biasa bisa dilakukan manusia."
Abram menghela nafas perlahan.
"Bukan apa-apa, Dokter. Itu hanya energi khusus yang bisa kubagikan untuk membuat tubuh orang lain kembali segar. Tapi saya harus memberi tahu Anda, energi ini tidak bisa digunakan secara berulang kali. Selain akan menyebabkan kerusakan pada tubuh saya yang bisa membuat saya lemah bahkan sampai tidak bisa bergerak, penggunaan berulang juga akan membuat tubuh Anda menjadi ketergantungan. Anda tidak akan bisa lagi merasa segar tanpa bantuan energi saya."
Dokter Rahmat menggangguk. "Oh ya, begitu ya."
Suara berlarian yang terdengar di koridor rumah sakit menerobos kedamaian kamar Abram, diikuti dengan suara panik. "Dokter Rahmat! Dokter Rahmat!"
Dokter Rahmat yang baru saja merasakan tubuhnya kembali segar dan penuh energi, langsung melompat dari kursinya dengan gerakan cepat.
Wajahnya yang baru saja berseri dengan senyum kini kembali penuh ketegasan dan keprihatinan. Tanpa berlama-lama, ia bergegas menuju pintu kamar.
...⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️...
di tunggu kelanjutannya